<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206</id><updated>2012-02-13T17:37:14.116+07:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Nabi dan Rasul'/><category term='Shiroh Nabawiyah'/><category term='Wanita Agung'/><category term='Khalifah'/><category term='Warisan Ilmu'/><category term='Tokoh Islam'/><title type='text'>SEJARAH DAN TOKOH ISLAM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>278</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7499646096583865422</id><published>2011-11-20T15:03:00.003+07:00</published><updated>2011-11-20T15:03:44.816+07:00</updated><title type='text'>Ibn Hazm, Ulama Negarawan dari Spanyol</title><content type='html'>Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin  Sa'id bin Hazm atau lebih dikenal dengan nama Ibn Hazm diakui sebagai  seorang ulama yang memiliki kontribusi luar biasa dalam dunia Islam. Ia  dikenal sebagai ahli fikih dan hadits sekaligus teolog, sejarawan,  penyair, negarawan, akademisi dan politisi yang handal. Tak kurang dari  400 judul kitab telah ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;div id="newstext"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Ibn Hazm lahir di kota Cordoba,  Spanyol pada akhir Ramadhan 384 H atau bertepatan dengan 7 November 994  M. Ia tumbuh dan besar di kalangan para pembesar dan pejabat. Ayahnya,  Ahmad, adalah seorang menteri pada masa pemerintahan Khalifah al-Mansur  dan putranya, al-Muzaffar. Kendati demikian, kemewahan hidup yang  dijalaninya itu tidak menjadikannya lupa diri dan sombong. Sebaliknya,  ia dikenal sebagai seorang yang baik budi pekertinya, pemaaf dan penuh  kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang anak pembesar, Ibn Hazm mendapat  pendidikan dan pengajaran yang baik. Pada masa kecilnya, ia dibimbing  dan diasuh oleh guru-guru yang mengajarkan Alquran, syair, dan tulisan  indah Arab (khatt). Ketika meningkat remaja, ia mulai mempelajari fikih  dan hadits dari gurunya yang bernama Husain bin Ali al-Farisi dan Ahmad  bin Muhammad bin Jasur. Ketika dewasa, ia mempelajari bidang ilmu  lainnya, seperti filsafat, bahasa, teologi, etika, mantik, dan ilmu jiwa  disamping memperdalam lagi ilmu fikih dan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan  terhadap berbagai disiplin ilmu tersebut pada akhirnya menjadikan Ibn  Hazm seorang yang pakar dalam bidang agama. Kepakarannya ini bukan hanya  diakui oleh kaum muslimin, namun juga diakui oleh kalangan sarjana  Barat. Ada sebuah nasehat yang terkenal dari Ibn Hazm yang ditujukan  kepada para pencari ilmu yaitu, "Jika Anda menghadiri majelis ilmu, maka  janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan  memperoleh pahala, dan bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan  ilmu yang ada padamu, mencari-cari kesalahan dari pengajar untuk  menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela,  yang mana orang-orang tersebut tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam  ilmu selamanya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjun ke politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak seorang  menteri dan hidup di lingkungan istana, Ibn Hazm mulai berkenalan dengan  dunia politik ketika berusia lima tahun. Pada waktu itu terjadi  kerusuhan politik dalam masa pemerintahan Khalifah Hisyam II al-Mu'ayyad  (1010-1013 M) yang mengakibatkan Hisyam beserta ayah Ibn Hazm diusir  dari lingkungan istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Ibn Hazm di bidang politik  secara langsung terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman V  al-Mustahdir (1023 M) dan Khalifah Hisyam III al-Mu'tamid (1027-1031 M).  Pada masa kedua khalifah ini Ibn Hazm menduduki jabatan menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  masa pemerintahan Abdurrahman V al-Mustahdir, Ibn Hazm bersama-sama  dengan khalifah berusaha memadamkan berbagai kerusuhan dan mencoba  merebut wilayah Granada dari tangan musuh. Akan tetapi dalam usaha  merebut wilayah itu khalifah terbunuh dan Ibn Hazm tertangkap. Ia  kemudian dipenjarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dialaminya pada masa  pemerintahan Hisyam III al-Mu'tamid. Ibn Hazm pernah dipenjarakan  setelah sebelumnya ia ikut mengatasi berbagai keributan di istana.  Selepas keluar dari tahanan, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia  politik dan keluar dari istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak keluar dari istana, Ibn  Hazm tidak menetap di satu tempat tertentu, tetapi berpindah-pindah.  Selain mencari ilmu, motivasinya hidup berpindah-pindah tempat karena  ingin mencari ketenangan dan keamanan hidupnya. Sejak saat itu ia juga  mencurahkan perhatiannya kepada penulisan kitab-kitabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab  karangan Ibn Hazm seperti yang dikatakan oleh anaknya, Abu Rafi'i  al-Fadl, berjumlah 400 buah. Tetapi karyanya yang paling monumental  adalah kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (Ilmu Ushul Fikih; terdiri dari  delapan jilid) dan kitab al-Muhalla (Ilmu Fikih; terdiri dari tiga belas  jilid). Kedua kitab ini menjadi rujukan utama para pakar fikih  kontemporer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya yang lain di antaranya adalah: &lt;em&gt;Risalah fi Fada'il Ahl al-Andalus&lt;/em&gt; (Risalah tentang Keistimewaan Orang Andalus), &lt;em&gt;al-Isal Ila Fahm al-Khisal al-Jami'ah li Jumal Syarai' al-Islam&lt;/em&gt; (Pengantar untuk Memahami Alternatif yang mencakup Keseluruhan Syariat Islam), &lt;em&gt;al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa' wa an-Nihal &lt;/em&gt;(Garis Pemisah antara Agama, Paham dan Mazhab), &lt;em&gt;al-Ijma'&lt;/em&gt; (Ijmak), &lt;em&gt;Maratib al-'Ulum wa Kaifiyah Talabuha&lt;/em&gt; (Tingkatan-Tingkatan Ilmu dan Cara Menuntutnya), &lt;em&gt;Izhar Tabdil al-Yahud wa an-Nasara&lt;/em&gt; (Penjelasan tentang Perbedaan Yahudi dan Nasrani), dan &lt;em&gt;at-Taqrib lihadd al-Mantiq &lt;/em&gt;(Ilmu Logika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  menulis kitab mengenai ilmu-ilmu agama, Ibn Hazm juga menulis kitab  sastra. Salah satu karyanya dalam bidang sastra yang sangat terkenal  adalah yang berjudul &lt;em&gt;Tauq al-Hamamah &lt;/em&gt;(Di Bawah Naungan Cinta).  Kitab ini menjadi karya sastra terlaris sepanjang abad pertengahan.  Kitab yang berisikan kumpulan anekdot, observasi, dan puisi tentang  cinta ini tidak hanya dibaca oleh kalangan umat Islam, tetapi juga kaum  Nasrani di Eropa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Hazm wafat di Manta Lisham pada 28  Sya'ban 456 H bertepatan pada tanggal 15 Agustus 1064 M. Wafatnya Ibn  Hazm cukup membuat masyarakat kala itu merasa kehilangan dan terharu.  Bahkan, Khalifah Mansur al-Muwahidi, khalifah ketiga dari Bani Muwahid  termenung menatap kepergian Ibn Hazm, seraya berucap: "Setiap manusia  adalah keluarga Ibn Hazm”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7499646096583865422?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7499646096583865422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7499646096583865422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7499646096583865422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7499646096583865422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/ibn-hazm-ulama-negarawan-dari-spanyol.html' title='Ibn Hazm, Ulama Negarawan dari Spanyol'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-928680611107898460</id><published>2011-11-20T15:03:00.001+07:00</published><updated>2011-11-20T15:03:21.268+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Pengelolaan Wakaf di Era Dinasti-Dinasti Islam?</title><content type='html'>Tata cara  pengelolaan wakaf dalam Islam telah diatur berdasarkan Alquran dan Sunah  Rasulullah SAW. Harta wakaf, menurut ajaran Islam, hanya diambil  manfaatnya, sementara barang asalnya harus tetap. Karena itu, harta  wakaf tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Pada prinsipnya,  menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern,  pembuat wakaf menentukan bentuk pengelolaan wakafnya sendiri. Pengelola  wakaf biasa disebut dengan istilah mutawalli atau nadhir.&lt;br /&gt;&lt;div id="newstext"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perkembangannya praktik wakaf menjadi lebih luas pada masa pemerintahan  Islam sesudah era Khulafaur Rasyidin. Sri Nurhayati dalam tulisannya  yang bertajuk Akuntansi Syariah di Indonesia memaparkan bahwa pada masa  pemerintahan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, semua orang berduyun-duyun  untuk melaksanakan wakaf. Pada masa itu, wakaf tidak hanya untuk  orang-orang fakir dan miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk  membangun lembaga pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaji  para stafnya, gaji para guru dan beasiswa untuk para siswa dan  mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme masyarakat kepada pelaksanaan wakaf telah  menarik perhatian negara untuk mengatur pengelolaan wakaf. Maka, dalam  perkembangan berikutnya mulai dibentuk lembaga yang mengatur wakaf.  Lembaga ini bertugas untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta  wakaf, baik secara umum seperti masjid atau secara individu atau  keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubah bin Ghar al-Hadhramiy yang menjabat sebagai  hakim di Mesir pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M)  dari Dinasti Umayyah, misalnya, telah merintis pengelolaan wakaf di  bawah pengawasan seorang hakim. Ia juga menetapkan formulir pendaftaran  khusus dan kantor untuk mencatat dan mengawasi wakaf di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya  ini mencapai puncaknya dengan didirikannya kantor wakaf untuk  pendaftaran dan melakukan kontrol yang dikaitkan dengan kepala  pengadilan, yang biasa disebut dengan "hakimnya para hakim". Lembaga  wakaf inilah yang pertama kali dilakukan dalam administrasi wakaf di  Mesir, bahkan di seluruh negeri Islam pada masa itu. Pada saat itu juga,  Hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak itulah  pengelolaan wakaf berada di bawah kewenangan lembaga kehakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan  lembaga wakaf ini juga diteruskan pada masa pemerintahan Dinasti  Abbasiyah. Pemerintah Abbasiyah membentuk sebuah lembaga yang diberinama  Shadr al-Wuquuf. Lembaga wakaf ini bertugas mengurusi masalah  administrasi dan memilih staf pengelola lembaga wakaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara  di masa Dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf cukup  menggembirakan, dimana hampir semua tanah-tanah pertanian menjadi harta  wakaf yang dikelola oleh negara dan menjadi milik negara. Ketika  Shalahuddin al-Ayyubi memerintah di Mesir, ia mewakafkan tanah-tanah  milik negara untuk diserahkan kepada institusi agama dan sosial yang ada  pada masa itu. Langkah serupa juga pernah dilakukan oleh penguasa Islam  di Mesir sebelumnya dari Dinasti Fathimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan wakaf  pada masa Dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam. Pada masa  pemerintahan Mamluk, apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh  diwakafkan. Akan tetapi paling banyak yang diwakafkan pada masa itu  adalah tanah pertanian dan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Mamluk juga  dikenal yang namanya wakaf hamba sahaya, yakni mewakafkan budak untuk  memelihara masjid dan madrasah. Hal ini dilakukan pertama kali oleh  pengusa Dinasti Ustmani ketika menaklukan Mesir, Sulaiman Basya, yang  mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Undang-undang wakaf&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di  era Dinasti Mamluk inilah awal mula disahkannya undang-undang wakaf  dalam sebuah pemerintahan Islam. Berbagai sumber sejarah menyebutkan,  perundang-undangan wakaf pada Dinasti Mamluk dimulai sejak masa Sultan  Dzahir Baybars al-Bandaqdari, dimana beliau memilih hakim dari  masing-masing empat mazhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di masa pemerintahan  Turki Utsmaniyah, kekuasaan politik yang diraih oleh dinasti ini telah  mempermudah penerapan syari'at Islam, di antaranya adalah peraturan  tentang perwakafan. Bahkan untuk menangangi persoalan wakaf ini, pada  awal abad ke-19 M, pemerintahan Turki Utsmaniyah membentuk kabinet  khusus untuk menangangi masalah wakaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara undang-undang  perwakafan yang paling penting yang pernah dikeluarkan oleh pemerintahan  Turki Utsmaniyah adalah yang dikeluarkan pada tanggal 29 November 1863.  Undang-undang ini mengatur pengelolaan dan pengawasan wakaf.  Undang-undang ini dipraktikkan di berbagai negara (Turki, Suriah, Irak,  Lebanon, Palestina, dan Arab Saudi) untuk beberapa tahun setelah  perpecahan Kesultanan Turki Utsmaniyah pada tahun 1918.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-928680611107898460?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/928680611107898460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=928680611107898460' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/928680611107898460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/928680611107898460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/bagaimana-pengelolaan-wakaf-di-era.html' title='Bagaimana Pengelolaan Wakaf di Era Dinasti-Dinasti Islam?'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-9203239202315544900</id><published>2011-11-20T15:01:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T15:02:49.141+07:00</updated><title type='text'>Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia Muslim</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;Kisah macam 'Kancil Mencuri  Timur' juga dikenal di dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang  dikenal Muslim sejak lama ialah "&lt;em&gt;Kalila wa Dimna"&lt;/em&gt;. Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Buku  yang berarti Kalila dan Dimna--dinamai dari dua anjing hutan yang  menjadi karakter utama--ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan  sipil. Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas,  menjadi dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah  itu ke Spanyol, di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol  Tua, pada abad ke-13. Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu  merupakan kali pertama buku tampil dalam versi cetak, setelah mesin  cetak ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa  Sansekerta, diperkirakan dari Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta  buku ini disebut &lt;em&gt;Panchatantra &lt;/em&gt;atau "Lima Wacana". Buku tersebut  sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang telah membuat guru  mereka putus asa dan sang ayah terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja takut memercayakan  kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai pelajaran paling  mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana  untuk meminta bantuan  dan si wazir pun menulis &lt;em&gt;Panchatantra&lt;/em&gt;. Buku itu mengungkapkan kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam  bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan.  Ketika raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan  penuh keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia  mengutus dokter pribadinya, Burzoe, ke India untuk menemukan jenis  herbal tertentu yang konon mampu menghadirkan kehidupan abadi bagi  mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe malah membawa satu salinan  Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan herbal ajaib karena ia  menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shah  memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa  Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang  khusus di dalam istananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga ratus tahun berselang, setelah  Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, seorang Persia yang telah  memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan buku itu dalam bahasa  Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi ke Arab dengan  gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang masih  menganggapnya model prosa asli Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan buku tersebut  menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang menjadi cikal sumber  terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, Slavia dan  Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa  Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad  ke-19 Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian  melengkapi siklus yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas,  diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur  serta dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak  ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun  yang menarik ia telah memasuki daratan Eropa--masih dianggap dongeng  dari Arab--dan menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul "Memasang  Bel ke Leher Kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga dalam &lt;em&gt;Brothers Grimm.&lt;/em&gt; Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memasang Bel ke Leher Kucing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dahulu  di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang  membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah  rawa tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki  banyak daya tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga  bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kota ada seekor  tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang hidup di kota itu  dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir yang siap  memberi nasehat untuk bermacam urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari para wazir  berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan berargam masalah. Di  tengah perbincangan, raja berkata, "Apakah mungkin membebaskan diri  kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang kita  rasakan terhadap kucing?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski kita hidup nyaman dan memiliki  banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap Kucing telah  melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi  saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita  lakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saran saya," ujar wazir pertama, "adalah mengumpulkan  sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap  kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu  untuk bersembunyi di lubang-lubang kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata," Bagaimana menurut kamu saran kolegamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  kira itu saran buruk," ujar wazir kedua. "Setelah mengumpulkan semua  bel yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan  anak kucing terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam  opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama  setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai  mengeluarkan kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan  menendang mereka keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan  tersebar dan hidup liar dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu  kita dapat pulang kembali dengan aman ke kota dan hidup selamanya tanpa  cemas terhadap kucing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja, sepertinya masih tak puas dengan  jawaban wazir kedua menolah lagi ke wazir ketiga, yang terbijak.  "Bagaimana dengan ide tersebut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gagasan yang sangat  menyedihkan," balas wazir ketiga, "Jika kita meninggalkan kota dan  tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan  menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan  kita alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka  makan tikus, dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang  dilakukan kucing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu benar tentang itu," ujar sang raja. "Jadi apa yang kamu pikir seharusnya dilakukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya  dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus  memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan  mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang  menghubungkan ke semua ruang dalam rumah," ujar wazir ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu  kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan  manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan  karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. 'Wah satu  kucing sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!' Dan ia  pasti akan menambah satu lagi kucing piaraan," ujar Wazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitu  kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar  merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing,  lalu kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya  membuat mereka berhenti dan berpikir 'Hei, kerusakan hanya sedikit  ketika aku memiliki satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak  tikus,' seolah-olah itulah yang terlihat" ujar wazir ketiga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi  ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu  kucingnya. Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi  dua pertiga saja. Si pemilik pasti berpikir, 'Aneh sekali,'. Ia lalu  menyingkirkan satu lagi kucing lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan  hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan terdorong untuk menyingkirkan  satu lagi kucing tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pula kita hentikan aksi dan  tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan hal besar. 'Wah ternyata bukan  tikus,'. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga kaya lain untuk memberi  tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati maka semua akan  mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan atau  bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan  mengejar dan membunuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir  ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama hingga tidak satupun kucing berada  di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka,  orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.&lt;/p&gt; Kini, jika tu terjadi, mereka pasti berkata, "Seekor kucing pasti  menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di  kota tadi malam." Alhasil, dengan strategi itu, para tikus benar-benar  berhasil membebaskan diri dari warisan rasa takut turun-temurun terhadap  kucing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-9203239202315544900?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/9203239202315544900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=9203239202315544900' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/9203239202315544900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/9203239202315544900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/kalila-wa-dimna-dongeng-fabel-menarik.html' title='Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia Muslim'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-289279521683747971</id><published>2011-11-20T14:59:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T15:00:27.848+07:00</updated><title type='text'>Wang Zipping, Legenda Grandmaster Wushu Muslim Cina</title><content type='html'>Seratus delapan puluh kilometer  dari utara Kota Terlarang (Beijing saat ini), terletak Changzhou, tempat  tinggal suku Hui. Hui adalah suku Muslim di Cina. Namun, selain Islam,  ada hal yang menjadi kecintaan anggota suku, yakni tradisi seni bela  diri.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sebelum penemuan senjata, Wushu merupakan alat utama  pertempuran dan pertahanan diri di Cina. Para pemimpon Hui selalu  mendorong anggotanya mempelajari Wushu sebagai 'kebiasaan suci' demi  memperkuat disiplin dan keberanian untuk memperjuangkan sekaligus  bertahan di tanah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu masjid-masjid, bagi suku Hui,  bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga medan latihan bagi  grandmaster untuk menempa dasar-dasar Wushu kepada murid-murid yang  antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak Hui yang lain, Wang Ziping lahir di  tengah keluarga miskin. Ayahnya bekerja sebagai petinju bayaran. Saat  masih bocah, Ziping menunjukkan keinginan kuat belajar Wushu. Bela diri  ini adalah identitas Hui. Tidak ada Hui--yang saat itu hanya senilai  upah garam--akan berani menjalani hidup tanpa "Latihan Delapanbelas  Pukulan Pertempuran" dan "Tinju Diagram Delapan" melekat pada tubuh dan  pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Wushu, Hui juga mendalami ajaran Islam. Dengan  demikian kehidupan Hui adalah campuran antara buruh miskin, latihan  keras dan spiritual mendalam. Kemampuan luar biasa mereka dalam Wushu  bukan sesuatu yang datang sekejap mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula yang dialami  Ziping. Di tengah pelajaran mengaji Al Qur'an, Ziping juga harus  mengangkat batu berat untuk membangun stamina, kekuatan dan galian parit  yang kian lama kiat luas begitu kemampuannya melompat meningkat.  Keseimbangan yang baik diasah dengan cara berbahaya. Zipping ditanam  dalam tanah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat itu pula Zipping membaca lantunan zikir. Kekuatan dan  keseimbangannya pun bertambah berlipat ganda. Konsentrasi yang biasa  dilakukan saat shalat sebagai tuntutan dalam Islam menjadi tulang  punggung sesolid batu bagi gerakan mengalir Wushu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim di  Changzou cukup sejuk ketika musim panas, namun dingin saat musim salju.  Dalam bulan-bulan musim dingin salju jarang turun sehingga memungkina  latihan tetap digelar. Zipping berlatih dengan seluruh elemen untuk  membuat tangguh tubuhnya. Begitu ia menginjak usia 14 tahun, ia sudah  bisa melompat lebih dari 3 meter dari posisi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang  bocah dengan tubuh setegap pria dewasa dan kualitas petarung itu tak  memiliki guru. Ayahnya yang keras kepala menolak memasukkan Zipping ke  sekolah Wushu. Setengah putus asa mencari guru dan teman, ia jatuh ke  dalam komunitas rahasia yang menyebut diri mereka "Jurus Kebenaran dan  Keharmonian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Wang Zipping memutuskan pergi dan  mengembara ke selatan Jinan, di mana ia menjadi musafir yang tinggal di  sebuah Masjid Besar. Dalam ruang utama masjid itulah, Zipping bertemu  pria seperti dirinya, seorang petinju. Ia bernama Yang Hongxiu,  grandmaster Wushu yang akhirnya menjadi gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Zipping pun  dengan serius mulai mempelajari gerakan burung dan mamalia, seperti  elang menukik menyambar mangsa, gerakan kelinci melintas padang rumput,  hingga lompatan jitu anjing menghindar dari bahaya. Ia menyerap semua  karakter gerakan itu kemudian menciptakan gayanya sendiri. Stamina dan  refleksnya yang kian berkembang, membuat Zipping tak hanya kuat tetapi  juga cepat--sebuah kombinasi mematikan dalam Wushu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  dianggap Grandmaster ketika ia mampu menggunakan alat apa pun sebagai  senjata. Pengembangan kemampuan ini adalah seni sekaligus kebutuhan  dalam Wushu. Zipping, menjadi luar biasa fasih dengan semua senjata  utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sangat mahir terutama dalam melakukan Qinna, yakni  teknik sergapan yang dapat mengunci sendi dan otot-otot lawan dalam  persiapan melakukan serangan dahsyat; Shuaijiao.  Nama yang terakhir itu  adalah gaya bertarung tangan kosong yang menggabungkan prinsip Tai Chi,  Hard Qigong dan Teknik Meringankan Tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendapat pengakuan  sebagai seniman bela diri yang utuh. Pada saat bersamaan ia juga pakar  dalam trauma tulang. Ia mengombinasikan pengetahuan mendalam dalam Qinna  dengan ketrampilang mengatur tulang. Akhirnya ia menemukan sistem  penyembuhan untuk cedera Wushu dan olahraga di utara Cina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Legenda Klasik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; Banyak kisah, ada yang asli dan juga sekedar mitos, yang telah  disematkan pada sosoknya. Namun yang selalu diulang adalah kisah satu  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama melakukan praktek pengobatan di Jiaozhou, Jerman  ditugaskan untuk membangun rel kereta api dari kawasan itu menuju Jinan.  Proyek mercusuar itu adalah harga mahal yang harus dibayar setelah Ratu  Ci'xi gagal dalam pemberontakan tinju. Rel dibuat dengan yang tujuan  memperluas dan mengkokohkan kontrol Eropa atas daratan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reputasi  Zipping bukannya tak diketahui oleh Jerman. Lebih cerdas dan berani  dari pada koleganya, para Jerman berupaya mempermainkannya. Seorang  petinggi militer Jerman bersiasat dengan menempatkan penggilingan batu  besar di depan stasiun rel kereta api dan menantang siapa pun untuk  mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zipping yang tidak pernah bisa tahan dengan  penghinaan terhadap orang Cina, secara alami langsung gusar. Seperti  yang diharapkan Jerman, Zipping masuk perangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau saya bisa mengangkatnya," tanya Zipping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka gilingan itu menjadi milikmu," para Jerman menjawab dengan tampang mengolok-olok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila saya gagal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka kamu harus membayar,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zipping  denga mudah mengangkan gilingan batu itu, meninggalkan para Jerman  tercengang-cengang. Seorang warga Amerika yang bekerja sebagai guru  fisika di tempat itu, menyaksikan aksi Zipping. Ia pun menantang duel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  berjabat tangan mengawali pertandingan, tiba-tiba si Amerika dengan  kuat memegang tangan Zipping dan berupaya membantingnya ke tanah.  Zipping secepat kilat menyapukan kaki ke bagian bawah tubuh lawannya dan  membuatnya ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena reputasinya, Zipping ditunjuk sebagai  kepala Divisi Shaolin di Institut Pusat Seni Bela Diri. Ia juga pernah  menjabat wakil presiden Asosiasi Whusu Cina, organisasi Wushu tertinggi  di CIna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memegang banyak gelar dan tanggung jawab, termasuk  konsultan sejumlah rumah sakit besar di penjuru Cina. Karirnya sebagai  pakar bela diri juga kian menajam setelah ia melakoni banyak duel dengan  orang asing. Ia selalu ingin membuktikan bahwa Cina bukan ras inferior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  dalam usia senja, Zipping tak pernah kehilangan kekuatan dan  kecepatannya. Pada 1960 ketika ia menjadi pelatih dan direktur grup  pelajar Wushu yang menyertai perdana menteri saat itu, Zhou Enlai,  melawat ke Burma, ia diminta mendemonstrasikan kemampuannya. Di depan  tuan rumah ia menampilkan jurus dengan senjata luar biasa berat, Pedang  Naga Hitam. Dengan teknik tinggi, kemampuan dan semangat muda, tak  satupun orang berpikir ia telah berkepala delapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-289279521683747971?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/289279521683747971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=289279521683747971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/289279521683747971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/289279521683747971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/wang-zipping-legenda-grandmaster-wushu.html' title='Wang Zipping, Legenda Grandmaster Wushu Muslim Cina'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6151083238342129069</id><published>2011-11-20T14:58:00.001+07:00</published><updated>2011-11-20T14:58:32.678+07:00</updated><title type='text'>Rumah Sakit Sultan Bayezid II, Termodern di Zamannya</title><content type='html'>Sebelum dijadikan ibukota pemerintahan Ottoman,  Edirne sudah ramai sebagai pusat perdagangan dan juga budaya Muslim.  Hal ini ditandai dengan banyaknya bangunan yang dibangun oleh penguasa  Muslim di kota ini. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS)Bayezid II.  Rumah sakit ini berada di dalam Kompleks (Kulliye) Bayezid II.&lt;br /&gt;&lt;div id="newstext"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;RS  Bayezid II dibangun atas perintah Sultan Bayezid II. Proses pembangunan  Kulliye Bayezid II berikut bangunan rumah sakitnya memakan waktu empat  tahun, dari 1484 M hingga 1488 M. Hingga abad ke-19 M, para dokter  dididik di rumah sakit yang sekaligus menjadi sekolah kedokteran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang bertajuk  &lt;em&gt;Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim&lt;/em&gt;   mengungkapkan, setibanya di Edirne dalam perjalanan ke Balkan bersama  pasukannya pada akhir musim semi 1484, Sultan Bayezid II memerintahkan  membangun banyak proyek, yaitu masjid baru dan pusat kesehatan (medical  centre) termasuk di dalamnya rumah sakit, sanatorium, rumah sakit jiwa  dan sekolah kedokteran di tepian Sungai Tunca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya di  sejumlah kota lain yang berada dalam wilayah kekuasaan Ottoman,  bangunan-bangunan tersebut didirikan dalam sebuah kulliye. Untuk  perencanaan pembangunannya, Sultan Bayezid II menunjuk arsitek kerajaan  pada waktu itu, Mimar Hayrettin, untuk mendesain keseluruhan bangunan  dalam Kulliye Bayezid II ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan rumah sakit (darussifa)  dan rumah sakit jiwa (timarhane) Bayezid II terletak di sisi barat daya  bangunan masjid dalam Kompleks Bayezid II. Tata letak rumah sakit  tersebut terbilang cukup unik, pada ujung selatan terdapat unit berdenah  segi delapan, pada masing-masing sisinya terdapat ruang-ruang untuk  perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ruang dalam unit ini beratap kubah, termasuk  sebuah ruangan yang menyerupai hall. Namun berbeda dengan kubah pada  ruang perawatan, kubah di atas hall jauh lebih besar dan dilengkapi  dengan sebuah lantern yang terdapat pada bagian puncak kubah tepat di  atas bak air besar yang terdapat di tengah-tengah hall. Lantern tersebut  juga beratap kubah, namun dalam ukuran yang lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian  penampang kubah hall berbentuk segi dua belas. Di sekeliling dinding  kubah berbentuk silindris ini terdapat jendela-jendela yang berfungsi  sebagai tempat sirkulasi udara. Sinar matahari dan udara alami masuk  melalui jendela-jendela tersebut hingga ke dalam ruangan yang berada  tepat di bawah kubah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit Sultan Bayezid II ini  beroperasi selama empat ratus tahun sejak diresmikan tahun 1488 M hingga  berkecamuknya Perang Rusia-Turki (1877-1878 M). Hingga abad ke-19 M,  rumah sakit ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi  pasien-pasien yang hendak menjalani perawatan bedah dan mereka yang  mengidap penyakit mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, RS Bayezid II  terutama terkenal karena memiliki tenaga-tenaga ahli bedah yang  terampil. Disamping juga terkenal karena metode pengobatan untuk  penyakit mental yang diberikan kepada para pasien di timarhane (rumah  sakit jiwa). Metode pengobatan penyakit mental yang dilakukan oleh para  dokter di rumah sakit ini menggunakan terapi musik, suara air, dan  penggunaan wewangian atau yang dikenal dengan aromatherapy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  terkenal karena para ahli bedah serta terapi mental yang dimilikinya,  RS Bayezid II juga terkenal berkat pusat pengobatan matanya. Karenanya  pada masa lalu, rumah sakit ini menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan  bagi penderita penyakit mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bangunan rumah sakit  bersejarah tersebut menjadi bagian dari kompleks Universitas Trakya yang  juga berada di kota Edirne. Dan, sejak tahun 1997, bangunan rumah sakit  tersebut dialihfungsikan menjadi sebuah museum kesehatan bernama  Bayezid II Kulliye Health Museum. Museum tersebut didedikasikan untuk  mengenang peran dan kontribusi penguasa Ottoman dalam mengembangkan  khazanah ilmu pengobatan dan kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, Bayezid  II Kulliye Health Museum menjadi satu-satunya museum kesehatan yang  terdapat di Turki. Museum ini memberikan berbagai informasi penting  seputar sejarah dan perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan,  khususnya pada masa pemerintahan Ottoman, kepada para pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum  ini tercatat sebagai tempay bersejarah kedua di Edirne yang paling  banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Masjid Selimiye (Sultan  Salim). Karenanya, pada tahun 2004 lalu, Bayezid II Kulliye Health  Museum dianuegrahi  Museum Award oleh Dewan Kebudayaan Eropa.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6151083238342129069?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6151083238342129069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6151083238342129069' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6151083238342129069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6151083238342129069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/rumah-sakit-sultan-bayezid-ii-termodern.html' title='Rumah Sakit Sultan Bayezid II, Termodern di Zamannya'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-993237076407086477</id><published>2011-11-20T14:57:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T14:58:00.219+07:00</updated><title type='text'>Jejak Pembuatan Tembikar dalam Sejarah Islam</title><content type='html'>Jejak peradaban Islam  tertoreh juga pada tembikar. Benda berbahan tanah liat yang bermotif  indah itu hadir melalui proses yang cukup panjang. Menyerap teknik  pembuatan dari beraneka sumber, mengkajinya, dan mengembangkannya  sendiri. Para ahli kimia turut menyumbang pemikiran bagaimana memadu  bahan agar tembikar berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;div id="newstext"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, tembikar yang menjadi  satu buah peradaban Islam menuai sanjungan. Philip K Hitti melontarkan  kekagumannya. Melalui bukunya, History of the Arabs, ia menyatakan, di  tangan seniman Muslim, seni tembikar mencapai tingkat keindahan yang  sulit ditandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan yang tertoreh pada tembikar mewujud  melalui lukisan manusia, hewan, dan tumbuhan, selain bentuk geometris  dan epigraf. Karya ini segera berkembang pesat hingga menjadi sebuah  industri yang sangat maju di beberapa wilayah Islam. Sentra produksi  tembikar ada di Antiokia, Aleppo, Damaskus, Tyre, dan Phoenix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah  tembikar peninggalan umat Muslim pada zaman pertengahan masih tersisa.  Sebagian masih disimpan di Museum Lauvre, British Museum, dan Arabic  Museum di Kairo, Mesir. Tembikar memiliki kegunaan luas. Salah satunya  untuk hiasan dan menjadi bagian dari dekorasi bangunan megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu yang terkenal adalah tembikar Qasyani. Karya seni asal Persia itu  berhias gambar bunga dan diakui keistimewaannya oleh banyak kalangan.  Perkembangan seni tembikar di dunia Islam bermula sejak abad ke-7  Masehi. Pengetahuan pembuatan barang itu diserap dari sejumlah sumber,  seperti Persia dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik yang diadopsi dari luar  kemudian dipadukan dengan teknik yang dikembangkan oleh umat Islam. Maka  itu, hadirlah sebuah karya seni dengan reputasi menjulang sepanjang  masa.Dalam tulisannya berjudul The Potters of Islam, John Luter mencatat  kontribusi sains Islam dalam pengembangan tembikar. Menurut dia,  pembuatan tembikar berkualitas oleh masyarakat Muslim terinspirasi  keunggulan teknik yang dikembangkan di Cina. Bangsa Cina dikenal dengan  tembikarnya yang kuat, tidak mudah pecah, berbalut dekorasi warna-warni,  dan mengilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Muhammad bin alHusayn al-Baihaki yang  berangka tahun 1059 Masehi menjadi rujukan para sejarawan kontempoter.  Al Baihaki berkata, seorang gubernur dari Khurasan, Iran, mengirimkan  hadiah kepada Khalifah Harun alRasyid berupa tembikar yang berasal dari  Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang khalifah terpikat keindahan benda itu. Lalu, ia  mendorong seniman Muslim untuk membuat karya yang tak kalah hebatnya.  Inisiatif ini memicu banyak seniman terkemuka berdatangan ke Baghdad,  ibu kota pemerintahan, untuk memenuhi tantangan Khalifah Harun  al-Rasyid. Karya awal mereka masih berupa eksperimen. Seiring waktu,  kajian teknik untuk melahirkan karya berkualitas gencar dilakukan.  Kemudian, hadirlah motif, rancangan, ataupun dekorasi baru. Begitu pula  teknik dan metode pembuatan tembikar berkembang begitu pesat dan  diperbarui dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu inovasi penting adalah  kemampuan mewujudkan lukisan yang berkilau. Beberapa sumber sejarah  menyebut teknik itu pertama kali diciptakan bangsa Mesir dan Cina. Umat  Islam mengadopsi metode itu bahkan memperbaikinya untuk memperoleh  kualitas yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman pada masa Abbasiyah  memunculkan kreasi warna keemasan dan juga menghadirkan motif mengilap  pada tembikar yang biasanya hanya dihias warna biru, hijau, atau  abu-abu. Teknik itu, sambung John Luter, memakai bahan sulfur dan zat  asam serta dicampurkan dengan material tanah lempung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan  campuran itu dipakai sebagai cat pada motif lukisan. Goresan motif  gambar dilakukan segera setelah tembikar itu melalui proses pencetakan  dan pembakaran. Setelah digambar dan diberi motif atau dekorasi, sekali  lagi tembikar itu dibakar untuk mencegah pengapuran. "Ketika residu  bahan perlahan menghilang selama proses pem bakaran, efek mengilap dari  cat tadi muncul sehingga menjadikan tembikar itu tampak sangat indah,"  ujar John Luter. Menurut dia, bahan pembuat tembikar yang juga paling  umum digunakan adalah semacam semen putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, ahli kimia  Muslim memainkan peran penting. Mereka menemukan bahan yang sanggup  menghasilkan tembikar berkualitas tinggi. Kian majunya teknik pembuatan  tembikar memantik lahirnya industri tembikar. Masa-masa pentingnya  berlangsung dalam kurun abad ke-9 hingga abad ke-13 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam  tembikar dan variasi motif membanjiri kota-kota besar Islam.  Gedung-gedung dan istana berhias barang tembikar nan indah. Di sisi  lain, seni tembikar Islam juga mendapatkan sentuhan aspek kaligrafi. Hal  ini menambah keunggulan dan keistimewaan yang tidak ada pada peradaban  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaligrafi bukan sekadar untuk menghias permukaan  tembikar. Pada beberapa daerah, kalimat kaligrafi yang tersemat di  permukaan tembikar mencerminkan tradisi keagamaan ataupun kondisi umat  Muslim setempat. Tak dimungkiri bahwa masyarakat pada masa itu telah  memandang seni tembikar bukan sekadar hiasan, tapi juga ekspresi  keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga masa kekuasaan Dinasti Seljuk, penelitian  ilmiah dan kreasi baru seni tembikar tak henti bermunculan. Seniman era  ini mengenalkan tembikar jenis baru, yaitu faience. Tembikar itu terbuat  dari bahan semen putih dicampur dengan cairan alkalin yang memunculkan  efek kaca. Risalah dari Abulqassim pada tahun 1301 Masehi menjelaskan  teknik dan proses pembuatan faience. Dalam salah satu bagian risalah, ia  menuturkan, untuk menambah kekuatan tembikar, para pembuatnya  mengurangi kadar air pada bahan-bahan dasar tembikar.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-993237076407086477?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/993237076407086477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=993237076407086477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/993237076407086477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/993237076407086477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/jejak-pembuatan-tembikar-dalam-sejarah.html' title='Jejak Pembuatan Tembikar dalam Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6391252809715183643</id><published>2011-11-20T14:56:00.001+07:00</published><updated>2011-11-20T14:56:43.987+07:00</updated><title type='text'>Tradisi Diplomasi dalam Sejarah Islam</title><content type='html'>Jalan diplomasi sudah lama dibangun. Banyak cendekiawan yang dilibatkan  dalam menjalin hubungan dengan bangsa dan peradaban lain. Pemerintahan  Islam di abad pertengahan banyak mengirim diplomatnya, selain untuk  menjaga pertemanan, juga untuk mewujudkan perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jere L  Bacharach dalam bukunya Medieval Islamic Civilization, an Encyclopedia  mengatakan, praktik diplomasi sudah menjadi bagian dari politik Islam  sejak berabadabad silam. Sejarawan ini mencatat, terdapat dua  karakteristik diplomasi yang dipraktikkan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,  pada masa awal Islam, tujuan religius menjadi fokus. Diplomasi adalah  untuk mengajak kaum di luar Islam untuk memeluk Islam, beriman kepada  Allah SWT dan Rasul-Nya. Sedangkan, karakteristik kedua, lebih bersifat  politis. Pada masa pemerintahan Islam banyak ekspedisi dan perluasan  wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus berhubungan dengan banyak negara dan  peradaban lain. Diplomasi dibutuhkan untuk memperkuat aliansi,  pertukaran pengetahuan, perdagangan, dan perdamaian. Ibnu Batutta  menjadi salah satu tokoh utusan yang mewarnai perkembangan diplomasi di  dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dikenal pula sebagai penjelajah terbesar bangsa  Arab. Hampir separuh dunia pernah dikunjunginya. Ibnu Batutta melakukan  ekspedisi pengembaraan hingga puluhan tahun lamanya. Nama lengkap tokoh  asal Maroko itu adalah Syamsuddin Muhammad bin Abdullah alTanji. Namun,  lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Batutta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya mengabdi  pada pemerintahan Sultan Abu `Inan. Beberapa ekspedisi perjalanannya  dicatat pada karya yang ditulis sarjana bernama Ibnu Jauzi. Selain  menjadi pengembara, Ibnu Batutta juga ahli geografi yang cermat.  Keistimewaan yang dimilikinya membuatnya diberi kepercayaan oleh Sultan  Abu `Inan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan menunjuknya sebagai utusan Islam untuk Dinasti  Yuan, penguasa negeri Cina. Ibnu Battuta menerima amanat tersebut dan  berangkat ke wilayah timur jauh. Berkat pengetahuan yang luas dan  kecakapannya dalam bernegosiasi, terjalin hubungan erat antara  pemerintahan Islam dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berabad-abad hampir tak ada  konflik yang muncul dalam hubungan kedua pemerintahan itu. Bahkan,  terjadi transfer pengetahuan yang pesat. Kerja sama perdagangan kian  meningkat. Selain Ibnu Batutta, muncul pula nama lainnya, yaitu Nadhir  al-Harami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pemimpin rombongan utusan Khalifah al-Muqtadir ke  kawasan Volga Bulgars. Sebuah negara yang terletak di Sungai Volga dan  Kama, Rusia. Seluruh kisah perjalanan maupun langkah diplomasi alHarami  terekam dalam buku berjudul Ar-Risalah karya Ibnu Fadhlan. Ia merupakan  sekretaris rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Harami sukses menjalankan titah  khalifah. Sebelumnya, penguasa dan masyarakat Volga Bulgas bersedia  mempelajari agama Islam. Utusan dari Volga tiba di Baghdad pada 920  Masehi. Mereka meminta kepada khalifah agar dikirimkan ahli-ahli agama  untuk mengajar di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula nama Abd el Ouahed bin Messaoud.  Ia bekerja di pemerintahan saat Ahmad al-Mansur menjadi penguasa Maroko  pada sekitar abad ke-16. Jabatannya adalah sekretaris kerajaan. Saat  itu umat Islam di Maroko sedang menghadapi pertikaian dengan bangsa  Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abd el-Ouahed lantas diutus menemui Ratu Elizabeth I  dari Inggris. Tujuannya agar terjalin aliansi antara Maroko dan Inggris  untuk bersama menghadapi kekuatan armada Spanyol. Jalan ini ditempuh  karena sebelumnya kekuatan Inggris mampu mengalahkan armada Spanyol,  yaitu pada 1588 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lantas menguasai wilayah Cadiz.  Pasukan Maroko menang atas Spanyol pada pertempuran Alcazar tahun 1578.  Dua momen itu mengilhami Ahmad al-Mansur. Dia ingin dua kekuatan,  Inggris dan Maroko, bersatu. Lantas dikirimlah diplomat terbaiknya, Abd  el Ouahed yang tiba di Inggris pada 1600 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama  menjalankan misi diplomasinya, Abd el Ouahed didampingi Haji Messa dan  Haji Bahanet. Pun seorang penerjemah bernama Abd el Dodar. Tujuan lain  utusan ini adalah membuka jalur perdagangan antara kedua negara. Mereka  bertemu Ratu pada 19 Agustus dan 10 September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan itu  menghabiskan waktu selama enam bulan di Inggris. Saat itu, Ratu belum  memberikan jawaban atas tawaran kerja sama dalam menghadang Spanyol.  Namun, ia menerima keinginan Maroko untuk menjalin perdagangan. Abd el  Ouahed berusaha menjalankan tugas dengan sebaikbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  membahas dengan perinci prinsip-prinsip kerja sama yang akan dijalankan  kedua negara. Seperti besaran kompensasi dari masing-masing negara untuk  memperkuat perniagaan. Demikian pula bantuan pembuatan kapal perang.  Menurut Jere Bacharach, Abd el Oauahed menunjukkan dedikasi luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacharach  mengatakan, Abd el Oauahed memiliki karakter seorang diplomat sejati  yaitu loyal, berpengetahuan luas, mahir berbicara, cermat, pantang  menyerah, dan tegas. Menurut dia, pengiriman misi diplomatik semacam itu  juga lazim dilakukan penguasa Islam di Spanyol maupun Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik  itu kian intensif karena kerap timbul gejolak di kawasan tersebut. Para  diplomat dan utusan dengan keahlian hebat sangat dibutuhkan untuk  meneruskan peradaban Islam yang gemilang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6391252809715183643?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6391252809715183643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6391252809715183643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6391252809715183643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6391252809715183643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/tradisi-diplomasi-dalam-sejarah-islam.html' title='Tradisi Diplomasi dalam Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8814185770284044208</id><published>2011-11-20T14:55:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T14:56:11.623+07:00</updated><title type='text'>Asal Mula Rumah Sakit dalam Sejarah Islam</title><content type='html'>Kemajuan bidang medis memicu perkembangan lebih jauh. Tak melulu karya  dan pemikiran yang berserak. Namun, pada akhirnya muncul sebuah  institusi berupa rumah sakit. Keberadaan rumah sakit selain berfungsi  sebagai pusat pelayanan kesehatan juga menjadi sentra pengembangan ilmu  medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit yang representatif paling awal dibangun di  Baghdad, Irak pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Tepatnya, ketika  Harun al-Rasyid (786809) menjadi khalifah. Rumah sakit dikenal dengan  sebutan bimaristan atau maristan. Bangunan rumah sakit di Baghdad besar  dan megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancang bangunnya menjadi acuan bagi rumah sakit  lainnya yang baru didirikan di wilayah Islam. Gambaran mengenai rumah  sakit di Baghdad disampaikan oleh sejarawan Muslim terkemuka al-Jubair.  Ia mengunjungi Baghdad pada 1184 Masehi. Menurutnya, perlengkapan rumah  sakit sangat memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ia mengungkapkan, kemegahannya tak  kalah dengan istana khalifah. Kebutuhan air bersih di rumah sakit  disalurkan langsung dari Sungai Tigris. Pada masa selanjutnya, umat  Islam membangun sejumlah rumah sakit besar dan terintegrasi. Maksudnya,  rumah sakit itu mampu memberi pelayanan pengobatan beragam jenis  penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat fasilitas rawat inap, ruang  penyimpanan dan pelayanan obatobatan, tempat pendidikan bagi dokter dan  tenaga medis, perpustakaan, bahkan menjadi pusat pengembangan ilmu serta  praktik kedokteran. Sebagian besar rumah sakit Islam berkonsep modern  sudah memiliki standar semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, rancang  bangun dan tata letak ruangan rumah sakit menjadi penting untuk dapat  mengakomodasi seluruh fungsi tadi. Beberapa ruangan khusus melengkapi  sarana yang ada. Hal itu diungkapkan dalam buku History of the Arabs. Si  penulis buku, Philip K Hitti, menyebut rumah sakit Islam mempunyai  ruangan khusus perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri pula gudang obat yang menyatu  dengan bangunan rumah sakit. "Beberapa di antaranya dilengkapi  perpustakaan kedokteran. Rumah sakit juga menawarkan kursus pengobatan,"  urai Hitti. Gambaran yang hampir sama tercantum dalam artikel berjudul  "Islamic Culture and the Medical Arts" pada laman National Library of  Medicine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel tersebut menggambarkan, rumah sakit yang  didirikan umat Islam di Suriah maupun Mesir sepanjang abad ke-12 dan  ke-13 juga memiliki setidaknya empat bangsal besar. Ruangan lain  berukuran tidak terlampau luas, seperti ruang untuk dapur, gudang,  apotek, tempat istirahat staf, dan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap bangsal  biasanya dilengkapi pancuran air bersih untuk minum atau mandi. Rumah  sakit menerapkan pemisahan bangsal pasien perempuan dan laki-laki. Juga  bangsal untuk pasien berpenyakit menular dirawat di ruangan terpisah  dari pasien lain. Selain itu, ada pula ruang khusus bagi pasien penyakit  mata dan disentri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada area khusus yang digunakan  sebagai ruangan operasi dan ruang perawatan pasien gangguan jiwa. Kamar  mandi dengan pasokan air memadai tersedia pada beberapa bagian rumah  sakit. Para pengelola rumah sakit sangat memerhatikan unsur kebersihan  sehingga tidak membiarkan kamar mandi dalam keadaan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah  rumah sakit milik pemerintah memiliki laboratorium guna meracik beragam  obat. Tak jarang, pusat farmasi ini sanggup memproduksi obat-obatan  dalam skala besar. Sebagian besar obat diberikan untuk pasien rumah  sakit dan sebagian lagi disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi  mengagumkan ketika rumah sakit menjadi tempat pendidikan, tempat  menempa mahasiswa kedokteran dan perawat, serta pengembangan kajian  medis. Ada pula ruangan yang digunakan sebagai tempat belajar-mengajar.  Tradisi itu mulai berlangsung pada masa Khalifah al-Ma'mun serta  al-Mu'tashim, dan masih ada di era Seljuk dan Usmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah  Sakit Bursa yang berdiri di dekat istana Sultan Yildirim, dibuka sekolah  kedokteran. Di rumah sakit itu, di samping ada ruang belajar, ada pula  ruangan pengajar yang juga para dokter senior. Perpustakaan besar yang  menyimpan bermacam naskah ilmiah medis turut melengkapi sarana  pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit lain yang membuka fasilitas pelatihan  kedokteran yakni RS al-Nuri di Damaskus, Suriah dan RS Marakesh di  Maroko. Ruangan yang sangat penting dan selalu ada di rumah sakit Islam  adalah masjid atau tempat ibadah. Fasilitas tersebut memudahkan pasien  dan pengunjung dalam menunaikan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, ruangannya  cukup besar dan bisa menampung banyak jamaah. Selain itu, dalam artikel  berjudul "The Beginning of the Islamic Hospitals" pada laman  muslimheritage menuturkan, di sana dibangun pula gereja bagi pengunjung,  pasien, maupun tenaga kesehatan yang beragama Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen  rumah sakit menyediakan ruang tunggu bagi pengunjung. Sarana penunjang  lainnya adalah aula, klinik pasien rawat jalan dan penyakit ringan, juga  dapur. Dan yang membanggakan, seluruh pelayanan dan sarana itu dapat  dinikmati oleh pasien tanpa dipungut biaya sepeser pun. Ilmuwan Hossam  Arafa dalam tulisan berjudul "Hospital in Islamic History" mengatakan,  karakteristik rumah sakit Islam adalah melayani pasien tanpa memandang  asal usul, etnis, suku, maupun agama. Semua berhak menerima perawatan  medis tanpa perlu membayar biaya layanan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana yang  dibutuhkan untuk memberikan layanan pengobatan, perawatan, hingga biaya  operasional rumah sakit sepenuhnya berasal dari dana wakaf. Umat Muslim  dan penguasa mewakafkan sebagian harta mereka untuk kepentingan sosial  dan agama. Pada masa itu, dana wakaf yang terkumpul cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana  wakaf tersebut lebih dari cukup untuk membiayai pembangunan serta  operasional rumah sakit. Sebagian anggaran negara juga didistribusikan  ke rumah sakit, terutama untuk pemeliharaan peralatan dan penyediaan  obat-obatan. Karena itulah, rumah sakit bisa beroperasi secara maksimal  dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien. Konsep dan rancang  bangun rumah sakit modern milik umat Muslim ini dijadikan model bagi  rumah sakit-rumah sakit yang didirikan di Eropa beberapa abad kemudian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8814185770284044208?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8814185770284044208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8814185770284044208' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8814185770284044208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8814185770284044208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/11/asal-mula-rumah-sakit-dalam-sejarah.html' title='Asal Mula Rumah Sakit dalam Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-5149189116394266615</id><published>2011-06-01T12:24:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:13:16.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Ini Dia Tokoh Islam yang Berperan Besar dalam Matematika</title><content type='html'>Rekayasa mekanika melambungkan nama Banu Musa di khazanah sains Islam. Melalui kemampuannya, Banu Musa menciptakan berbagai peralatan mesin yang terbilang pada masanya. Namun, sebenarnya bukan itu saja prestasinya. Banu Musa menoreh kan prestasi gemilang di ranah matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepakaran Banu Musa dalam matematika bahkan layak disejajarkan dengan sejumlah tokoh besar lainnya, seperti al-Khawarizmi (780-846 Masehi), al-Kindi (801-873), atau Umar Khayam (1048-1131). Matematika dijadikan pijakan bagi Banu Musa untuk menopang kemampuanya di bidang teknik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, Banu Musa, atau keluarga Mu sa, terdiri dari tiga bersaudara: Jafar Mu hammad bin Musa bin Shakir, Ahmad bin Musa bin Shakir, dan al-Hasan bin Musa bin Shakir. Ketiganya merupakan putra dari seorang cendekiawan terkemuka abad ke-8, yakni Musa bin Shakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banu Musa ikut andil dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Bahkan, Banu Musa termasuk saintis Muslim pertama yang mengembangkan bidang ilmu hitung di dunia Islam melalui transfer pengetahuan dari peradaban Yunani. Lalu, Banu Musa membangun konsep dan teori baru, khususnya pada lingkup geometri. Dari tiga saudara tadi, adalah si sulung Jafar Muhammad yang berada di baris depan dalam kajian geometri. Selanjutnya diikuti oleh al-Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ahmad bin Musa membawa konsep matematika kepada aspek mekanika. Mereka terus bekerja bersama-sama hingga mencapai hasil yang sempurna. Banu Musa sangat tertarik dengan manuskrip ilmiah dari Yunani. Salah satunya berjudul Conics. Keseluruhan karya Appollonius ini terdiri dari delapan jilid. Diungkapkan Jere L Bacharach dalam Medieval Islamic Civilization, topik utama dari naskah tersebut membahas tentang geometri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banu Musa meminta bantuan dua sarjana terkemuka, yaitu Hilal bin Abi Halal al-Himsi dan Thabit bin Qurra, untuk menerjemahkan karya itu ke dalam bahasa Arab. Dalam buku MacTutor History of Mathematics, sejarawan sains John O’Connor dan Edmund F Robertson menyebut Banu Musa sebagai salah satu peletak dasar bidang geometri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banu Musa berhasil menghubungkan konsep geometri dari matematika Yunani ke dalam khazanah keilmuan Islam sepanjang abad pertengah an. Di kemudian hari, Banu Musa menyusun risalah penting tentang geometri, yakni Kitab Marifat Masakhat al-Ashkal. Kitab tersebut sangat terkenal di Barat. Menyusul penerjemahannya ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 oleh Gerard of Cremona dengan judul Libertrium Fratum de Geometria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut O’Connor dan Robertson, terdapat beberapa kesamaan metodologi dan konsep geometri dari Banu Musa dengan yang diusung Apollonius. Namun, keduanya menegaskan pula bahwa banyak pula perbedaan yang muncul. Sebab, Banu Musa melakukan perbaikan dan membangun rumusrumus baru yang terbukti sangat efektif. Lebih jauh, Banu Musa menyempurnakan metode persamaan yang dirintis Eudoxus dan Archimedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar matematika Muslim itu menambahkan rumus poligon dengan dua bidang sama luas. Sebelum diteruskan oleh Banu Musa, metode ini tidak banyak mendapat perhatian dan nyaris hilang dimakan zaman. Di sisi lain, Banu Musa membangun pola lebih maju terkait penghitung an luas serta volume yang mampu dijabarkan lewat angka-angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O’Connor dan Robertson mengungkapkan, penggunaan sistem angka merupakan keunggulan dari metode geo metri awal warisan peradaban Islam. Hal lain diungkapkan oleh Shirali Kadyrov melalui tulisannya Muslim Contributions to Mathematics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Banu Musa juga menje laskan mengenai angka konstan phi. Ini adalah besaran dari hasil pembagian diameter lingkaran. Banu Musa mengatakan, konsep ini pernah dipakai Archimedes. Namun, pada saat itu pemikiran Archimedes dinilai masih kurang sempurna. Sezgin, seorang ahli matematika Barat, menganggap bukti temuan Banu Musa merupakan fondasi kajian geometri pada masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa disampaikan Roshidi Rashed dalam History of a Great Number. Di samping itu, mereka menciptakan pemecahan geometri dasar untuk menghitung luas volume. Laman isesco.org menyatakan, sumbangan Banu Musa yang lain yakni ketika menemukan metode dan praktik geometri yang ringkas serta mudah diaplikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membentuk lingkaran, misalnya, bisa dikerjakan dengan memakai besi siku atau jangka. Masing-masing ujung besi siku itu diletakkan di titik berbeda. Kemudian diambil sudut tertentu. Ambil salah satu ujung sebagai tumpuan dan ujung lainnya diputar melingkar. Maka dihasilkan sebuah lingkaran sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan Victor J Katz dan Annete Imhausen pada The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India and Islam, kajian geometri mencapai tahap tertinggi melalui pemikiran dan karya Banu Musa. Inti gagasan mencakup sejumlah operasi penghitungan kubus, lingkaran, volume, kerucut, dan sudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Kitab Marifat, Muhammad bin Musa menulis beberapa karya geometri yang penting. Salah satunya menguraikan tentang ukuran ruang, pembagian sudut, serta perhitungan proporsional. Hal ini terutama digunakan untuk menghitung pembagian tunggal antara dua nilai tertentu. Sedangkan, al-Hasan mengerjakan penelitian untuk menjabarkan sifat-sifat geometris dari elips.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-5149189116394266615?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/5149189116394266615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=5149189116394266615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5149189116394266615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5149189116394266615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ini-dia-tokoh-islam-yang-berperan-besar.html' title='Ini Dia Tokoh Islam yang Berperan Besar dalam Matematika'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6387192066550720786</id><published>2011-06-01T12:23:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:16:21.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sepotong Daging, Sepotong Surga</title><content type='html'>Anak itu tidak mati digorok ayahnya. Ia justru jadi seorang mulia sebagaimana sang ayah. Begitu mulia hingga nama keduanya terus disebut-sebut. Bahkan, hingga 4.000 tahun kemudian setelah lewat masa hidupnya. Mereka adalah Ismail dan Ibrahim, rasul kekasih Allah SWT. Mereka menjadi sarana Tuhan untuk mengajar manusia: sepotong daging bisa menjadi jalan ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran surga dari sepotong daging terlihat di pelataran Masjid Istiqlal, kemarin. Juga, di pelataran masjid-masjid lain di seluruh dunia. Lihatlah wajah orang-orang yang antre di sana. Harga daging jelas tidak seberapa. Di pasar, hanya sekitar Rp 55 ribu sekilo. Daging bercampur tulang pasti lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daging tak seberapa itu telah membuat berjuta wajah manusia berseri. Daging itu begitu berharga buat mereka. Apa imbalan terpantas bagi yang membuat berseri wajah kaum miskin, selain surga? Berkurban seperti bukan hal istimewa. Sekadar menyisihkan uang untuk membeli sapi atau kambing untuk dipotong. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.&lt;br /&gt;Saban tahun, setiap Idul Adha, umat Islam melakukannya. Semua tahu itu. Tak ada yang baru. Tapi, perhatikan betul fenomena pembagian daging kurban. Cermati wajah-wajah mereka--penerima daging kurban. Ada pelajaran luar biasa yang dapat dipetik dari fenomena kurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, itu yang saya rasakan pada Idul Adha kali ini. Saya tahu, di sekitar kita banyak warga miskin. Sehari-hari, saya juga selalu berinteraksi dengan orang miskin, baik itu di lingkungan rumah maupun tempat kerja. Data statistik juga menunjukkan jumlah absolut warga miskin Indonesia masih besar. Berlipat kali total penduduk Brunei tentu. Tapi, saya tak menduga, warga miskin benar-benar sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar kerumunan warga yang menerima daging kurban di Istiqlal, misalnya, sangat mencengangkan. "Di Jakarta, yang pusat kekuasaan saja, masih begitu banyak orang miskin. Apalagi di daerah," kata seorang teman. Negeri ini negeri makmur. Kekayaan alamnya berlimpah ruah. Semestinya seluruh rakyatnya relatif sejahtera. Apalagi, kita sudah 65 tahun merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ternyata masih terdapat begitu banyak warga miskin--yang sepotong daging pun buat mereka sedemikian berharga--tentu ada yang keliru dalam mengelola negeri ini. Kekeliruan itu bukan salah satu-dua orang. Kekeliruan itu tentu salah banyak orang. Maka, seluruh bangsa ini perlu turun tangan untuk lebih peduli memperbaiki keadaan. Setidaknya, itulah salah satu pelajaran dari ibadah kurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkurban bukan sekadar menyembelih sapi atau kambing. Berkurban juga mencakup kerelaan sepenuh hati memberi perhatian dan membantu sesama. Ibadah kurban setahun sekali dengan menyembelih hewan merupakan sarana pengingat agar kita--setiap saat dan setiap keadaan--selalu siap berkurban untuk kebaikan bersama. Hanya orang-orang yang siap berkurban bisa menjadi benar-benar mulia. Itu yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail. Hanya bangsa-bangsa siap berkurban yang dapat menjadi bangsa mulia sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerelaan berkurban pada era materialistis sekarang terasa menipis. Dalam melangkah, kita cenderung makin mengabaikan pertimbangan `apa yang terbaik bagi semua'. Kita cenderung mengedepankan `apa untung saya' walaupun kadang dengan merugikan orang lain, termasuk merugikan masyarakat luas. Sikap seperti itu sangat meluas. Bahkan, di kalangan para pejabat dan tokoh sekalipun. Wajar bila kemiskinan bukan teratasi, melainkan malah menahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkurban mengingatkan kita semua atas hal itu. Berkurban mengingatkan begitu banyak orang tak mampu. Semestinyalah kita terdorong berbuat membantu mereka sesuai kapasitas masing-masing. Apalagi bila kita berkuasa serta mampu mengarahkan kebijakan publik. Dengan semangat berkurban, semestinya seluruh bangsa bahumembahu mengatasi kemiskinan. Sebuah langkah, yang bila kita jalankan secara sungguh-sungguh, akan berhadiahkan sepotong surga. Tidakkah kita mengharap surga sebagai ujung perjalanan di dunia ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6387192066550720786?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6387192066550720786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6387192066550720786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6387192066550720786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6387192066550720786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/sepotong-daging-sepotong-surga.html' title='Sepotong Daging, Sepotong Surga'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7071636341399933807</id><published>2011-06-01T12:22:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:16:21.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kisah Tenggelamnya Firaun di Laut Merah</title><content type='html'>Laut Merah boleh dikatakan laut yang istimewa. Mengapa? Bukan hanya karena warnanya yang pada waktu-waktu tertentu terlihat merah jika dipandang dari atas, tapi juga karena lautan yang memisahkan benua Asia dan Afrika ini menyimpan kisah tentang kebesaran Allah SWT. Saat Nabi Musa AS dan Bani Israil diburu penguasa Mesir, laut tersebut membelah dan menenggelamkan Firaun berikut pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah haji asal Indonesia yang datang ke Tanah Suci bisa menyaksikan Laut Merah melalui jendela pesawat sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Hal ini karena Kota Jeddah memang berada di tepi Laut Merah sisi timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, Laut Merah merupakan perairan teluk yang berhubungan langsung dengan Laut Arab di sisi selatan. Negara-negara yang memiliki wilayah perairan di sepanjang Laut Merah, antara lain Arab Saudi, Mesir, Sudan, Eritrea, dan Etiopia, atau yang biasa disebut negara-negara Maghribi. Sedangkan, di sisi utara terdapat kanal bernama Suez yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebar lautan yang menjadi pembatas wilayah benua Asia dan Afrika ini di lokasi terjauh mencapai jarak 300 km. Sedangkan, panjang satu sisi pesisir Laut Merah mencapai sekitar 1.900 km. Sementara kedalaman lautnya di tempat yang terdalam mencapai 2.500 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Nabi Musa membelah Laut Merah tersebut diperkirakan terjadi sekitar 3.500 tahun silam. Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 50 disebutkan, "Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan." Sejarah ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga merupakan pasukan dan pengawal Firaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian ilmiah, lokasi penyeberangan Nabi Musa AS diperkirakan berada di wilayah Nuwaiba, Semenanjung Sinai, Mesir. Kedalaman maksimum perairan di kawasan ini sekitar 800 meter ke arah Mesir dan 900 meter ke arah Arab. Sedangkan, jarak Nuwaiba di sisi timur Laut Merah hingga Semenanjung Arab di sisi barat sekitar 1800 meter. Lebar lintasan saat Nabi Musa menyeberangi Laut Merah diperkirakan mencapai 900 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data tersebut, bisa dibayangkan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk menyibakkan air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter. Apalagi waktu tersibaknya Laut Merah cukup lama karena Bani Israil yang menyertai Nabi Musa AS menyeberangi Laut Merah mencapai 600.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan fisika, jika penyibakan Laut Merah tersebut berlangsung empat jam saja, maka dibutuhkan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2,8 juta newton per meter persegi. Jika dikaitkan dengan kecepatan angin, akan melebihi kecepatan angin pada saat terjadi badai angin kencang. Mengacu pada perhitungan yang dilakukan seorang pakar dari Rusia bernama Volzinger, diperlukan embusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik atau 108 km/jam sepanjang malam untuk menyibakkan air sedalam 800 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan fenomena ini, peneliti Amerika Serikat mengakui bahwa fenomena Laut Merah terbelah ini memang sangat mungkin terjadi. Dari hasil simulasi komputer yang mempelajari bagaimana angin mempengaruhi air, diperlihatkan bahwa angin mampu mendorong air sehingga menyibakan daratan dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Riset Atmosfir Nasional (NCAR) dan Universitas Colorado AS menyebutkan, terbelahnya air (laut) dapat dipahami melalui teori mekanika fluida. Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum-hukum fisika, yakni menciptakan lorong bagi perjalanan yang aman dengan air pada kedua sisinya. Dan, itu memungkinan air untuk tiba-tiba menutup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, para peneliti tersebut juga mempelajari bagaimana badai topan di Samudera Pasifik dapat menggerakkan dan mempengaruhi air samudra yang dalam. Mereka menunjuk satu situs di selatan Laut Mediterania sebagai tempat penyeberangan dengan model tanah yang memungkinkan terjadinya air laut membelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini memerlukan formasi berbentuk huruf U dari Sungai Nil dan laguna dangkal di sepanjang garis pantai. Hal ini menunjukkan bahwa angin dengan kecepatan 63 mil per jam yang berembus selama 12 jam bisa mendorong air hingga kedalaman 6 kaki (2 meter). Ini menjadi jembatan tanah sepanjang 3-4 kilometer (2 sampai 2,5 mil) dan luas 5 kilometer (3 mil) hingga tetap terbuka selama 4 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil riset tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa laut memang bisa saja membelah memperlihatkan dasar lautnya. Namun soal kebenaran bahwa laut membelah dengan bantuan angin, jawabnya adalah Wallahu Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di pantai Laut Merah wilayah Jeddah, Arab Saudi, setiap Kamis dan Jumat malam sering dipenuhi wisatawan untuk berpiknik sambil pesta barbeque atau sekadar duduk-duduk bercengkerama. Tidak mengherankan bila di sepanjang pantai juga berderet restoran yang menyajikan aneka masakan dan taman bermain untuk anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7071636341399933807?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7071636341399933807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7071636341399933807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7071636341399933807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7071636341399933807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/kisah-tenggelamnya-firaun-di-laut-merah.html' title='Kisah Tenggelamnya Firaun di Laut Merah'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-5356768101285347878</id><published>2011-06-01T12:21:00.003+07:00</published><updated>2011-07-20T15:16:21.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kota Madinah Al-Zahra Ditemukan di Spanyol</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bz-bg7uWt6g/TeXMipsF5fI/AAAAAAAAAQc/AR_Cjzc9lDE/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-bz-bg7uWt6g/TeXMipsF5fI/AAAAAAAAAQc/AR_Cjzc9lDE/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613117406265599474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kota Madinah Az-Zahra Spanyol&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ditemukan kota Madinah Al-Zahra yang dikaitkan dengan pusat pemerintah khalifah Bani Umayah yang bernama Abdurrahman Ketiga. Kota itu ditemukan di dekat Cordoba, Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sisa-sisa kota itu tengah diperbaiki dan direnovasi. Barang-barang yang ditemukan di kota ini akan dipindahkan museum dekat kota ini supaya dapat disaksikan oleh masyarakat. Museum itu menyimpan barang-barang yang ditemukan di kota Madinah Al-Zahra seperti batu, gading, marmer dan barang-barang pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jatuhnya pemerintah 90 tahun Bani Umayah pada tahun 132 hijriyah, Abdurrahman bin Muawiyah yang juga dikenal dengan Abdurrahman Al-Dakhel, melarikan diri dari cengkeraman Bani Abbas ke Maroko, utara Afrika. Setelah itu, ia memanfaatkan konflik di Spanyol dan perselisihan antarkabilah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantauan para pendukung Bani Umayah dan kabilah-kabilah Yaman, Abdurrahman Al-Dakhel berhasil memasuki kota Andalusia (Spanyol saat ini) pada tahun 755 hijriah. Dengan menguasai kota Qurtuba, Abdurrahman mampu membentuk pemerintah tangguh dengan nama pemerintah Bani Umayah Andalus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Abdurrahman Ketiga menyebut dirinya sebagai khalifah. Ia kemudian memerintahkan pembangunan kota Madinah Al-Zahra dalam koridor program ideologi dan politiknya. Dengan langkah ini, Abdurrahman memberikan pesan penting kepada rival-rival pemerintahnya seperti Fathimiyun dan Bani Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan kota itu pada dasarnya ingin menunjukkan kekuatan Bani Umayah di bawah kendali Abdurrahman Ketiga, di hadapan kekuatan-kekuatan di masa itu. Hingga kini, kota peninggalan Bani Umayah di Spanyol itu baru berhasil digali 11 persen. Banyak barang dan peninggalan kota itu yang disimpan di museum dekat kota Cordoba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-5356768101285347878?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/5356768101285347878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=5356768101285347878' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5356768101285347878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5356768101285347878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/kota-madinah-al-zahra-ditemukan-di.html' title='Kota Madinah Al-Zahra Ditemukan di Spanyol'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bz-bg7uWt6g/TeXMipsF5fI/AAAAAAAAAQc/AR_Cjzc9lDE/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4915803704733812929</id><published>2011-06-01T12:21:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:17:33.158+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Ide-ide Pengentasan Kemiskinan dalam Peradaban Islam</title><content type='html'>Kemiskinan menjadi permasalahan sosial. Pada masa pemerintahan Islam, persoalan kemiskinan juga mengemuka. Tak hanya pemerintahan yang bertanggung jawab menyele saikan masalah ini, baik melalui berbagai program maupun lembaga sosial, kaum cendekia juga meresponsnya dengan ide-ide pemecahan masalah kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, misalnya, kedudukan lembaga sosial diperkuat. Dengan itu, kemiskinan berhasil ditekan sekaligus menghadirkan kesejahteraan di tengah masyarakat Muslim. Asas keadilan di bidang ekonomi benar-benar ditegakkan. Masalah ini tidak luput dari perhatian para sarjana ekonomi Muslim abad pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi pemikiran mereka sangat berpengaruh. Diskusi dan kajian ilmiah mengenai kemiskinan dan bagaimana mengatasinya berlangsung intens. Para sarjana, ilmuwan, cendekiawan, dan juga ulama mengaitkan persoalan ini dengan aspek sosial, politik, budaya, hingga keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, langkah itu membangkitkan motivasi serta kesadaran umat Islam terhadap tanggung jawab sosialnya. Abu Hamid al Ghazali (1058-1111), misalnya, memaparkan persoalan kemiskinan itu dalam bukunya yang berjudul al-Tabr al-Masbuk fi Nashihat al-Mulk. Ia memetakan pula wilayah-wilayah miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menawarkan solusi kemiskinan dalam bukunya itu. Filsuf dan ilmuwan legendaris ini mengajukan teori distribusi pendapatan. Selain itu, al-Ghazali menekankan perlunya optimalisasi kesejahteraan sosial. Menurutnya, segala kebijakan ataupun program pembangunan harus diarahkan bagi tercapainya kemakmuran bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendekiawan lainnya yang menghasilkan karya bertema sama adalah Ibnu Taghribirdi. Ia muncul dengan risalahnya al-Nujum al-Zahira fi Muluk Mishr wa ala Qahira dan al-Maqrizi dalam buku al-Mawa'iz wa al I'tibar fi Dzikr al-Khitat wa al-Athar. Menurut dia, kemiskinan merupakan fenomena sosial yang harus ditangani bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pandangan ilmuwan Barat, yaitu Mine Ener dan Michael Bonner, tradisi berbagi telah dipraktikkan sejak awal Islam. "Namun, semakin menemukan pijakan dan lebih terlembaga pada era kejayaan," papar keduanya dalam buku Poverty and Charity in Middle Eastern Context.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ener dan Bonner menambahkan, umat Islam melakukan berbagai terobosan dan membuat pengembangan program pengentasan kemiskinan makin variatif. Badan zakat, amal, atau takaful bermunculan bak jamur pada musim hujan di wilayah-wilayah Islam. Dana yang terkumpul dari masyarakat kemudian digunakan untuk kepentingan sosial keagamaan. Salah satunya adalah membangun berbagai sarana, seperti rumah sakit, pendidikan, panti asuhan, masjid, rumah penampungan, dan lainnya. Semua fasilitas itu ditujukan untuk memberikan pelayanan sebaikbaiknya kepada masyarakat tidak berpunya. Lembaga filantropis dan wakaf juga berkembang pesat. Ini telah diawali sejak Dinasti Umayyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamim Ansyari menceritakan melalui bukunya, Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam, lembaga wakaf yang difasilitasi negara secara aktif menyalurkan bantuan kepada orang-orang miskin. "Badan wakaf bisa dikatakan sebagai perusahaan nirlaba versi Muslim yang didirikan untuk tujuan amal," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa, umat Islam mencapai peradaban gemi lang. Perdagangan, pertanian, hingga ilmu pengetahuan tumbuh pesat. Kondisi itu mendorong terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran. Namun, ada kenyataan pula bahwa masih terdapat warga yang hidup dalam kondisi serbasulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Abbasiyah keempat, Harun alRasyid, dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Sifat kedermawanan nya telah melegenda. Dengan menyamarkan diri sebagai pengemis atau rakyat jelata, Harun al Rasyid berjalan di pasar-pasar atau perkampung an untuk men dengar lang sung masalah rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia mengambil kebi jakan untuk membantu mereka. Di sisi lain, peran pemerintah sangat dibu tuhkan agar pengentasan kemis kinan efektif. Ini pun berlangsung selama periode pemerintahan Dinasti Mamluk (1250-1517).&lt;br /&gt;Adam Sabra mengisahkannya dalam buku Poverty and Charity in Medieval Islam: Mamluk Egypt. Sabra menuturkan, karena dilengkapi dengan perangkat-perangkat kekuasaan, program tersebut berjalan di seluruh negeri. Saat itu, pegawai pemerintah tak hanya bertugas mengumpulkan pajak, tetapi juga zakat, wakaf, dan amal serta mendistribusikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menggandeng lembaga amil ataupun para tokoh agama dan masyarakat lokal. Dengan jalinan kerja sama seperti itu, penyalur an bantuan bagi rakyat miskin menjadi lebih tepat sasaran. Sabra menggam barkan pemerintahan Mamluk terli bat langsung untuk membantu kaum miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengemis dan tunawisma dilindungi di panti-panti sosial yang biasa disebut mawdi al hukm. Mereka tak lagi terlunta-lunta di jalanan Kairo. Sedangkan, mereka yang mengalami kesulitan membayar utang-utangnya diberi bantuan melunasinya. Peran negara dalam pengentasan kemiskinan juga diungkapkan oleh Mine Ener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku berjudul Religious Prerogatives and Policy of the Poor, Mine Ener mengatakan, pemerintahan Islam meneruskan inisiatif pengembangan proyek-proyek pengentasan kemiskinan serta pembinaan dan pemberdayaan rakyat. Sebagian hasil pajak diarahkan untuk bidang sosial, termasuk membuka dapur-dapur umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sarana ini amat dibutuhkan kaum miskin saat mereka mengalami gagal panen atau stok bahan makanan menipis. Adam Sabra mencatat, kondisi tersebut pernah terjadi antara abad ke-13 dan ke-16. Negara secara aktif turun tangan mengatur distribusi bahan makanan dan juga mengendalikan harga. Langkah tersebut efektif untuk melindungi warga miskin dari bahaya kelaparan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4915803704733812929?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4915803704733812929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4915803704733812929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4915803704733812929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4915803704733812929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ide-ide-pengentasan-kemiskinan-dalam.html' title='Ide-ide Pengentasan Kemiskinan dalam Peradaban Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-2345599831659362558</id><published>2011-06-01T12:19:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:17:33.158+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Ini Dia Warisan Islam dalam Ilmu Anatomi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LbD92g0c-R0/TeXMIuzMneI/AAAAAAAAAQU/ExnHDLJX61o/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LbD92g0c-R0/TeXMIuzMneI/AAAAAAAAAQU/ExnHDLJX61o/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613116960960978402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pict: Ilustrasi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan ternama al-Ghazali pernah berujar, pelajari anatomi secara mendalam, manusia akaN mengetahui fungsi seluruh organ tubuh dan struktur tubuh. Ujaran al-Ghazali ini seakan menjadi langkah awal ilmuwan Muslim mendalami anatomi tubuh, atau banyak kalangan menyebutnya pula sebagai ilmu urai tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat akan bidang ini tumbuh pesat hingga menjelma sebagai sebuah spesialisasi dalam kedokteran Muslim. Lewat The Revival of the Religious Science, alGhazali tak hanya mengurai seluk-beluk aspek pengobatan. Ia memaparkan pula bahwa telah berabad-abad lamanya para dokter Muslim menguasai pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kaitan kedua ilmu tersebut dengan ilmu bedah. Al-Ghazali menjelaskan, tanpa mengetahui struktur anatomi, sulit melakukan operasi pembedahan. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Di bidang bedah dan anatomi, keahliannya sangat disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merumuskan filosofinya sendiri mengenai hal itu. Bagi dia, operasi bedah harus mampu mengembalikan fungsi anatomi atau organ tubuh yang rusak. Pemikirannya ini selanjutnya menginsipirasi para praktisi medis setelah masanya. Anatomi memikat hati para dokter Muslim. Terbukti banyak yang ikut bergabung untuk mendalami anatomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menuliskan literatur ilmiah yang begitu berharga, serta menandai era itu dengan torehan emas pada lintasan sejarah kedokteran di dunia Islam. Setelah itu, muncul ke permukaan nama alZahrawi. Kemampuannya boleh disejajarkan dengan al-Ghazali. Sebab, alZahrawi juga diakui banyak orang sebagai seorang pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter dari Andalusia pada abad kesepuluh yang bernama lengkap Abu Qasim al-Zahrawi ini mempunyai banyak pemikiran brilian. Misalnya, ia merupakan penggagas ilmu diagnosa sampai penyembuhan penyakit telinga. Ia merintis operasi pembedahan telinga guna mengembalikan pendengaran pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan anatomi ia andalkan dalam operasi tersebut. Al-Zahrawi memerhatikan anatomi syaraf halus, pembuluh darah, dan otot. Segala pengetahuan yang ia kuasai itu kemudian ia rangkum dalam bukunya, At Tashrif li Man Arjaza at Ta'lif (Buku Pedoman Kedokteran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi tubuh merupakan salah satu bahasan yang termuat dalam bukunya itu. Juga pada bidang yang membuat namanya terkenal di dunia kedokteran, yaitu pembedahan, serta alat-alat bedah. Bahkan, banyak model alat bedah yang ia buat masih digunakan dalam kedokteran modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Al-Kafi fi al-Kuhl fi at-Thibb yang ditulis Abi Mahasin juga berpengaruh pada kajian anatomi, khususnya pada anatomi mata. Buku dari abad ke-13 itu menyajikan deskripsi tentang operasi mata, termasuk beberapa bagian dari organ mata yang perlu mendapat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan penting yang turut mencurahkan perhatiannya pada anatomi adalah Ibnu Nafis (1210-1288). Pada bab pendahuluan dari bukunya yang terkenal, Syarhu Tasyrih Ibnu Sina (Komentar atas Anatomi Ibnu Sina), ia menjelaskan bahwa buku ini adalah panduan agar para dokter bisa menguasai pengetahuan dasar anatomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berkomentar terhadap Canon of Medicine karya Ibnu Sina, terutama mengenai kerja jantung. Ia mengatakan, jantung memiliki dua kamar. Darah dari kamar jantung kanan harus mengalir ke bagian kiri, namun tidak ada yang menghubungkan kedua bagian ini.&lt;br /&gt;Menurut dia, tak ada pori-pori tersembunyi dalam jantung, seperti kata Galen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, ia menilai fungsi organ ini sangat penting dalam mengatur sirkulasi darah ke seluruh bagian tubuh. Sejarah mencatatnya sebagai orang pertama yang mendeskripsikan peredaran darah, khususnya pembuluh darah kapiler. Pada bagian lain, Ibnu Nafis menyingkap anatomi dan sirkulasi paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Edward Coppola dalam William Osler Medal Essay, Ibnu Nafis berpandangan bahwa terdapat sejumlah bagian di dalam paru-paru, antara lain bronkus, arteria venosa, dan vena arteriosa. Ketiga bagian tersebut terhubung dengan jaringan daging berongga. Ibnu Nafis berhasil memperjelas perbedaan masing-masing dari organ tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan semacam ini diperlukan sebelum melakukan operasi pembedahan. Berabad-abad kemudian, warisan intelektual Ibnu Nafis dalam investigasi anatomi banyak memberikan pengaruh pada ilmuwan Barat, yakni Valverde dan Realdo Colombo. Abd al-Latif al-Baghdadi pun tercatat memberi sumbangan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengoreksi susunan anatomi tulang rahang yang dibuat seorang dokter dari Yunani, Galen. Tulisannya terkait hal itu membuka jalan bagi studi tentang tulang di Mesir. Harus diakui, prestasi paling mengagumkan terjadi setelah hadirnya karya Mansyur bin Muhammad bin Ahmad bin Yusuf bin Ilyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh asal Persia ini adalah dokter Muslim pertama yang membuat gambar anatomi tubuh manusia dengan akurat. Warisan luar biasanya itu pada masa berikutnya dinamakan "Anatomi Mansyur". Karyanya itu ia persembahkan untuk penguasa dari Mongol, Timur Lenk, yang menguasai Fars selama kurun waktu 797-811.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan lengkap tentang lima organ tubuh, yakni tulang, syaraf, otot, pembuluh darah, dan arteri, ada dalam karya yang ia tulis. Tiap-tiap bagian diilustrasikan melalui diagram bergambar. Termasuk bagaimana terhubung dengan dua organ utama: jantung dan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula bab tentang formasi fetus yang dideskripsikan lewat ilustrasi gambar perempuan hamil. Risalahnya yang berjudul Tashrih i badan i Insan itu ditulis dalam bahasa Persia dan telah diterjemahkan ke beberapa bahasa sejak abad ke-15. Keseluruhan ilustrasi anatomi dari al-Mansyur mencakup sekitar 70 bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ibnu Zuhr atau Avenzoar, setelah menguasai bidang anatomi, merintis pekerjaan bedah mayat postmortem di dunia Islam. Secara berurutan, dalam buku Taysier fi al-Mudawat wa atTabdis (Practical Manual of Treatment and Diets), ia menguraikan anatomi kepala hingga kaki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-2345599831659362558?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/2345599831659362558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=2345599831659362558' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2345599831659362558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2345599831659362558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ini-dia-warisan-islam-dalam-ilmu.html' title='Ini Dia Warisan Islam dalam Ilmu Anatomi'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LbD92g0c-R0/TeXMIuzMneI/AAAAAAAAAQU/ExnHDLJX61o/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7072173985824794883</id><published>2011-06-01T12:17:00.003+07:00</published><updated>2011-07-20T15:18:02.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Ilmuwan Mesir: Kemajuan Iptek Ungkap Berbagai Keajaiban Alquran</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yRZGZyTbCTk/TeXLqRTJT0I/AAAAAAAAAQM/YnEEMTx5Ayg/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-yRZGZyTbCTk/TeXLqRTJT0I/AAAAAAAAAQM/YnEEMTx5Ayg/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613116437645840194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Al-Qur'an, kitab suci umat Islam yang mengandung ilmu pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan Mesir, Prof Dr Zagloul Mohamed El-Naggar, mengatakan semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), semakin terungkap pula keajaiban kitab suci Alquran. "Alquran bukan buku ilmu pengetahuan. Tapi ayat-ayatnya mengenai alam semesta (kauniyah) kini terbukti dalam penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini," kata Prof Naggar dalam ceramahkanya di Aula Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis.&lt;br /&gt;Pakar ilmu bumi (geologi) tersebut mengupas beragam penemuan ilmiah mengenai alam semesta yang mengamini hakekat kebenaran Alquran. Sebagai contoh, ayat 6 Surat Al Thur, "Al Bahrul Masjur" (Demi laut yang --di dalam tanah bawah laut itu-- ada api). "Terbukti secara ilmiah oleh para ahli geologi dan ilmu kelautan bahwa dasar semua samudera dipanasi oleh jutaan ton magma yang keluar dari perut bumi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut peraih doktor geologi lulusan Universitas Wales, Inggris pada 1963 itu, magma tersebut keluar melalui jaringan rengkahan raksasa yang secara total merobek lapisan litosfir dan sampai ke lapisan astenosfir. "Para ilmuwan yang jujur akan kagum melihat kepeloporan Al Quran dan hadis-hadis Nabi terkait petunjuk tentang fakta-fakta ilmiah bumi, yang baru dapat dibuktikan pada akhir abad ke-20 seiring dengan kemajuan iptek," kata ilmuwan yang telah menghafal semua 30 juz Alquran saat ia berusia sepuluh tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ilmiah lain, katanya, yaitu ayat 15 dan 16 Surat At Takwir: "Fala Uqsimu bil khunnas. Al Jawaril Kunnas" (Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang tak tampak. Yang bergerak sangat cepat). Prof Naggar menjelaskan, para ulama dahulu menafsirkan ayat tersebut secara metaforis, namun para ahli astronomi pada akhir abad 20 menemukan fakta ilmiah, yaitu apa yang disebut Black Hole (Lubang Hitam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black hole adalah planet yang ditandai dengan densitas yang tinggi dan gravitasi yang kuat, tempat zat dan semua bentuk energi termasuk cahaya tidak mungkin lepas dari perangkapnya. Disebut lubang hitam karena ia sangat gelap tak terlihat, dengan kecepatan geraknya diperkirakan mencapai 300 ribu km per detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black holes dianggap sebagai fase tua kehidupan bintang, yang didahului ledakan dan zatnya kembali menjadi nebula. "Fakta ini baru terungkap pada akhir abad 20, yakni 14 abad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW," kata Prof Naggar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7072173985824794883?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7072173985824794883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7072173985824794883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7072173985824794883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7072173985824794883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ilmuwan-mesir-kemajuan-iptek-ungkap.html' title='Ilmuwan Mesir: Kemajuan Iptek Ungkap Berbagai Keajaiban Alquran'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yRZGZyTbCTk/TeXLqRTJT0I/AAAAAAAAAQM/YnEEMTx5Ayg/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6529726428591691563</id><published>2011-06-01T12:17:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:18:28.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wanita Agung'/><title type='text'>Ummu Ma'bad, Muslimah yang Mengenalkan Sifat Rasulullah SAW</title><content type='html'>September 622 M. Secara diam-diam, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar RA, Amir bin Fahira dan seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah. Duabelas tahun sudah Rasulullah menyebarkan agama Allah di kota Makkah, namun tekanan dari kafir Quraisy kian gencar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Rasulullah beserta sahabatnya yang telah masuk Islam. Guna menghindari kekejaman kafir Quraisy, Rasulullah pun kemudian hijrah ke kota Madinah. Tanpa perbekalan yang memadai, Rasulullah berangkat menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang tak mudah dan tak juga ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diuraikan dalam buku Perempuanperempuan Mulia di Sekitar Rasulullah yang ditulis Muhammad Ibrahim Salim, di tengah perjalanan menuju kota Madinah, rombongan Rasulullah lewati sebuah kemah milik seorang wanita tua bernama Ummu Ma'bad di wilayah Qudaid -antara Makkah dan Madinah. Saat itu, Ummu Ma'bad sedang duduk di dekat kemahnya. Lantaran perbekalan yang minim, rombongan Rasulullah pun singgah ke kemah Ummu Ma'bad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah dan sahabatnya ingin membeli daging dan kurma dari Ummu Ma'bad. Namun, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Saat itu, wilayah Qudaid sedang didera musim paceklik. Lalu Rasulullah melihat seekor kambing yang ada di dekat kemah Ummu Ma'bad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pun bertanya, "Kambing betina apa ini wahai Ummu Ma'bad?", Ummu Ma'bad menjawab, "kambing betina tua yang sudah ditinggalkan oleh kambing jantan." Rasulullah kembali bertanya, "Apakah ia masih mengeluarkan air susu?" Ummu Ma'bad menjawab, "Bahkan ia tak mengandung air susu sama sekali.'' Lalu Rasulullah meminta izin, "Bolehkah aku memerah air susunya?" Ummu Ma'bad menjawab, "Jika engkau merasa bisa memerahnya, maka silahkan lakukan.'' Nabi Muhammad SAW pun mengambil kambing tersebut dan tangannya mengusap kantong susunya dengan menyebut nama Allah dan mendo'akan Ummu Ma'bad pada kambingnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kambing itu membuka kedua kakinya dan keluarlah air susu dengan derasnya.&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah meminta sebuah wadah yang besar lalu beliau memerasnya sehingga penuh. Beliau memberi minum kepada Ummu Ma'bad hingga ia puas, lalu beliau memberi minum rombongannya hingga mereka pun puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu beliau pun minum. Beliau kemudian memerah susu untuk kedua kalinya hingga wadah tersebut kembali penuh, lalu susu itu ditinggalkan di tempat Ummu Ma'bad dan beliau pun membai'atnya. Setelah itu rombongan pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, datanglah suami Ummu Ma'bad dengan menggiring kambing yang kurus kering, berjalan sempoyongan karena lemahnya. Setelah melihat susu, ia bertanya keheranan, "Darimana air susu ini wahai Ummu Ma'bad? padahal kambing ini sudah lama tidak hamil dan kita pun tidak memiliki persediaan susu di rumah?" Ummu Ma'bad menjawab, "Demi Allah, bukan karena itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya seseorang yang penuh berkah telah melewati (rumah kita), sifatnya begini dan begitu." Abu Ma'bad berkata, "Ceritakanlah kepadaku tentangnya wahai Ummu Ma'bad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Ma'bad bertutur: "Aku melihat seorang yang tawadhu (rendah hati). Wajahnya bersinar berkilauan, baik budi pekertinya, dengan badannya yang tegap, indah dengan bentuk kepala yang pas sesuai bentuk tubuhnya.'' Ia adalah seorang yang berwajah sangat tam pan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus. Suaranya bergema indah berwibawa, panjang lehernya idea, jenggot nya tumbuh tebal dan sangat kontras lagi sesuai warna rambutnya; rapi, rata pinggir-pinggirnya a (dengan jambangnya) dan antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika ia berbicara nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari kejauhan, ia adalah orang yang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang yang paling tampan, bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang bergu guran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan. Diantara ketiga orang itu, penampilannya paling bagus dan kedudukannya paling tinggi. Ia memiliki banyak teman yang me ngelilinginya. Jika ia berbicara, maka yang lain pun mendengarkannya. Jika ia memerintah, maka mereka segera melaksanakannya. Ia adalah orang yang ditaati, tidak cemberut dan bicaranya tidak sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ma'bad berkata, "Demi Allah, ia adalah seorang dari Quraisy yang sedang diperbin cangkan di kalangan kami di kota Makkah. Aku ingin menjadi sahabatnya. Sungguh aku akan melakukannya jika aku bisa menemukan jalan untuk mendapatkannya." Sungguh terperinci sifat sifat Rasulullah yang dituturkan Ummu Ma'bad. Kisah Ummu Ma'bad sangat masyhur, diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan satu dengan lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6529726428591691563?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6529726428591691563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6529726428591691563' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6529726428591691563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6529726428591691563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ummu-mabad-muslimah-yang-mengenalkan.html' title='Ummu Ma&apos;bad, Muslimah yang Mengenalkan Sifat Rasulullah SAW'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6999834571265545356</id><published>2011-06-01T12:08:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Ketika 'Suku Arya' Memahami Alquran</title><content type='html'>Sebagai sebuah teks, Alquran dapat dipahami dari sejarah bermulanya teks itu dibentuk dan difungsikan. Salah satu kajian yang mendalami konsep tersebut adalah kritis historister. Dari kajian itu, serta dengan dorongan pengetahuan rasional, dapat ditelusuri teks Alquran dan sejarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep seperti itulah yang mendominasi model penelitian para sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874), misalnya dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis terhadap Alquran. Bahkan, pada 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul 'Was hat Mohammed aus dem Judentum aufgenommen?' (Dirk Hatwig 2009:241).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya itu, ia memaparkan bahwa Nabi Muhammad, dalam memproduksi Alquran, banyak menyisipkan tradisi-tradisi Yahudi. Sontak, pemikiran ini pun beranak pinak seperti yang dikembangkan Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Buku 'Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld' (2010) editan Tilman Nagel, dianggap sebagai karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historiskritis ala Geiger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran, dipahami mereka, sebagai sebuah teks `epigonik'. Dalam pengertian bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan itu pun melahirkan kontroversial di kalangan sarjana Muslim. Namun, tidak semua sarjana Barat yang berada dalam 'gerbong' pemikiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig. Umumnya mereka memberikan perlawanan atas pemikiran tersebut, yang menolak bahwa Alquran hanyalah copy-paste atas `teks-teks praIslam'. Hal itu terlihat dari wawancara pada 2 Juli 2010 dan penelusuran beberapa artikel mereka. Salah satunya adalah proyek yang dikenal dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ala Geiger dengan para 'penentang' ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Paradigma lah yang membedakan kedua pemikiran tersebut. Dalam konsep 'para penentang', Alquran diposisikan sebagai `teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya, seperti yang didengungkan Geiger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasan Atas Teori Memesis Alquran Geiger&lt;br /&gt;Abraham Geiger (1810-1874), dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis terhadap Alquran. Belakangan, konsep tersebut mendapatkan balasan, yang dimana Alquran diposisikan sebagai `teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya, seperti yang didengungkan Geiger.&lt;br /&gt;Kecenderungan penelitian seperti itu boleh dikatakan sebagai `tren baru studi historis-kritis terhadap Alquran'. Namun, proyek tersebut memiliki tiga penyangga utama. Pertama, dokumentasi atas manuskrip-manuskrip Quran awal berikut variasi qira'at-nya terlebih dahulu diperhatikan. Tapi, pendokumentasian itu tidak ditujukan untuk membuat teks edisi kritis Alquran. Jika ditilik dari manuskrip Alquran, mereka hanya membuat data bank, seperti lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer mencapai 3.500. Sementara bank data tentang variasi bacaan Alquran, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira'at) Alquran, baik qira'at yang dianggap sebagai qira'at mutawatirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira'at masyhurah (diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira'at syadzdzah (yang tidak termasuk kedua macam qira'at tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyangga kedua, para sarjana yang terlibat dalam proyek tersebut juga dituntut melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar Alquran). Target dari kajian tersebut adalah menemukan kesamaan teks Alquran dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian seperti ini dikenal dengan istilah `intertekstualitas' antara ayat-ayat Aquran dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-biblikal, dan puisi Arab klasik. Mereka menafsirkan Intertekstualitas ini, sebagai landasan agar menguatkan rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar Alquran (Marx 2008:51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika, para orientalis abad ke-19 memahami Alquran hanya merupakan sekumpulan imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, mereka kebalikannya. Bahkan mereka dapat melakukan penelitian seobjektif mungkin, yang sampai pada kesimpulan bahwa Alquran bukanlah `teks epigonik', yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi praIslam. (Neuwirth 2008:16; Wawancara 1 Juli 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Serupa, Alquran Tak Sama Dengan Teks Agama Lain&lt;br /&gt;Jika, para orientalis abad ke-19 memahami Alquran sebagai kumpulan imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig kebalikannya. Mereka memosisikan Alquran dalam penelitian seobjektif mungkin. Kesimpulannya Alquran bukanlah `teks epigonik', yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi praIslam.&lt;br /&gt;Alquran, ditegaskan mereka, walaupun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, namun 'independensinya' tetap terjaga. Hal itu terlihat dari karakteristik dari Alquran dan dinamikanya, baik dari segi bahasa maupun isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neuwirth pun membandingkan salah satu surat di Alquran yakni al-Rahman dengan di kitab Zabur. Menurut dia, walaupun kedua teks tersebut memiliki paralelitas/interseksi, namun tetap Alquran memiliki gaya sendiri dalam struktur sastra dan spirit, bahkan lebih spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran yang tidak jauh berbeda juga diperlihatkan Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Dirk Hartwig, ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, tak bisa menahan kritikkannya terhadap Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, penyangga terakhir, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut sebagai 'der historischkritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran' (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Konstruksi atas interpretasi ini dibangun melalui empat pondasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Jerman, adalah pondasi pertama. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari `Asim. Terjemahan Alquran sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Pondasi kedua adalah studi tentang urutan kronologis wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi ini, mereka ingin merekonstruksi dinamika teks Alquran sehubungan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka memberikan penjelasan struktur sastra Alquran dalam menyampaikan pesan tertentu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6999834571265545356?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6999834571265545356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6999834571265545356' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6999834571265545356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6999834571265545356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/06/ketika-suku-arya-memahami-alquran.html' title='Ketika &apos;Suku Arya&apos; Memahami Alquran'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7950301968722407386</id><published>2011-04-16T20:29:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:21:09.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabi dan Rasul'/><title type='text'>KEHIDUPAN NABI IBRAHIM</title><content type='html'>Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman.&lt;br /&gt;(QS Ali Imran 67-68). &lt;br /&gt;Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur'an dan mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan kebenaran dari Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar takut kepada Allah. Umat nabi Ibrahim tidak mematuhi perintah itu, bahkan sebaliknya mereka menentangnya. Ketika&lt;br /&gt;penindasan yang semakin meningkat dari kaumnya, nabi Ibrahim pindah ke mana saja bersama istrinya, bersama dengan nabi Lut dan mungkin dengan bebeapa orang lain yang menyertai mereka. &lt;br /&gt;Nabi Ibrahim adalah keturunan dari nabi Nuh. Al qur'an juga mengemukakan bahwa dia juga mengikuti jalan hidup (diin) yang diikuti Nabi Nuh.&lt;br /&gt;"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tengelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).(QS Ash- Shafaat: 79-83).&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan di bagian Tengah dan Timur dari Anatolia tinggal orang-orang yang menyembah surga-surga dan bintang-bintang. Tuhan yang mereka anggap paling penting adalah "Sin" yaitu Dewa Rembulan. Tuhan mereka ini dipersonifikasikan sebagai seorng manusia yang berjenggot panjang, memakai pakaian panjang membawa rembulan berbetuk bulan sabit diatasnya. Lagian, orang -orang tersebut membuat hiasan gambar-gambar timbul dan pahatan-pahatan (patung) dari tuhan mereka itu dan itulah yang mereka sembah. Hal ini merupakan system kepercayaan yang tersebar luas ketika itu, yang mendapatkan tempat persemaiannya di Timur Dekat (Near East), dimana keberadaannya terpelihara dalam jangka waktu yang lama. Orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut terus saja menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Sebagai akibat dari kepercayaan itu, banyak bangunan yang dikenal dengan nama "ziggurat" yang dulu dipakai sebagai observatorium (tempat penelitian bintang-bintang) sekaligus sebagai kuil tempat peribadatan yang dibangun di daerah yang membentang sejak dri Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, disinilah beberapa tuhan,terutama dewa(i) Rembulan yang bernama "Sin" disembah oleh orang-orang ini. 1&lt;br /&gt;Kepercayaan yang hanya bisa ditemukan dalam penggalian arkeologis yang dilakuan saat ini, telah disebutkan dalam Al Qur'an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an, Ibrahim menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan berpegang teguh kepada Allah saja, satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur'an, perjalanan hidup Ibrahim digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdpat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetpi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : "Sesungguhnya jika Tuhnaku tidak memberikan petunjuk kepadakum pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah tuhanku, ini lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan b umi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. Al-An'an: 74-79)&lt;br /&gt;Dalam al Qur'an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat di mana dia tinggal tidak dikemukakan dengan terperinci. Tetapi diindikasikan bahwa Ibrahim dan Lut tinggal di tempat yang saling berdekatan satu sama lain dan malaikat yang diutus kepada umat nabi Lut juga mendatangi Ibrahim dan memberitahukan pada istrinya suatu berita gembira tentang bayi laki-laki (yang dikandungnya), sebelum para malaikat itu pergi melanjutkan perjalanan mereka menuju nabi Lut.&lt;br /&gt;Cerita penting tentang Nabi Ibrahim dalam al Qur'an yang tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka'bah. Dalam Al Qur'an, kita diberitahu bahwa Ka'bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka'bah adalah bahwa Ka'bah merupakan tempat yang suci sejak masa yang sangat tua. Adapun penempatan berhala-berhala pada Ka'bah selama masa jahiliyah berlangsung sampai diutusnya Nabi Muhammmad, dan itu merupakan penyimpangan dan kemunduran atas agama suci Ilahi yang pernah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;Ket.Gambar hal 36. (Atas : Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar ke seluruh wilayah Mesopotamia. Sang Dewa rembulan "Sin" salah satu berhala yang paling penting. Orang-orang membuat patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan menyembahnya. Disebelah tampak patung sin. Simbul bulan sabit dapat terlihat dengan jelas pada dada patung tersebut).&lt;br /&gt;(Bawah: Ziggurat yang digunakan baik sebagai kuil dan observatory perbintangan yang dibangun dengan teknik yang paling maju ada masa itu. Bintang, rembulan dan matahari menjadi objek utama dari penyembahan dan langi memiliki hal yang sangat penting. Di sebelah kiri dan bawah adalah ziggurat utama dari bangsa Mesopotamia.&lt;br /&gt;Ibrahim Dalam Perjanjian Lama&lt;br /&gt;Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak diantaranya yang mungkin tidak bisa dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, yang merupakan salah satu kota terpenting saat itu yang berlokasi di Timur Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, Ibrahim tidak (belum) bernama "Ibrahim", tetapi "Abram". Namanya kemudian kemudian dirubah oleh Allah (YHWH).&lt;br /&gt;Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan masyarakatnya, menuju ke suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram pada usia 75 tahun mendengarkan seruan/pangilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai - yang kemudian dikenal dengan nama "Sarah" yang berarti puteri raja - dan anak dari saudaranya yang bernama Lut. Dalam perjalanan menuju ke "Tanah yang Terpilih (Chosen Land)" mereka singgah/tingal di Harran untuk sementara waktu dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka sampai di tanah Kanaan yang djanjikan oleh Allah kepada mereka, mereka diberikan wahyu oleh Allah berupa berupa pemberiahuan bahwa tempat tersebut secara khusus dipilihkan oleh Allah buat mereka dan dianugerhkan buat mereka. Ketika Abram mencapai usia 99 tahun, dia membuat perjanjian dengan Allah dan namanya kemudian dirubah menjadi Ibrahim (Abraham). Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikubur di gua Macpelah yang berdekatan dengan kota Hebron (e l-Kalil) di West Bank (tepi barat)yang hari ini wilayah tersebut di bawah penguasan Israel. Tanah tersebut sebenarnya dibeli oleh Ibrahim dengan sejumlah uang dan itu merupakan kekayaannya dan keluarganya yang pertama di Tanah Yang Dijanjikan itu (Promise Land).&lt;br /&gt;Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama&lt;br /&gt;Dimanakah tempat dilahirkannya Ibrahim, tetaplah merupakan sebuah isu yang diperdebatkan. Orang Kristen dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di sebelah Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahiran nya adalah di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa thesis dari kaum Yahudi dan Kristen tidaklah menyiratkan kebenaran yang seutuhnya.&lt;br /&gt;Orang Yahudi dan Kristen menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena dalam Perjanjian lama tersebut, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah Selatan Mesopotamia setelah Ibrahim lahir dan dibesarkan di kota ini, dia dcieritakan telah menempuh sebuah perjalanan menuju Mesir, dan dalam perjalanan tersebut mereka melewati suatu tempat yang dikenal dengan nama Harran di wiayah Turki.&lt;br /&gt;Meskipun demkian, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini, telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan/validitas dari informasi di atas. Dalam manuskrip yang ditulis dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar sekitar abad ketiga SM, dimana manuskrip tersebut diperhitungkan sebagai salinan yang tertua dari Perjanjian Lama, juga nama tempat "Ur" tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata-kata "Ur" tidak akurat atau bahwa Ibahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah mengunjungi daerah/wilayah Mesopotamia selama hidupnya.&lt;br /&gt;Disamping itu, nama-nama beberapa lokasi serta daerah yang disebutkan itu, telah berubah karena perkembangan jaman. Pada saat ini dataran Mesopotamia biasanya merujuk kepada tepi sungai sebelah selatan dari daratan Irak, diantara sungai Efrat dan Tigris. Lagipula, dua milinium (2000 tahun) sebelum kita, daerah Mesopotamia digambarkan sebagai sebuah daerah yang letaknya lebih ke Utara, bahkan lebih jauh ke autara sejauh Harran, dan membentang sampai ke daerah yang saat ini merupakan daratan Turki. Karena itulah, bila sekalipun kita menerima pendapat bahwa "Dataran Mesopotamia" yang disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetap saja akan terjadi misleading (keliru) untuk berpikir bahwa Mesopotamia dua millennium yang lebih awal dan Mesopotamia hari ini adalah sebuah tempat yang persis sama.&lt;br /&gt;Banhkan seandainya juga ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur sebagai tempat kelahiran Ibrahim, tetapi ada sebuah pandangan umum yang disetujui yaitu tentang fakta bahwa Harran dan daerah yang melingkupinya adalah tempat dimana Nabi Ibrahim hidup. Lebih dari itu, peneliltian singkat yang dilakukan terhadap isi Perjanjian Lama tersebut memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Sebagai contoh di dalam Perjanjian Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai "daerah Artam" (Genesis, 11:31 dan 28:10). Disebutkan bahwa orang yang datrang dari keluarga Ibrahim adalah "anak-anak dari seorang Arami" (Deutoronomi, 26:5). Identifikasi penyebutan Ibrahim dengan sebutan "seorang Arami" menunjukkan bahwa beliau (Ibrahim) melangsungkan kehidupannya di daerah ini.&lt;br /&gt;Dalam berbagai sumber agama Islam, terdapat bukti yang kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan "kota para Nabi" ada banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.&lt;br /&gt;Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?.&lt;br /&gt;Perjanjian Lama dan Al Qur'an dalam mengungkapkan kisah tentang Ibrahim, tampaknya hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, yang bernama Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur'an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi sebuah kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim tersebut menyembah surga-surga, bintang-bintang dan rembulan serta berbagai sembahan lain. Dia berjuang melawan kaumnya dan selalu berusaha untuk mencoba agar mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan tahayul dan secara tidak terhindarkan, hal; itu juga telah membangkitkan nyala api permusuhan dari seluruh masyarakatnya bahkan termasuk ayahnya sendiri.&lt;br /&gt;Sebenarnya, tidak ada satupun dari hal yang disebutkan diatas diceritakan dalam Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, bagaimana Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh masyarakatnya, tidaklah disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Hal ini menjadi bukti bahwa pandangan di dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang mencoba memberikan pijakan di masa mendatang konsep "ras/suku bangsa". Bangsa Yahudi percaya bahwamereka adalah kaum yang selalu dipilih oleh Tuhan dan merasa lebih unggul dari yang lainya. Mereka dengan sengaja dan penuh keinginan untuk mengubah kitab Suci mereka dan membuat penambahan-penambahan serta berbagai pengurangan berdasarkan keyakinan seperti di atas. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;Penganut Kristen yang percaya terhadap Perjanjian Lama, berpikir bahwa Ibrahim adalah nenek moyang bangsa Yahudi, namun hanya terdapat satu perbedaan; menurut penganut Kristen, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun ia adalah seorang Kristen. Penganut Kristen yang tidak begitu memperhatikan konsep mengenai ras/suku bangsa sebagaimana dilakukan Yahudi, mengambil pendirian ini dan hal ini menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan diantara kedua agama ini. Allah memberikan keterangan sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an sebagai berikut :&lt;br /&gt;Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.&lt;br /&gt;Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik".&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yang paling dekat kepaa Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yan beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orangh-orang yang beriman.(QS Ali Imran 65-68).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Al Qur'an sangatlah berbeda dengan apa yang ditulis dalam Perjanjian Lama, Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada Allah, serta bahwa dia adalah seseorang yang berperang/berjuang melawan kaumnya itu pada akhirnya. Dimulai sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang m,enyembah berhala-berhala untuk menghentikan perbuatan mereka itu. Sebagai reaksi, kaumnya bertindak dengan mencoba untuk membunuh Ibrahim. Untuk menghindar dari kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya, maka Ibrahimpun akhirnya berpindah tempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7950301968722407386?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7950301968722407386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7950301968722407386' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7950301968722407386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7950301968722407386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/04/kehidupan-nabi-ibrahim.html' title='KEHIDUPAN NABI IBRAHIM'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-5332026015028929954</id><published>2011-04-16T20:28:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sejarah Islam Di Negeri Tirai Bambu Cina</title><content type='html'>Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina," begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M. Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom' - julukan Cina. HISTORY OF ISLAM IN CAHINA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar' dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti 'agama yang murni'. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran 'Buddha Ma-hia-wu' (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M - 618 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa'ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa'ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M - kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa'ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton - masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut. Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias 'So-Fei Er'. Dia bergelar `bapak' komunitas Muslim di Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho - seorang pelaut Muslim andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Surut Islam di Daratan Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Niujie Mosque in Beijing&lt;br /&gt;Hubungan antara Muslim dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing (1644-1911) berkuasa. Tak cuma dengan penguasa, relasi Muslim dengan masyarakat Cina lainnya menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan Keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembelih hewan qurban pada setiap Idul Adha dilarang. Umat Islam tak boleh lagi membangun masjid. Bahkan, penguasa dari Dinasti Qing juga tak membolehkan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima - menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik adu domba pun diterapkan penguasa untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mogol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan. Tindakan represif Dinasti Qing itu memicu pemberontakan Panthay yang terjadi di provinsi Yunan dari 1855 M hingga 1873 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jatuhnya Dinasti Qing, Sun Yat Sen akhirnya mendirikan Republik Cina. Rakyat Han, Hui (Muslim), Meng (Mongol) dan Tsang (Tibet) berada di bawah Republik Cina. Pada 1911, Provinsi Qinhai, Gansu dan Ningxia berada dalam kekuasaan Muslim yakni keluarga Ma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antaretnis di Cina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-5332026015028929954?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/5332026015028929954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=5332026015028929954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5332026015028929954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5332026015028929954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/04/sejarah-islam-di-negeri-tirai-bambu.html' title='Sejarah Islam Di Negeri Tirai Bambu Cina'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7921689764479113863</id><published>2011-04-16T20:25:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:13:16.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Syaikh Farghali dan Jihad di Palestina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-hpV_y4IqMUo/TamZPPDI6rI/AAAAAAAAAPo/EA4wY8_Z8Rs/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hpV_y4IqMUo/TamZPPDI6rI/AAAAAAAAAPo/EA4wY8_Z8Rs/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596172499001338546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Farghali seorang dai, pejuang Islam yang tegas, low profile, tawadhu, sangat benci terhadap musuh-musuh Islam dan antek-anteknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Muhammad Farghali, lahir di Ismailiyah, Mesir pada tahun 1326 H/1906 M. Beliau tumbuh dan dibesarkan dalam didikan Jamah Al-Ikhwan Al-Muslimin yang dipimpin Imam Hasan Al-Banna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1948, Imam Hasan Al-Banna mengumumkan jihad ke Palestina dalam rangka menyelamatkan negeri para nabi, kiblat umat Islam pertama, tempat berdirinya masjid Al-Aqsha, dari kaum penjajah. Syaikh Farghali dan pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin yang berjumlah lebih dari 10.000 orang berhasil menerobos masuk wilayah Palestina untuk membantu saudara seiman mereka yang sedang berjuang melawan tentara Zionis Israel, walaupun pada saat itu pemerintahan Nuqrasyi dan tentara Inggris memperketat pintu perbatasan. Dimedan Jihad Palestina, Syaikh Farghali tidak hanya memberikan semangat dan motivasi berjuang kepada pasukan mujahidin dari Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimin, tetapi beliau juga memberikan contoh berjuang yang gigih, dilakukan dengan sepenuh hati, niat ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah, mengharapkan mati di jalan-NYa.&lt;br /&gt;Di antara operasi heroik yang dilakukan Syaikh Farghali adalah ketika beliau dengan delapan orang pasukannya, dengan kecerdikan dan kewaspadaan yang tinggi dapat memasuki kamp militer Yahudi sebelum waktu subuh. Setelah berhasil menyelinap dan memasuki kamp Zionis Yahudi, Syaikh mencari tempat yang tertinggi, di tempat tersebut beliau mengumandangkan adzan, membesarkan nama Allah, Allahu Akbar... Allahu Akbar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara adzan dikumandangkan oleh Syaikh Farghali, tentara Zionis Yahudi terkejut dan sangat takut, mereka menganggap sudah terkepung, sehingga tentara Zionis tersebut lari tunggang langgang dan meninggalkan apa saja yang ada di kamp, sehingga dengan izin Allah kamp tentara Zionis Yahudi dapat direbut secara utuh oleh para mujahidin yang dipimpin Syaikh Farghali, kemudian diserahkan kepada pasukan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa pejuang tetap melekat dalam diri Syaikh Farghali hingga akhir hayatnya, beliau sangat benci kepada kaki tangan penjajah, bahkan pernah menjuluki antek-antek penjajah dengan "budak materi", "budak hawa nafsu", "budak syahwat" dan "syubhat". Beliau tidak takut kepada siapa pun apalagi kepada penjajah dan antek-anteknya, beliau hanya takut kepada yang menciptakan dirinya dan alam semesta yaitu Allah Rabbalalamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Syaikh Farghali bersama lima orang sahabatnya, Mahmud Abdul Lathif, Yusuf Thalaat, Hindawi Duwair, Ibrahim Ath Thayyib dan Abdul Qadir Audah, dihukum gantung pada hari Jumat, 7 Desember 1954 akibat pengkhianatan kawannya yang cinta kedudukan dan kekuasaan, Jamal Abdun Nashir. Padahal Jamal Abdun Nashir telah berjanji setia untuk berjuang bersama jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimin untuk menegakkan Islam di muka bumi ini, membantu saudara-saudaranya yang dizalimi oleh musuh- musuh Allah. Akan tetapi dia tidak tahan dengan godaan jabatan dan fitnah dunia, sehingga sampai hati dia gantung saudaranya dalam satu jamaah, seorang ulama dan pejuang Palestina yang telah berkorban dengan harta dan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akan dieksekusi, Syaikh Farghali berdiri di depan tiang gantungan dengan teguh dan tegar. Ia tersenyum dan nampak bahagia karena akan menemui Al-Khalik, sambil mengulang-ulang perkataan saudaranya yang lebih dulu syahid, " Saya ingin segera menemui-Mu, Wahai Rabbi, agar Engkau ridha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).(QS: Al-Ahzab/33: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.(QS: Muhammad/47: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memasukkan Syaikh Muhammad Farghali dan mereka yang dieksekusi di tiang gantung bersamanya ke dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Amin. (H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7921689764479113863?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7921689764479113863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7921689764479113863' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7921689764479113863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7921689764479113863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/04/syaikh-farghali-dan-jihad-di-palestina.html' title='Syaikh Farghali dan Jihad di Palestina'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hpV_y4IqMUo/TamZPPDI6rI/AAAAAAAAAPo/EA4wY8_Z8Rs/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3119968063787940815</id><published>2011-01-18T21:08:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Jejak Perjalanan Sains dalam Dunia Islam</title><content type='html'>Transformasi peradaban menyentuh bangsa Arab. Para sejarawan mencatat terjadinya perubahan besar berupa pencapain luar biasa di bidang sains dan teknologi. Pada awalnya, tak banyak yang bersentuhan dengan ilmu pengetahuan. Kedatangan Islam mengantarkan mereka pada beragam literatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ilmu atau ilmu yang terdapat dalam kitab suci dan hadis, mendorong geliat tradisi keilmuan. Mereka menyerap ilmu pengetahuan dari beragam sumber. Pedagang dan penjelajah Muslim berperan besar dalam memajukan gairah perubahan di kalangan masyarakat Arab Muslim pada masa awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berasal dari Makkah, Madinah, dan Yaman. Setelah mengadakan perjalanan melintasi gurun pasir, mereka mencapai Mesir, Mesopotamia, dan Suriah yang dikenal sebagai pusat peradaban kuno. Dari wilayah-wilayah itu, berbagai pemikiran ilmiah maupun teknik instrumen lawas dibawa dan diperkenalkan ke jazirah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat yang bersamaan, muncul kelompok baru di masyarakat Muslim, yakni kalangan terpelajar yang terdiri dari ulama, filsuf, dan cendekiawan. Para tokoh ini sangat tertarik dengan keunggulan peradaban kuno. Mereka menjelma sebagai pendorong utama percepatan kemajuan ilmu di dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam waktu singkat, terjadi perkembangan pesat di bidang politik, sosial, budaya, dan pemikiran. Muhammad Abdul Jabar Beg, peneliti tamu di Cambridge Universtity, Inggris, dalam tulisannya The Origins of Islamic Science menyatakan, Muslim tak hanya mengubah cara pikir, tetapi juga pandangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, sikap ini mendorong mereka mengkaji dan mempelajari warisan peradaban kuno yang mereka temukan. Kegiatan itu terus berlangsung hingga masa kekhalifahan pada abad ke-8 Masehi. Para penguasa memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bidang ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern karya sejarawan Ehsan Masood mengungkapkan, salah satu ciri periode pembangunan Islam yakni menyerap keunggulan peradaban lain, memodifikasi, dan melakukan inovasi. Islam kemudian melahirkan sejumlah ilmuwan terkemuka di bidang sains dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota pusat ilmu, bermunculan di seantero dunia Islam, mulai dari Damaskus, Basra, Kordoba hingga Kairo. Kegiatan intelektual mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang ditandai gencarnya gerakan penerjemahan literatur ilmiah asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cendekiawan Muslim klasik secara khusus mencatat fenomena perubahan yang terjadi pada masyarakat Arab, terutama kecenderungan akan pen carian ilmu. Mereka itu antara lain Ibnu Qutaibah, AlKhawarizmi, serta Ibnu Al-Qifti. Karya Ibnu Qutaibah berjudul AlMa'arif mengulas hal tersebut dalam perspektif sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada buku ensiklopedia ilmu ini, Ibnu Qutaibah menyingkap beragam pemikiran kuno, termasuk legenda, mitos, dan kepercayaan yang diketahui komunitas Muslim pada masa awal. Terdapat pula kajian terkait ilmu pengetahuan, misalnya, teori penciptaan, astronomi, maupun ilmu bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi dari Ibnu Qutaibah menjadi rujukan ilmiah para sarjana Muslim berikutnya, bahkan memengaruhi perkembangan sains di dunia Barat. Sedangkan, buku Mafatih AlUlum (Kunci Ilmu), yang disusun AlKhawarizmi, dipandang sebagai karya umat Islam pertama yang meneliti asal mula sains Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan itu lantas diperluas AlQifti lewat karyanya, Tarikh AlHukama. Ia menuliskan secara perinci sebanyak 144 biografi filsuf dan cendekiawan kondang pada masa Yunani kuno hingga masa kekhalifahan. Menurut dia, proses transfer ilmu pada masa awal Islam berlangsung lebih pesat di kawasan Semenanjung Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah itu berdekatan dengan pusat-pusat peradaban kuno. Pengetahuan kuno dalam bidang seni, teknologi, dan pemikiran, disam paikan oleh para hukama (tetua) melalui cerita, dongeng, dan mitos, dari generasi ke generasi. Informasi ihwal pengetahuan dan teknologi itu juga berasal dari para pengembara dan pedagang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Arab menye but sains kuno itu dengan Ulum Al Awa'il, yang segera disesuaikan dengan tradisi setempat dan mulai digunakan secara luas. Misalnya, roda dan kapal layar yang dite mukan peradaban Mesopotamia. Begitu pula standar timbangan dari bangsa Sumeria. Sistem angka Arab berasal dari peradaban India kuno. Proses peralihan Al Qifti mencatat, hingga akhir abad ke-7 Masehi, orang-orang Arab melakukan proses peralihan pengetahuan masih secara lisan, belum dengan tulisan ilmiah. Keingintahuan yang besar dan semangat keilmuan yang membuncah mampu meningkatkan intensitas interaksi antara umat Islam dan sains teknologi kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran agama Islam yang kian luas semakin menambah jumlah orang dari berbagai wilayah untuk memeluk agama ini. Hal itu akan memperbanyak khazanah pengetahuan asing yang dapat diserap. Umat Islam menjadi begitu dekat dengan tradisi, sejarah, dan sains peradaban kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai contoh, Khalifah Khalid bin Yazid mengawali studi kimia yang diperolehnya dari literatur kuno," urai Muhammad Abdul Jabar Beg. Catatan sejarah mengungkapkan, sang khalifah merupakan salah satu pakar kimia pertama di dunia Islam. Ia memiliki peran besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Khalid bin Yazid mendorong para ilmuwan dari Damaskus, Suriah dan Kairo, serta Mesir untuk menerjemahkan buku-buku bidang kimia, kedokteran, dan astronomi dari literatur Yunani kuno dan Koptik ke dalam bahasa Arab. Selanjutnya, kaum cendekia Muslim mengembangkan pemikiran dan inovasinya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-3119968063787940815?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/3119968063787940815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=3119968063787940815' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3119968063787940815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3119968063787940815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/jejak-perjalanan-sains-dalam-dunia.html' title='Jejak Perjalanan Sains dalam Dunia Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8666415665689505666</id><published>2011-01-18T21:07:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:13:16.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Mengenal Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam</title><content type='html'>Dari wilayah Marv, Khurasan, Iran, lahir seorang ahli matematika terkemuka di dunia Islam. Dia bernama Abu Ja'far Muhammad bin Muhammad Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin. Keahliannya dalam menyajikan rumus dan metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran tokoh ini. Akan tetapi, para sejarawan memperkirakan Al-Khazin meninggal dunia antara 961 dan 971 Masehi. Selain dikenal sebagai ahli matematika, semasa hidup ia juga seorang fisikawan dan astronom yang disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada sejumlah catatan sejarah, Al-Khazin merupakan satu dari sekian banyak ilmuwan yang telah lama dilupakan. Namanya baru mencuat kembali pada masa-masa belakangan ini. Di dunia Barat, Al-Khazin dikenal sebagai Alkhazen. Ejaan dalam bahasa Eropa menyebabkan ketidakjelasan identitas antara dia dan Hasan bin Ibnu Haitsam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab nama Al-Khazin sedikit tenggelam. Al-Khazin merupakan ilmuwan zuhud. Dia menjalani hidup sederhana dalam hal makanan, pakaian, dan sebagainya. Ia sering menolak hadiah para penguasa dan pegawai kerajaan agar tidak terlena oleh kesenangan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa guru tenar menghiasi rekam jejak Al-Khazin saat masih menimba ilmu. Salah satu gurunya bernama Abu Al-Fadh bin Al-Amid, seorang menteri pada masa Buwayhi di Rayy. Al-Khazin menuangkan pemikirannya dalam sejumlah risalah bidang matematika dan telah memperkaya khazanah keilmuan di dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, misalnya Kitab al-Masail al-Adadiyya yang di dalamnya tercantum karya Ibnu Majah, yaitu al-Fihrist edisi Kairo, Mesir. Karyanya yang paling terkenal adalah Matalib Juziyya mayl alMuyul al-Juziyya wa al-Matali fi al-Kuraal Mustakima. Seluruh kemampuan intelektualnya dia curahkan pada karya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk perhitungan rumus teorema sinus untuk segitiga. Seperti tercantum dalam buku al-Fihrist edisi Kairo, AlKhazin pernah memberikan komentar ilmiah terhadap buku Element yang ditulis ilmuwan Yunani, Euclides, termasuk bukti-bukti yang diuraikannya menyangkut kekurangan serta kelemahan pemikiran Euclides.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi luar biasa Al-Khazin mencakup peragaan rumus untuk mengetahui permukaan segitiga sebagai fungsi sisisisinya. Ia mengambil metode penghitungan setiap sisi kerucut. Dengan itu, dirinya berhasil memecahkan bentuk persamaan x3 + a2b = cx2. Di ranah matematika, persamaan itu sangat terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan sebuah soal matematika rumit yang diajukan oleh Archimedes dalam bukunya The Sphere and the Cylinder. Sayangnya, seperti disebutkan pada buku Seri Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah, sekian banyak teks dan risalah ilmiah Al-Khazin tak banyak tersisa pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa saja yang masih tersimpan, di antaranya komentarnya terhadap buku ke10 dari Nasr Mansur dalam Rasail Abi Nasr ila al-Biruni. Jejak keilmuan Al-Khazin juga dapat ditelusuri dalam lingkup astronomi. Dia mengukir prestasi gemilang melalui karyakaryanya. Salah satu yang berpengaruh adalah buku berjudul Zij as Safa'ih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Khazin mempersembahkan karya itu untuk salah satu gurunya, Ibnu Al Amid. Ia juga membahas tentang peralatan astronomi untuk mengukur ketebalan udara dan gas (sejenis aerometer). Saat nilai ketebalan bergantung pada suhu udara, alat ini merupakan langkah penting dalam mengukur suhu udara dan membuka jalan terciptanya termometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip karya Al-Khazin tersebut tersimpan di Berlin, Jerman, namun hilang ketika berkecamuk Perang Dunia II. Oleh astronom terkemuka, Al-Qifti, karya itu dianggap sebagai subyek terbaik dan sangat menarik untuk dipelajari. Buku Zij as Safa'ih menuai banyak pujian dari para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Biruni, beragam mekanisme teknis instrumen astronomi berhasil diurai dan dijelaskan dengan baik oleh Al-Khazin. Tokoh ternama ini pun kagum atas sikap kritis Al-Khazin saat mengomentari pemikiran Abu Ma'syar dalam hal yang sama. Tokoh lain yang menyampaikan komentarnya adalah Abu Al-Jud Muhammad Al-Layth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyatakan, pendapat Al-Khazin mengenai cara menghitung rumus chord dari sudut satu derajat. Dalam Zij disebutkan, soal itu bisa dihitung apabila chord dibagi menjadi tiga sudut. Sementara itu, Abu Nash Mansur memberikan koreksi atas sejumlah kekurangan yang terdapat pada karya Al-Khazin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan inklanasi ekliptika tak luput dari perhatian Al-Khazin. Persoalan astronomi ini sudah mengemuka sejak zaman Archimedes. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Mahani, meninggal pada 884 Masehi, yang pertama mengangkat kembali tema ini. Oleh AlKhazin, hal itu kembali dipelajari dan dia berhasil menjabarkannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Khazin, pembagian bola dengan sebuah bidang datar dalam satu rasio ditentukan dengan menyelesaikan persamaan pangkat tiga. Demikian ilmuwan ini menyelesaikan soal astronomi tadi yang segera mendapatkan pujian dari astronom-astronom lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa aspek penting yang dikupas oleh Al-Khazin dalam buku astronomi yang ia tulis. Dalam Zij, ia menunjukkan penetapan titik derajat tengah atau cakrawala yang kemiringannya tidak diketahui sebelumnya. Ia juga mampu menghitung sudut matahari melalui penentuan garis bujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangsih lain adalah menyangkut penentuan azimut atau ukuran sudut arah kiblat dengan memakai peralatan tertentu. Al-Khazin berhasil mengenalkan metode hitung segitiga sferis. Komentar-komentarnya cukup mendalam terhadap karya astronomi lain, misalnya, ia pernah menulis sebuah komentar atas Almagest karya Ptolemeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjek yang ia bahas adalah tentang sudut kemiringan ekliptik. Sebelumnya, rumus itu dikenalkan Banu Musa pada 868 Masehu di Baghdad, Irak. Ia juga mencermati hasil pengamatan AlMawarudzi, Ali bin Isa Al-Harrani, dan Sanad bin Ali. Hal ini terkait dengan penentuan musim semi dan musim panas. Sementara itu, melalui tulisannya yang berjudul Sirr al-Alamin, Al-Khazin mengembangkan lebih jauh gagasan-gagasan dari Ptolemeus yang terdapat pada buku Planetary.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8666415665689505666?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8666415665689505666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8666415665689505666' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8666415665689505666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8666415665689505666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/mengenal-al-khazin-ahli-matematika-dan.html' title='Mengenal Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-9034881548795185885</id><published>2011-01-18T21:06:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:13:16.584+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Mengenal Syekh Muhammad Jamil Jaho, Ulama Pembaru dari Minang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TTWelONq_UI/AAAAAAAAAPc/rfS1JxAG2yU/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TTWelONq_UI/AAAAAAAAAPc/rfS1JxAG2yU/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563527276993903938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Jamil Jaho (duduk kedua dari kiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaho adalah sebuah daerah kecil yang terletak di bukit Tambangan, antara wilayah perbatasan Aceh, Padang Panjang, dan Tanah Datar, Sumatra Barat. Daerahnya dikenal sejuk dan asri. Di tengah daerah yang indah itu, lahirlah seorang ulama yang sangat kharismatik. Beliau adalah Syekh Muhammad Jamil Jaho, yang kerap dipanggil dengan sebutan Buya Jaho, atau Inyiak Jaho, atau Angku Jaho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Jamil Jaho lahir pada tahun 1875. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari Negeri Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai Qadhi Tambangan. Sementara ibunya, Umbuik, adalah seorang perempuan yang disegani di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad Jamil Jaho dibesarkan di tengah keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama. Masa kecilnya dihiasi dengan nuansa religi yang sangat kental. Latar belakang keluarga yang alim inilah yang membuatnya senantiasa haus akan ilmu agama. Ia menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama besar Minang di zaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar Alquran dan kitab perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab) dari ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, pada usia 13 tahun, ia telah hafal Alqur'an dan isi kitab perukunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kecerdasan dan kesungguhan Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif untuk mengajarinya kitab-kitab kuning. Dalam waktu yang relatif singkat, Muhammad Jamil mampu mencerna maksud yang terkandung dalam kitab kuning tersebut, dan cakap menguasai bahasa Arab, baik secara lisan atau tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menimba ilmu dari sang ayah, Muhammad Jamil pun memutuskan pergi menuju halaqah atau majelis ilmu pesantren milik Syeikh al-Jufri di Gunung Raja, Batu Putih, Padang Panjang. Selama belajar di pangkuan Syeikh al-Jufri, Muhammad Jamil menunjukkan ketekunan dan kecerdasannya sehingga ia pun menjadi murid kesayangan sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan belajar di pesantren Syeikh al-Jufri pada tahun 1893, Muhammad Jamil melanjutkan pendidikannya ke seorang ulama fikih terkenal, Syeikh al-Ayyubi di Tanjung Bungo, Padang Ganting. Di pesantren barunya inilah Muhammad Jamil berteman akrab dengan Sulaiman ar-Rusuli, yang kelak menjadi seorang ulama terkenal dari tanah Minang. Keduanya adalah santri yang pandai, dan belajar dengan Syeikh al-Ayyubi selama enam tahun. Keduanya kemudian melanjutkan mengaji ke Biaro Kota Tuo, yang pada masa itu merupakan tempat berkumpulnya para ulama besar Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1899, Muhammad Jamil dan Sulaiman ar-Rasuli pindah mengaji ke Syeikh Abdullah Halaban, seorang ulama Minang yang terkenal mahir dalam ilmu fikih dan ushul fikih. Di perguruan Syeikh Halaban inilah Muhammad Jamil dipercaya untuk menjadi seorang pengajar (ustadz) dan asisten pribadi Syeikh Halaban. Karenanya ia kerap dibawa serta ke pengajian-pengajian keliling negeri Minang oleh gurunya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1908, ia berkesempatan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama. Sebelum berangkat ke tanah suci, Muhammad Jamil dipersuntingkan dengan gadis Tambangan yang bernama Saidah, yang kelak mengaruniai dua orang puteri bernama Samsiyyah dan Syafiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Ginandjar Sya'ban sebagaimana mengutip dari mukaddimah kitab Tadzkirah al-Qulub karangan Syeikh Jamil Jaho mengungkapkan bahwa saat di Makkah, Muhammad Jamil berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, seorang putera Minang yang menjadi imam, khatib sekaligus mufti mazhab Syafi'i di Masjidil Haram. Di tanah suci ini beliau bertemu dan belajar bersama Syeikh Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka). Keduanya menjadi murid kesayangan Syeikh Ahmad Khatib, dan diberi kehormatan untuk membimbing dan mengajar murid-murid yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Jamil belajar di Makkah selama 10 tahun lamanya. Selama itu juga ia telah memperoleh tiga ijazah dari tiga orang ulama besar di Makkah pada zaman itu, yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (guru besar madzhab Syafi’i), Syeikh Alwi al-Maliki (guru besar madzhab Maliki), dan Syeikh Mukhtar al-Affani (guru besar madzhab Hanbali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermukim 10 tahun lamanya di Makkah, ia memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang. Sekembalinya dari tanah suci, Syeikh Jamil Jaho menjadi ulama terkenal dan disegani karena kedalaman ilmunya dan kesolehan pribadinya. Beliau mengajar di Jaho dan di beberapa daerah di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak ijtihad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan ulama Minang pada masa itu, Syeikh Jamil Jaho termasuk ulama yang berpaham pembaharu, namun menolak pola ijtihad yang selama ini didengung-dengungkan, sekaligus bersikap menerima taqlid kepada ulama-ulama terdahulu. Sebuah cara berpikir yang bertolak belakang dengan trend berpikir yang digandrungi oleh ulama muda di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1922, bersama-sama Syeikh Sulaiman ar-Rusuli dan Syeikh Abdul Karim Amrullah, beliau mendirikan Persatuan Ulama Minangkabau dan perguruan Islam Thawalib. Di kampung halamannya Jaho, pada tahun 1924 ia mendirikan surau dan membuka halaqah pengajian. Muridnya beragam yang datang. Ada dari Aceh, Jambi, Sumatra Utara, dan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaqah yang didirikannya ini kelak berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho, setelah bergabung dengan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli. Menurut Akhria Nazwar dalam bukunya Syeikh Ahmad Khatib (1983), kedua tokoh ini sepaham dalam menolak ijtihad dan menolak meninggalkan taqlid pada ulama. Namun dalam soal tarekat keduanya berbeda paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama dengan Syeikh ar-Rusuli, beliau mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini menjadi sebuah gerakan organisasi Islam dengan nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Duet Syeikh Muhammad Jamil Jaho dan Syeikh Sulaiman ar-Rusuli menjadi simbol utama ulama tradisional pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan masyarakat Minang saat itu, Syeikh Jamil Jaho dikenal memiliki sikap netral dalam menghadapi perbedaan pendapat antara kaum tua dengan kaum muda soal pembaharuan Islam di Minangkabau. Pola penyebaran dakwah yang beliau terapkan merupakan cara yang dipakai oleh Syeikh Jamil Jambek, yakni dengan mendatangi kampung-kampung untuk menyampaikan risalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengikuti cara berpikir Syeikh Yusuf Nabhani, yang dikenal anti kepada pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridha yang kala itu banyak diikuti oleh para ulama muda di seluruh penjuru dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktif mengajar dan berdakwah, semasa hidupnya Syeikh Muhammad Jamil Jaho juga gemar menulis. Ulama Minang yang wafat pada tahun 1360 H/1941 M ini banyak meninggalkan karya berharga yang menjadi suluh ummat di kemudian hari. Karya-karyanya tersebut antara lain Tadzkiratul Qulub fil Muraqabah 'Allamul Ghuyub, Nujumul Hidayah, as-Syamsul Lami'ah, fil 'Aqidah wa Diyanah, Hujjatul Balighah, al-Maqalah ar-Radhiyah, Kasyful Awsiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok ulama Minang yang satu ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki peran besar dalam kiprah Muhammadiyah di tanah Minangkabau. Hadirnya Muhammadiyah di Minangkabau, dan berkembang sampai di Batipuh tidak lepas dari kepedulian Ayeikh Muhammad Jamil Jaho bersama Syeikh Muhammad Zain Simabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tokoh ulama Minang ini di kemudian hari mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi Islam ini. Keduanya menyatakan mundur setelah mengikuti kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan pada tahun 1927. Alasannya adalah masih pada persoalan peluang membuka ijtihad dan menolak taqlid kepada ulama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-9034881548795185885?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/9034881548795185885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=9034881548795185885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/9034881548795185885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/9034881548795185885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/mengenal-syekh-muhammad-jamil-jaho.html' title='Mengenal Syekh Muhammad Jamil Jaho, Ulama Pembaru dari Minang'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TTWelONq_UI/AAAAAAAAAPc/rfS1JxAG2yU/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8173084934641118622</id><published>2011-01-18T21:05:00.003+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Geliat Industri Kimia dalam Perjalanan Sejarah Islam</title><content type='html'>Kemajuan di bidang kimia tak terhenti pada konsep dan kajian. Namun, ilmuwan Muslim membuat tero bosan penting hingga lahirlah industri. Berbagai produk yang bermula dari inovasi dalam ranah ini bertebaran di kota-kota Islam. Tak hanya memberi manfaat fungsional, tetapi juga mendorong kemajuan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, ilmuwan Muslim berkomitmen mengembangkan kimia. Mereka melakukan kajian dan menuliskannya dalam serangkaian karya. Sejumlah risalah, misalnya yang ditulis oleh ahli kimia terkemuka, Jabir ibnu Hayyan, menggambarkan bagaimana menghasilkan zat kimia tertentu, yang menjadi bahan baku industri secara rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir, ungkap Ehsan Masood melalui karya Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, berhasil menemukan proses kimiawi, seperti reduksi, sublimasi, dan penyulingan. Dia menciptakan bahan alembik, tabung penelitian sederhana untuk memanaskan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alembik bisa mengubah anggur menjadi alkohol. Namun, di tangan ilmuwan Muslim, alkohol tidak dialihkan sebagai bahan minuman keras. Sebaliknya, pembuatan bahan alkohol menjadi proses kunci untuk sejumlah industri kimia yang berkembang di peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk produksi parfum, tinta dan bahan celup, obat-obatan ataupun bahan kimia tertentu. Jabir juga menemukan jenis asam, antara lain asam sulfat, asam hidrokolat, dan asam nitrat, yang bisa melarutkan logam serta banyak dipakai di industri kerajinan logam dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penguasaan teknik kimiawi dari sarjana Muslim menumbuhkan semangat para industriawan. Peradaban Islam lantas memunculkan sederet industri penting, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga industri baja, pembuatan kertas, pembuatan keramik, kerajinan tanah liat, pembuatan gelas dan kaca, pertanian, ekstraksi mineral, industri logam, dan produk kimia lainnya. Umat Islam pun telah memiliki pabrik kaca skala besar di beberapa kota di Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra-sentra industri kaca bermunculan di banyak tempat dan masing-masing punya ciri khas dalam hal bentuk dan desain. Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: An Illustrated History, produk umat Islam mencerminkan karakter unik dari masing-masing pusat pembuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sammara, Irak, pada abad ke-9 mejadi salah satu sentra industri produk tersebut. Selain itu, ada pula di Mosul, Najat, serta Baghdad. Sedangkan, di Suriah, Kota Damaskus merupakan sentra produksi yang terkenal meskipun di kota lainnya juga ada, seperti di Aleppo, Raqqa, Armanaz, Tyre, Sidon, Acre,dan Rasafa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hassan mengungkapkan, produk yang dibuat di Suriah sangat populer sepanjang peradaban Islam hingga berkembangnya industri yang sama di Venesia, Italia, pada abad ke13. Orang-orang Barat mengetahui teknik pembuatan produk tersebut pada abad ke-13 hingga ke-17, lalu mereka mengembangkan industri di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indishapur, penelitian kimia mengantarkan umat Muslim pada pencapaian teknologi pemurnian gula. Selanjutnya, inovasi teknik ini dipergunakan pada industri gula di Khuzistan. Lalu, menyebar ke seluruh negeri Islam hingga Spanyol. Penemuan penting lain pada era keemasan adalah sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra industri sabun berada di Kufah, Basrah, dan Nablus di Palestina. Kemajuan industri ini dicatat ahli geografi, al-Maqdisi. Dalam risalahnya Ahsan al-Taqasim fi Ma`rifat al-Aqalim, ia menyatakan bahwa Kota Nablus sudah terkenal sebagai sentra produksi sabun pada abad ke-10 dan sebagian hasilnya diekspor ke negara-negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya produk sabun turut men dorong berkembangnya gaya hidup sehat dan bersih di kalangan masyarakat Muslim sejak abad ke-7. Bahan utama pembuatan sabun, ungkap al-Hassan, adalah minyak sayuran, misalnya minyak zaitun serta minyak aroma.Tokoh penting di balik penemuan formula pembuatan sabun adalah al-Razi, kimiawan asal Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, sabun yang diproduksi umat Muslim sudah berbentuk sabun cair dan padat serta menggunakan bahan pewangi dan pewarna. Dokter Muslim asal Andalusia, Abu al-Qasim al-Zahrawi (936-1013), juga menulis resep pembuatan sabun di dunia Islam. Selain itu, fondasi industri parfum ditopang oleh teknik dan rekayasa kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan parfum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ahli kimia, yakni Jabir ibnu Hayyan dan al Kindi, melalui berbagai penemuan dalam proses kimia sanggup menghasilkan formula luar biasa yang bermanfaat bagi pembuatan parfum dengan aneka jenisnya. Sejumlah ahli lainnya juga menaruh perhatian besar terhadap teknik pembuatan parfum. Tak kurang dari sembilan risalah teknis bagi produksi parfum sudah dihasilkan, seperti disampaikan al Ishbilli, kimiawan Muslim berpengaruh pada abad ke-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, harus diakui, pengembangan industri parfum di dunia Islam mencapai tahapan mengagumkan berkat kontribusi Ibnu Hayyan. Dia dijuluki Bapak Kimia Modern. Tak tanggung-tanggung, tokoh ini melahirkan beberapa metode penting, seperti penyulingan, penguapan, dan penyaringan, yang sangat efektif untuk mengambil aroma wewangian dari tumbuhan dan bunga dalam bentuk minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, umat Islam menorehkan prestasi tinggi. Terutama, dengan dikembangkannya teknik dan proses ekstraksi wewangian melalui teknologi distilasi uap. Pencapaian ini sangat berpengaruh pada kemajuan industri parfum masa berikutnya. Bahan ramuan parfum temuan ahli kimia Muslim banyak diikuti oleh kalangan industri parfum di dunia Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya industri mesiu mengalami pencapaian signifikan sejak abad ke-7. Seorang ahli kimia bernama Khalid bin Yazid memperkenalkan bahan potasium nitrat yang menjadi bahan utama pembuatan mesiu. Karya Ibnu Hayyan dan alRazi juga menyinggung soal potasium nitrat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8173084934641118622?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8173084934641118622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8173084934641118622' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8173084934641118622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8173084934641118622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/geliat-industri-kimia-dalam-perjalanan.html' title='Geliat Industri Kimia dalam Perjalanan Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-678483364530211361</id><published>2011-01-18T21:05:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:20:52.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wanita Agung'/><title type='text'>Juwairiyah binti Al-Harits</title><content type='html'>Parasnya begitu cantik, luas ilmunya dan mulia akhlaknya. Begitulah sejarah Islam melukiskan Juwairiyah binti Al-Harits. Sejatinya, ia bernama Barrah. Wanita itu berasal dari Bani Musthaliq yang menyembah berhala. Ayahnya, Al-Harits, adalah pemimpin kaumnya yang gemar menyembah patung dan sangat memusuhi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burrah sempat menikah dengan seorang pemuda yang bernama Musafi' bin Shafwan. Ayahnya berencana untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Bani Musthaliq sangat bernafsu untuk mengalahkan pasukan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab. Rencana itupun sampai ke telinga Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan kabar itu, Nabi SAW lalu menugaskan Buraidah bin Al-Hushaid untuk memastikan kebenaran informasi itu. Ternyata, rencana penyerangan yang akan dilakukan Bani Musthaliq itu tak sekedar isu melainkan kenyataan. Rasulullah pun menyusun kekuatan dan menyerang terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran tentara Islam melawan kaum kafir dari Bani Musthaliq itu dikenal sebagai perang Perang Muraisi' dan terjadi pada bulan Sya'ban tahun kelima Hijrah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Pemimpin bani Musthaliq, Al-Harits melarikan diri dari medan peperangan dan suami Barrah tewas terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penduduk yang selamat, termasuk Barrah menjadi tawanan. Sebagai seorang terpelajar, mengetahui dirinya menjadi tawanan, Barrah mengajukan tawaran untuk membebaskan diri. Ia lalu mencoba bernegosiasi dan meminta bertemu dengan Nabi SAW. Upayanya membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah, aku Barrah, putri dari Al Harits. Ayahku adalah pemimpin kaumku. Sekarang aku ditimpa kemalangan dengan menjadi tawanan perang dan jatuh ke tangan Tsabit bin Qais. Ia memang lelaki baik, tidak pernah berlaku buruk padaku. Namun ketika kukatakan aku ingin mene bus diri, ia membebaniku dengan sembilan keping emas. Maka kupikir lebih baik minta perlindungan padamu. Tolong, bebaskan aku!" ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW berpikir sejenak. Lalu Rasulullah SAW balik bertanya, "Maukah engkau yang lebih baik dari itu?" Seketika Barrah tercengang dan balik bertanya, "Apakah gerangan itu, wahai Rasulullah? Lalu Nabi SAW berkata, "Aku tebus dirimu, lalu kunikahi engkau." Mendengar jawaban Nabi SAW, wajah Barrah pun berubah berseri-seri. "Baiklah, wahai Rasulul lah," tutur Burdah. Lalu Rasulullah SAW menikahi nya dan nama Barrahpun diganti menjadi Juwai riyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diriwayatkan Aisyah RA, kabar perni kahan Rasulullah dan Juwairiyah menyebar cepat di kalang an kaum Muslimin. Secara tak terduga, pernikahan itu menjadi berkah bagi kaum Bani Musthaliq yang tertawan dan menjadi budak. Para sahabat membebaskan semua tawanan yang masih memiliki hu bungan kekerabatan dengan Juwairiyah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-678483364530211361?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/678483364530211361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=678483364530211361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/678483364530211361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/678483364530211361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/juwairiyah-binti-al-harits.html' title='Juwairiyah binti Al-Harits'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4446307441117412482</id><published>2011-01-18T20:59:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Menyusuri Kemajuan Pertanian dalam Sejarah Islam</title><content type='html'>Kemajuan menyentuh ranah pertanian. Serangkaian teori ditemukan oleh kaum intelektual dan dipraktikkan hingga membuahkan hasil melimpah di tanah-tanah negeri Muslim. Panen pun mengerek tingkat kesejahteraan. Ini semua bermuara pada pengetahuan umat Islam yang memadai tentang pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya soal cara memanen. Mereka telah tahu bagaimana memilih lahan bagi tanaman mereka. Mana yang cocok dan mana pula yang tidak. Sistem pengairan bermunculan dan memicu perkembangan teknologi di bidang ini. Mereka hapal bagaimana membuat pupuk dan komposisi penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang terkenal, Kitab al-Filaha (Buku tentang Pertanian), cendekiawan dari Andalusia atau Spanyol, Ibnu al-Awwan, menjelaskan sejumlah langkah memulai bertani. Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengingatkan, siapa yang mengabaikan masalah itu tak akan menuai keberhasilan saat menggarap lahan pertanian. Ini bermakna para petani perlu memiliki pengetahuan tentang lahan, karakteristiknya, jenisnya, tanaman, dan pohon yang mestinya ditanam atau tidak di lahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, al-Awwan mewanti-wanti pula agar memahami betul tentang tingkat kelembapan tanah yang berdampak pada semua tanaman. Perlu pula mengetahui jenis tanah, apakah lembut, keras, berpasir, hitam, putih, kuning, merah, kemerah-merahan, atau kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan dasar tentang lahan harus didukung dengan langkah lain untuk mencapai hasil pertanian memuaskan. Untuk hal ini, umat Islam telah mengembangkan teknologi sistem irigasi. Bentuknya memang berbeda-beda di setiap wilayah, ada yang sederhana dan ada pula yang lebih canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan al-Hamdani mengisahkan salah satu bentuk sistem irigasi yang ada di Yaman, yang disebut dengan alSamman. Ini merupakan sumber air terkenal. Kedalamannya mencapai tiga meter. Di sekitarnya, terdapat sejumlah sumur dan telaga buatan sebagai penampung air. Sisi-sisinya dibatasi dengan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar geografi Muslim bernama al Istakhri dalam bukunya, Al-Masalik walMamalik, berbicara tentang sistem irigasi. Menurut dia, di Marw (kini berada di wilayah Khurasan, Iran), terdapat sebuah departemen yang secara khsusus dibentuk untuk menangani pengelolaan air.&lt;br /&gt;Departemen tersebut memiliki sebanyak 10 ribu staf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jaser Abu Safieh dari Jordan University, Amman, Yordania, sistem irigasi yang diwariskan oleh umat Islam sangat efisien dan hingga kini masih digunakan di sejumlah wilayah di Andalusia atau Spanyol. Badan seperti Water Court of Valencia masih melakukan pertemuan mingguan pada Kamis seperti yang terjadi pada masa Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan sistem irigasi lainnya untuk keperluan pertanian terdapat juga di Irak. Tepatnya, di Fowkhara Gate di tepi Sungai al-Nahrawan, Samarra. Adam Mitz, dalam Al-Hadarah alIslamiyyah, menyebutkan bahwa ilmuwan Muslim saat itu telah mampu mengalirkan air dari sumbernya dengan menggunakan pipa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mempunyai sejumlah alat-alat teknik yang bermanfaat untuk mengukur ketinggian tanah dan menggali saluran irigasi di bawah tanah. Akhirnya, ujar Mitz, para ilmuwan itu menemukan sejumlah mesin untuk mengukur tingkat air sungai. Dengan berbagai penemuannya,&lt;br /&gt;pertanian di dunia Islam kian berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk Pupuk telah sejak dini menjadi perhatian. Bahkan, telah muncul pemikiran komposisi penggunaan pupuk. Ilmuwan Muslim, Ibnu al-Hajjaj al-Ishbili, melalui bukunya Al-Muqni' fi al-Filahah, menjelaskan bahwa seorang petani mesti tahu jika lahan pertanian tak dipupuk, kemampuannya akan melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ia berkata agar penggunaan pupuk tak berlebihan. Bila ini terjadi, tanah akan terbakar oleh pupuk. Dengan pandangan yang disampaikan Ibnu al-Hajjaj ini, pengetahuan pertanian umat Islam saat itu telah mencapai taraf yang tinggi. Sejalan pada masa sekarang, penggunaan pupuk harus sesuai aturan pemakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya pemupukan untuk lahan pertanian; Ibnu Bassal, Ibnu Hajjaj, dan Ibnu al-Awwam memberikan penjelasan luas mengenai tipe pupuk dan tingkat kecocokan pupuk pada tanaman dan lahan tertentu. Mereka menyinggung pula penggunaan daun-daun pohon untuk menyuburkan lahan pertanian dan pemakaian pupuk kompos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan mengenai pupuk kompos ini di antaranya terdapat dalam buku yang disusun Ibnu al-Awwam yang berjudul Kitab al-Filaha al-Andalusiyyah. Manuskrip karyanya tersimpan di British Museum. Sedangkan, Ibnu Bassal menjelaskan bagaimana membuat pupuk kompos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, Ibnu Bassal membagi kompos menjadi tiga jenis. Salah satunya adalah kompos yang terbuat dari campuran rumput, jerami, dan abu. Ketiga bahan itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang. Lalu, tuangkan air ke dalam lubang tersebut, tinggalkan hingga membusuk. Ia menegaskan, penggunaan pupuk secukupnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bassal pun berbagi pengetahuan lainnya. Kali ini, terkait dengan penanaman yang ia sebut sebagai seni menanam. Ada masa dan kondisi tertentu untuk menanam suatu jenis tumbuhan agar bisa berkembang sempurna. Ia menunjuk budi daya labu. "Di negara-negara dingin, seperti Andalusia, biji labu mesti ditanam selama bulan Januari." Lalu, pada bulan April, saat bibit tanaman telah kuat, baru dipindahkan ke lahan permanen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4446307441117412482?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4446307441117412482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4446307441117412482' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4446307441117412482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4446307441117412482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2011/01/menyusuri-kemajuan-pertanian-dalam.html' title='Menyusuri Kemajuan Pertanian dalam Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-2331872963353135338</id><published>2010-12-30T09:30:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Jaringan Jalan di Masa Dinasti Abbasiyah</title><content type='html'>Sistem transportasi yang terintegrasi telah lama dimiliki umat Islam. Jalan-jalan dibangun secara terencana. Menghubungkan ibu kota kekhalifahan dengan kota-kota lain. Selain itu, berfungsi pula menopang kegiatan komersial, sosial, administratif, militer, dan sejumlah hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan jaringan jalan mulai menggeliat ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa di abad ke-8. Saat itu, fokus utama dinasti tersebut adalah mewujudkan stabilitas serta kemakmuran. Bukan lagi penaklukan wilayah seperti pada dinasti sebelumnya. Maka itu, mereka berpikir perlunya sistem jaringan transportasi dan komunikasi yang andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baghdad sebagai ibu kota pemerintahan, menjadi sentral. Beberapa jalur yang dibuka, semuanya dari dan menuju kota ini. Dengan keberadaan jalan, ungkap Mansour Elbabour dalam System of Cities: an Alternative Approach to Medieval Islamic Urbanism, tercipta integrasi dengan kota-kota provinsi utama hingga wilayah perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota tersebut memang diharapkan dapat menunjang gerak kehidupan di ibu kota dengan berbagai komoditas yang dihasilkan. Pembangunan jaringan jalan terbagi dalam dua periode. Pada abad ke-9, seluruh jaringan transportasi masih berpusat di Baghdad. Jalan utama atau jalan negara menghubungkan Baghdad dengan kota provinsi yang strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode kedua, yakni di abad ke-10 ketika terjadi perkembangan luar biasa di sejumlah provinsi. Kondisi itu membuat kota-kota provinsi kian otonom. Baghdad bukan lagi satu-satunya pusat pertumbuhan. Dengan demikian, pembangunan jaringan jalan di provinsi memiliki fungsi yang sejajar dengan jalan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aspek menuntut kebutuhan akan jaringan jalan yang tersistematisasi. Seperti komunikasi antaranggota masyarakat kian intens. Hubungan terjalin di berbagai bidang. Mereka pun membutuhkan kecepatan waktu untuk mempermudah urusan, dan itu hanya bisa dipenuhi lewat sistem transportasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang terbangun dengan baik, memberi kemudahan pula bagi pejabat pemerintah pusat yang seringkali menginspeksi wilayah kekuasaannya. Di sisi lain, pada masa itu bangkit gairah keagamaan di dunia Islam. Umat Islam selalu berharap dapat mengunjungi kota suci Makkah dan Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan harus difasilitasi dengan adanya jaringan yang menghubungkan kota-kota yang bisa mengantarkan umat Islam ke sana. Secara garis besar, terdapat empat jaringan jalan utama. Masing-masing bermula dari Baghdad sebagai ibu kota pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang disebut dengan jaringan jalan kelima. Yaitu, berupa jalur transportasi air melintasi Sungai Tigris menuju Basra dan Teluk Arab. Jaringan pertama adalah Jalan Raya Khurasan. Al-Yaqubi, sejarawan Muslim yang hidup di abad ke9, menyebutnya jaringan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan utama ini membentang dari Baghdad menuju wilayah timur laut dan utara hingga ke kawasan perbatasan dengan Cina. Jalan ini juga melintasi kawasan di sepanjang Sungai Syr Daria. Begitu pula, melewati sejumlah kota, antara lain Hamazan, Ray, Naysapur, Thus, Merv , Bukhara, dan Samarkand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan daerah yang akan mengarah pada perlintasan Jalan Sutera yang terkenal. Hingga era modern, jaringan jalan tersebut masih ada. Al-Yaqubi menggambarkan, Jalan Khurasan ini sebagai jalur pos utama yang melintasi Persia. Jalan ini melewati sejumlah kota penting, misalnya, Teheran dan kota tua Ray.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan kedua adalah Jalan Lintas Tenggara. Jalan utama ini hampir paralel dengan Jalan Khurasan. Dua jalan tersebut dipisahkan oleh padang pasir luas yang terdapat di antara Khurasan dan Fars. Dari Gerbang Basra di Baghdad, jalur lintas tenggara mengikuti sepanjang Sungai Tigris. Dua kota pertama yang dilalui, yakni Wasit dan Basra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari Basra, barulah mengarah ke wilayah tenggara, tepatnya ke Kota Ahwaz di Kuzistan, hingga menjangkau arah timur sampai di Sungai Industan. Sedangkan jaringan ketiga, yaitu Jalan Maghreb. Jaringan ini memiliki dua jalur yang melalui Sungai Eufrat dan sedangkan jalur lainnya melewati Mosul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur yang dibangun melalui Eufrat, ke wilayah barat. Kota yang dilintasi salah satunya Qayrawan di Tunisia. Sedangkan Jalan Maghreb via Mosul, bermula dari Baghdad akan bertemu lintasan paralel di sisi barat Sungai Tigris menuju Samarra serta Mosul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir adalah Jalur Haji. Jalan ini berawal dari Gerbang Kufah di Baghdad menuju Kota Kufah. Dari sini, jalur terus hingga ke Gurun Arabia sebelum sampai ke Madinah atau Makkah. Ini adalah salah satu jalan yang juga mengarah ke kota suci, di antara yang lain berasal dari Jazirah dan biasanya digunakan para jamaah haji dari wilayah timur dan utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Josef W Meri dalam Medieval Islamic Civilization, sebagian jaringan jalan yang digunakan umat Islam merupakan kelanjutan dari sistem yang dibuat sejak masa Romawi atau Persia kuno. Jalan-jalan itu sudah memakai batu yang disusun rapi. Saat bangsa Romawi berkuasa, jaringan jalan dibuat militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa pemerintahan Islam, jalan-jalan tadi diperbaiki serta diperluas jangkauannya sehingga dapat mencapai Makkah dan Madinah. Dari catatan Jere L Bacharach, jalur yang menuju dua kota suci bermula dari Baghdad (Darb Zubayda), Damaskus (Darb al-Hajj al-Shami), serta Kairo (Darb al-Hajj al-Misri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian jalur belum berbatu, tetapi sudah dilengkapi fasilitas, seperti sumur, penampungan air, tempat peristirahatan, dan masjid. Ada dokumentasi yang baik tentang jalur yang dibangun dari Baghdad. Jalur ini dibangun pada masa Khalifah Harun alRasyid. Di beberapa titik jalur menuju kota suci tersedia tempat penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peristiwa politik yang penting pada masa ini juga sedikit banyak terkait dengan lini transportasi itu. Gerakan perlawanan Abbasiyah bermula dari wilayah Humayma, sebuah desa kecil yang dilintasi jalur utama antara Damaskus dan Madinah. Sebenarnya, terdapat satu jaringan jalan yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, jalur Mesir yang melintasi Kota Aqaba dan Ayla. Jalur ini memang kurang terkenal, tetapi kerap digunakan semasa pemerintahan Sultan Mamluk. Di samping membangun dan memperbaiki sistem jaringan jalan, Dinasti Abbasiyah sekaligus mengembangkan beragam fasilitas penunjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara lain, jembatan, tempat pemberhentian, sumur air, masjid, dan sebagainya. Bahkan, catatan sejarah mengungkapkan, sejumlah jembatan yang dibangun pada era tersebut memiliki ketahanan luar biasa. Ada dua tipe jembatan, yaitu yang berstruktur batu (qantara) dan yang berstruktur kayu (jisr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josef W Meri mengisahkan, alat transportasi utama yang melintas di jaringan jalan itu kebanyakan adalah unta dan kuda. Kereta kuda belum banyak digunakan sebelum abad ke-13 sampai menjelang serangan bangsa Mongol. Tak hanya itu, dengan sistem jalan yang melintasi berbagai wilayah, secara berangsur permukiman di sepanjang jalur. Beberapa permukiman itu kemudian tumbuh menjadi kota besar, misalnya Sammara yang dibangun pada abad ke-8 yang terletak di persimpangan jalur antara Damaskus dan Kairo serta Jaffa dan Yerusalem.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-2331872963353135338?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/2331872963353135338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=2331872963353135338' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2331872963353135338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2331872963353135338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/jaringan-jalan-di-masa-dinasti.html' title='Jaringan Jalan di Masa Dinasti Abbasiyah'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4079437076349488475</id><published>2010-12-30T09:28:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Potret Kemajuan Dunia Kedokteran dalam Sejarah Islam</title><content type='html'>Ilmuwan bernama Ehsan Masood mengungkap fakta. Dalam bukunya, 'Science in Islam', ia menyebutkan bahwa ilmu kedokteran merupakan bidang sains yang paling produktif di masa awal Islam. Ini bukan begitu saja terjadi, namun ada latar belakang sebagai pijakan berkembangnya ilmu kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek medis dan kesehatan, sudah mendapat perhatian besar Rasulullah SAW semasa hidupnya. Inilah yang mengilhami pencapaian luar biasa umat Islam dalam ilmu kedokteran. Banyak ayat Alquran dan hadis yang berkaitan dengan persoalan kesehatan. Di lapangan, umat telah mempraktikkan ajaran Nabi Muhammad terkait kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, para Muslimah misalnya, secara sukarela menjadi tenaga perawat untuk mendukung perjuangan yang dilakukan pasukan Islam dalam sejumlah pertempuran. Pemanfaatan teknik pengobatan dan ilmu kedokteran terus berlanjut. Pada masa selanjutnya, terjadi pula transfer ilmu dari masa Yunani kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literatur-literatur medis dari peradaban lama diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Suriah pada abad ke-7 hingga ke-9. Khalifah al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah, mendorong gerakan gerakan pengalihbahasaan literatur penting itu. Bahkan, khalifah memberikan imbalan besar bagi ilmuwan yang melakukan penerjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang, proses penerjemahan juga melibatkan para sarjana Kristen atau Yahudi. Salah satu karya besar yang diterjemahkan adalah buku de Materia Medica yang ditulis pada abad ke-1 oleh Dioscorides. Dia adalah dokter bedah asal Yunani yang bekerja di kententaraan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya monumental dari Gelanus, dokter asal Yunani, turut dialihbahasakan. Salah satu penerjemah paling masyhur adalah Hunayn ibn Ishaq (809-873). Tokoh kelahiran al Hira ini tercatat sudah menerjemahkan sekitar 116 karya, termasuk menuliskan 21 buku bidang kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga mengenal sejumlah penerjemah lain, seperti Jurjis ibnu Bakhtisliu dan Yuhana ibn Masawaya. Selain itu, penerjemahan literatur medis dari para dokter dan tabib India serta Persia kuno juga gencar dilakukan. Peter E Poorman dan Emilie SavageSmith melalui bukunya, Medieval Islamic Medicine, mengatakan teks itu menjadi rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teks-teks terjemahan, ujar mereka, para ilmuwan Muslim meneliti, menyempurnakan, sekaligus mengembangkan teknik pengobatan baru. Agar mudah dipahami, dipelajari, dan diaplikasikan, umat Islam membuat karya itu lebih sistematis. Ini terwujud lewat daftar indeks, ensiklopedia, atau kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan Muslim juga memadukan teknik medis dari beragam peradaban sehingga ditemukan cara pengobatan yang lebih baik. Atas dasar fakta tersebut, tak heran jika Poorman dan Smith kurang sependapat dengan anggapan bahwa dokter Muslim hanya mengambil mentah-mentah ilmu kedokteran dari Yunani kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Philip K Hitti menyatakan, ketika Eropa memasuki zaman kegelapan, peradaban Islam mengalami masa keemasan. Termasuk, dalam ilmu kedokteran. Ia mengungkapkan, banyak kemajuan yang mampu dicapai bangsa Arab pada masa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, jelas Hitti, membangun apotek pertama, sekolah farmasi, dan buku daftar obat-obatan. Berdiri pula banyak balai pengobatan serta rumah sakit besar di sejumlah kota utama Islam. Misalnya, Damaskus, Kairo, hingga Baghdad, yang menandai kegemilangan kaum Muslim di ranah kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sir John Bagot Glupp, seorang sejarawan, mengatakan pada masa itu rumah sakit di dunia Islam berfungsi ganda. Rumah sakit tak hanya untuk merawat pasien, tetapi juga tempat para dokter mengasah dan mengembangkan keahliannya. Layaknya sekarang, rumah sakit Islam tak membedakan latar belakang pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik pemeluk Islam, Kristen, maupun Yahudi, semuanya memperoleh pelayanan terbaik dan tanpa mengeluarkan dana sepeser pun. Tenaga dokter dan perawatnya berasal dari beragam etnis dan agama. Catatan sejarang menyingkap, rumah sakit pertama berada di Damaskus pada 707 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit itu dibangun pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid ibnu Abdul Malik. Bahkan, untuk pertama kali, rumah sakit ini mengenalkan sistem dokter spesialis. Pada 872 Masehi, rumah sakit umum dibangun di Kairo. Di kota yang sama, berdiri pula rumah sakit paling modern abad pertengahan, yaitu RS al-Mansuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit ini dibangun Sultan alMansur pada 1285. Menurut pakar sejarah, Will Durant, tersedia fasilitas lengkap di sana. Di samping terdapat ruang perawatan pasien, ada pula laboratorium, perpustakaan, dapur, kamar mandi, gudang obat-obatan, serta ruang studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-11, di setiap kota Islam sudah berdiri beberapa rumah sakit. Kordoba di Spanyol, setidaknya memiliki 50 rumah sakit yang representatif pada masa Abu al-Qasim alZahrawi (Abulcasis). Di Tunisia, Pangeran Ziyadad I membangun RS al Qayrawan pada 830 Masehi. Fasilitas umum itu dibangun di Kota al-Dimnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit ini telah menerapkan pemisahan antara kamar rawat pasien dan ruang tunggu pengunjung. Lalu di Maroko, Khalifah al-Mansur Ya'qub ibnu Yusuf pada 1190 membangun RS Marakesh. Ini menjadi rumah sakit terbesar dan terindah pada masanya. Sebuah taman asri membuat suasana rumah sakit ini menjadi begitu nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi kedokteran turut berkembang. Sir John Bagot Glubb menjelaskan, sekolah kedokteran Islam pertama hadir di Kota Baghdad pada masa kekhalifahan Abdullah al Ma'mun (786-833).&lt;br /&gt;"Ketika sistem sudah terbangun, para dokter dan ahli mendapat tugas memberikan kuliah bagi para siswa kedokteran," paparnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4079437076349488475?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4079437076349488475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4079437076349488475' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4079437076349488475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4079437076349488475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/potret-kemajuan-dunia-kedokteran-dalam.html' title='Potret Kemajuan Dunia Kedokteran dalam Sejarah Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7252697086029371013</id><published>2010-12-30T09:26:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:54.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Sumbangsih Islam untuk Kemajuan Teknik Mesin</title><content type='html'>Pengembangan teknologi telah dirintis lama. Umat Islam ikut memberikan andil di dalamnya. Paling tidak, hal ini bisa diketahui melalui berbagai temuan dan pembuatan peralatan mekanik oleh cendekiawan Muslim. Karya paling menonjol dihasilkan oleh Badi al-Zaman al-Jazari dan Taqi al-Din.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian teknologi peralatan yang berhasil dikembangkan itu diyakini turut membantu dimulainya revolusi industri di Barat. Beragam peralatan itu tak hanya bernilai estetik, tetapi juga memiliki fungsi membantu pengembangan perta nian, baik industri maupun keperluan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui al-Jazari dan Taqi al-Din, yang tercatat sebagai insinyur yang berpenga ruh pada bidang teknologi permesinan, generasi ilmuwan berikutnya dapat menemukan rujukan mengenai poros engkol, misalnya. Juga, katup yang kini mewujud pada mesin pembakaran internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Salim al-Hassani dari Universitas Manchester, Inggris, memuji kejeniusan mereka. Menurut dia, al-Jazari dan Taqi al-Din adalah penemu dan perancang peralatan permesinan awal di dunia Islam. Ia telah melakukan penelitian dan kajian terhadap rancangan mesin al-Jazari dan Taqi al-Din.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengandalkan analisis matema tika, Hassani melakukan pengukuran perinci memakai simulasi komputer gra fis. Hasilnya, unjuk kerja peralatan kuno memiliki karakteristik serupa dengan peralatan modern yang ada. Tak heran jika sejumlah kalangan menyematkan Bapak Teknik Modern pada al-Jazari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat al-Jazari sebagai tokoh besar di bidang mekanik abad ke-12. Ia lahir sekitar 1136 Masehi di al-Jazira, sebuah kawasan antara Sungai Tigris dan Eufrat. Sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di Diyar Bakir, Turki. Di sana, dia menuangkan pemikiran dan berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan masa ketika orang-orang berbahasa Turki mulai menguasai bagian dunia tersebut. Pada tahun 1174, al-Jazari bekerja sebagai ahli teknik untuk Dinasti Bani Artuq, penguasa Mesopotamia (Irak). Karena keahliannya, ia memperoleh sejumlah gelar prestisius, seperti Rais al-A’mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar tersebut menunjukkan dirinya adalah pemimpin para insinyur pada masa itu. Sementara itu, gelar Badi al-Zaman dan al-Shaykh memberikan pengakuan sebagai ilmuwan tak tertandingi serta bermartabat. Ehsan Masood dalam Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern mengatakan bahwa alJazari juga seorang ahli komunikasi andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jazari mampu menulis dan menggambar. Temuan-temuannya menginspirasi rancangan mesin-mesin modern saat ini. Karya fenomenalnya adalah al Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal atau The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices yang dirampungkan pada 1198 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini seluruhnya mencakup teori dan praktik mekanik sekaligus mendokumentasikan sekitar 50 temuan yang dilengkapi rancangan gambar secara teperinci. Berkat kepeloporan yang gemilang pada bidang teknik, al-Jazari turut mengangkat sejarah peradaban Islam pada abad pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara desain mekaniknya yang mengundang decak kagum para ilmuwan adalah pembuatan jam gajah. Alat tersebut tepatnya berupa jam air berbentuk gajah. Jam gajah mengombinasikan prinsip air Archimedes dengan gajah India dan pengukur waktu yang menggunakan air, naga Cina, phoenix Mesir, karpet Persia, serta angka Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tersebut dipandang sebagai pencapaian luar biasa yang memanfaatkan tekanan air untuk otomatisasi. Adanya kebutuhan untuk mengetahui waktu shalat menjadi titik penting pengembang an jam air semacam itu. Alat ini mampu menunjukkan waktu secara tepat, baik siang maupun malam, melalui simbal dan burung berkicau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi geografis di dunia Islam memicu pula sejumlah penemuan. Air menjadi masalah krusial di wilayah kekuasaan Islam yang beriklim kering dan tanah tandus. Warga harus mencari sumber mata air bawah tanah untuk keperluan minum, rumah tangga, irigasi pertanian, industri, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, diperlukan alat pemompa air yang efektif. Masyarakat kuno sejatinya sudah memanfaatkan semacam peralatan pompa air, yakni shaduf dan saqiya. Shaduf digunakan secara luas oleh peradaban Assiria dan Mesir kuno. Alat itu terdiri atas balok panjang yang ditopang dua pilar dengan balok kayu horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun shaqiya berupa mesin bertenaga hewan dengan mekanisme gerak yang terdiri atas dua roda gigi.Al-Jazari lalu mengembangkan kedua alat ini menjadi sebuah mesin yang mampu memasok air dalam jumlah cukup banyak. Ia juga menciptakan mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme yang melibatkan roda gigi dan engkol menggerakkan secara naik turun balok tadi. Ini adalah mesin pertama yang menggunakan engkol sebagai unsur penting sebuah mesin. Sebuah mesin kontrol mekanik merupakan karyanya yang lain. Alat itu diterapkan pada pintu besi besar yang memakai kombinasi kunci dengan baut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun merancang sejumlah peralatan automata, seperti mesin otomatis, peralatan rumah tangga, dan automata musik yang digerakkan air. Prestasi mengagumkan di bidang teknik mesin turut ditorehkan Taqi al-Din. Ilmuwan ini lahir di Damaskus, Suriah, pada 1525 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Taqi al Din Muhammad bin Ma’ruf bin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Yusuf bin Muhammad al-Shami. Ia merupakan ahli teknik terbesar di dunia Islam. Ia juga penulis produktif. Hal ini terbukti dengan 19 buku teknik yang berhasil ia tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya berjudul Al-Toruq alSaniyah fi al-Alat al-Rohanyah, yang berisi deskripsi beberapa peralatan mesin kreasinya. Dalam manuskripnya, Taqi alDin menjelaskan mekanisme kerja mesin pompa. Mesin yang digerakkan oleh air ini menunjukkan kemajuan hebat yang dicapai umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda air yang ada di dalam mesin menggerakkan piston yang saling berhubungan. Silinder piston terhubung dengan pipa penyedot. Pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumbernya dan membagikannya ke sistem pasokan air. Para ahli permesinan meyakini bahwa pompa ini merupakan contoh awal dari sistem double-acting principle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ehsan Masood, periode kedua tokoh besar ini berkiprah merupakan puncak teknologi mekanik Islam. Yang mereka ciptakan telah membawa penga ruh luar biasa di berbagai bidang kehidupan pada zamannya. Al-Jazari dan Taqi al-Din berhasil menunjukkan betapa penting teknologi kuno dalam membentuk dunia modern. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7252697086029371013?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7252697086029371013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7252697086029371013' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7252697086029371013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7252697086029371013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/sumbangsih-islam-untuk-kemajuan-teknik.html' title='Sumbangsih Islam untuk Kemajuan Teknik Mesin'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6510599616053772651</id><published>2010-12-30T09:24:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gerakan Freemason dalam Lintasan Sejarah Indonesia</title><content type='html'>Meski ratusan tahun beroperasi di Nusantara, keberadaan Freemason (Belanda:Vrijmetselaarij), nyaris tak tertulis dalam buku-buku sejarah. Padahal, banyak literatur yang cukup memadai untuk dijadikan rujukan penulisan sejarah tentang gerakan salah satu kelompok Yahudi di wilayah jajahan yang dulu bernama Hindia Belanda ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya adalah: Vrijmet selaarij: Geschiedenis, Maats chapelijke Beteekenis en Doel (Freemason: Sejarah, Arti untuk Masyarakat dan Tujuannya) yang ditulis oleh Dr Dirk de Visser Smith pada tahun 1931, Geschiedenis der Vrymet selary in de Oostelijke en Zuidelijke Deelen (Sejarah Freemason di Timur dan Selatan Bumi) yang ditulis oleh J Hagemen JCz pada tahun 1886, Geschiedenis van de Orde der Vrijmetselaren In Nederland Onderhoorige Kolonien en Londen (Sejarah Orde Freemason di Nederland di Bawah Kolonialisme) yang ditulis oleh H Maarschalk pada tahun 1872, dan Gedenkboek van de Vrijmet selaaren In Nederlandsche Oost Indie 1767-1917 (Buku Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917), yang diterbitkan secara resmi pada tahun 1917 oleh tiga loge besar; Loge de Ster in het Oosten (Batavia), Loge La Constante et Fidele (Semarang), dan Loge de Vriendschap (Surabaya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping literatur yang sudah berusia ratusan tahun tersebut, pada tahun 1994, sebuah buku berjudul Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands-Indie en Indonesie 1764- 1962 (Freemason dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764- 1962) ditulis oleh Dr Th Stevens, seorang peneliti yang juga anggota Freemason. Berbeda dengan buku-buku tentang Freemason di Hindia Belanda sebelumnya, buku karangan Dr Th Stevens ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang mengungkap tentang sejarah keberadaan jaringan Freemason di Indonesia sejak masa penjajahan tersebut, sampai saat ini masih bisa dijumpai di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bahkan, Indisch Macconiek Tijdschrift (Majalah Freemason Hindia), sebuah majalah resmi milik Freemason Hindia Belanda yang terbit di Semarang pada 1895 sampai awal tahun 1940-an, juga masih tersimpan rapi di perpustakaan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karya Stevens dan H Maarschalk yang diterbitkan di negeri Belanda, buku-buku lainnya seperti tersebut di atas, diterbitkan di Semarang dan Surabaya, dua wilayah yang pada masa lalu menjadi basis gerakan Freemason di Hindia Belanda, selain Batavia. Keberadaan jaringan Freemason di Indonesia seperti ditulis dalam buku Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917 adalah 150 tahun atau 199 tahun, dihitung sejak masuknya pertama kali jaringan Freemason di Batavia pada tahun 1762 sampai dibubarkan pemerintah Soekarno pada tahun 1961. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurun tersebut Freemason telah memberikan pengaruh yang kuat di negeri ini. Buku Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917 misalnya, memuat secara lengkap operasional, para tokoh, dokumentasi foto, dan aktivitas loge-loge yang berada langsung di bawah pengawasan Freemason di Belanda. Buku setebal 700 halaman yang ditulis oleh Tim Komite Sejarah Freemason ini adalah bukti tak terbantahkan tentang keberadaan jaringan mereka di seluruh Nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan elite-elite pribumi, di antaranya para tokoh Boedi Oetomo dan elite keraton di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, terekam dalam buku kenang-kenangan ini. Radjiman Wediodiningrat, orang yang pernah menjabat sebagai pimpinan Boedi Oetomo, adalah satu-satunya tokoh pribumi yang artikelnya dimuat dalam buku kenang-kenangan yang menjadi pegangan anggota Freemason di seluruh Hindia Belanda ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radjiman yang masuk sebagai anggota Freemason pada tahun 1913, menulis sebuah artikel berjudul ”Een Broderketen der Volken” (Persaudaraan Rakyat). Radjiman pernah memimpin jalannya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Selain Radjiman, tokoh-tokoh Boedi Oetomo lainnya yang tercatat sebagai anggota Freemason bisa dilihat dalam paper berjudul The Freemason in Boedi Oetomo yang ditulis oleh CG van Wering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan Boedi Oetomo pada masa-masa awal dengan gerakan Freemason bisa dilihat setahun setelah berdirinya organisasi tersebut. Adalah Dirk van Hinloopen Labberton, pada 16 Januari 1909 mengadakan pidato umum (openbare) di Loge de Sterinhet Oosten (Loji Bin - tang Timur) Batavia. Dalam pertemuan di loge tersebut, Labberton memberikan ceramah berjudul, ”Theosofische in Verband met Boedi Oetomo” (Theosofi dalam Kaitannya dengan Boedi Oetomo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theosofi adalah bagian dari jaringan Freemason yang bergerak dalam kebatinan. Aktivis Theosofi pada masa lalu, juga adalah aktivis Freemason. Cita-cita Theosofi sejalan dengan Freemason. Apa misi Freemason? Dalam buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, karya Dr Th Steven dijelaskan misi organisasi yang memiliki simbol Bintang David ini: ”Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, di mana pun dia berada dan bekerja,untuk memajukan segala sesuatu yang mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, misi Freemason adalah “menghapus pemisah antarmanusia!”. Salah satu yang dianggap sebagai pemisah antarmanusia adalah 'agama'. Maka, jangan heran, jika banyak manusia berteriak lantang: ”semua agama adalah sama”. Atau, ”semua agama adalah benar, karena merupakan jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang satu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham yang dikembangkan Freemason adalah humanisme sekular. Semboyannya: liberty, egality, fraternity. Sejak awal abad ke-18, Freemasonry telah merambah ke berbagai dunia. Di AS, misalnya, sejak didirikan pada 1733, Freemason segera menyebar luas ke negara itu, sehingga orang-orang seperti George Washington, Thomas Jefferson, John Hancock, Benjamin Franklin menjadi anggotanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip Freemasonry adalah 'Liberty, Equality, and Fraternity'. (Lihat, A New Encyclopedia of Freemasonry, (New York: Wing Books, 1996). Harun Yahya, dalam bukunya, Ksatria-kstaria Templar Cikal Bakal Gerakan Freemasonry (Terj), mengungkap upaya kaum Freemason di Turki Usmani untuk menggusur Islam dengan paham humanisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya kepada seorang petinggi Turki Usmani, Mustafa Rasid Pasya, August Comte menulis, “Sekali Usmaniyah mengganti keimanan mereka terhadap Tuhan dengan humanisme, maka tujuan di atas akan cepat dapat tercapai.” Comte yang dikenal sebagai penggagas alir n positivisme juga mendesak agar Islam diganti dengan positivisme. Jadi, memang erat kaitannya antara pengembangan liberalisasi, sekularisasi, dan misi Freemason. .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6510599616053772651?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6510599616053772651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6510599616053772651' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6510599616053772651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6510599616053772651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/gerakan-freemason-dalam-lintasan.html' title='Gerakan Freemason dalam Lintasan Sejarah Indonesia'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-1966323867416985716</id><published>2010-12-08T13:42:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Benarkah Manusia Purba Memang Ada?</title><content type='html'>Sekali-kali, tengoklah buku sejarah untuk tingkat SMP. Bab I buku itu membahas tentang sejarah manusia, yang dikaitkan dengan kemungkinan adanya jenis makhluk bernama 'manusia purba'. Mengapa teori semacam ini dimunculkan dan diajarkan di sekolah-sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat, Ilmu pengetahuan yang berkembang pada era dominasi Peradaban Barat sekarang ini bersumber dari paham sekularisme, utilitarianisme dan materialisme. Pahampaham tersebut menolak unsur transenden dalam alam semesta, memisahkan agama dari kehidupan dan nilai yang tidak mutlak atau relatif (Harvey Cox, The Secular City, 1965).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak Rene Descartes (m. 1650) menyampaikan prinsip cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) maka rasio menjadi satu-satunya pengetahuan dan satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Rasio menjadi pokok pengetahuan dan ia harus terbebas dari mitos-mitos keagamaan seperti wahyu, Tuhan, credo, nilai dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan Barat modern tidak mempunyai pinjakan kuat tentang asal-usul manusia, berbeda dengan wahyu yang jelas-jelas menyebutkan manusia pertama adalah Adam. Merekapun menyusun suatu landasan teori yang menyebutkan bahwa asal-usul manusia adalah manusia purba. Teori ini 'diperkuat' dengan temuan-temuan fosil manusia purba yang berusia jutaan tahun. Maka muncul dan berkembanglah teori evolusi yang menyatakan asal usul manusia sekarang ini adalah manusia kera, kemudian berkembang menjadi manusia purba dan manusia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelajaran sejarah Indonesia kita sering mendapat informasi adanya fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa lokasi di Jawa yang oleh para arkeolog diperkirakan berumur mulai dari 1,7 juta tahun (Sangiran) hingga 50 ribu tahun yang lalu (Ngandong). Terdapat kategori dua subspesies berbeda yaitu Homo erectus paleojavanicus yang lebih tua daripada Homo erectus soloensis. Disebutkan bahwa mereka hidup sezaman dengan manusia modern Homo sapiens kurang lebih 50.000 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian hampir semuanya sepakat bahwa nenek manusia bukan manusia model yang fosilnya ditemukan itu. Para ahli pendukung teori evolusi mengatakan bahwa makhluk itu merupakan missing link (mata rantai yang hilang) dari ras manusia. Namun bagi umat Islam dan para ilmuwan modern, keberadaan fosil manusia purba tidak pernah diakui kebenarannya. Para evolusionis (kaum yang menganut paham teori evolusi Darwin) yang memang atheis tidak punya pijakan siapa manusia pertama sehingga berasumsi bahwa manusia yang sekarang ada merupakan perkembangan dari manusia purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan manusia purba, termasuk binatang dinosaurus sudah banyak disangkal oleh para ilmuwan modern. Beberapa temuan terakhir justru menunjukkan bahwa teori manusia purba tidak benar alias tidak pernah ada. Selama ini kita mendapatkan pemahaman yang salah yang diberikan pada waktu pendidikan dasar, ditambah dengan rekayasa film ala holywood yang memvisualisasi keberadaan mahlukmahluk di jaman purba, di antaranya Film Jurasic Park. Keadaan menjadi bertambah parah tatkala teori tentang manusia purba yang dikemukakan oleh para evolusionis ini diberikan tempat di dalam kurikulum pendidikan dasar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan Barat yang sebagian besar memang menganut teori evolusi memasukkan Australopithecus atau ras kera yang telah punah sebagai ras "nenek moyang manusia".&lt;br /&gt;Padahal ada jurang besar dan tak berhubungan antara kera dan manusia. Perbedaan ini yang tidak bisa dijelaskan oleh mereka selanjutnya disebut dengan mata rantai yang hilang (missing link).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ras manusia primitif menurut mereka, sebenarnya hanya variasi dari ras manusia modern, namun dibesar-besarkan sebagai spesies yang berbeda. Faktanya, spesies yang berbeda. Fakta tidak ada urutan kronologis seperti itu. Banyak yang hidup pada periode yang sama yang berarti tidak ada evolusi, bahkan ada yang lebih tua dari jenis yang diklaim sebagai nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala para evolusionis tak juga menemukan satu fosilpun yang bisa mendukung teori mereka, terpaksa mereka melakukan manipulasi. Contoh yang paling terkenal adalah manusia Piltdown yang dibuat dengan memasangkan tulang rahang orang utan pada tengkorak manusia. Fosil ini telah mem bohongi dunia ilmu pengetahuan selama 40 tahun. Ilmuwan evolusionis yang tidak mengenal Tuhan tidak mendapatkan informasi siapa manusia pertama yang mendiami bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu mereka membuat teori asal usul manusia yang dimulai dari manusia kera, manusia purba dan manusia modern. Apabila kita orang Islam mengemukakan konsep manusia pertama adalah Adam, sebagaimana disebutkan di dalam Alquran dan Hadis Nabi SAW, besar kemungkinan akan ditolak karena bertentangan dengan teori yang mereka buat. Karena dunia Barat saat ini tengah menguasai peradaban dunia, maka mereka bisa dengan mudahnya memasukkan teori-teori tersebut ke dalam kurikulum pendidikan, termasuk pendidikan Islam di negeri-negeri muslim. Sampai saat ini teori evolusi dengan keberadaan manusia purbanya masih banyak dipakai dan di ajarkan di sekolah-sekolah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal itu semua tidak benar karena berasal dari pemikiran yang sangat spekulatif dan jauh dari unsur wahyu. Ironisnya, banyak orang tua tidak peduli, saat belajar sejarah, anaknya dijejali dengan teori yang menanamkan benih keraguan terhadap iman mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-1966323867416985716?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/1966323867416985716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=1966323867416985716' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/1966323867416985716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/1966323867416985716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/benarkah-manusia-purba-memang-ada.html' title='Benarkah Manusia Purba Memang Ada?'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4073880118060208490</id><published>2010-12-08T13:41:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Merunut Perjalanan Islam Mewarnai Eropa</title><content type='html'>Interaksi budaya kerap memicu persentuhan. Ada pertemuan antara budaya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Demikian pula, persentuhan pemerintahan Islam Turki Usmani dengan Eropa. Di sisi lain, transfer budaya dan peradaban juga muncul dari karya-karya intelektual Muslim yang dipelajari Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Mehmed II, penguasa Turki Usmani, menjadi salah satu aktor yang mendorong terjadinya persentuhan budaya dan peradaban itu, khususnya dalam bidang seni. Namun, seorang cendekiawan Barat, Gunsel Renda, melalui tulisannya, The Ottoman Empire and Europe: Cultural Encounters, mengungkapkan, peran sang sultan tak banyak tersingkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengembangkan budaya Islam, Mehmed II juga dikenal sebagai sosok yang tertarik dengan sejarah masa lalu dan budaya Barat. Ketertarikan itu telah sejak belia tertanam di dalam benaknya. "Ia merupakan penguasa Turki Usmani pertama yang menjalin pertalian budaya dengan Barat," ujar Renda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan terhadap budaya lain dan ilmu pengetahuan, bisa tecermin dari koleksi buku di perpustakaan pribadinya. Di rak-rak perpustakaannya, bertebaran buku ilmiah yang ditulis dalam beragam bahasa. Buku itu juga sangat beraneka, dari kajian geogarfi, kesehatan, sejarah, hingga filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibel dan karya-karya Yunani klasik menjadi koleksi perpustakaan pribadi Mehmed II itu. Langkah Mehmed II membuka diri menjalin interaksi memicu sejumlah ilmuwan Barat memberikan apresiasi kepadanya. Giorgios Amirutzes dari Trabezond, misalnya, membuat peta dunia untuk sultan dengan menggunakan Geographike karya Ptolemeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Istana Topkapi, ada salinan Geographike dalam bahasa Latin serta terjemahan buku tersebut dalam bahasa Italia oleh Berlinghieri Fiorentino yang didedikasikan untuk Mehmed II. Pribadi Mehmed II, pandangan politik, dan sikapnya, akhirnya menebarkan citra Turki di dunia seni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah seniman Eropa membuat potret Mehmed II sebagai bentuk apresiasi. Di sisi lain, ia meminta dibuatkan potret dirinya. Ia pernah meminta bantuan sejumlah seniman melalui penguasa Italia. Costanza da Ferrara menjadi seniman Italia pertama yang datang ke istana Turki Usmani. Ia dikirim oleh Raja Naples, Ferdinand Ferrante II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Turki Usmani-Eropa yang berlangsung selama berabad-abad, terjadi di tengah perkembangan politik dan ekonomi di kedua belah pihak. Dalam bidang perdagangan, karpet Turki juga banyak diimpor oleh Eropa. Bahkan, motif rancangan pada karpet tak jarang mengikuti perkembangan seni, baik di Eropa maupun Turki Usmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang ini, di antara komunitas Muslim, Turki memiliki hubungan paling dekat dengan Eropa. Hubungan erat tersebut tecermin pula dalam seni dan budaya. Pada abad sebelumnya, pengaruh Muslim di bidang kuliner merambah Eropa dan menjadi rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa tubuh memiliki haknya yang harus dipenuhi, dokter dan ilmuwan Muslim menyusun sejumlah buku yang terkait dengan makanan sehat. Demikian pula, dengan cara penyajiannya. Misalnya, Ibnu Sa’id alQurtubi pada abad ke-10 dengan karyanya Kitab Khalq al-janin wa Tadbir al-hibala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membahas diet bagi janin dan ibu yang sedang hamil. Lalu, ada Abu Marwan Ibn Zuhr (10921161) dengan karyanya, Al-Taysir fi ‘l-mudawat wa-‘ltadbir Kitab al-Aghdia. Ini merupakan buku tentang nutrisi. Buku yang membahas masakan secara khusus juga banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya adalah Kanz al-fawa’id fi tanwi’ almawa’id yang ada di abad ke-10. Penulisnya anonim dan buku ini diperkirakan dari Mesir. Seorang Muslim Spanyol pada abad ke-12 bernama Ibnu Razin Attujibi, menyusun sebuah buku berjudul Fadhalat al-Khiwan fi Atayyibat at-Ta’am wa-‘l-‘Alwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat penulis lainnya, yaitu Mohammed al-Baghdadi, cendekiawan dari Irak pada abad ke-13, dengan karyanya Kitab at-Tabikh. Pada abad yang sama, Dawud al-Antaki dari Suriah, meluncurkan buku berjudul Tadhkira. Demikian pula, dengan Ibnu Adim yang juga dari Suriah, memiliki karya Wasla ‘l-habîb fi wasf al-tayyibât wa at-thibb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zohor Idrisi, seorang peneliti di Foundation for Science, Technology, and Civilization, dalam tulisannya The Influence of Islamic Culinary Art on Europe, pada abad ke-13, buku-buku yang disusun oleh dokter dan ilmuwan Muslim itu menarik perhatian, baik para penguasa maupun gereja di Barat. Rasa tertarik itu kian meningkat saat wilayah Ferrara, Salerno, Montpellier, dan Paris menjadi pusat studi karya kedokteran Muslim. Tak berhenti sampai di situ, di lingkaran penguasa dan aristokrat Eropa, permintaan makanan yang berasal dari dunia Muslim serta rempah mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, ujar Idrisi, para aristokrat Eropa tak mengindahkan aturan diet dari konsumsi sayuran dan daging. Akibatnya, mereka diserang encok. Masuknya manisan, selai, dan makanan yang diawetkan ke Eropa melahirkan masalah baru lainnya bagi mereka, yaitu konstipasi. Mereka mengabaikan rekomendasi dokter Muslim soal makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada pula yang benar-benar mengikuti aturan pola makanan yang termuat dalam buku-buku karya Muslim itu. Di antaranya adalah Ratu Cristina yang mengua sai Denmark, Swedia, dan Norwegia. Ia tak mengalami permasalahan seperti yang dihadapi oleh para penguasa lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4073880118060208490?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4073880118060208490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4073880118060208490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4073880118060208490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4073880118060208490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/merunut-perjalanan-islam-mewarnai-eropa.html' title='Merunut Perjalanan Islam Mewarnai Eropa'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-2989481908983865971</id><published>2010-12-08T13:40:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:19:11.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Ratusan Tahun, Lembaga Islam MDS Jadi Kunci Stabilitas Muslim di Rusia</title><content type='html'>Sistem Direktorat Spiritual Muslim (MSD) di Rusia tak memiliki basis mendasar dengan Islam, namun ia memiliki akar mendalam dalam Kerajaan Rusia dan Sejarah Soviet. Posisi bersejarah itulah yang memiliki peran kunci dalam mencegah pertikaian antar etnis dan agama di kawasan Muslim, di Volga Tengah dan di mana pun penjuru Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan tadi merupakan tulisan sebuah buku baru karangan A.Yu. Khavbutdinov, “The History of the Orenburg Muslim Spiritual Assembly (1788-1917): Institutions, Ideas and People”  terbit tahun ini. Dalam sebuah ulasan, sejarawan Rusia, Damir Mukhetdinov, menulis karena organisasi pendahulu MDS-itulah,  Majelis Spiritual Muslim Orenburg, maka wilayah Muslim masih stabil hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damir sendiri adalah kepala deputi MSD untuk Rusia Eropa. Ia berpendapat lembaga Orenburg, adalah "milik bersama semua Muslim Rusia, kecuali mereka yang tinggal di Kaukasus Utara,". Lembaga itu telah membantu mengembangkan strategi pengembangan dan kerjasama dengan negara dan masyarakat Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian terhadap Majelis Orenburg menunjukan bahwa "jumlah masjid-masjid lebih berkembang hingga seratus kali lipat" selama masa keberadaan lembaga itu. Namun yang lebih penting bagi Muslim Rusia, "pada era tersebut proses asimilasi hampir selalu berjalan mulus dan tak ada kasus signifikan yang menunjukkan kepindahan warga pemeluk Islam ke negara lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hari ini kita saksikan, bahwa hal utama umat Rusia adalah keberadaan kota-kota dan aula yang menjadi pusat Islam selama epic Majelis Orenburg berlangsung," ujar Damir. Karena kondisi itu pula, para mufti di Rusia mengatakan mereka yang mengkritik sistem MDS dan aktivitas presidennya harus mempertimbangkan lagi kecamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, imbuh Damir, tak pernah ada lembaga atau sosok yang ideal. Akhir masa tsarian di Rusia menunjukkan itu, yang ditandai munculnya bentrokan bahkan pembersihan etnis dan agama. Namun yang perlu ditekankan, mengingat sejarah bentrokan dan pembersihan etnis bukan hal jarang di Rusia, kata Damir, maka di zona mana kekerasan itu ada dan di zona mana yang tidak juga perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang benar-benar mencermati, maka ia dapat melihat bahwa "sebuah kawasan luas yang diawasi Majelis Orenburg, mulai Petersburg hingga Chita dan dari Astrakhan ke Arkhangelsk, tetaplah bebas dari konflik berdarah. Kondisi yang sayangnya tak bisa ditemukan di Transcaucasus, Kaukasus Utara dan Kazakhstan atau Asia Tengah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengecualian atas pola nonkonflik dalam wilayah itu, di mana kehidupan beragama dipantau oleh Majelis Orenburg, kala periode revolusi, hanya di bagian Urals, di mana Bashkirs dan Slavic bertikai atas penguasa kawasan. Sejarah mengungkap pula mengapa selama 1990 tidak ada bentrokan berdarah di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mufti yang memimpin di Majelis Orenburg, tulis Damir, mempromosikan kebijakan hubungan damai dengan lingkungan dan tetangga sekitar. Lebih dari itu, Majelis Orenberg, dalam kajian terbukti menjalankan tata-kelola langka, mereka membuat pengeluaran minimal dari dana penduduk yang dikumpulkan. Mereka tidak hanya mengurus hal-hal keagamaan tetapi juga pendidikan. Majelis pun mencegah mullah dan imam terpisah dan berjarak dari populasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik pengarang maupun pengulas mengatakan, muncul pandangan luas yang keliru bahwa Majelis Orenburg dan anggotanya hanyalah orang-orang birokratis yang tidak melihat situasi semua Rusia dari kacamata terkucil mereka. Damir menyatakan, justru hingga kini, lembaga itu tidak kehilangan kedudukan pentingnya dalam era milenium baru, ketika umat Rusia kembali mempertanyakan persatuan, perbaikan ekonomi, keuangan dan pendidikan sekaligus menjaga kepribadian Muslim di tengah dunia yang kian berubah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-2989481908983865971?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/2989481908983865971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=2989481908983865971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2989481908983865971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/2989481908983865971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/ratusan-tahun-lembaga-islam-mds-jadi.html' title='Ratusan Tahun, Lembaga Islam MDS Jadi Kunci Stabilitas Muslim di Rusia'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-1305784155772283943</id><published>2010-12-08T13:32:00.003+07:00</published><updated>2011-07-20T15:21:54.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shiroh Nabawiyah'/><title type='text'>RAHASIA DIPILIHNYA JAZIRAH ARAB SEBAGAI TEMPAT DITURUNNYA ISLAM</title><content type='html'>Ketika itu, dunia dikuasai oleh dua imperium raksasa, yaitu kerajaan Romawi dan Persia, kemudian disusul oleh Yunani dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (Khurafat) keagamaan dan filosofi yang saling bertentangan. Di antara falsafahnya adalah Zoroaster yang dianut oleh para penguasa negeri. Ajarannya antara lain mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya, atau saudara perempuannya, sehingga Yazdasir II yang memerintah pada abad V mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam sehingga tidak bisa disebutkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Persia, juga terdapat ajaran Mazdakia, yang menurut Imam Syahrustani, didasarkan pada filsafat lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta, dan menjadikan manusia sebagai serikat seperti perserikatan mereka dalam masalah api, air, dan rumput. Para kaum pengumbar hawa nafsu menyambut baik ajaran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentanganagama antara Romawi di satu pihak dan Nasrani. Negara ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnyadalam melakukan petualangan naïf demi mengembangkan agama Kristen dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka yang serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu yang sama, Negara ini tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral, dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh pelosok negeri akibat dari penghasilan yang melimpah dan penumpukan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunani dan India tidak jauh berbeda. Yunani tenggelam dalam khurafat dan mitos-mitos verbal yang tidak pernah memberinya manfaat. Demikian juga India, sebagaimana dikatakan Ustadz Abul Hasan an-Nadawi, telah disepakati oleh para penulis sejarahnya, bahwa negeri ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi agama, akhlak, ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad VI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, harus diketahui bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan, dan kenestapaan pada umat-umat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai materialistic semata, tanpa adanya nilai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar. Seperti halnya peradaban berikut segala implikasi dan penampilannya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrumen. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, peradaban yang ada di tangan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancuran. Akan tetapi, jika pemegangnya memiliki pemikiran yang benar, yang hanya bisa diperoleh melalui wahyu Ilahi, seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan yang bahagia penuh dengan rahmat di segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Jazirah Arabia, bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan, dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan invasi dan ekspansi ke Negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofis dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi mangsa mitos dan khurafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik mereka seperti bahan baku mentah; masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti menolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja mereka tidak memiliki ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrah yang pertama. Akibatnya, mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mereka membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alas an kedermawanan, dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan inilah yang Alalh sebut dengan dhalal dalam firman-Nya.&lt;br /&gt;“Dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS. Al-Baqarah: 198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sifat, apabila dinisbatkan kepada kondisi umat-umat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukkan kepada I’tidzar (excuse) daripada kecaman, celaan dan hinaan kepada mereka. Ini dikarenakan umat-umat lain tersebut melakukan penyimpangan-penyimpangan terbesar dengan “bimbingan” sorot peradaban, pengetahuan, dan kebudayaan. Mereka terjerembab ke dalam kubangan kerusakan dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diperhatikan sekarang, seperti dikatakan oleh Ustadz Muhammad Mubarak, akan diketahui betapa Jazirah Arab terletak di antara dua peradaban. Pertama, peradaban Barat yang materialistis telah suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh. Kedua, peradaban spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti umat-umat yang hidup di India, Cina, dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab sebelum islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah berkenan menentukan Jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran Raulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kerasulannya, dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju agama Islam yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah semata.&lt;br /&gt;Jadi, bukan seperti yang dikatakan oleh sebagian orang yang karena memiliki agama yang batil dan peradaban palsu, mereka sulit diluruskan dan diharapkan karena kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sementara itu, orang-orang yang masih hidup “di masa pencarian”, mereka tidak akan mengingkari kebodohannya dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mereka lebih mudah disembuhkan dan diarahkan. Kami tegaskan, bukan hanya ini yang menjadi sebab utamanya. Analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuannya terbatas dan orang yang memiliki potensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Romawi, Persia, atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini, Allah mempersiapkan segala prasarana di negeri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkannya di Jazirah Arabia. Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasulullah seorang ummi, tidak bisa mennulis dan membaca, agar manusia tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah termasuk kesempurnaan hikmah ilahiyah jika lingkungan tempat diutusnya Rasulullah dijadikan juga sebagai bi’ah ummiyah (lingkungan yang ummi) bila dibandingkan dengan umat-umat lain disekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oelh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula system pemikirannya tidak tersentuh sama sekali oleh filsafat-filsafat yagn membingungkan yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikhawatirkan akan timbul keraguan di dada manusia jika Rasulullah itu seorang terpelajar, pandai bergaul dengan kitab-kitab, serta mengetahui sejarah umat-umat terdahulu dan semua peradaban-peradaban mereka. Dikhawatirkan pula akan timbul keraguan mereka manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah di antara dua umat yang memiliki peradaban budaya dan sejarah, seperti Negara Persia, Romawi, atau Yunani. Hal ini karena orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam hanyalah sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosofis yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perindang-undangan yang sempurna.&lt;br /&gt;Al-Qur’an menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas&lt;br /&gt;“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah. Dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al-Jumu’ah:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menghendaki Rasul-Nya seorang yang ummi dan kaum di mana Rasul ini diutus juga kaum yang secara mayoritas juga ummi, agar mukjizat kenabian dan syariat Islamiyah menjadi jelas di dalam pikiran, dan tidak bercampur dengan pemikiran filosofi maupun kebudayaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi bagi yang mencarinya, antara lain:&lt;br /&gt;1. Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan rumah yang pertama kali dibangun bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syi’ar agama.&lt;br /&gt;2. Secara geografis, jazirah Arabia sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini karena letaknya di bagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya. Posisi ini akan menjadikan penyebaran dakwah ke semua bangsa di sekitarnya berjalan gampang dan lancer.&lt;br /&gt;3. Sudah menjadi kebijaksanaan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam dan media langsung untuk menerjemahkan Kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa, lalu kita bandingkan satu sama lain, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(disarikan dari Kitab Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, terbitan Robbani Press cetakan ketigabelas tahun 1429 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-1305784155772283943?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/1305784155772283943/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=1305784155772283943' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/1305784155772283943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/1305784155772283943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/12/rahasia-dipilihnya-jazirah-arab-sebagai.html' title='RAHASIA DIPILIHNYA JAZIRAH ARAB SEBAGAI TEMPAT DITURUNNYA ISLAM'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-5345983868117720864</id><published>2010-11-23T10:40:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sejarah Ketentaraan dalam Dunia Islam</title><content type='html'>Organisasi dan taktik militer menjadi sebuah kekuatan. Pemerintahan pada masa Abbasiyah, memiliki kekuatan itu sebagai penopang eksistensi mereka. Tentunya, selain pencapaian ilmu pengetahuan di berbagai bidang yang melahirkan decak kagum, organisasi dan taktik militer yang saat itu dikembangkan diakui efektivitasnya oleh pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Art of War, yang ditulis seorang sarjana bernama Charles Oman, mengungkapkan, dua hal yang membuat orang-orang Islam yang dipanggil dengan sebutan Saracen pada abad ke-10 menjadi musuh berbahaya, adalah jumlah dan kekuatan mesin perang luar biasa. Pengakuan atas kekuatan militer itu, terungkap pula dalam sebuah naskah tentang taktik militer yang dikaitkan pada Raja Leo VI. Ia berkuasa pada 886 hingga 912 Masehi. Menurut dia, dari semua bangsa atau berber, orang-orang Islam adalah yang paling baik dan paling hebat dalam taktik militernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, militer dibangun dengan mengandalkan pasukan Persia, bukan Arab. Bahkan, pasukan pengawal istana yang menjadi mesin militer terkuat kebanyakan diambil dari pasukan Khurasan. Saat itu, pasukan Arab dibagi menjadi dua divisi, yaitu Arab Utara yang berasal dari Mudhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divisi lainnya adalah Arab Selatan yang berasal dari Yaman. Khalifah al Mu'tashim, di suatu hari membentuk divisi baru. Orang-orang Turki direkrut untuk mengisi divisi tersebut. Mereka berasal dari Farqanah dan sejumlah wilayah Asia Tengah lainnya. Meski pada akhirnya, divisi baru ini menjadi batu sandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bergulirnya waktu, terutama setelah Khalifah Al-Muntashir, yang berkuasa antara 861 hingga 862 Masehi, mangkat, orang-orang Turki yang tergabung dalam divisi baru itu mulai memainkan peran mereka sebagai bagian dari pasukan pemerintah yang berpengaruh besar dalam urusan kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Abbasiyah, mengadopsi sistem yang dikembangkan pihak lain dalam mengembangkan organisasi militernya, terutama saat membentuk pola pasukan. Mereka mengambilnya dari Romawi dan Bizantium, yang menempatkan 10 prajurit di bawah kendali satu orang yang disebut a'rif. Sama seperti decurion dalam militer Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, 50 prajurit di bawah komando seorang khalifah, 100 prajurit di bawah komando seorang qa'id, dan 10 ribu pasukan yang terdiri atas 10 batalion di bawah komando seorang amir atau jenderal. Pasukan yang terdiri atas 100 orang membentuk sebuah skuadron dan beberapa skuadron membentuk sebuah unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya untuk pertahanan, Dinasti Abbasiyah memanfaatkan pasukannya untuk meredam berbagai pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah, seperti di Persia, Suriah, dan Asia Tengah. Selain itu pasukannya juga dikirim untuk berperang melawan kekuatan Bizantium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, sistem organisasi militer kekhalifahan Arab, pada umumnya tak mempunyai pasukan reguler dalam jumlah besar. Bahkan, pasukan pengawal khalifah yang disebut haras mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat pasukan bayaran dan sukarelawan serta beberapa pasukan yang berasal dari beragam suku dan distrik. Pasukan sukarelawan yang karib dengan sebutan mutathawwi'ah dibayar saat mereka sedang bertugas. Biasanya, pasukan ini beranggotakan orang-orang badui, petani, dan penduduk kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan tetap yang bertugas aktif, biasanya disebut sebagai murtaziqah. Mereka dibayar secara berkala oleh pemerintah. Sedangkan pasukan pengawal istana, memperoleh bayaran lebih tinggi dibandingkan pasukan lainnya. Mereka juga mengenakan seragam bagus dan dipersenjatai secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada masa awal tampuk pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mereka telah memiliki pasukan reguler, yang terdiri atas pasukan infanteri atau harbiyah yang dipersenjatai dengan tombak, pedang, dan perisai. Juga, ada pasukan panah (ramiyah) dan kavaleri (fursan), yang bersenjatakan tombak panjang dan kapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan lainnya yang mereka kenakan adalah pelindung kepala dan dada. Terkait dengan tingkat gaji, ratarata gaji yang diterima pasukan infanteri sekitar 960 dirham per tahun.&lt;br /&gt;Mereka juga mendapatkan tambahan santunan rutin. Sedangkan, pasukan kavaleri mendapatkan gaji dua kali lipat dari gaji pasukan infanteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Khalifah Al-Ma'mun, saat dinasti ini mencapai puncak kejayaan kekuasaannya, pasukan yang bermarkas di Baghdad, Irak, mencapai jumlah 125 ribu. Saat itu, pasukan infanteri hanya menangguk gaji sebesar 240 dirham per tahun. Namun, pasukan kavaleri tetap saja diberi gaji dua kali lipat dibandingkan mereka. Sejumlah terobosan Sejarawan Ibnu Khaldun dan AlThabari mengisahkan, saat tampuk kekuasaan di tangan Al-Mutawakil, pasukannya diajari membawa pedang di pinggang, layaknya gaya para pasukan Persia. Saat itu, orang-orang Arab telah terbiasa membawa pedang di punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang khalifah, memerintahkan pasukan panah membawa pelontar, berpakaian antiapi, dan bertugas melontarkan bahan-bahan mudah terbakar ke area pasukan musuh. Para arsitek pembuat alat pelontar dan pendobrak ditugaskan untuk menemani pasukan di medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang arsitek terkenal bernama Ibn Shabir al-Manjaniqi yang hidup pada abad ke-11, pernah membuat sebuah karya tentang seni peperangan serta teknik peperangan yang diuraikannya secara sangat terperinci. Di sisi lain, Khalifah Harun alRasyid merupakan khalifah pertama memiliki ide pembuatan ambulans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambulans ini digunakan untuk merawat personel pasukan yang terluka saat bertempur di medan peperangan. Ambulans pada masa itu berbentuk gerobak yang ditarik oleh unta. Di dalam gerobak tersebut, terdapat berbagai macam jenis obat untuk mengobati luka-luka para pasukan perang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-5345983868117720864?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/5345983868117720864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=5345983868117720864' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5345983868117720864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5345983868117720864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/sejarah-ketentaraan-dalam-dunia-islam.html' title='Sejarah Ketentaraan dalam Dunia Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6702466972592587341</id><published>2010-11-23T10:38:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (3-habis)</title><content type='html'>Tulisan menarik dapat dibaca lewat olahan Norman G Finkelstein dalam buku The Holocaust Industry. Finkelstein yang kedua orang tuanya lolos dari Ghetto Warsawa dan kamp konsentrasi Nazi menyatakan, Holocaust terbukti menjadi senjata ideologi yang vital. Dengan cara itu, negara dengan kekuatan militer mengagumkan, dengan catatan HAM mengerikan, telah memotret diri sebagai negara 'korban'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan museum Holocaust kini tersebar di berbagai negara. Di AS, sekurangnya ada 23 museum. Di Washington DC, misalnya, ada United States Holocaust Memorial Museum yang sempat dikunjungi Republika beberapa tahun lalu. Selain menyajikan film, museum ini memamerkan tumpukan sepatu tua, gerbong kereta, dan ratusan artefak. Keterangan tertulis menyebutkan, barang-barang tersebut adalah peninggalan para korban Holocaust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jerman, juga terdapat museum Holocaust yang bertengger di pusat keramaian kota Berlin. Museum ini didesain dan dibangun dengan biaya yang tidak sedikit. Museum Holocaust di Berlin berada di bawah tanah. Di permukaan tanah di museum itu terdapat monumen yang terbangun dari batu-batu anti grafiti. Jelas sekali lobi Israel bermain sangat kuat bagi pencitraan dirinya sebagai korban tindak kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah anti-Semit dan anti-Zionis selalu dicampuradukkan  kendati di internal Yahudi sendiri ada suara minoritas menentang zionisme. Para ilmuwan Yahudi, juga di masyarakat di kalangan akar rumput menentang gerakan yang cenderung melanggar asas-asas kemanusiaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para penganut paham liberal atau radikal sekalipun tak mampu membendung kebiasaan kaum zionis yang menyamakan anti-Semit dan anti-Zionis," tulis Said. Sejarah penderitaan itulah yang dieksploitasi untuk merobek Palestina. Kini, Laut Mediterania seolah menjadi saksi betapa darah dan air mata seakan berlomba tumpah di tanah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad begitu kuat berupaya untuk menjadikan isu Holocaust tidak disalahgunakan oleh Zionis untuk membolak-balikkan opini. Dia beberapa kali mengungkapkan bahwa Holocauts adalah mitos. Pernyataan ini tidak lain adalah untuk memancing pemikiran agar dunia sadar betapa zionis mengekspolitasi isu tersebut untuk melegalkan aksi arogannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pernyataan menarik pernah diungkapkan Ahmadinejad untuk meruntuhkan mitos Holocaust itu. Selain bercerita soal dipenjaranya beberapa peneliti yang mencoba mendalami Holocaust, Ahmadinejad juga sempat mengajukan pertanyaan yang sangat 'mematahkan' argumentasi kaum zionis. "Kalau Holocaust benar terjadi, mengapa warga Palestina yang harus 'mempertanggungjawabkannya'? Semestinya kan Jerman atau Eropa yang harus membayar utang moral atas kejadian itu," kata Ahmadinejad dalam satu wawancara dengan Der Spiegel. (habis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6702466972592587341?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6702466972592587341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6702466972592587341' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6702466972592587341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6702466972592587341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/gerakan-zionis-bagaimana-asal-muasalnya_6486.html' title='Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (3-habis)'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8736123538664838444</id><published>2010-11-23T10:36:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TOs2_jtOUrI/AAAAAAAAAPE/JrPosybVBGY/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TOs2_jtOUrI/AAAAAAAAAPE/JrPosybVBGY/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542584231954109106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Arthur John Balfour, mantan perdana menteri Inggris yang juga berperan penting bagi gerakan Zionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring munculnya gejolak perlawanan di Palestina, Inggris memutuskan menjauh dari zionisme. Mereka juga melihat lahan yang tersedia tak lagi mencukupi bagi kedatangan kaum Yahudi. Inggris juga menilai telah memenuhi janji pada Deklarasi Balfour. Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman pada 1933 meningkatkan imigrasi kaum Yahudi Jerman ke Palestina. Aksi ini mengundang perlawanan bangsa Arab, namun ditumpas Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kepentingan atas minyak dunia Arab juga membuat Inggris berpikir ulang mengenai zionisme. Pada 1939, Inggris mengeluarkan 'buku putih' yang menyebutkan kebijakan Inggris bukanlah menjadikan Palestina sebagai negara kaum Yahudi. Langkah ini mengundang reaksi kaum zionis. Aksi teror pun mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zionis mendirikan Irgun Zvai Leumi yang bertujuan 'melancarkan kampanye teror terhadap populasi Arab'. Pada 1942, Irgun dipimpin Manachem Begin kelak menjadi perdana menteri Israel. Serangan pun mulai diarahkan kepada lambang-lambang kekuasaan Inggris di Timur Tengah. Inggris terdesak. Dukungannya pada zionisme menjadi bumerang. Sementara itu, lobi zionis terhadap Pemerintah AS semakin ditingkatkan, misalnya lewat electoral punishment, menarik dukungan mereka pada pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan kaum zionis, tulis Ovendale, didukung mesin propaganda serta akses media. Kelebihan lainnya adalah dengan menggunakan Holocaust untuk mendulang simpati.Setelah menyerahkan mandat Palestina kepada PBB, pada 1947 Majelis Umum PBB pun melakukan voting pemecahan wilayah Palestina. Zionisme meraih kemenangan lewat Resolusi 181 yang dikenal dengan Partition Plan. Tanah Palestina terbagi tiga: wilayah Arab, wilayah Yahudi, dan Yerusalem yang berstatus di bawah pengawasan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partition Plan mendorong kaum zionis untuk mendeklarasikan berdirinya negara Israel, 14 Mei 1948. Pada 1949, pengungsi Palestina yang terusir nyaris mencapai satu juta jiwa. Bagi bangsa Arab, Palestina adalah tanah air mereka. Hingga kini, kedudukan Palestina-Israel tak setara. Palestina hingga kini tetap tidak diakui sebuah negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward W Said, profesor di Columbia University, AS, yang menulis setidaknya delapan buku mengenai Palestina, mendukung Palestina-Israel hidup berdampingan secara damai asalkan agresi militer dan penindasan terhadap Palestina diakhiri Israel. Meski terbilang moderat, Said menyatakan, zionis ingin menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penganut Kristen Episkopalian yang lahir di Nazareth, Yerusalem, ini mengunjungi penjara Khiam yang dibangun Israel di Lebanon selatan, dia memotretnya. Esoknya, media Israel dan Barat memuat Said sebagai 'teroris pelempar batu, pria pecinta kekerasan, dan lain-lain'. Dia menilai, tindakan itu sebagai 'propaganda zionis yang penuh permusuhan'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2001, tulis Said, "Israel menyewa pengacara AS keturunan Israel untuk 'menyelidiki' 10 tahun pertama kehidupan saya dan 'membuktikan' saya tidak pernah tinggal di sana meski lahir di Yerusalem. Mungkin, ini menunjukkan saya pembohong yang keliru menafsirkan 'hak untuk pulang'. Padahal, 'hak untuk pulang' memungkinkan kaum Yahudi dari mana saja datang dan tinggal di Israel meski tak pernah menginjakkan kaki di Israel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, Holocaust menjadi senjata kampanye yang ampuh bagi kaum zionis. Media tampaknya menjadi tulang punggungnya. Seperti diakui Said dalam bukunya, The Question of Palestine, yang menyoroti siaran televisi NBC musim semi 1978. "... Sebagian program tersebut ditujukan sebagai justifikasi dari zionisme--meskipun pada saat yang nyaris bersamaan, pasukan Israel di Lebanon melakukan penghancuran, dengan ribuan korban nyawa warga sipil, dan penderitaan yang tak terucapkan. Namun, hanya segelintir wartawan yang berani menggambarkan aksi itu mirip penghancuran yang dilakukan AS di Vietnam." (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8736123538664838444?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8736123538664838444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8736123538664838444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8736123538664838444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8736123538664838444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/gerakan-zionis-bagaimana-asal-muasalnya_23.html' title='Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (2)'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TOs2_jtOUrI/AAAAAAAAAPE/JrPosybVBGY/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-28590134287058921</id><published>2010-11-13T10:33:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (1)</title><content type='html'>Kepulan asap mesiu membubung tinggi di udara Gaza. Darah terus tertumpah. Seolah tak dapat dipercaya inilah tanah yang dipaparkan dalam kisah para nabi. Dalam jurnal Historian yang terbit tahun 2009, Ritchie Ovendale memaparkan asal muasal konflik Arab-Israel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan profesor politik internasional Universitas Wales, Inggris, ini menyatakan, sikap anti-Semit sebagai istilah yang muncul pada 1860 di Eropa menjadi cikal bakal pergerakan kaum Yahudi. Di Rusia, sikap anti-Semit ini disebut pogroms. Periode Dreyfus menandai imigrasi Yahudi Eropa, kemudian menetap di Kanada, Inggris, Australia, dan Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lagi berimigrasi ke wilayah Kekhalifahan Utsmaniyyah, yakni Palestina. Jumlah terbesarnya mendarat di AS. Ide 'Tanah Air' bagi kaum Yahudi digelindingkan pertama kali oleh Leon Pinsker pada 1882 lewat buku Auto-Emancipation. Maknanya dipahami sebagai 'pendirian kembali' tanah air Yahudi di Palestina atau Eretz-Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kata zionis pertama kali digunakan Nathan Birnbaum dalam artikel pada 1886. Secara politis, zionisme diadopsi Theodore Herzl dalam tulisannya, Der Judenstaat (Negeri Kaum Yahudi), yang terbit di Wina, Austria, pada 1896. Herzl memiliki dua pilihan lokasi tanah air, yaitu Argentina atau Palestina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argentina, menurut Herzl, punya kondisi alam yang kaya, wilayah luas, populasi sedikit, dan cuaca sedang. Tapi, pilihan kemudian jatuh ke Palestina, bersandar pada Kitab Perjanjian Lama sebagai tanah yang dijanjikan (the promised land).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres zionis pertama di Basel pada 1897 yang diikuti manuver taktis Max Nordau mengubah istilah tanah air ini menjadi heimmstatte, yang diadopsi sebagai sinonim negara. Setelah itu, muncullah World Zionist Organisation, bendera negara, Hatiqva sebagai lagu kebangsaan, dan Jewish National Fund.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herzl mengembuskan napas terakhir pada 1904. Ia bak mitos yang diagung-agungkan pendukung zionisme. Pada akhir konferensi di Basel, ia mencatat dalam diarinya bahwa di Basel, ia berhasil mendirikan negara Yahudi. Setengah abad kemudian, orang menyadari ambisinya menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerus Herzl, Chaim Weizzman, tinggal di Manchester, Inggris. Pada 1906, ia melakukan pendekatan ke berbagai pihak, termasuk Arthur John Balfour. Meski sudah berstatus mantan perdana menteri, Balfour masih berada dalam lingkaran kekuasaan Inggris. Saat itu, populasi Yahudi di Palestina belum mencapai 10 persen dibandingkan bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1917, Kabinet Perang Inggris mengizinkan Balfour yang saat itu menteri luar negeri memberikan surat simpati kepada tujuan zionisme. Surat yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour ini menyebutkan, "Pemerintahan yang mulia bersimpati bagi berdirinya sebuah national home di Palestina bagi bangsa Yahudi ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Kabinet Perang, Balfour berharap mendulang simpati sehingga populasi Yahudi di Rusia dan AS akan mendesak pemerintah mereka untuk mendukung Inggris. Dukungan ini akan membantu propaganda di kedua negara agar mendukung Inggris memenangkan Perang Dunia I. Lobi zionis, terutama di AS, amat kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada 1919, dukungan pada zionisme di Inggris makin melemah. Banyak pendukung zionisme menyadari bahwa tujuan mereka adalah mendirikan negara di Palestina. Sebutan national home dalam Deklarasi Balfour diterjemahkan menjadi negara. Imigrasi pun terus dimobilisasi. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-28590134287058921?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/28590134287058921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=28590134287058921' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/28590134287058921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/28590134287058921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/gerakan-zionis-bagaimana-asal-muasalnya.html' title='Gerakan Zionis, Bagaimana Asal Muasalnya? (1)'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4660102586303833559</id><published>2010-11-13T10:30:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Ibn Arabi Pendukung Pluralisme Agama, Benarkah?</title><content type='html'>Meskipun lebih dikenal sebagai tokoh Sufi, Ibn ‘Arabi juga kampium dalam studi agama-agama. Ia bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn al‘Arabi al-Hatimi al-Tai, asal Murcia, Spanyol. Ia lahir tanggal 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 dan meninggal pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para pengikutnya, Ibn Arabi diberi julukan ”Syaikh al-Akbar” (Sang Mahaguru) atau”Muhyiddin” (”Sang Penghidup Agama”). Ayahnya adalah pegawai penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn ’Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukkan oleh Dinasti al Muwahiddun (al-Mohad) sehingga ayahnya membawa pergi keluarganya ke Sevilla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 620/1233, Ibn ’Arabi menetap secara permanen di Damaskus, tempat sejumlah muridnya, termasuk al-Qunawi yang menemaninya sampai akhir hayat. Selama periode tersebut, penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah, Muzhaffar al-Din merupakan salah seorang muridnya. Ibn ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn ‘Arabi telah menulis 289 buku dan risalah. Bahkan menurut Abdurrahman Jami, ia telah menulis 500 buku dan risalah. Sedangkan menurut al-Sya’rani, karya Ibn Arabi berjumlah 400 buah. Di antara karya Ibn Arabi yang paling terkenal adalah al-Futûhat al-Makkiyyah, Fushûshul Hikam, dan Turjumân al-Asywâq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dasawarsa terakhir Ibn ‘Arabi oleh sebagian kalangan sering diklaim sebagai pelopor paham Pluralisme Agama. Dr Syamsuddin Arif menyebut, nama Ibn ‘Arabi dicatut dan dijadikan bemper untuk membenarkan konsep ‘agama perennial’ atau religio perennis yang dipopulerkan oleh Frithjof Schuon, Seyyed Hossein Nasr dan William C Chittick dalam tulisan-tulisan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Ibn ‘Arabi tegas menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah di dalam pandangan Allah SWT. Setelah Nabi Muhammad SAW diutus, maka pengikut agama-agama para Nabi sebelumnya, wajib beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikuti syariatnya. Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, maka syariat agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Mohd Sani bin Badrun, alumnus ISTAC-IIUM, dalam tesisnya berjudul “Ibn al-‘Arabi’s Conception of Religion”, menegaskan bahwa menurut Ibn Arabi, syariat para Nabi terikat dengan periode tertentu, yang akhirnya terhapuskan oleh syariat Nabi sesudahnya. Hanya Alquran, menurutnya, yang tidak terhapuskan. Bahkan Alquran menghapuskan syariat yang diajarkan oleh Kitab-kitab sebelumnya. Karena itu, syariat yang berlaku bagi masyarakat, adalah syariat yang dibawa oleh Nabi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesimpulan penting dari teori agama-agama Ibn Arabi yang diteliti oleh Dr Mohd Sani bin Badrun adalah: “Kaum Yahudi wajib mengimani kenabian Isa AS dan Muhammad SAW. Kaum Kristen juga wajib beriman kepada kenabian Muhammad SAW dan Alquran. Jika mereka menolaknya, maka mereka menjadi kafir.” Bahkan, Ibn Arabi pun berpendapat, para pemuka Yahudi dan Kristen sebenarnya telah mengetahui kebenaran Muhammad SAW, tetapi mereka tidak mau mengimaninya karena berbagai faktor, seperti karena kesombongan dan kedengkian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibn ‘Arabi, sebagaimana dikutip oleh Dr Mohd Sani bin Badrun, tanda paling nyata kebenaran Muhammad saw adalah Alquran, yang diturunkan dalam bahasa Arab yang secara mutlak tidak dapat ditiru oleh orang-orang Arab sendiri (al-Futûhat, 3:145). Bahkan beliau bertanya secara retoris, “Apalagi tanda yang lebih bermukjizat selain daripada Alquran?” (al-Futûhat, 4:526). Alquran juga mendatangkan apa yang sebagiannya telah disampaikan oleh kitab-kitab terdahulu yang Muhammad tidak tahu isi kandungannya melainkan melalui dari Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sani, Ibn ‘Arabi justru meyakini bahwa orang-orang Yahudi, Nasrani, ahli-ahli kitab (ashab al-kutub) pasti tahu bahwa Alquran adalah bukti dari Allah akan kebenaran Muhammad (al-Futûhat, 3:145). Oleh karena mereka yang mendustakan kebenaran Nabi Muhammad bakal diazab Tuhan karena Ia telah menurunkan Alkitab dengan haq dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih itu benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (al-Futûhat, 4:526).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn ‘Arabi juga menegaskan bahwa para pemimpin ahli kitab telah menyesatkan pengikut mereka dengan memerintahkan apa yang tidak pernah dikatakan Allah, bahkan menyatakan kepada pengikutnya bahwa “ini dari Tuhan”. Seperti dalam Alquran, Ibn ‘Arabi mengumpamakan para pemimpin ahli kitab itu seperti orang yang diberi kitab tapi dilemparkan ke punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berbuat demikian karena sikap sombong (uluww). Sebagai fakta sejarah, ini cukup untuk menjadikan agama ahli kitab sebagai ‘agama hawa nafsu’ pemimpin mereka yang menyalahi kandungan Kitab mereka yang asal (al-Futûhat, 1:303). Menurut Ibn ‘Arabi, ‘agama hawa nafsu’ ini terlembagakan di kalangan Yahudi dan Nasrani yang akibatnya kebenaran Nabi Muhammad SAW tersembunyi dari pengikut ahli kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dengan membaca karya-karya Ibn ‘Arabi secara serius, sangat keliru jika memasukkan sang tokoh ini ke dalam barisan Transendentalis, yang memandang bahwa semua agama sebenarnya jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan dan akan bertemu pada level esoteris. Menurut Dr Sani, kekacauan terbesar soal pemikiran keagamaan Ibn Arabi muncul dari karya William Chittick, Imaginal World: Ibn al‘Arabi and the Problem of Religious Diversity. Namun masih banyak kaum Muslimin yang salah dalam membaca pemikiran Ibn ‘Arabi karena mengikuti pemikiran pemikir Barat tersebut. (berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4660102586303833559?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4660102586303833559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4660102586303833559' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4660102586303833559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4660102586303833559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/ibn-arabi-pendukung-pluralisme-agama.html' title='Ibn Arabi Pendukung Pluralisme Agama, Benarkah?'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8253698173627129289</id><published>2010-11-13T10:25:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Bagaimana Sastra dan Musik Mewarnai Sejarah Islam?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TN4GStLsWmI/AAAAAAAAAO8/BMqF49khsIM/s1600/Untitled%2Bpicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 231px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TN4GStLsWmI/AAAAAAAAAO8/BMqF49khsIM/s320/Untitled%2Bpicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538871510148340322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ilustrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni telah lama berkembang. Bidang ini juga menjadi bagian dalam perkembangan peradaban Islam. Salah satunya adalah penulisan sastra. Banyak sastrawan bermunculan dengan berbagai karya mereka. Di sisi lain, seni musik pun mendapatkan ruang dan para musisi diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra mulai berkembang saat pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Puncaknya, termasuk dalam perdagangan, terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Harun Al Rasyid dan putranya, Al Ma’mun. Para sastrawan masa itu banyak melahirkan karya besar. Bahkan, mereka juga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sastra pada masa pencerahan di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip K Hitti dalam bukunya History of The Arabs mengatakan, pada masa itu sastra mulai dikembangkan oleh Abu Uthman Umar bin Bahr Al Jahiz. Ia mendapatkan julukan sebagai guru sastrawan Baghdad. Al Jahiz dikenal dengan karyanya yang berjudul Kitab Al Hayawan atau Kitab Hewan. Ini merupakan sebuah antologi anekdot binatang, perpaduan rasa ingin tahu antara fakta dan fiksi. Ia pun menulis karya lain, Kitab Al Bukhala, yang merupakan kajian tentang karakter manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sastra ini kemudian terus berlanjut hingga mencapai masa puncaknya pada sekitar abad ke-10.&lt;br /&gt;Bermunculan nama-nama sastrawan yang memiliki pengaruh besar, yaitu Badi Al Zaman Al Hamadhani, Al Tsa'alibi dari Naisabur, dan Al Hariri. Al Hamadhani dikenal sebagai pencipta maqamat, sejenis anekdot yang isinya dikesampingkan oleh penulisnya untuk mengedepankan kemampuan puitisnya. Namun, dari sekitar 400 yang ditulisnya, hanya ada 52 yang masih bisa ditelusuri jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sastrawan lainnya, Al Hariri, lebih jauh mengembangkan maqamat. Ia menjadikan karya-karya Al Hamadhani sebagai model. Melalui maqamat ini, baik Al Hamadhani dan Al Hariri, menyajikan anekdot sebagai alat untuk menyamarkan kritik-kritik sosial terhadap kondisi yang ada di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Philip K Hitti, sebelum maqamat berkembang, ada sastrawan yang merupakan keturunan langsung Marwan, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah. Sastrawan itu bernama Abu Al Faraj Al Ishbahani. Ia lebih dikenal dengan panggilan Al Ishfahani. Abu Al Faraj tinggal di Aleppo, Suriah, untuk menyelesaikan karya besarnya, Kitab Al Aghni. Ini merupakan sebuah warisan puisi dan sastra yang berharga. Buku ini juga dianggap sebagai sumber utama untuk mengkaji peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan terkenal, Ibnu Khaldun, menyebut karya Abu Al Faraj sebagai catatan resmi bangsa Arab. Bahkan, saking berharganya karya itu, sejumlah figur ternama dalam pemerintahan, seperti Al Hakam dari Andalusia, mengirimkan seribu keping emas kepada Abu Al Faraj sebagai hadiah. Sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang kemudian dikenal dengan Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di Irak. Acuan utama penulisan draf ini dipersiapkan oleh Al Jahsyiyari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, ini merupakan karya Persia klasik, Hazar Afsana. Karya itu berisi beberapa kisah yang berasal dari India. Lalu, Al Jahsyiyari menambahkan kisah-kisah lain dari penutur lokal. Sastrawan lain yang kemudian muncul pada masa Abbasiyah adalah Abu Al Tayyib Ahmad Al Mutanabbi. Banyak kalangan menganggap bahwa ia merupakan sastrawan terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu al-’Ala al-Ma’arri yang hidup antara 973 hingga 1057 Masehi merupakan sosok lainnya. Ia menjadi salah satu rujukan para sarjana Barat. Puisi-puisi yang ia ciptakan menunjukkan adanya perasaan pesimis dan skeptisme pada zaman ia hidup. Perkembangan sastra ini juga memberikan pengaruh kepada Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, tak ada penulis Barat yang mengungkapkan ketertarikan Eropa terhadap sastra Arab dalam bentuk yang lebih dramatis dan puitis dibandingkan penyair asal Inggris William Shakespeare. Hal menarik yang diciptakan Shakespeare adalah Pangeran Maroko yang merupakan salah satu tokoh agung dalam The Merchant of Venice. Pangeran Maroko dibuat dengan meniru Sultan Ahmed al-Mansur yang agung yang menunjukkan martabat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Islam, musik juga mengalami perkembangan. Para penguasa pemerintahan Islam di Baghdad bahkan pergi ke Kordoba untuk memberikan dukungan kepada musisi dan perkembangan musik di sana. Alat musik pun banyak bermunculan. Bahkan, berkembang di luar wilayah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya oud, yang berbentuk setengah buah pir, berisi 12 string. Di Italia, oud menjadi il luto. Di Jerman, alat musik menjadi laute. Di Prancis, alat ini menjadi le luth. Di Inggris, ini menjadi lute. Rebab, yang merupakan salah satu bentuk dasar biola, menyebar dari Spanyol ke Eropa dengan nama rebec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rebana merupakan instrumen musik Arab yang juga diadaptasi oleh dunia Barat. Rebana terbuat dari kayu dan per kamen. Hingga saat ini, rebana masih digunakan di berbagai belahan dunia saat bermusik. Perkembangan musik dan alat musik ini ditopang pula oleh kegiatan yang biasanya diselenggarakan di istana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8253698173627129289?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8253698173627129289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8253698173627129289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8253698173627129289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8253698173627129289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/bagaimana-sastra-dan-musik-mewarnai.html' title='Bagaimana Sastra dan Musik Mewarnai Sejarah Islam?'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/TN4GStLsWmI/AAAAAAAAAO8/BMqF49khsIM/s72-c/Untitled%2Bpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8782704931055079511</id><published>2010-11-13T10:21:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:23:33.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wanita Agung'/><title type='text'>Para Perempuan Cemerlang dalam Peradaban Islam</title><content type='html'>Panggung peradaban Islam, tak hanya dominasi laki-laki. Perempuan, muncul pula memberikan kontribusi. Mereka, menunjukkan kecemerlangan pemikirannya dalam beragam bidang. Hal ini, telah bermula sejak zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya saat merintis masyarakat berperadaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salim T S Al Hassani, profesor emiritus di University of Manchester, Inggris, dalam tulisannya, 'Women's Contribution to Classical Islamic Civilisation: Science, Medicine and Politics', menyatakan, selain dalam bidang agama mereka juga berkiprah di bidang ilmu pengetahuan. Sejumlah perempuan memiliki kemampuan dalam bidang medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan mereka terkadang dipicu oleh suatu peristiwa peperangan yang tak terelakkan. Di antara mereka ada Rufayda Al Aslamiyyah, yang mengawali kariernya merawat para tentara terluka. Ada pula nama-nama lainnya, yang menguasai matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rufayda al-Aslamiyyah &lt;br /&gt;Perempuan ini sering pula dipanggil dengan nama Rufayda binti Sa'ad. Ia dianggap sebagai perawat pertama dalam lintasan sejarah Islam, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perang Badar pada 13 Maret 624 Hijriyah, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan mengurus personel yang meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rufayda belajar pengetahuan medis dari ayahnya, Saad Al Aslamy, yang juga seorang dokter. Ia sering membantu ayahnya mengobati pasien. Pada akhirnya, ia yang sarat pengalaman mengabdikan diri dalam bidang yang dikuasainya. Ia mewujud menjadi seseorang yang andal dalam bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktiknya, ia sering menjalankan keahliannya di rumah sakit lapangan berbentuk sebuah tenda. Saat itu, Nabi Muhammad memerintahkan untuk membawa anggota pasukan yang terluka ke rumah sakit lapangan tersebut. Selain kepandaian dalam bidang medis, Rufayda dikenal sebagai sosok yang empatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, Rufayda merupakan seorang organisatoris yang baik pula. Ia aktif mengajarkan keahliannya kepada perempuan lainnya dan menjadi seorang pekerja sosial. Biasanya, ia membantu memecahkan masalah-masalah sosial yang terkait dengan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shifa binti Abdullah &lt;br /&gt;Lalu, muncul pula nama lain, Al Shifa binti Abdullah al Qurashiyah al'Adawiyah. Nama lain yang lekat pada dirinya adalah Laila. Kepiawaianya dalam bidang medis ditopang oleh kemampuannya dalam membaca. Sebab, saat itu banyak orang buta huruf dan tentu tak bisa mengakses pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya Rufayda, Al Shifa tak pelit dengan ilmu yang dimilikinya. Ia menebar ilmu medis yang ia kuasainya, meski dalam hal yang sangat sederhana. Misalnya, pengobatan terhadap gigitan semut. Kemudian, Rasulullah SAW memintanya untuk mengajarkan hal itu kepada perempuan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Shifa pun multitalenta. Ia tak hanya dominan pada bidang medis. Namun, ia pun sangat terampil dalam administrasi publik dan dikenal dengan kebijaksanaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nusayba binti Harith&lt;br /&gt;Nusayba binti Harith Al Ansari hadir sebagai sosok lain. Ia merawat para prajurit terluka. Ia juga seorang tabib khitan. Masa pun berjalan. Pada abad ke-15, seorang ahli bedah dari Turki, Serefeddin Sabuncuoglu (1385-1468), penulis karya tentang bedah, Cerrahiyyetu'l-Haniyye. Dia tak ragu menggambarkan secara terinci mengenai prosedur gineologi atau menggambarkan perawatan terhadap pasien perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya menggambarkan, namun Sabuncuoglu pun bekerja dengan para ahli bedah perempuan. Saat itu, dikabarkan rekan-rekannya di dunia Barat, malah menentang bekerja sama dengan para perempuan. Bahkan, dalam bukunya, ia menggambarkan bagaimana para ahli bedah perempuan menjalankan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutayta Al-Mahamli&lt;br /&gt;Pakar matematika ini hidup pada paruh kedua abad ke-10. Ia berasal dari keluarga berpendidikan tinggi di Baghdad, Irak. Ayahnya, Abu Abdallah Al Hussein, menjabat sebagai seorang hakim yang juga penulis sejumlah buku, termasuk Kitab fi Al Fiqh dan Salat Al'idayn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah tak memandang sebelah mata Sutayta yang berjenis kelamin perempuan itu. Ia mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anaknya, bahkan mendatangkan sejumlah guru. Banyak hal yang diajarkan namun Sutayta terpikat hatinya pada matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah cendekiawan yang pernah menjadi gurunya adalah Abu Hamza bin Qasim, Omar bin Abdul-'Aziz Al Hashimi, Ismail bin Al Abbas Al Warraq, dan AbdulAlghafir bin Salamah Al Homsi. Sejumlah sejarawan, Ibnu Al Jawzi, Ibnu Al Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir, memuji kemampuan Sutayta dalam matematika. Sutayta sangat menguasai hisab atau aritmatika dan perhitungan waris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua cabang matematika tersebut berkembang dengan baik di zamannya. Dalam aljabar, ia berhasil menemukan sebuah persamaan yang pada masa selanjutnya, sering dikutip oleh pakar matematika lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang ilmu lain yang juga dikuasainya adalah sastra Arab, ilmu hadis, dan hukum. Setelah lama bergelut dengan angka dan memberikan kontribusinya dalam bangunan peradaban Islam, akhirnya Allah SWT memanggilnya. Ia mengembuskan napas terakhir pada 987 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labana dari Kordoba&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Islam, Kordoba menjadi salah satu pusat peradaban. Kota ini, bahkan menjadi salah satu lumbung orang-orang berotak cerdas. Salah satunya adalah perempuan yang bernama Labana. Matematika menjadi bidang kajian yang ia kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labana dikenal dengan kemampuannya menyelesaikan beragam masalah matematika yang sangat pelik, baik aritmatika, geometri, maupun aljabar. Saat itu, tak banyak ilmuwan laki-laki yang mampu memecahkan masalah sepelik itu. Melalui kecerdasannya, ia menuai buah manis. Ia menjadi pegawai pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labana menjadi sekretaris Khalifah Al Hakam II dari Dinasti Bani Ummayah. Jatuhnya jabatan sekretaris ke tangan Labana, menunjukkan khalifah tak mempetimbangkan jenis kelamin. Namun, ia lebih mementingkan kepandaian dan kemampuan yang dimiliki Labana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, sejumlah perempuan bernasib sama dengan Labana. Para perempuan yang menguasai suatu bidang, akan mendapatkan penghargaan tinggi dari pemerintah. Kalau memang bersedia, para perempuan itu mendapatkan posisi di pemerintahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8782704931055079511?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8782704931055079511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8782704931055079511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8782704931055079511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8782704931055079511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/11/para-perempuan-cemerlang-dalam.html' title='Para Perempuan Cemerlang dalam Peradaban Islam'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3552743316918676828</id><published>2010-10-24T20:44:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:25:23.862+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Lihatlah Potret Madrasah di Era Turki Usmani</title><content type='html'>Pendirian madrasah di masa Turki Usmani, merupakan kelanjutan keberadaan madrasah tradisional yang ada sebelumnya. Bedanya, madrasah yang dibangun pada masa Turki Usmani telah lebih maju karena memiliki kurikulum sendiri. Tak hanya di Istanbul, saat itu madrasah juga didirikan di Edirne, Beograd, dan Sofia dan menjadi tulang punggung lahirnya para individu terpelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrasah pun seakan menjadi penjaga kesetaraan. Saat itu, madrasah memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu untuk mendapatkan akses pendidikan. Madrasah juga didirikan dengan tujuan menjadi bagian integral dari kehidupan sosial. Terutama, untuk memenuhi kebutuhan intelektual masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrasah sebagai pusat pendidikan dan kesetaraan ini terus menyebar seiring dengan kian luasnya kekuasaan Turki Usmani. Saat menaklukkan sebuah wilayah baru, segera dibangun masjid dan madrasah. Secara struktural, madrasah-madrasah itu merupakan bagian dari sistem wakaf dan otonom secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan madrasah-madrasah juga berada di bawah pengawasan negara. Madrasah tidak hanya didirikan oleh sultan dan anggota keluarga kerajaan. Namun, banyak madrasah yang didirikan oleh para wazir, negarawan, dan cendekiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode sebelum berkuasanya Sultan Mehmed II, pendidikan di madrasah ditekankan pada studi agama. Namun, selanjutnya madrasah juga memasukkan bahan ajaran lainnya selain agama. Maka, kemudian muncul daftar pelajaran seperti ilmu logika, filsafat, dan matematika mulai diajarkan oleh para guru di berbagai madrasah. Di madrasah tertentu juga diajarkan ilmu kedokteran dan astronomi. Ini memantik pendirian rumah sakit dan observatorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama abad ke-19, masih terdapat 166 madrasah yang aktif di Istanbul dengan 5.369 murid. Namun, pada 1924, setelah berdirinya Republik Turki, setelah revolusi pendidikan, madrasah Kekaisaran Turki Usmani dihapuskan fungsinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-3552743316918676828?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/3552743316918676828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=3552743316918676828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3552743316918676828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3552743316918676828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/lihatlah-potret-madrasah-di-era-turki.html' title='Lihatlah Potret Madrasah di Era Turki Usmani'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6761003510570011520</id><published>2010-10-24T20:44:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:25:23.862+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Warisan Islam di Sudut Valencia</title><content type='html'>Layaknya di kota-kota Islam lainnya, tradisi ilmiah berkembang pesat di Valencia. Tak hanya di bidang ilmu pasti, tetapi ilmu sosial, seperti sastra dan sejarah. Salah satu indikasinya, ada tradisi bersyair dan bersajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kompetisi pembuatan puisi-puisi indah, salah satunya diadakan pada 1474 Masehi. Sebanyak 40 puisi yang digubah oleh para pelajar dipertandingkan. Lalu, puisi itu dicetak pada kertas dan dibukukan untuk menjadi rujukan dalam pembelajaran puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang ilmu pengetahuan muncul sejumlah nama, misalnya Ibnu Jubair. Ia menuliskan sejarah Islam dan kehidupan Muslim, baik yang ada di Spanyol maupun di wilayah Islam lainnya. Di antaranya, perjalanannya dari Spanyol ke Makkah hingga ia kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula Arnau of Villanova. Ia merupakan penduduk Valencia, tak lama setelah kota tersebut di bawah kekuasaan Islam. Ia menguasai bahasa Arab, dan antusiasmenya terhadap kedokteran Islam membuatnya menerjemahkan karya-karya dokter Muslim ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Villanova menerjemahkan Risala fi Maarifat Quwa'l Adwiya al-Murakkaba yang ditulis Al Kindi ke dalam bahasa Latin, De Medicinarum Compositarum Gradibus, juga karya Qusta ibn Luqa, De Physics Ligatures, dan karya Ibnu Sina, De Viribus Cordi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya tradisi ilmiah di Valencia telah membuat kota ini memiliki peran cukup besar dalam mentransfer ilmu pengetahuan ke wilayah Eropa. Di sisi lain, pemerintahan Islam di Valencia juga telah melahirkan terobosan dalam tata pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya, lahirnya sebuah dewan legislatif dan hakim yang bertindak sebagai inspektur atau pengawas pasar dan masyarakat. Mereka bertindak pula sebagai pembela konsumen. Dalam hukum maritim telah ada pengadilan otonom.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6761003510570011520?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6761003510570011520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6761003510570011520' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6761003510570011520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6761003510570011520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/warisan-islam-di-sudut-valencia.html' title='Warisan Islam di Sudut Valencia'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3823192382301533641</id><published>2010-10-24T20:43:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:25:23.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Islam di Indonesia Bisa Jadi Model Dunia</title><content type='html'>Ulama Australia, Syekh Burhan Mehtar, menyatakan Islam di Indonesia layak menjadi contoh bagi dunia. Alasannya, ajaran Islam dinilai telah menjadi sumber bagi kehidupan banyak Muslim di negara ini. Mereka dikenal ramah, sederhana, penuh cinta kasih dan berusaha mempraktikkan kecintaan pada Quran dan Sunnah melalui kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Saya pikir orang (Islam) Indonesia memang seperti yang kita baca dan dengar. Islam di sini tersebar dengan kebaikan, cinta, kesederhanaan dan semoga bisa terbesar di dunia sebagai model,’’ katanya kepada Republika usai memberikan ceramah di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia, Senin, (12/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhan menyebutkan, dari beberapa kunjungan ke beberapa daerah dalam beberapa hari lalu, masyarakat Muslim di Indonesia dinilai cukup baik dalam menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya Muslim di sejumlah daerah yang berusaha memenuhi masjid untuk melaksanakan ibadah shalat Shubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘’Ketika saya di Medan, saya datang ke mesjid-mesjid, masya Allah saat subuh 500-1000 orang hadir. Mereka juga rajin membaca Quran. Ada kecintaan pada Qur’an,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Burhan, masyarakat di Australia dan dunia perlu sering berkunjung ke Indonesia. Hal itu penting dilakukan untuk mengenal lebih jauh tentang Islam dan keindahahan kepribadian Muslim di negara ini. ‘’Karena itu, kunjungan ini akan menjadi satu dari ratusan kunjungan dakwah ke Indonesia,’’ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat tidak jauh berbeda diungkapkan ulama asal Madinah, Arab Saudi, Syekh Muhammad Saad Nomani. Menurutnya, cukup banyak masyarakat Indonesian yang berusaha mengamalkan ajaran Islam dan kecintaan pada Quran dan Sunnah. Ungkapan Syekh berdasarkan hasil pengamatan dari kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia. ‘&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Kami menyaksikan banyak orang Islam di sini yang mencintai Quran. Ini merupakan negara yang baik terlebih sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,’’ kata ulama keturunan Imam Abu Hanifah ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-3823192382301533641?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/3823192382301533641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=3823192382301533641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3823192382301533641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3823192382301533641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/islam-di-indonesia-bisa-jadi-model.html' title='Islam di Indonesia Bisa Jadi Model Dunia'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3207898435651523281</id><published>2010-10-24T20:42:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:25:23.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Ilmu'/><title type='text'>Mengenal Warisan Islam di Kota Madrid</title><content type='html'>Semula, Madrid bernama Madjrit. Nama ini disematkan oleh umat Islam pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Merujuk pada Oliver Asin, seorang sejarawan, Madjrit ini pada mulanya adalah sebuah kota kecil di perbatasan yang didirikan oleh Dinasti Umayyah pada abad ke-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bibliografi karya Ibnu Hayyan, disebutkan kebanyakan yang menjadi gubernur Kota Madrid pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah adalah anggota keluarga Bani Salim dari Berber. Al-Himrayi mengatakan, pada saat itu Madrid juga memiliki sebuah benteng. Ia mengatakan, benteng ini dibangun oleh Amir Umayyah dari Cordoba bernama Muhammad I yang berkuasa antara tahun 852 hingga 886 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benteng itu sangat kuat dan tak mudah ditembus musuh. Saat itu, Madrid hanya sebuah kota kecil, namun memiliki kegiatan ekonomi yang cukup bagus. Misalnya, ada industri pembuatan sepatu bersol gabus, yang semula dikembangkan oleh orang-orang Romawi. Juga industri kayu ek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pemerintahan Islam, teknik pembuatan sepatu bersol gabus diintensifkan dan didiversifikasi sehingga sepatu bersol gabus menjadi hal umum di Spanyol. Bahkan pada masa itu, sepatu bersol gabus merupakan komoditas pokok ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan lain umat Islam di Kota Madrid adalah penggunaan qanat, yaitu terowongan bawah tanah yang digunakan untuk tujuan irigasi. Di sana, juga dibangun sistem penyedia an air untuk seluruh wilayah kota tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pernah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tak banyak lagi karya-karya ilmu pengetahuan karena banyak yang hancur akibat peperangan. Saat Philip II pada abad ke-16 mendirikan perpustakaan Escorial, ia tak banyak menemukan buku berbahasa Arab. Di Escorial, yang kemudian menjadi perpustakaan terbesar di Spanyol pada abad ke-17, hanya 4.000 judul buku Islam yang masih selamat dari penghancuran buku terburuk dalam sejarah Spanyol.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-3207898435651523281?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/3207898435651523281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=3207898435651523281' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3207898435651523281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3207898435651523281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/mengenal-warisan-islam-di-kota-madrid.html' title='Mengenal Warisan Islam di Kota Madrid'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7637393682656042703</id><published>2010-10-24T20:40:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:22:49.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Potret Gemilang Islam di Era Abbasiyah</title><content type='html'>Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang Al Mas’udi gunakan tidak seperti metode yang digunakan sejarawan ternama, Al Thabari, yang dalam menyusun karya sejarah berdasarkan tahun kejadian. Dalam menulis, ia mengelompokkan berbagai peristiwa sejarah berdasarkan dinasti, raja, serta masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar. Pada dekade terakhir kehidupannya, Al Mas’udi berada di Suriah dan Mesir untuk menulis 30 jilid buku yang berjudul Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Ini karya geografis bergaya ensiklopedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian awal karyanya, Al Mas’udi mengatakan daerah-daerah yang tandus pada mulanya adalah lautan dan daerah yang sekarang lautan pada mulanya adalah daerah tandus. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena kekuatan alam. Sedangkan dalam karyanya yang berjudul Al Tanbih wa Al Isyraf, Al Mas’udi mengungkapkan pemikirannya tentang filsafat sejarah dan alam. Ia juga mengutip sejumlah pendapat ahli filsafat pada masa itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7637393682656042703?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7637393682656042703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7637393682656042703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7637393682656042703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7637393682656042703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/potret-gemilang-islam-di-era-abbasiyah.html' title='Potret Gemilang Islam di Era Abbasiyah'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-8838874186822020478</id><published>2010-10-12T15:47:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (ulama) dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1904 di Lhokseumawe, Aceh Utara, Indonesia. Ayahnya bernama Al Hajj Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Mas‘ud, seorang ulama terkenal yang memiliki sebuah dayah (pesantren). Ibunya bernama Teungku Amrah, puteri Teungku Abdul Aziz pemangku jabatan Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Kesultanan Aceh waktu itu. Menurut silsilah, Hasbi ash-Shiddieqy merupakan keturunan Abu Bakar ash-Ashiddieqy (khalifah pertama), generasi ke-37. Oleh karena itu, sebagai keturunan Abu Bakar ash-Shiddieqy, ia kemudian melekatkan gelar ash-Shiddieqy di belakang namanya. Ketika ia berusia 6 tahun, ibunya, Teungku Amrah, meningggal dunia. Kemudian, ia diasuh oleh bibinya yang bernama Teungku Syamsiah. &lt;br /&gt;Ketika masih kecil, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy mulai belajar agama Islam di dayah (pesantren) milik ayahnya. Pada usia 8 tahun, ia mengunjungi berbagai dayah dari satu kota ke kota lain yang berada dibekas pusat kerajaan Pasai selama 20 tahun. Dalam pengembaraan tersebut, ia pernah belajar bahasa Arab pada Syekh Muhammad ibn Salim al-Kalali, seorang ulama dari Arab. Setelah itu, tahun 1926, ia merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Irsyad, sebuah organisasi keagamaan yang didirikan Syekh Ahmad Soorkati (1874-1943), seorang ulama dari Sudan yang terkenal memiliki pemikiran modern waktu itu. Di madrasah tersebut, ia menempuh pendidikan selama dua tahun dengan mengambil pelajaran takhassus (spesialisasi) dalam bidang pendidikan dan bahasa. Hasbi ash-Shiddieqy juga pernah mendalami ilmu agama Islam di Timur Tengah. Selain melalui jalur pendidikan formal, Hasbi ash-Shiddieqy juga mendalami berbagai disiplin ilmu agama melalui belajar secara autodidak. &lt;br /&gt;Setelah menempuh pendidikan di Surabaya, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy kembali ke Aceh sekitar tahun 1928, kemudian ia bergabung dalam beberapa kegiatan organisasi, di antaranya menjadi anggota organisasi Muhammadiyah dan partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Setelah itu, pada tahun 1951, Hasbi ash-Shiddieqy merantau ke Yogyakarta dan kemudian menetap untuk berkonsentrasi pada bidang pendidikan. Tahun 1960, ia diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Hadis dan Dekan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang Universitas Islam Negeri/UIN) hingga tahun 1972. Selain itu, ia juga pernah diundang sebagai pemakalah dalam International Islamic Colloquium yang diselenggarakan di Lahore, Pakistan tahun 1958. &lt;br /&gt;Semasa hidupnya, Hasbi ash-Shiddieqy juga aktif menulis di berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman, seperti fiqh, hadis, tafsir dan tauhid (ilmu kalam). Menurut catatan para kolektor karya Hasbi ash-Shiddieqy, karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. Sementara bidang-bidang lainnya, seperti hadis berjumlah 8 judul, tafsir 6 judul, dan tauhid 5 judul, selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia masih sempat menyelesaikan naskah terakhirnya yang berjudul Pedoman Haji. &lt;br /&gt;Teungku Hasbi ash-Shiddieqy meninggal dunia pada tanggal 9 Desember 1975 di Jakarta, dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Keluarga IAIN Ciputat Jakarta. Pada upacara pelepasan jenazah, turut memberikan sambutan Buya Hamka (almarhum), dan pada saat pemakaman, dilepas oleh Mr. Moh. Rum (almarhum). &lt;br /&gt;2. Pemikiran&lt;br /&gt;Sebagai ulama kontemporer, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy memiliki pandangan tersendiri mengenai syariat Islam. Ia berpandangan, syariat Islam memiliki sifat dinamis dan elastis, sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks sosial budaya yang ada. Ruang lingkupnya mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik hubungan sesama manusia maupun dengan Tuhan. Kemudian, syariat Islam yang bersumber dari wahyu Allah SWT. tersebut, dikaji dan dipahami umat Islam melalui metode ijtihad untuk menyesuaikan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Hasil ijtihad ini kemudian melahirkan banyak kitab fiqh. Penulis kitab-kitab fiqh tersebut dikenal sebagai imam-imam mujtahid, pendiri mazhab yang empat, yaitu Abu Hanifah, Malik, asya-Syafii dan Ahmad Hanbal. &lt;br /&gt;Akan tetapi, menurut Hasbi ash-Shiddieqy, banyak di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia, belum bisa membedakan antara syariat Islam yang langsung dari Allah SWT., dan hukum-hukum fiqh hasil ijtihad para imam mazhab. Selama ini, sebagian umat Islam cenderung menganggap fiqh sebagai syariat yang absolut (pasti). Akibatnya, kitab-kitab fiqh imam mazhab tersebut dijadikan sebagai salah satu sumber syariat yang pokok dalam kehidupan sehari-hari. Padahal pendapat imam mazhab tersebut, masih perlu diteliti dan dikaji ulang dengan konteks kekinian, sebab hasil ijtihad mereka tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi sosio-kultural serta lingkungan geografis mereka pada waktu itu.  &lt;br /&gt;Dalam konteks keindonesiaan, Hasbi ash-Shiddieqy melihat bahwa fiqh yang dianut masyarakat Islam Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kebanyakan dari mereka cenderung memaksakan pemberlakuan fiqh imam-imam mazhab tersebut. Untuk itu, sebagai alternarif terhadap sikap tersebut, ia mengajukan gagasan perumusan kembali fiqh Islam yang sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Menurutnya, umat Islam harus mampu menciptakan hukum fiqh yang sesuai dengan latar belakang sosio-kultural masyarakat Indonesia, tanpa harus meninggalkan hasil ijtihad ulama masa lalu. Justru, hasil ijtihad tersebut harus diteliti, dikaji dan dipelajari secara bebas, kritis dan terlepas dari sikap fanatik. Dengan demikian, ijtihad imam mazhab manapun, jika sesuai dan relevan dengan situasi masyarakat Indonesia, tentu dapat diterima dan diterapkan. &lt;br /&gt;Untuk mewujudkan usaha ini, maka para ulama dituntut mengembangkan dan menggalakkan ijtihad. Oleh karena itu, Hasbi ash-Shiddieqy menolak pandangan, pintu ijtihad sudah tertutup, karena ijtihad merupakan suatu kebutuhan yang terus berlanjut sampai akhir zaman. Menurutnya, untuk mewujudkan fiqh Islam yang berwawasan keindonesiaan, ada tiga bentuk ijtihad yang perlu dilakukan. Pertama, ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum produk imam mazhab masa lalu, sehingga dapat dipilih pendapat mereka yang masih cocok untuk diterapkan di masyarakat kita sekarang ini. Kedua, ijtihad dengan mengklasifikasikan hukum-hukum yang semata-mata didasarkan pada adat kebiasaan dan suasana masyarakat di mana hukum itu berkembang. Menurutnya, hukum ini bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan masyarakat. Ketiga, ijtihad dengan mencari hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah kontemporer yang timbul akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti transplantasi organ tubuh, bank, asuransi, air susu ibu, dan inseminasi buatan.  &lt;br /&gt;Kompleksnya permasalahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan peradaban, menyebabkan pendekatan yang harus dilakukan untuk mengatasinya tidak bisa pada bidang tertentu saja. Permasalahan ekonomi, umpamanya, tentu akan berdampak pada aspek-aspek lain. Oleh karena itu, menurut Hasbi ash-Shiddieqy, ijtihad tidak dapat terlaksana dengan efektif jika dilakukan secara individual, maka ia kemudian menawarkan gagasan ijtihad jama‘i (ijtihad kolektif). Para anggotanya tidak hanya dari kalangan ulama, tetapi juga dari berbagai kalangan ilmuwan muslim lainnya, seperti ekonom, dokter, budayawan, dan politikus yang mempunyai visi dan wawasan yang tajam terhadap permasalahan umat Islam. Melalui ijtihad kolektif ini, diharapkan umat Islam Indonesia dapat merumuskan sendiri fiqh yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Rumusan fiqh tersebut tidak harus terikat pada salah satu mazhab, tetapi penggabungan beberapa pendapat yang sesuai dengan keadaan masyarakat. Menurutnya, hukum yang baik adalah yang mempertimbangkan dan memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, budaya, adat-istiadat, dan kecenderungan masyarakat yang bersangkutan. Hasbi ash-Shiddieqy bahkan menegaskan bahwa dalam sejarahnya, banyak kitab fiqh yang ditulis ulama yang mengacu pada adat-istiadat (‘urf) suatu daerah. Sebagai contoh, pendapat Imam asy-Syafii yang berubah seiring dengan perpindahannya dari Irak ke Mesir. Ketika masih di Irak, ia memiliki beberapa pendapat yang sesuai dengan kondisi sosio-kultural Irak saat itu, yang kemudian dikenal dengan sebutan qaul qadim (pendapat lama). Ketika ia pindah ke Mesir dengan kondisi sosio-kultural yang baru, ia mengubah beberapa pendapatnya yang pernah ia pegang selama di Irak, sehingga muncul pendapat baru, yang kemudian disebut dengan qaul jadid (pendapat baru). Dengan demikian, ijtihad harus terus dikembangkan, tidak boleh ditutup. &lt;br /&gt;3. Karya-karya&lt;br /&gt;Sebagai ulama besar, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy telah melahirkan banyak karya, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 1. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;2. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 2. Bandung: Almaarif.&lt;br /&gt;3. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 3. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;4. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 4. Bandung: Almaarif.&lt;br /&gt;5. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 5. Yayasan Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.&lt;br /&gt;6. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 6. Yayasan Teunkgu Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.&lt;br /&gt;7. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 7. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;8. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 8. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;9. Koleksi Hadis-hadis Hukum, Jilid 9. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;10. Mutiara Hadis 1 (Keimanan). Semarang: Pustaka Rizki Putra. &lt;br /&gt;11. Mutiara Hadis 2 (Thaharah &amp; Shalat). Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;12. Mutiara Hadis 3 (Shalat). Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;13. Mutiara Hadis 4 (Jenazah, Zakat, Puasa, Iktikaf &amp; Haji). Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;14. Mutiara Hadis 5 (Nikah &amp; Hukum Keluarga, Perbudakan, Jual Beli, Nazar &amp; Sumpah, Pidana &amp; Peradilan, Jihad). Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;15. Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.  Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000.&lt;br /&gt;16. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999.&lt;br /&gt;17. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis.  Jakarta: Bulan Bintang, 1978.&lt;br /&gt;18. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang, 1965. &lt;br /&gt;19. Kriteria Antara Sunnah dan Bid‘ah. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.&lt;br /&gt;20. Tafsir Alquran al-Madjied-An-Nur. Jakarta: Bulan Bintang, 1965.&lt;br /&gt;21. Pedoman Haji, (Cetakan ke-9, Edisi ke-2). Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2005.&lt;br /&gt;22. Dll. &lt;br /&gt;2. Penghargaan&lt;br /&gt;Atas jasa-jasanya terhadap dunia pendidikan, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Anugerah Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada tahun 1975.&lt;br /&gt;2. Anugerah Doctor Honoris Causa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1975.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-8838874186822020478?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/8838874186822020478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=8838874186822020478' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8838874186822020478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/8838874186822020478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/teungku-muhammad-hasbi-ash-shiddieqy.html' title='Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-911427298385989217</id><published>2010-10-12T15:47:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Syekh Sulaiman al-Rasuli</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Perkembangan agama Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kiprah para tokoh agama dan ulama besar yang giat menyebarkan ajarannya di berbagai wilayah. Sejauh ini, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang melahirkan banyak ulama terkemuka. Di antara ulama terkemuka tersebut adalah Syekh Sulaiman al-Rasuli. &lt;br /&gt;Syekh Sulaiman al-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syekh Sulaiman, dilahirkan pada tahun 1871 M/ 1287H di Candung, yang terletak 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Tak jarang pula, ia dipanggil dengan sebutan "Inyik Candung". Ayahnya, Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di kampung halamannya. &lt;br /&gt;Sejak kecil, Syekh Sulaiman memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, ia juga pernah belajar kepada Syekh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Selama di Mekah, ia belajar kepada Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif Minankabawi, Syekh Ali Kutan al-Kelantani, Syekh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani, dan beberapa ulama Melayu yang bermukim di sana. Menurut riwayat, di kota suci ini, ia seangkatan dengan ulama-ulama Melayu lainnya, seperti Syekh Abbas Ladang Lawas (Bukittinggi), Syekh Jamil Jaho (Padang Panjang), Kyai Hasyim Asy‘ari (Jombang), Syekh Hasan Maksum (Sumatera Utara), Syekh Khatib Ali Minankabawi, Syekh Zain Simabur, Syekh Muham¬mad Yusuf Kenali (Tok Kenali al-Kelantani), dan Syekh Utsman al-Sarawaki. &lt;br /&gt;Sekembalinya dari Mekah, Syekh Sulaiman mendirikan pondok pesantren di tanah kela¬hiran¬nya. Dalam waktu singkat, pesantren yang didirikannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitarnya. Dukungan ini mendorong bertambahnya jumlah murid yang menuntut ilmu di pesantren ini. Murid-murid yang belajar di pesantren tersebut tidak hanya berasal dari daerah setempat, melainkan juga datang dari berbagai wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Tapanuli, Aceh, dan bahkan, ada yang datang dari Malaysia. &lt;br /&gt;Materi utama pendidikan di pesantren tersebut adalah pengajaran paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah dan madzhab Syafi‘i. Syekh Sulaiman sangat konsisten menjalankan paham dan aliran tersebut. Ia kemudian mencantumkan pada ijazah kelulusan bagi murid-muridnya pernyataan bahwa si pemegang ijazah, jika berfatwa, harus mendasarkan pada mazhab Syafi‘i. Selain itu, masih dalam ijazah tersebut, tercantum tulisan bahwa Syekh Sulaiman tidak akan rela bila muridnya berfatwa atau menganut paham selain paham Syafi‘i.&lt;br /&gt;Selain aktif di dunia pendidikan agama, Syekh Sulaiman juga aktif di dunia politik dan keorganisasian. Pada tahun 1921, ia bersama dua teman akrabnya, Syekh Abbas dan Syekh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama ‘kaum tua‘ (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat madzhab dalam fiqh: Maliki, Syafi‘i, Hanafi, dan Hanbali) Minangkabau, membentuk organisasi bernama ‘Ittihadul Ulama Sumatera‘ (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah madzhab Syafi‘i. Organisasi ini merupakan saingan dari Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) yang didirikan oleh ‘kaum muda‘ (golongan ulama yang terpengaruh dengan pemikiran tokoh-tokoh pembaharu Islam di Mesir: Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha) pada tahun 1918. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah “al-Radd wa al-Mardud” sebagai sarana untuk menjelaskan serta memperta¬han¬kan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah madzhab Syafi‘i.&lt;br /&gt;Pada tahun 1928, Syekh Sulaiman al-Rasuli bersama kaum tua dan dua sahabatnya, Syekh Abbas dan Syekh Muhammad Jamil, membentuk organisasi persatuan sekolah-sekolah agama yang berpaham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah dengan nama ‘Persatuan Tarbiyah Islamiyah‘ (Perti), di mana seluruh madrasah dan pondok pesantren yang berafiliasi kepadanya dinamakan ‘Madrasah Tarbiyah Islamiyyah‘. Pendirian organisasi ini disebabkan ketidaksetujuan kaum tua dengan aliran pendidikan reformis yang dikem¬bang¬¬kan oleh kaum muda, seperti madrasah diniyah dan pondok pesantren Thawalib. Seluruh madrasah dan pondok pesantren yang tergabung dalam Perti, dirubah cara pengajarannya dengan menggunakan sistem klasikal (menggunakan papan tulis, meja, dan bangku), tetapi mata pelajaran dan kitab-kitabnya (Matan Taqrib, Fathul Qarib, Fathul Mu‘in, I‘anatu al-Thalibin, dan Mahalli) masih tetap dipertahankan. Selang beberapa tahun kemudian, madrasah-madrasah seperti ini menyebar ke seluruh Sumatera, mulai dari Aceh hingga ke Lampung. Selanjutnya, kegiatan organisasi ini tidak hanya terfokus pada dunia pendidikan, tetapi juga merambah pada dunia politik, dan tak lama setelah itu, menjelma menjadi partai politik dengan singkatan Perti.&lt;br /&gt;Di bidang politik, Syekh Sulaiman pernah menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu tahun 1955. Ia merupakan salah satu anggota tertua dan sempat ditunjuk untuk memimpin sidang pertama Konstituante. Kiprahnya dalam bidang politik pernah mengantarkannya menduduki jabatan ketua Majelis Islam Tertinggi Sumatera Barat di Bukittinggi. Selain itu, pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, ia pernah menghadiri konferensi ulama-ulama Sumatera dan Malaysia di Singapura. &lt;br /&gt;Sumbangsih Syekh Sulaiman al-Rasuli dalam mengembangkan pendidikan dan agama Islam di tanah kelahirannya memiliki pengaruh yang sangat berarti. Sejarah telah membuktikan bahwa organisasi Perti yang dibentuk bersama kaum tua dan dua sahabatnya dulu, kini telah menjelma menjadi sebuah organisasi yang mapan dan memayungi ratusan sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Di sini Syekh Sulaiman hendak menyampaikan pesan bahwa dengan memajukan pendidikan, maka umat Islam akan dapat bangkit dan berkiprah lebih aktif dalam usaha membangun bangsa dan agama. Ia salah satu ulama besar asal Sumatera Barat yang gigih dalam membela Islam. Ia wafat dalam usia 85 tahun, yaitu bertepatan dengan tanggal 28 Rabi‘ul Akhir 1390 H/1 Agustus 1970, dan dimakamkan di Komplek Madrasah Tarbiyyah Islamiyyah, Candung, Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.&lt;br /&gt;2. Pemikiran&lt;br /&gt;Syekh Sulaiman al-Rasuli seringkali berbeda pendapat dengan kaum muda (pembaharu) lantaran keteguhannya mempertahankan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah dan madzhab Syafi‘i. Menurut Kyai Haji Sirajuddin Abbas dalam bukunya “Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi‘i”, ia adalah salah seorang ulama besar yang tidak menerima paham pembaharuan ala Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Kendati demikian, ia sangat toleran dan menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu, tak aneh jika ulama ini kerap bekerja sama dengan berbagai pihak meski ada keti¬dak¬sepahaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Syekh Sulaiman berbeda pendapat dengan Haji Abdul Karim Amrullah (tokoh pembaharu Minangkabau) mengenai tarekat Naqsyabandiyyah serta rukyat dalam penetapan awal Ramadhan. Hal ini dikarenakan Haji Abdul Karim Amrullah banyak dipengaruhi pemikiran revolusioner, Syekh Ahmad Khatib, yang menentang adat matrilineal Minangkabau dan tarekat Naqsyabandiyyah al-Khalidiyyah di Sumatera Barat. Haji Abdul Karim Amrullah berusaha mengungkapkan kekeliruan tarekat tersebut terutama dalam praktek dhikr lata‘if, suluk (khalwa), khatm-i khwajagan, dan rabita bi-l-shaykh. Ia (Haji Abdul Karim Amrullah) mencoba meluruskan praktek tarekat yang menurutnya tidak ada dasarnya dalam Islam. Namun demikian, keduanya (Syekh Sulai¬man al-Rasuli dan Haji Abdul Karim) tidak membawa perbedaan pendapat itu ke dalam suatu debat kusir. Keduanya justru bekerja sama erat khususnya untuk menghadapi kolonialisme. Mereka berdua bahkan acap kali mengisi ceramah di satu tempat, dan bersama dengan Syekh Ibrahim Musa (tokoh pembaharu di Parabek, Bukittinggi) berjanji untuk membawa semangat persatuan kepada segenap umat di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan mengenai penetapan awal dan akhir bulan puasa sebenarnya tidak hanya terjadi pada masa Syekh Sulaiman dan Haji Abdul Karim Amrullah. Jauh sebelum me¬re¬ka lahir, perdebatan semacam ini telah sering terjadi antara para pengikut tarekat Naqsybandiyyah dan pengikut tarekat Syatariyyah sejak berkembangnya kedua tarekat ini. Schrieke, misalnya, melaporkan bahwa selama bertahun-tahun, di sekitar Padang Panjang selalu terjadi pertentangan sengit antara Syatariyyah dan Naqsyban¬diyyah menyangkut persoalan tersebut. Demikian halnya di Pariaman, hingga sekarang masih terjadi perbedaan pendapat antara penganut tarekat Syatariyyah di Ulakan dengan penganut Naqsyban¬diyyah di Cangking mengenai awal dan akhir bulan puasa. Biasanya, para penganut Syatariyyah merayakan puasa Ramadan dua hari kemudian setelah para penganut tarekat Naqsybandiyyah merayakannya, sehingga mereka (penganut Syatariyyah) mendapatkan julukan “orang puasa kemudian”, sementara penganut tarekat Naqsybandiyyah disebut orang sebagai “orang puasa dahulu”.&lt;br /&gt;Dengan demikian, munculnya perdebatan antara Syekh Sulaiman al-Rasuli (kaum tua) dan Haji Karim Amrul¬lah (kaum muda) tidak terlepas dari perbedaan paham yang mereka anut, meskipun keduanya pernah berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi, imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram. Hal ini dikarenakan Syekh Sulaiman lebih mengembangkan paham Sunni Syafi‘i dan tarekat Naqsy¬ban¬diyyah. Sementara, Haji Karim Amrullah lebih mengembangkan ide-ide pembaharuan agama yang banyak dipengaruhi oleh gerakan Islamic Reviva¬lism di Timur Tengah. &lt;br /&gt;Sebagai ulama yang gigih membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, Syekh Sulaiman al-Rasuli berusaha menyampaikan pemahaman ajaran ini kepada para pengikutnya sepanjang hidupnya. Menurutnya, Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, secara umum berarti kelompok yang berpegang teguh pada sunnah dan jama‘ah. Ia dan pengikutnya yang menganut paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah menjadikan “sunnah”, atau hadis Nabi, dan ijma‘ sebagai pedoman dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, bagi Syekh Sulaiman dan pengikutnya, setidaknya ada tiga pedoman yang menjadi rujukan dalam beragama mereka: al-Qur‘an, hadis Nabi, dan ijma‘. Kendati ijma‘ hanya menempati urutan ketiga, dalam kenyataannya, ijma‘ seringkali menjadi penentu dalam menjustifikasi sebuah persoalan hukum, terutama jika tidak dikemukakan secara spesifik dalam al-Qur‘an dan hadis Nabi. Oleh karenanya, bagi mereka yang menganut paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, ijma‘ —yang menghendaki adanya persetujuan mayoritas ummat atau jama‘ah dalam membuat sebuah keputusan hukum— menjadi semacam ‘kata kunci‘ yang membedakan kelompoknya dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;Namun demikian, paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah yang digagas oleh Syekh Sulaiman al-Rasuli berbeda dengan paham serupa yang digagas oleh sejumlah tokoh Nahdatul Ulama. Syekh Sulaiman berpedoman kepada al-Qur‘an, hadis Nabi, ijma‘, dan madzhab Syafi‘i, sementara NU, selain berpedoman kepada al-Quran, hadis Nabi, dan ijma‘, juga berpegang teguh pada tiga tradisi, yakni: mengikuti paham al-‘Asy‘ari dan al-Maturidi dalam persoalan teologi (tauhid) dan mengikuti paham salah satu dari empat madzhab dalam persoalan hukum (fiqh), yaitu madzhab imam Maliki, Syafi‘i, Hambali, dan Hanafi. &lt;br /&gt;3. Karya&lt;br /&gt;Sebagai seorang ulama, Syekh Sulaiman al-Rasuli telah melahirkan beberapa karya, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Dhiya-us Siraj fil Isra‘ wal Mi‘raj.&lt;br /&gt;2. Tsamaratul Ihsan fi wiladah Sayyidil Insan.&lt;br /&gt;3. Dawa-ul Qulub fi qishshah Yusuf wa Ya‘qub.&lt;br /&gt;4. Risalah al-Aqwal al-Washitah fidz-Dzikri war-Rabithah.&lt;br /&gt;5. al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran.&lt;br /&gt;6. Al-Jawahirul Kalamiyyah.&lt;br /&gt;7. Sabilus Salamah fi wird Sayyidil Ummah.&lt;br /&gt;8. Perdamaian Adat dan Syara‘.&lt;br /&gt;9. Kisah Muhammad ‘Arif (tasawwuf).&lt;br /&gt;4. Penghargaan&lt;br /&gt;Sebagai ulama besar yang terlibat aktif di dunia politik, Syekh Sulaiman al-Rasuli pernah dilantik pemerintah Republik Indonesia Serikat untuk menjadi salah satu anggota Dewan Konstituante, mewakili Perti, pada tahun 1950.&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;• http://www.republika.co.id&lt;br /&gt;• www.cimbuak.net&lt;br /&gt;• http://ulama-nusantara.blogspot.com&lt;br /&gt;• Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafie. Aman Press, 1985.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-911427298385989217?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/911427298385989217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=911427298385989217' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/911427298385989217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/911427298385989217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/syekh-sulaiman-al-rasuli.html' title='Syekh Sulaiman al-Rasuli'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-6067392627806344968</id><published>2010-10-12T15:43:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah al-Minankabawi dilahirkan dari keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat pada tanggal 26 Juni 1860 M/6 Dzulhijjah 1276 H di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya adalah seorang hakim dari kaum Paderi yang sangat menentang keberadaan kolonialisme di Minangkabau, Sumatera Barat.    &lt;br /&gt;Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun 1870, ia masuk sekolah pemerintah Belanda di Minangka¬bau, Sumatera Barat. Ia kemudian melanjutkan pendidi¬kannya ke sekolah guru (kweekschool) di Bukittinggi. Sebagaimana anak-anak dari kaum Paderi lainnya, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama kepada orang tua dan guru ngajinya di Surau. &lt;br /&gt;Pada tahun 1881, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di kota ini, ia belajar kepada ulama Mekah, seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Di kota ini pula, ia kemudian mendapatkan wawasan baru tentang keislaman dan kondisi dunia Islam yang sedang terjajah, yang pada gilirannya menya¬darkan dirinya akan pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan umat Islam untuk melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran ini, ia tanamkan kepada murid-muridnya, seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdullah Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, dan Kyai Ahmad Dahlan, yang di kemudian hari men¬jadi pelopor gerakan pembaharuan agama sekaligus sebagai tokoh-tokoh per¬la¬wanan terhadap kolonialisme Belanda. &lt;br /&gt;Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi merupakan ulama yang memiliki pendirian kuat dan menguasai berbagai displin ilmu. Dalam bidang fiqh dan akidah, ia masih tetap berpegang teguh pada madzhab Syafi‘i dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Kedua hal inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram dan berhak menyandang gelar syekh. Ia wafat pada tanggal 9 Jumada al-Awal 1334 H/13 Maret 1916 M di Mekah, Saudi Arabia. &lt;br /&gt;2. Pemikiran &lt;br /&gt;Menurut riwayat, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi meru¬pakan salah seorang tokoh intelektual abad ke-19 yang membawa gerakan pemba¬haruan (modernisme) Islam di Indonesia, khususnya daerah Minangkabau, meskipun setelah menunaikan ibadah haji (1882) hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya. Namun demikian, ia tetap menjalin hubungan intensif dengan orang-orang Indonesia, baik melalui mereka yang menu¬naikan ibadah haji maupun melalui para muridnya yang memper¬dalam ilmu agama di Mekah. Jabatannya sebagai imam madzhab Syafi‘i di Masjid al-Haram membuka peluang yang luas baginya untuk mentransfor¬masikan pemiki¬ran-pemi¬kiran reformatif kepada para jama‘ah haji dan murid-muridnya. &lt;br /&gt;Pada dasarnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi pemikiran Syekh Ahmad Khatib, pertama, ia hidup pada masa kemunculan gerakan Islamic Revivalism yang bermarkas di Mekah; kedua, ia menyaksikan perkembangan gerakan antikoloni¬alisme di dunia Islam yang semakin mendunia. Dengan demikian, setidaknya ada dua bi¬dang yang menjadi fokus pe¬mi¬kiran¬¬nya, yaitu bidang akidah dan bidang politik. &lt;br /&gt;a. Bidang Akidah&lt;br /&gt;Syekh Ahmad Khatib banyak menentang praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya ten¬tang praktek tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah di Minang¬ka¬bau, Sumatera Barat. Di samping itu, ia juga menolak hukum waris adat Minangkabau yang menganut sistem matrilinieal (adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu), yang kemudian menjadi bahan perdebatan dengan kaum adat tanpa berkesudahan. &lt;br /&gt;Pada tahun 1906, ia menulis buku yang berjudul “Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin” yang merupakan tulisan sanggahan terhadap tarekat Naqsyabandiyyah al-Khalidiyah di Minangkabau. Kitab tersebut mengundang kemarahan seluruh penganut tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan penganut-penganut tarekat lain¬nya. Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka (salah seorang ulama dari ‘kaum tua‘ yang menganut tarekat Naqsyabandiyyah) menanggapi karya tersebut dengan bukunya yang berjudul “Irghamu Unufi Muta‘annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin.” &lt;br /&gt;Dengan terbitnya karya Mungka tersebut, Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi kemudian menjawabnya kembali dengan bukunya yang berjudul “Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Iza¬lati Khurafati Ba‘dhil Muta‘ashshibin.” Karya ini juga kembali disa¬ng¬gah oleh Syekh Muhammad Sa‘ad Mungka dengan karyanya yang berjudul “Tanbihul ‘Awam ‘ala Taqrirati Ba‘dhil Anam.” Publikasi perdebatan-perdebatan ini kemudian mem¬bang¬¬kitkan sema¬ngat para pemba¬haru Islam di Minangkabau, yang kemu¬dian menjalar ke Pulau Jawa seperti gerakan pembaharuan agama ala Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Setelah karya ini, tidak terdapat sanggahan kembali dari Syekh Ahmad Khathib al-Minankabawi. &lt;br /&gt;b. Bidang Politik&lt;br /&gt;Menurut Haji Agus Salim, dalam suatu seminar di Cornel University (4 Maret 1953), Syekh Ahmad Khatib adalah ulama yang anti Belanda. Perasaan itu selalu ia gelorakan kepada murid-muridnya di Mekah. Ia berpendapat bahwa berperang melawan penjajah adalah jihad di jalan Allah. Kebenciannya terhadap kolonialis dapat dilihat dari hubungan¬nya yang kurang baik dengan Snouck Hurgronje, ilmuwan dan orient¬talis asal Belanda, ketika mengunjunginya di Mekah pada tahun 1885. &lt;br /&gt;3. Karya &lt;br /&gt;Sebagai ulama besar Melayu yang bermukim di Mekah, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi telah menulis beberapa karya, baik berba¬ha¬sa Melayu maupun berbahasa Arab, di antaranya: &lt;br /&gt;1. Al-Jauharun Naqiyah fil A‘mali Jaibiyah (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al- Maimuniyah, 1309 H.&lt;br /&gt;2. Hasyiyatun Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah Darul Kutub al-‘Arabiyah al-Kubra, 1332 H.&lt;br /&gt;3. Raudhatul Hussab fi A‘mali ‘Ilmil Hisab (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1310 H.&lt;br /&gt;4. Ad-Da‘il Masmu‘ fir Raddi ‘ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma‘a Wu¬judil Ushl wal Furu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H. &lt;br /&gt;5. Al-Manhajul Masyru‘ Tarjamah Kitab Ad-Da‘il Masmu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.&lt;br /&gt;6. ‘Alamul Hussab fi ‘Ilmil Hisab (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-‘Amirah al-Miriyah, 1313 H. &lt;br /&gt;7. An-Nukhbatun Nahiyah Tarjamah Khulashatil Jawahirin Naqiyah fil A‘malil Jabiyah (bahasa Melayu). &lt;br /&gt;8. Dhau-us Siraj (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, 1325 H.&lt;br /&gt;9. Shulhul Jama‘atain bi Jawazi Ta‘addudil Jum‘atain (bahasa Arab). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1312 H.&lt;br /&gt;4. Penghargaan&lt;br /&gt;Atas penguasan dan pengetahuannya tentang madzhab imam Syafi‘i, Syekh Ahmad Khatib telah diangkat sebagai “Imam Khatib dan Mufti Besar Madzhab Syafi‘i” di Masjid al-Haram, Mekah, sehingga ia berhak mengajarkan madzhab Syafi‘i dan menyandang gelar ‘syekh‘. Menurut riwayat, ia adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mencapai penghargaan setinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;• http://ulama-nusantara.bolgspot.com&lt;br /&gt;• www.kotasantri.com&lt;br /&gt;• www.republika.co.id&lt;br /&gt;• Majalah Percikan Iman, No. 5, Tahun I, November 2000.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-6067392627806344968?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/6067392627806344968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=6067392627806344968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6067392627806344968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/6067392627806344968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/syekh-ahmad-khatib-al-minankabawi.html' title='Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-5818141353274876137</id><published>2010-10-12T15:43:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Sultan Iskandar Muda</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Snouck Hurgronje pernah menyatakan bahwa kisah tentang Sultan Iskandar Muda hanya dongeng belaka. Sayangnya, Horgronje hanya mendasari penelitiannya pada karya-karya klasik Melayu, seperti Bustan al-Salatin, Hikayat Aceh, dan Adat Aceh. Sejarah Aceh rupanya dipahami Horgronje secara keliru. Sebagai perbandingan, kita bisa membaca penelitian Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang di samping menggunakan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al-Salatin, Hikayat aceh, dan Adat Aceh), juga menggunakan sumber-sumber Eropa dan Tionghoa. Di samping kedua sumber itu, Lombard juga menggunakan kesaksian para musafir Eropa yang sempat tinggal di Aceh pada saat itu, seperti Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Penelitian Lombard bisa dikatakan mampu menyajikan fakta sejarah sesuai aslinya, dan itu berarti ia justru membalikkan tesis Horgronje. Lombard membuktikan bahwa masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda merupakan masa kejayaan yang sangat gemilang. &lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan 1). &lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun, mengacu pada Bustan al-Salatin, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar awal April 1607. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda tersebut ini dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.&lt;br /&gt;Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi dengan tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda pernah menaklukan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias sejak tahun 1612 hingga 1625. Sultan Iskandar Muda juga sangat memperhatikan tatanan dan peraturan perekonomian kerajaan. Dalam wilayah kerajaan terdapat bandar transito (Kutaraja, kini lebih dikenal Banda Aceh) yang letaknya sangat strategis sehingga dapat menghubungkan roda perdagangan kerajaan dengan dunia luar, terutama negeri Barat. Dengan demikian, tentu perekonomian kerajaan sangat terbantu dan meningkat tajam. &lt;br /&gt;Dalam bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda menerapakan sistem baitulmal. Ia juga pernah melakukan reformasi perdagangan dengan kebijakan menaikkan cukai eksport untuk memperbaiki nasib rakyatnya. Pada masanya, sempat dibangun juga saluran dari sungai menuju laut yang panjangnya mencapai sebelas kilometer. Pembangunan saluran tersebut dimaksudkan untuk pengairan sawah-sawah penduduk, termasuk juga sebagai pasokan air bagi kehidupan masyarakat dalam kerajaan.&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon, ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu dipegang oleh Ratu Elizabeth 1. Melalui utusannya, Sir James Lancester, Ratu Elizabeth 1 memulai isi surat yang disampaikan kepada Sultan Iskandar Muda dengan kalimat: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam”. Sultan kemudian menjawabnya dengan kalimat berikut: “I am the mighty ruler of the religions below the wind, who holds way over the land of Aceh and over the land of Sumatera and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset (Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam)”.&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar. Di antaranya adalah Syiah Kuala sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut diibaratkan: Adat bak Peutu Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar Muda juga sangat mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama ini juga banyak mempengaruhi kebijakan Sultan. Kedua merupakan sastrawan terbesar dalam sejarah nusantara.&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena sudah tidak ada anak laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaanya kemudian dipegang oleh menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Puteri Safiah (1641-1675), yang juga merupakan puteri dari Sultan Iskandar Muda. &lt;br /&gt;2. Pemikiran&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.  &lt;br /&gt;Pada saat berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh. Pertama,  bidang hukum yang diserahkan kepada syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat. Kedua, bidang adat-istiadat yang diserahkan kepada kebijaksanaan sultan dan penasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan. Ketiga, bidang resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong. Keempat, bidang qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira. Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf.&lt;br /&gt;Sultan Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan delapan perkara, di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, ia berwasiat kepada para wazir, hulubalang, pegawai, dan rakyat agar selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji yang telah diucapkan. Kedua, jangan sampai para raja menghina alim ulama dan ahli bijaksana. Ketiga, jangan sampai para raja percaya terhadap apa yang datang dari pihak musuh. Keempat, para raja diharapkan membeli banyak senjata. Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat. Kelima, hendaknya para raja mempunyai sifat pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat memperhatikan nasib rakyatnya. Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan al-Qur‘an dan sunnah Rasul. Di samping kedua sumber tersebut, sumber hukum lain yang harus dipegang adalah qiyas dan ijma‘, baru kemudian berpegangan pada hukum kerajaan, adat, resam, dan qanun. Wasiat-wasiat tersebut mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan agama, rakyat, dan kerajaan. &lt;br /&gt;Hamka melihat kepribadian Sultan Iskandar Muda sebagai pemimpin yang saleh dan berpegangan teguh pada prinsip dan syariat Islam. Tentang kepribadian kepemimpinannya, Antony Reid melihat bahwa Sultan Iskandar Muda sangat berhasil menjalankan kekuasaan yang otoriter, sentralistis, dan selalu bersifat ekspansionis. Karakter Sultan Iskandar tersebut memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis.    &lt;br /&gt;3. Karya&lt;br /&gt;Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris King James 1 pada tahun 1615 merupakan salah satu karyanya yang sungguh mengagumkan. Surat (manuskrip) tersebut berbahasa Melayu, dipenuhi dengan hiasan yang sangat indah berupa motif-motif kembang, tingginya mencapai satu meter, dan konon katanya surat itu termasuk surat terbesar sepanjang sejarah. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk keinginan kuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional betapa pentingnya Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia.&lt;br /&gt;Masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di samping kebijakan reformatifnya, juga ditandai dengan luasnya cakupan kekuasaannya. Pada masanya, wilayah Kerajaan Aceh telah mencapai pesisir barat Minangkabau dan Perak. &lt;br /&gt;4. Penghargaan&lt;br /&gt;Melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993, Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI serta mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (Kelas II). Sebagai wujud pernghargaan terhadap dirinya, nama Sultan Iskandar Muda diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, misalnya sebagai nama jalan di Banda Aceh. Nama Iskandar Muda telah diabadikan sebagai nama Kodam-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;• Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982).&lt;br /&gt;• Mukhlisuddin Ilyas, “Aceh dalam Lintasan Budaya”, dalam www.acehinstitute.org. &lt;br /&gt;• Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasonal, (Jakarta: Erlangga, 2006).&lt;br /&gt;• www.e-aceh-nias.org.&lt;br /&gt;• www.ruangbaca.com.&lt;br /&gt;• wikipedia.org.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-5818141353274876137?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/5818141353274876137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=5818141353274876137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5818141353274876137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/5818141353274876137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/sultan-iskandar-muda.html' title='Sultan Iskandar Muda'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-909985055570672319</id><published>2010-10-12T15:40:00.000+07:00</published><updated>2010-10-12T15:42:17.367+07:00</updated><title type='text'>Soeman HS</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Soeman Hs dilahirkan di Desa Batantua, Bengkalis, Riau, Indonesia, pada tanggal 4 April 1904 dari pasangan bapak Wahid atau dikenal Lebai Wahid Hasibuan, dan ibu Tarumun Pulungan. Kedua orangtuanya berasal dari Desa Hutanopan, Kecamatan Barumun, Tapanulis Selatan. Ayahnya, Wahid Hasibuan, termasuk keturunan bangsawan yang pernah menjadi kepala adat (Kuria) dan guru ngaji (lebai). Soeman Hs adalah anak ketiga dari enam orang bersaudara, yaitu Raman (sulung), Riban, Abdurrachim, Hamzah dan Juma’at (bungsu). &lt;br /&gt;Pada tahun 1912, dalam usia tujuh tahun, Soeman Hs mulai belajar di Sekolah Melayu Gouevernement Inlandsch School (GIS), sederajat Sekolah Dasar dan tamat 1918. Setelah itu, ia mengikuti ujian masuk Sekolah Calon Guru (Normaal Cursus) di Medan. Dari 24 orang peserta, hanya 6 orang yang diterima termasuk Soeman Hs yang menempati juara ke-4. Selama menempuh pendidikan di Sekolah Calon Guru tersebut, ia mendapat bantuan beasiswa dari pemerintah Belanda sebesar Rp.4 perbulan. Tahun 1920, ia telah menyelesaikan pendidikan di Normaal Cursus, kemudian melanjutkan ke Normal School (sekolah guru yang sebenarnya) di Langsa, Aceh Timur dan selesai 1923.&lt;br /&gt;Selesai di Normal School Langsa, Soeman Hs kembali ke Batantua. Setelah tiga bulan di Batantua, ia diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di HIS (sekolah Belanda) di Siak Sri Indrapura. Tahun 1930, ia diangkat menjadi Kepala Sekolah Melayu dan Penilik Sekolah di Pasir Pengarayan. Menjelang Kemerderkan RI tahun 1945, ia ditunjuk menjadi ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Pasir Pengarayan. Semasa masih menjabat Ketua KNIP, pada tahun 1946 ia diangkat menjadi Anggota DPR di Pekanbaru Riau. Kemudian tahun 1948, ketika Yogyakarta diduduki Belanda, ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Gurilla (KPG) Rokan Kanan. Tahun 1950, menjabat sebagai Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Pekanbaru yang berakhir tahun 1960. Baru saja memasuki masa pensiun, tahun 1961, Soeman Hs diangkat menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) merangkap sebagai kepala Bagian Keuangan di Kantor Gubernur Riau oleh Kaharuddin Nasution (Gubernur Riau waktu itu). Sampai tahun 1998, Soeman Hs masih menjabat Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau dan Ketua Yayasan Setia Dharma.&lt;br /&gt;Soeman Hs mulai menggemari sastra ketika ia  masih belajar di Sekolah Melayu. Untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang sastra, ia sering mengikuti pembicaraan ayahnya dengan para saudagar yang datang ke rumahnya tentang kehidupan di Singapura. Dari pembicaraan tersebut, ia kemudian banyak berkhayal dan memperoleh banyak inspirasi, serta beberapa cerita. Selain itu, ia juga banyak memperoleh inspirasi dengan banyak membaca buku di perpustakaan. Dua buku yang diminati ketika itu, Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya M. Kasim. Kepengarangan Soeman Hs juga muncul berkat dorongan dari gurunya, M. Kasim, yang sering menceritakan pengalamannya menulis. Tulisan-tulisan Soeman Hs telah dimuat dalam majalah ibukota maupun di beberapa harian lainnya. Di harian Indonesia Raya ia tercatat sebagai penulis tetap, dan di majalah Harmonis, Jakarta (1977-1978) ia khusus mengisi kolom Menyelami Bahasa Indonesia. Di antara tulisannya yang pernah dimuat dalam kolom tersebut, yaitu: Senyum dan Tawa, Kalau Hari Panas Lupa Kacang Akan Kulitnya, Marilah Kita Bersikap Hidup Sederhana, dan lain-lain. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengasuh ruang siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di Stasiun RRI Pekanbaru yang ditayangkan dua kali seminggu. Pada tahun 1972, ia sempat menerbitkan sebuah majalah anak-anak bernama Nenek Moyang, meskipun hanya beberapa kali terbitan karena kesulitan dana. &lt;br /&gt;Soeman Hs meninggal dunia pada hari Sabtu 8 Mei 1999 di rumahnya, Jl. Tangkubanperahu, Pekanbaru dalam usia 95 tahun. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Hasnah dan 9 orang anak yakni Syamsul Bahri (sulung), Sawitri, Syamsiar, Faharuddin, Mansyurdin, Burhanuddin, Najemah Hanum, dan Rosman (bungsu), serta sejumlah cucu dan cicit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemikiran &lt;br /&gt;Berkaitan dengan dunia kesusastraan, Soeman Hs memiliki pandangan tersendiri, yaitu: &lt;br /&gt;1. Hakekat kesusastraan adalah untuk masyarakat. Karena bagaimanapun baiknya sebuah karya puisi, kalau sukar dimengerti akan menjadikan karya tersebut tidak dekat dengan masyarakat.&lt;br /&gt;2. Dalam menulis sebuah novel, ia selalu memakai nama-nama asing dalam setiap novelnya, karena ia ingin mendobrak adat yang kaku. Untuk menggambarkan hal ini, sengaja ia pilih tokoh orang asing agar lebih mudah diterima jika melawan adat. Ini adalah salah satu strategi kepengarangan, agar cerita dalam roman tersebut bisa diterima. Selain itu, judul pada setiap karya juga harus menarik. Sebagai contoh, Percobaan Setia. Menurutnya, judul ini menarik, karena seseorang yang sudah setia masih terus dicoba. &lt;br /&gt;3. Dalam karya Kasih Tak Terlerai, ia tampak lebih banyak berbicara langsung dari pada memberi hidup pada tokoh-tokohnya. Dengan gaya tersebut, terasa kepada kita suatu pemaksaan kepada tokoh-tokohnya untuk hidup. Dengan demikian memaksa pula terhadap pembaca untuk mempercayai segala gerak mereka.  &lt;br /&gt;3. Karya-karya&lt;br /&gt;Sebagai sastrawan, Soeman Hs telah melahirkan beberapa karya berupa roman dan cerpen, yaitu:&lt;br /&gt;1. Kasih Tak Terlarai, Jakarta: Balai Pustaka, 1930. &lt;br /&gt;2. Percobaan Setia, Jakarta: Balai Pustaka, 1931. &lt;br /&gt;3. Mencari Pencuri Anak Perawan, Jakarta: Balai Pustaka, 1932. &lt;br /&gt;4. Kasih Tersesat, Jakarta: Balai Pustaka, 1932. &lt;br /&gt;5. Kawan Bergelut (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1938. &lt;br /&gt;6. Tebusan Darah, Medan: Dunia Pengalaman, 1939. &lt;br /&gt;3. Penghargaan&lt;br /&gt;Atas jasa-jasanya sebagai pahlawan pembela tanah air, Soeman Hs telah dianugerahi sebuah Penghargaan Tertinggi dari Komandan Daerah Militer Riau Utara (KDMRU) pada tahun 1949.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-909985055570672319?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/909985055570672319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=909985055570672319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/909985055570672319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/909985055570672319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/soeman-hs.html' title='Soeman HS'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3571420046622624133</id><published>2010-10-12T15:38:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Nuruddin Al-Raniri</title><content type='html'>A. Riwayat hidup &lt;br /&gt;Nuruddin al-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Nama aslinya adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Raniri. Ia lahir di Ranir (Rander), Gujarat, India, dan mengaku memiliki darah suku Quraisy, suku yang juga menurunkan Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah seorang pedagang Arab yang bergiat dalam pendidikan agama (Piah dkk., 2002: 59-60).&lt;br /&gt;Nuruddin adalah seorang polymath, yaitu orang yang pengetahuannya tak terbatas dalam satu cabang pengetahuan saja. Pengetahuannya sangat luas, meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih, dan mistisisme. Nuruddin mula-mula mempelajari bahasa Melayu di Aceh, lalu memperdalam pengetahuan agama ketika melakukan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah, ia mendapati bahwa pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani sangat besar di Aceh. Karena tidak cocok dengan aliran wujudiyah yang disebarkan oleh Syamsuddin, Nuruddin pindah ke Semenanjung Melaka dan memperdalam ilmu agama dan bahasa Melayu di sana.&lt;br /&gt;Selama tinggal di semenanjung, Nuruddin menulis beberapa buah kitab. Ia juga membaca Hikayat Seri Rama dan Hikayat Inderaputera, yang kemudian dikritiknya dengan tajam, serta Hikayat Iskandar Zulkarnain. Ia juga membaca Taj as-Salatin karya Bukhari al-Jauhari dan Sulalat as-Salatin yang populer pada masa itu. Kedua karya ini memberi pengaruh yang besar pada karyatamanya sendiri, Bustan as-Salatin (Piah dkk., 2002: 60)&lt;br /&gt;Pada tahun 1637 ia kembali ke Aceh dan tinggal di sana selama tujuh tahun. Saat itu Syekh Syamsuddin as-Sumatrani telah meninggal. Berkat keluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin. Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, dan Syeikh di Masjid Bait al-Rahman.&lt;br /&gt;Pada saat ia berjaya sebagai pejabat kesultanan inilah, dengan dibantu oleh Abdul Rauf Singkel, ia melakukan gerakan pemberantasan aliran wujudiyah yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsudin as-Sumatrani. Karya-karya kedua ulama sufi itu dibakar dan para penganut aliran wujudiyah  dituduh murtad serta dikejar-kejar karena dituduh bersekongkol untuk membunuh istri Sultan, Ratu Safiatun Johan Berdaulat.&lt;br /&gt;Keadaan berbalik melawan Nuruddin ketika Sultan Iskandar Tani mangkat dan digantikan oleh istrinya, Sultanah Safiatuddin Johan Berdaulat (1641-1675). Polemik antara Nuruddin dan aliran wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang adalah seorang tokoh yang namanya sama dengan salah satu karya Hamzah Fansuri, yaitu Saif ar-Rijl, yang berasal dari Minangkabau dan baru kembali ke Aceh dari Surat (Braginsky, 1998: 473). Saif ar-Rijl mendapat dukungan sebagian besar kalangan Aceh, yang merasa tidak senang dengan besarnya pengaruh orang asing di istana Aceh. Untuk menyelesaikan pertikaian itu mereka mencari nasihat sang ratu, tetapi sang ratu menolak dengan dalih tidak berwenang dalam soal ketuhanan.&lt;br /&gt;Sesudah berpolemik selama sekitar satu bulan, Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh dengan begitu tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan karangannya yang berjudul Jawahir al-`Ulum fi Kasyfi al-Ma`lum (Hakikat Ilmu dalam Menyingkap Objek Pengetahuan) (Takeshi Ito, 1978: 489-491; via Braginsky, 1998: 473-474). Nuruddin akhirnya ia kembali ke Ranir. Ia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 21 September 1658 (Piah dkk., 2002: 60).&lt;br /&gt;B. Pemikiran&lt;br /&gt;1. Teologi&lt;br /&gt;Mungkin yang diingat orang ketika pertama kali membicarakan Nuruddin al-Raniri adalah pertentangannya dengan aliran wujudiyah, yang disebarkan oleh penyair sufi Hamzah Fansuri dan para pengikutnya. Berkat kedekatannya dengan Sultan Iskandar Tani, Nuruddin berhasil menggerakkan kekuatan militer untuk memberantas aliran yang dihujatnya sebagai penyimpangan itu.&lt;br /&gt;Kegigihan Nuruddin dalam memberantas gerakan wujudiyah adalah konsekuensi logis dari penalarannya dalam bidang teologi. Ia memang dikenal sebagai seorang ortodoks dan bersemangat besar dalam memurnikan ajaran Islam. Dalam Sirat al-Mustakim, ia berkomentar dengan nada sinis tentang Hikayat Inderaputera. Menurutnya, seperti juga Hikayat Seri Rama, hikayat ini dapat digunakan di dalam jamban saja, oleh karena di dalamnya nama Allah tidak disebut-sebut (Braginsky, 1998: 293).&lt;br /&gt;Nuruddin menulis beberapa kitab khusus untuk melawan premis-premis wujudiyah, antara lain Hill az-Zill (Sifat Bayang-bayang), Syifat al-Qulb (Pengobatan Hati), Tibyan fi Ma`rifat al-Adyan (Penjelasan tentang Kepercayaan), Hujjat al-Siddiq li Daf az-Zindiq (Pembuktian Ulama dalam Membantah Penyokong Bidah), Asrar al-Insan fi Ma`rifat ar-Ruh wal ar-Rahman (Rahasia Manusia dalam Pengenalan Ruh dan Yang Maha Pengasih). &lt;br /&gt;Posisi teologis Nuruddin dapat dilacak hingga seorang sufi India yang terkenal, Ahmad Sirhindi (1593-1624), walaupun seakan-akan tidak ditemukan petunjuk tentang hal ini. Karena, pandangan Nuruddin umumnya sangat dekat dengan aliran wahdat asy-syuhud yang dikembangkan oleh Sirhindi. Yang mendekatkan dua tokoh sufi ini adalah kecenderungan mereka yang mencolok pada hukum syariat ketimbang pada pengalaman ekstasis, penarikan garis tegas antara Yang Maha Esa dengan dunia, dan kritik mereka yang tajam terhadap kecenderungan sifat-sifat bidah dalam tasawuf, antara lain sifatnya yang dalam anggapan mereka panteistis (Farman dalam via Braginsky 1998: 472).&lt;br /&gt;Dalam Hujjat al-Siddiq Li daf al-Zindiq (Dalil orang Benar untuk Menolak Itikad Orang yang Zindiq), Nuruddin berpendapat bahwa wujud Tuhan adalah wujud yang hakiki, sementara segala yang lain, karena diciptakan dari ketiadaan (atau ketidakadaan), tidak mungkin menjadi analogi dari wujud yang hakiki itu. Membadingkan kedua wujud itu adalah perbuatan yang murtad. Nuruddin juga menyatakan bahwa Yang Ilahi adalah wujud yang pasti, sementara eksistensi dunia hanyalah merupakan salah satu saja dari potensi eksistensi. Tuhan adalah sang pencipta, dunia adalah ciptaan-Nya. Tidak membedakan di antara Tuhan dan dunia akan menimbulkan kebingungan di antara kaum Muslim dan menyimpang dari wahyu dan akal sehat (Piah dkk., 2002: 365).&lt;br /&gt;Selain itu, Nuruddin juga menulis sebuah kitab berjudul Jawahir al-`Ulum fi Kasyfi al-Ma`lum (Hakikat Ilmu dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Di dalam kitab ini, ia berpendapat bahwa Tuhan adalah satu-satunya realitas yang hakiki. Zat Tuhan dinyatakan dengan nama-nama suci Allah (Asmaul Husna). Ada banyak nama yang digunakan oleh manusia untuk merujuk pada sifat-sifat Tuhan Yang Maha Sempurna. Sifat-sifat ini tidak dapat dipisahkan dari zat Tuhan, walaupun dalam pikiran manusia sifat-sifat itu tampak berbeda. Memisahkan antara zat hakiki Tuhan dengan sifat-sifat-Nya adalah perbuatan yang paling murtad, karena hal itu berarti menyangkal keesaan Tuhan (Ahmad Daudy dalam Piah dkk., 2002: 367).&lt;br /&gt;Selanjutnya, Nuruddin memberikan daftar Sifat-sifat Ilahi, yaitu qidam (dahulu), baqa (kekal), mukhalafah al-hawadits (berbeda dengan makhluk), qiamuhu bi nafsih (berdiri sendiri), dan wahdaniyah (tunggal). Sifat-sifat Ilahi (berdasarkan analogi) ada tujuh, yaitu al-hayat (hidup), al-ilmu (mengetahui), al-qudrah (kuasa), al-iradah (kehendak), al-sama`u (mendengar), al-basaru (melihat), dan al-kalamu (berbicara). Dari sifat-sifat ini muncullah sifat ma`nawiyah, yaitu al-Hayatu (Yang Maha Hidup), al-`Alimun (Yang maha Mengetahui), al-Qadiru (Yang Maha Kuasa), al-Muridu (Yang Maha Berkehendak), al-Sami`u (Yang Maha Mendengar), al-Basiru (Yang Maha Melihat), al-Mutakallimu (Yang Maha Berfirman). Dari sifat-sifat ma`nawiyah ini lahirlah sifat-sifat fi il yang mempunyai hubungan dengan alam makhluk, antara lain al-Khaliq (Sang Maha Pencipta), al-Raziq (Sang Pemberi Rezeki), al-Hadi (Sang Pemberi Petunjuk), al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan), al-Mumit (Yang Maha Mematikan), dan lain-lain (Ahmad Daudy 1983: 94-95 via Piah dkk., 2002: 366).&lt;br /&gt;Dalam karya-karya polemiknya terhadap Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin selalu menuduh mereka sebagai pendakwah ajaran-ajaran bidah yang sesat, bahwa Allah bersifat imanen belaka, tidak transenden, dan dunia ini kekal. Menurut Nuruddin, mereka juga tidak mengakui bahwa Al-Quran tidak bersifat makhluk, yaitu tercipta. Lebih dari itu semua, demikian menurut Nuruddin, mereka bahkan mendewakan diri sendiri, dengan penegasannya bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan Allah. Lebih lanjut Nuruddin berusaha membuktikan, bahwa ajaran mereka sama dengan Zoroasterisme dan agama Kristen, dengan Vedanta Hindu dan Buddhisme Mahayana di Tibet, dengan Kadariyyah, Mutazillah, dan doktrin “falasifah” (Braginsky, 1998: 472).&lt;br /&gt;Uraian Nuruddin tentang konsep-konsep Hamzah Fansuri dan Syamsuddin dikemukakan dalam bentuk pemutarbalikan dan bernada karikatural. Sementara itu Nuruddin, seperti halnya kalangan pengikut awam wujudiyah, tidak selalu bisa memahami istilah-istilah campuran Arab-Melayu yang digunakan lawannya. Misalnya, bagi Nuruddin sama sekali tidak jelas masalah perbedaan, yang dalam peristilahan Hamzah bersifat mendasar, yaitu antara istilah Melayu “ada”, yang merujuk pada eksistensi luar (wahmi), dan istilah Arab “wujud”, yang sesuai dengan eksistensi dalam (hakiki) (Attas dalam Braginsky, 1998: 472).&lt;br /&gt;Walaupun sepintas lalu lawan-lawan ideologi utama Nuruddin adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, tetapi sesungguhnya ia pun lebih menentang para pengikut mereka yang memang besar pengaruhnya dikalangan rakyat dan penguasa Aceh. Dalam hal ini, Nuruddin tidak hanya hendak mempertahankan kemurnian Islam semata-mata (Braginsky, 1998: 472), tetapi agaknya juga ingin merebut dan mempertahankan tempat di sisi Sultan Iskandar Tani. &lt;br /&gt;Selama beberapa saat, Nuruddin berhasil membungkam aliran wujudiyah. Tetapi aliran itu bangkit kembali di Aceh tak lama setelah Sultan Iskandar Tani mangkat, dan akhirnya bahkan tersebar hingga ke daerah-daerah lain, seperti Jawa, yang kemudian memperoleh bentuk sebagai doktrin manunggaling kawulo gusti (Teeuw, 1994: 67).&lt;br /&gt;2. Sejarah&lt;br /&gt;Dalam bidang sejarah, sepak terjang Nuruddin tidak “seberingas” dalam bidang teologi. Bustan as-Salatin karangannya adalah karyatama historiografi yang menjadi dokumen penting tentang kesultanan Aceh. Karya ini merupakan titah dari Sultan Iskandar Tani. Walaupun dibebani oleh kewajiban untuk mengagungkan sang patron, tetapi pencapaian intelektual ini mengandung juga nilai-nilai historis dan sastrawi yang tinggi. Selain itu, kitab ini juga berbeda dari kitab-kitab sejarah Melayu yang lain pada masa itu terutama karena tidak lagi memasukkan mitos dan legenda.&lt;br /&gt;Bustan as-Salatin ditulis antara tahun 1638-1641 dan terbagi ke dalam tujuh bagian dan terdiri dari empat puluh bab. &lt;br /&gt;Bagian 1 terdiri dari tiga bab, yang membahas tentang Bumi dan ketujuh petala langit, Nur Muhammad, janji Tuhan terhadap seluruh umat manusia, arasy (tahta) Tuhan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bagian 2 membahas tentang sejarah nabi-nabi dan raja-raja. Dua bab terakhir pada bagian ini ditekankan pada Semenanjung Melaka dan Sumatra. Bab 12 diadaptasi dari Sejarah Melayu dan diakhiri dengan pembahasan tentang penobatan Sultan Iskandar Tani yang megah. Bab 13 membahas tentang sejarah raja-raja Aceh. &lt;br /&gt;Bagian 3 menceritakan tentang para raja yang adil dan wazir yang bijak.&lt;br /&gt;Bagian 4 membatas tentang raja-raja Muslim yang saleh dan para pahlawan Muslim. &lt;br /&gt;Bagian 5 menceritakan tentang raja-raja yang bengis dan para bangsawan yang dungu yang berusaha memberontak kepada raja mereka.&lt;br /&gt;Bagian 6 terdiri dari dua bab dan bercerita tentang orang-orang yang mulia dan rendah hati serta para pendekar yang gagah berani.&lt;br /&gt;Bagian 7 membahas beragam topik, seperti kebijaksanaan, pengetahuan, pengertian, ada kaum wanita, dan mencakup juga beberapa cerita hantu yang ganjil dan menarik.&lt;br /&gt;Ketika menulis Bustan as-Salatin, Nuruddin berusaha keras agar karya ini dapat menyamai atau bahkan melebihi kitab legendaris Taj as-Salatin—ia memang gemar berpolemik, seperti yang terlihat dalam karya-karya polemisnya dengan aliran wujuidyah yang cukup banyak. Karena itulah tema-tema dalam kedua kitab ini hampir sama, tetapi Nuruddin menambahkan pembahasan yang luas tentang sejarah lokal. Nuruddin juga berusaha mengikuti jejak Tas as-Salatin dengan menggunakan bentuk sajak yang diambil dari khasanah Persia, yaitu syair, seperti terlihat pada bait dari bab 13 Bagian 2 ini:&lt;br /&gt;Ialah perkasa terlalu berani,&lt;br /&gt;Turun-temurun nasab Sultani,&lt;br /&gt;Ialah menyunjung inayat rahmani,&lt;br /&gt;Bergelar Sultan Iskandar Tani.&lt;br /&gt;(Braginsky, 1998: 335)&lt;br /&gt;Menilik isinya, Bustan as-Salatin merupakan sebuah gubahan ensiklopedis yang menggabungkan genre “sejarah universal” dengan “cermin didaktis”. Karangan ini begitu besar sehingga tidak tersimpan sebuah pun naskah yang mengandung semua babnya. Biasanya naskah-naskahnya berisi hanya satu atau dua-tiga bab tertentu (Braginsky, 1998: 336). &lt;br /&gt;Bustan memberikan gambaran tentang Aceh pada abad ke-17, walaupun Nuruddin sama sekali tidak menyebutkan tentang Hamzah Fansuri—tetapi Nuruddin menyebutkannya dalam beberapa kitab lain. Namun, kitab ini sering dianggap gagal dan tidak mampu menyamai kebesaran Taj as-Salatin.&lt;br /&gt;Jika dibandingkan, maka Taj as-Salatin adalah sebuah kitab teologis-etis. Maka yang ditunjukkan oleh kitab ini adalah, bagaimana hukum Ilahi menegakkan harmoni dunia, yang di dalam kehidupan masyarakat diwujudkan dalam pemerintahan yang bersendi atas akal dan keadilan. Perjalanan sejarahnya pun, misalnya dalam hal genealogi raja-raja Iran sebelum Islam, pada hakikatnya tidak lain merupakan ilustrasi untuk konsepsi etika yang dirumuskan oleh Bukhari al-Jauhari, sang pengarangnya. Melalui perumusan itu, bangsa Melayu diberi kemungkinan untuk masuk ke dalam golongan Islam yang berbudaya.&lt;br /&gt;Adapaun Bustan as-Salatin adalah sebuah kitab yang bersifat teologis-historis. Di dalamnya dilukiskan gambaran dinamis tentang penciptaan alam semesta dan kelanjutan proses itu, yaitu sejarah dunia, namun terutama sejarah dunia Islam. Pada pasal-pasal terakhir bab sejarahnya, Bustan dengan tegas memasukkan sejarah bangsa Melayu ke dalam sejarah dunia yang dipaparkan sebelumnya. Dengan demikian ia seakan-akan menamatkan pekerjaan yang dimulai oleh pengarang Sejarah Melayu, yang kroniknya dari versi tahun 1612 diketahui dengan baik oleh syek kelahiran Gujarat ini (Braginsky, 1998: 339).&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut, dunia Melayu, melalui sejarahnya yang bermula dari Iskandar Zulkarnain, mempunyai akarnya di dalam sistem budaya Islam. Barulah kemudian kepada bangsa Melayu dianjurkan konsepsi tentang etika sosial, tingkah laku raja-raja dan pembesar-pembesar negara, seperti yang yang diceritakan dalam Tas as-Salatin, juga tentang dasar-dasar pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam.&lt;br /&gt;C. Karya &lt;br /&gt;Secara keseluruhan, Nuruddin Al-Raniri menulis sekitar tiga puluh naskah, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Bustan as-salatin (Taman Raja-raja) (1638)&lt;br /&gt;2. Sirat al-Mustakin (1634)&lt;br /&gt;3. Durrat al-Faraid (1635)&lt;br /&gt;4. Hidayat al-Habib (1635)&lt;br /&gt;5. Akhbar al-Akhirah fi Ahwal Yaum al-Qiyamah&lt;br /&gt;6. Al-Tabiyan fi Ma`rifat al-`Adyan&lt;br /&gt;7. Asrar al-Insan fi Ma`rifat al-Ruh wa al-Rahman&lt;br /&gt;8. Lath`aif al-Asrar&lt;br /&gt;9. Syifa` al-Qulub&lt;br /&gt;10. Undat al-I`tiwad&lt;br /&gt;11. Jawahir al-Ulum fi Kasyfi al-Ma`lum&lt;br /&gt;D. Pengaruh &lt;br /&gt;Walaupun dianggap lebih rendah ketimbang Taj as-Salatin, Bustan as-Salatin adalah karyatama yang tetap dibaca orang bahkan setelah Nuruddin meninggal. Kitab ini kemungkinan besar juga mempengaruhi pengarang Hikayat Hang Tuah karena pelukisan tentang taman istana Istanbul di dalam karya itu mengambil contoh dari pelukisan Nuruddin tentang taman istana Sultan Iskandar Tani (Piah dkk., 2002: 440).&lt;br /&gt;Selain itu, posisi Nuruddin al-Raniri yang cenderung pro-hukum syariat ketimbang pengalaman ekstasis dalam pengalaman ilahiah masih dapat dilihat juga dalam pertentangan antara, misalnya, Wali Songo di Jawa dengan paham manunggaling kawulo gusti di Jawa, yang disebarkan oleh sosok semi-mitis Syeh Siti Jenar. Sedangkan gaya historiografinya yang tidak lagi memperhitungkan mitos dan legenda secara ketat adalah gaya penulisan yang merupakan alternatif segar bagi historiografi Islam-Melayu, yang baru dipraktekkan lagi secara utuh pada masa modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Bacaan:&lt;br /&gt;• Braginsky, K.I., 1998. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS&lt;br /&gt;• Harun Mat Piah, dkk., 2002. Traditional Malay Literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka&lt;br /&gt;• Teeuw, A., 1994. Iindonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-3571420046622624133?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/3571420046622624133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=3571420046622624133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3571420046622624133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/3571420046622624133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/nuruddin-al-raniri.html' title='Nuruddin Al-Raniri'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4287391770804583213</id><published>2010-10-02T10:44:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Siti Roehana Koedoes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://melayuonline.com/pict/tp49e2e46b6e408.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 170px;" src="http://melayuonline.com/pict/tp49e2e46b6e408.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat Hidup &lt;br /&gt;Pejuang kaum perempuan Minangkabau ini dilahirkan dengan nama Siti Roehana. Setelah menikah dengan Abdoel Koedoes, kemudian dia dikenal sebagai Siti Roehana Koedoes. Roehana dilahirkan di Kotogadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884 (Tamar Djaja, 1980: 26). Roehana berasal dari keluarga terpandang, dari salah satu jalur matrilineal tertua di Kotogadang, yakni keturunan Datuk Dinagari dari Puak Kato. Ayah Roehana, Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, adalah seorang hoofdjaksa (jaksa kepala), jabatan yang termasuk berkelas pada masa itu. Roehana bersaudara tiri dengan Soetan Sjahrir—pejuang pergerakan yang kelak menjadi Perdana Menteri RI pertama—satu bapak namun lain ibu (Mrazek, 1996: 4).&lt;br /&gt;Roehana sangat dekat dengan ayahnya. Julukan “Roehana anak ayah” pun disematkan kepada Roehana karena dia dianggap sebagai anak kesayangan. Rasjad memang berperan besar dalam proses pendewasaan Roehana dan berharap putri tercintanya itu akan tumbuh menjadi seorang perempuan yang berguna bagi keluarga dan bangsanya. Bakat revolusioner Roehana sudah terlihat sedari dini. Dia gemar membaca buku dan surat kabar, suka menulis, dan berlatih menyulam. &lt;br /&gt;Berkat bimbingan sang ayah, Roehana dengan cepat menguasai ilmu-ilmu baru. Ayahnyalah yang mendidik Roehana dengan berlangganan surat kabar dan menyediakan buku-buku bacaan. Sang ayah bahkan sampai memesan koran dan buku dari Singapura untuk dibaca Roehana. Sepanjang hayatnya, Roehana tidak pernah merasakan sekolah formal karena harus hidup nomaden mengikuti tempat tugas sang ayah. Selain itu, Roehana juga berkewajiban mengasuh dan menjaga adik-adiknya. Jadilah Rasjad berperan sebagai ayah sekaligus guru bagi anak-anaknya, termasuk Roehana.&lt;br /&gt;Ketika mengikuti ayahnya bertugas di Alahan Panjang, pengetahuan yang didapat Roehana bertambah lengkap. Keluarga Roehana bertetangga baik dengan seorang jaksa, Lebi Rajo nan Soetan, dan istrinya, Adiesah. Kebetulan keluarga kecil ini belum dikaruniai momongan. Keluarga Lebi Rajo kemudian berandil cukup besar dalam proses kreatif Roehana. Roehana kerap diajari membaca, menulis, serta merajut benang wol yang merupakan keahlian perempuan Belanda (Fitriyanti, 2001: 18). Bermacam surat kabar dan buku yang terdapat di rumah Adiesah dilahap Roehana. Sementara di rumahnya sendiri, Roehana juga membaca buku  milik ayahnya seperti buku sastra, politik, atau hukum. Beginilah cara Roehana mengenyam pendidikan. &lt;br /&gt;Proses pembelajaran yang menyenangkan di Alahan Panjang cuma dua tahun dirasakan Roehana. Rasjad dipindatugaskan ke Simpang Tonang Talu gara-gara sikapnya yang kritis terhadap atasan. Di tempat tugas ayahnya sekaligus tempat tinggal keluarganya yang baru inilah Roehana memulai jejaknya sebagai seorang guru muda. Ini bermula dari kebiasaan unik Roehana—yang bakal menjadi trade mark gaya Roehana kecil menarik murid—yakni membaca surat kabar ataupun buku dengan suara lantang di depan orang banyak di tempat umum maupun di teras rumahnya (Hajar NS, 2008: 186).&lt;br /&gt;Awalnya hanya dari kebiasaan Roehana membaca buku-buku dan koran dengan suara yang nyaring lagi lantang, namun siapa sangka kegemaran ini justru yang membuat lingkungan sekitarnya sadar bahwa Roehana sangat berbakat untuk menjadi guru. Mulanya tak puas mendengar, berangsur para tetangganya mulai tertarik belajar membaca dan menulis agar bisa membaca sendiri cerita yang diperdengarkan Roehana. &lt;br /&gt;Ternyata umpan Roehana mujarab menjaring minat belajar orang sekampung. Timbullah gagasan mendirikan sekolah di rumah, teras disulap menjadi tempat belajar sederhana, sedangkan ayah Roehana membantu pengadaan alat tulis yang dibagikan secara gratis. Cukup beralas tikar dan duduk bersila, pelajaran membaca dan menulis dimulai dengan Roehana sebagai guru. Ayah Roehana pun bersedia mengajar materi budi-pekerti dan agama.&lt;br /&gt;Kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung di rumah Roehana semakin riuh. Dari anak-anak sampai para ibu muda terlibat proses pendidikan dalam suasana yang menggembirakan. Roehana  mulai memperkaya materi pengajaran. Tak hanya membaca dan menulis saja, tapi juga pelajaran agama dengan menyertakan belajar membaca dan menulis Arab agar tidak sekadar menghafal, sebagaimana pelajaran agama di surau-surau. Nenek Roehana, Tuo Sarimin, turut andil dengan memberikan pelajaran keterampilan menyulam, sementara Tuo Sini, adik neneknya yang selain pintar mendongeng juga mengajar anyam-menganyam.&lt;br /&gt;Menjalani peran sebagai penyuluh kaum perempuan dilakoni Roehana cukup lama, sejak belia hingga Roehana berusia 24 tahun. Selama kurun waktu itu, Roehana telah melakukan banyak gebrakan untuk mendidik kaum perempuan. Jasa terbesar Roehana tentu saja ketika mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang pada 1911. Sekolah yang mendidik keahlian anak-anak perempuan ini merupakan tindak lanjut dari dideklarasikannya perkumpulan perempuan Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911 di mana Roehana didaulat sebagai ketuanya. Di bawah tangan halus Roehana, KAS berkembang pesat. Para istri pejabat Belanda tertarik dengan hasil kerajinan siswi-siswi KAS yang kualitasnya dinilai sudah layak ekspor.&lt;br /&gt;Kegemilangan yang diraih Roehana tersiar ke berbagai penjuru. Hingga datang undangan, Roehana ditawari pergi ke Eropa untuk ikut dalam Internationale Tentoonstelling yang akan diadalkan di Brussel, Belgia, pada 1913. Internationale Tentoonstelling adalah ajang pameran kerajinan tahunan yang diikuti oleh peserta dari banyak negara. Ini adalah kesempatan emas Roehana untuk memamerkan sulam terawang karya perempuan Kotogadang sehingga akan dikenal lebih luas.  Namun, gara-gara fitnah dari pihak-pihak yang dengki, Roehana batal ke Eropa, padahal kabar rencana keberangkatan Roehana telah disiarkan luas.&lt;br /&gt;Gagal ke Eropa, spirit Roehana tak surut. Justru aksi jegal yang dialaminya dijadikan pelecut untuk semakin maju. Roehana bertekad untuk terus membimbing bangsanya menuju pencerahan. Kali ini pena menjadi pilihan senjatanya. Kegemarannya membaca membuat Roehana  terpantik untuk turut menulis. Ini suatu keputusan berani mengingat kala itu tak banyak perempuan yang berkecimpung di semesta media. Roehana adalah salah seorang srikandi pertama yang memulai tradisi pers di Sumatra Barat, pelopor jurnalisme perempuan Minangkabau.&lt;br /&gt;Selama menjadi guru, Roehana mengajari para muridnya menulis maupun menyadur cerita dalam bentuk syair yang memuat kearifan. Selain itu, Roehana mempunyai kebiasaan menulis catatan harian atau semacam memoar yang berisi keluh-kesah, juga apapun yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Kegemaran membaca dan menulis inilah yang kemudian membuatnya berani mencoba mengirimkan hasil pemikirannya ke beberapa surat kabar. &lt;br /&gt;Ketika Poetri Hindia terbit perdana pada 1908 di Batavia dan lantas dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia, Roehana ikut antusias menyambut kemajuan ini. Beberapa kali dia menjadi kontributor koran perempuan yang hadir berkat gagasan Tirto Adhi Soerjo  itu. Bisa jadi Roehana adalah wanita Indonesia yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis, yang bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa. Kebanyakan, para perempuan yang terlibat di dunia jurnalistik kala itu cuma sebatas sebagai “pemanis” semata, tanpa perlu susah-susah bersadar diri dalam melakoni tugas-tugas dasar di bidang jurnalistik.&lt;br /&gt;Setelah Poetri Hindia tutup buku karena Tirto Adhi Soerjo terlibat beberapa perkara delik pers dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, Roehana kemudian berpaling pada surat kabar Oetoesan Melajoe yang sudah terbit sejak 1911 (Muhidin M. Dahlan, 2008: 73). Roehana mengirim surat kepada Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe sekaligus tokoh pers terkemuka di Sumatra Barat. &lt;br /&gt;Gayung bersambut, DSM ternyata sama kepincutnya terhadap Roehana, DSM mengikuti dengan cermat setiap sepak-terjang Roehana, baik lewat gerakan-gerakan Roehana di bidang pendidikan ataupun ketajaman kalam Roehana yang dimuat di sejumlah surat kabar. Saking tertariknya, orang sepenting dan sesibuk DSM sampai rela datang langsung ke Kotogadang demi menemui Roehana. &lt;br /&gt;Hati Roehana terang girang bukan kepalang, dia segera menyampaikan keinginannya kepada DSM yang dijuluki raja pers Minangkabau itu. Roehana tidak main-main dalam hal ini, bahkan dia dengan tegas menyatakan ingin menerbitkan surat kabar khusus perempuan. “Keinginanku sebenarnya bukanlah sekadar meminta ruangan kaum ibu dalam surat kabar Oetoesan Melajoe yang bapak pimpin, tetapi kalau boleh ya penerbitan surat kabar yang istimewa untuk perempuan,” pinta Roehana. Setelah berembug, mereka kemudian bersepakat untuk menerbitkan koran khusus perempuan yang hingga saat itu belum pernah ada di Sumatra.&lt;br /&gt;Tanpa lebih banyak basa-basi, meluncurlah edisi perdana Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Roehana dipercaya untuk mengendalikan surat kabar ini sebagai pemimpin redaksinya. Inilah perempuan Indonesia pertama yang secara langsung memimpin surat kabar dan secara teknis sangat terlibat dalam tiap-tiap terbitannya. Bersama Roehana, duduk pula nama-nama srikandi lain di jajaran keredaksian Soenting Melajoe, seperti Zoebaedah Ratna Joewita binti Datoek Soetan Maharadja yang berkedudukan di Padang serta Roehana binti Maharadja Soetan yang mengasuh biro Soenting Melajoe di Bukittinggi. Ratna Joewita, anak perempuan DSM, sudah cukup kenyang pengalaman karena pernah menjadi penulis di Poetri Hindia, sama seperti yang pernah dilakoni Roehana.&lt;br /&gt;DSM menyerahkan seluruh penggarapan Soenting Melajoe kepada Roehana sebagai pemimpin redaksinya. Inilah yang menjadi puncak pencitraan Roehana sebagai perempuan Indonesia pertama yang berprofesi sebagai wartawan. Awalnya, kerja Roehana hanya memetakan pemikirannya sembari merilis berita dan tulisan dari koran-koran luar negeri untuk ditampilkan di Soenting Melajoe. Namun kemudian Roehana benar-benar menjalani tugasnya sebagai wartawan. Roehana tak jarang bolak-balik Kotogadang-Bukittinggi untuk meliput peristiwa-peristiwa aktual yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;Soenting Melajoe diterbitkan dari Padang namun Roehana tak perlu berpindah domisili. Dari Kotogadang, Roehana tetap bisa mengendalikan redaksi Soenting Melajoe, yakni cukup dengan mengirim tulisan selama sepekan dan berkoordinasi dengan awak redaksi di Padang. Roehana menulis dengan tulisan tangan karena dia merasa masih nyaman dengan gaya konvensional ini, selain tidak memiliki dan belum mahir menggunakan mesin ketik. Kecuali aktif dan produktif dalam menulis, Roehana turun langsung mencari bakat terpendam para perempuan yang gemar menulis ke pelosok-pelosok, serta mengusahakan dibukanya biro-biro Soenting Melajoe di berbagai tempat untuk memudahkan distribusinya. &lt;br /&gt;Selain bersama Soenting Melajoe, Roehana juga terlibat dalam beberapa koran lainnya. Pada 1913,  di samping pekerjaaan utamanya sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe, Roehana juga menjadi awak redaksi Saoedara Hindia, surat kabar terbitan Kotogadang, tempat Roehana bermukim. Selanjutnya, pada 1920, saat Roehana menetap di Medan sembari mengajar pada sekolah Dharma Putra, dia membantu penerbitan surat kabar Perempoean Bergerak (Dian Andika Winda, 2008: 148).&lt;br /&gt;Perempoean Bergerak merupakan koran terbitan Deli yang juga mengusung semangat feminisme kendati tetap memuat sajian rumah tangga, sopan-santun, keluarga, penjagaan anak, pergaulan sehari-hari, dan masak memasak. Segmen pembacanya pun juga ditujukan bagi laki-laki. Argumentasinya, kemajuan perempuan dan bangsa hanya akan tercapai dengan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. ‘Perempoean Bergerak dipelopori para aktivis perempuan ternama kala itu, antara lain Boetet Satidjah, Anong S Hamidah, Siti Sahara, Ch Baridjah, TA Safariah, dan Siti Satiaman. Nama terakhir yang disebut adalah pemimpin redaksi sekaligus istri dari jurnalis terkemuka, Parada Harahap (Rhoma Dwi Aria Yuliantri, 2008: 88). &lt;br /&gt;Roehana sempat pula menjadi redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Sumatra yang diterbitkan di Padang. Namun, meski sudah kenyang berbagai pengalaman di dunia pers, Soenting Melajoe tetap saja menjadi ciri yang paling lekat pada diri Roehana sebagai seorang jurnalis perempuan yang paling terkemuka.&lt;br /&gt;Roehana setia mengawal Soenting Melajoe dari awal hingga pungkas. Sejak Soenting Melajoe pertama kali diluncurkan sampai koran ini berhenti terbit pada 1921, posisi Roehana sebagai motor utama penggeraknya tak tergantikan. Sembilan warsa yang dilakoni Roehana bersama Soenting Melajoe bukanlah waktu yang sebentar, tak banyak koran yang bisa bertahan selama itu dalam kurun dekade kedua abad ke-20 tersebut. Berkat kegigihan dan komitmen Roehana demi kemajuan kaum perempuan, Soenting Melajoe mampu melangsungkan perjuangannya.&lt;br /&gt;Pada usia 24 tahun, Roehana menikah dengan Abdoel Koedoes, seorang notaris sekaligus jurnalis koran Tjahaja Soematra. Suami Roehana juga tercatat sebagai anggota organisasi pergerakan yang dipimpin Tjipto Mangoenkoesoemo, Insulide. Setelah menikah dengan Abdoel Koedoes, Roehana berhak menyandang nama belakang suaminya. Sejak itulah dia lebih dikenal dengan nama Siti Roehana Koedoes. Suami-istri yang konsisten berjuang demi kemajuan bangsanya itu dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Djasman.&lt;br /&gt;Pada 17 Agustus 1972, tepat ketika seluruh rakyat Republik Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-27, Siti Roehana Koedoes meninggal dunia di Jakarta pada usia 88 tahun. Jenasahnya dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta. Tak banyak perempuan Indonesia seperti Roehana, apalagi pada masa hidupnya yang sarat ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. Siti Roehana Koedoes, seorang perempuan yang tidak pernah mengecap pendidikan formal namun sanggup melakukan hal-hal besar demi perubahan: mendirikan sekolah perempuan, membentuk organisasi perempuan, serta menerbitkan surat kabar perempuan. Bukan kebetulan bila di ranah Sumatra, Roehana adalah sang pemulanya.&lt;br /&gt;2. Pemikiran &lt;br /&gt;Apa yang menjadi pemikiran sekaligus motivasi perjuangan Roehana bermuara pada satu hal besar: emansipasi perempuan. Hal besar inilah yang kemudian oleh Roehana diperjuangkan melalui dua jalur, yaitu pendidikan dan jurnalistik, dengan sasaran untuk kemajuan kaum perempuan di Sumatra pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;a. Pendidikan &lt;br /&gt;Keteladanan seorang guru akan menjadikan guru sebagai pendidik yang mampu memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan semua dimensi kemanusiaannya (St Kartono, 2006: 20). Maka dari itu, Roehana mengasah pengetahuannya dengan lebih banyak membaca buku dan berlangganan surat kabar, termasuk media terbitan luar negeri. Dengan banyak menjamah bacaan asing, Roehana kian menyadari perbedaan nasib perempuan di dalam negeri dengan kondisi perempuan di luar negeri. Roehana mendapati tak hanya lelaki yang bisa menikmati pendidikan, tapi juga kaum perempuan. &lt;br /&gt;Perempuan di negeri nun jauh di sana bisa memperoleh gelar sarjana, bekerja di kantor, menjadi guru, serta boleh menyatakan pendapatnya untuk turut menentukan masa depan bangsa. Kondisi kaum perempuan di dalam negeri sangat berbeda, masih dibatasi dengan aturan adat. Keadaan ini mengundang rasa prihatin dan memunculkan hasrat Roehana untuk memajukan kaum perempuan.&lt;br /&gt;Pengetahuan dari bacaan-bacaan luar negeri diterapkan Roehana saat mengajar. Roehana membeberkan nasib perempuan di Eropa yang jauh lebih baik ketimbang putri-putri negeri sendiri. Roehana sekali lagi menegaskan perlunya perempuan Minang untuk merantau demi mencari ilmu. Bila perempuan tak berani membuka pikirannya, kata Roehana, maka dia akan tersingkir dari perhatian laki-laki karena pria Minang lebih menyukai perempuan yang pintar. Pikiran Roehana tentang perempuan merantau dianggap menyimpang dari adat karena berani memasukkan perempuan dalam lingkaran rantau yang mutlak dipunyai lelaki. Tapi begitulah ciri pelopor, pikirannya pasti melampaui orang kebanyakan pada zamannya.&lt;br /&gt;Roehana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar, juga berupayamengubah paradigma masyarakat Minangkabau terhadap pendidikan untuk kaum perempuan. Roehana dengan bijak menjelaskan bahwa perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur serta taat beribadah. Kesemuanya itu hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah sudah, emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Untuk itulah diperlukannya pendidikan yang layak dan baik bagi kaum perempuan.&lt;br /&gt;b. Jurnalistik&lt;br /&gt;Pemikiran Roehana tentang emansipasi perempuan yang diguratkan melalui tulisan-tulisannya di surat kabar lebih terasa tajam. Seringkali artikel karya Roehana mengkritisi ketidakadilan yang dialami kaum hawa di negeri ini, terutama ketika Roehana memimpin Soenting Melajoe. Dominasi tulisan Roehana yang dimuat dalam Soenting Melajoe menekankan pentingnya perempuan menempuh pendidikan, baik pendidikan formal, pendidikan keluarga, juga pendidikan untuk bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada lelaki. Tulisan-tulisan Roehana cukup tajam, bahkan berulangkali menyerang adat Minangkabau yang dinilainya telah usang, tak relevan lagi dengan kemajuan zaman. &lt;br /&gt;“Saya terutama sekali menulis mengenai segi keagamaan dan keharusan adat Minangkabau, khususnya Kotogadang, yang mengubah sikap mereka mengenai perempuan,” tegas Roehana (Hajar NS, 2007: 38). Tulisannya banyak bercerita ihwal kehidupan perempuan dari lapisan menengah ke bawah. Roehana sangat paham tentang keadaan tersebut karena dalam lingkungan itulah dia menjalani kehidupan. &lt;br /&gt;Roehana juga kerap menyoroti nasib perempuan di negara miskin dan negara terjajah. Dalam salah satu artikelnya di Soenting Melajoe, Roehana menggugat nasib kaum perempuan India yang merana akibat terkekang aturan adat. Keadaan kaum perempuan India memang sangat mengenaskan, bahkan mereka diperlakukan secara tidak manusiawi. Ketika sedang menstruasi, para perempuan India harus diasingkan karena dianggap sebagai makhluk yang kotor lagi najis. Inilah yang digugat Roehana bahwa perempuan selalu saja menjadi tumbal atas nama norma adat. “Perempuan bangsa Hindu di tanah Hindustan sebelah utara dan Hindustan sebelah tengah amatlah rendah sekali derajatnya dan tiada berhak apa-apa,” tukas Roehana (Roehana Koedoes, Soenting Melajoe: 13 Desember 1918).&lt;br /&gt;Gugatan Roehana kian bernyali. Dia menulis garang kepada kaum pria yang selama ini hanya menjadikan perempuan berada di bawah kuasa mereka. Roehana menginginkan keadilan. Dia tidak mau kaumnya hanya diperlakukan sekadar sebagai pelengkap, pemuas nafsu yang kebetulan memiliki fungsi reproduksi. Roehana memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan, karena menurut Roehana, perempuan bersama laki-laki adalah unsur pembangun bangsa. Roehana mengultimatum, “Ketahuilah oleh tuan-tuan, bahwa perempuan itu sunting permainan. Janganlah tuan pilih perempuan (sama gadis atau janda) yang panjang rambut dan licin kening saja, tetapi wajiblah tuan-tuan ingat buah yang manis itu banyak berulat.” (Roehana Koedoes, Soenting Melajoe: 10 Desember 1920).&lt;br /&gt;Meski cenderung keras dalam urusan emansipasi perempuan namun Roehana tak serta-merta jadi gelap mata. Roehana masih memegang teguh kodrat asali perempuan, yakni sebagai ujung tombak dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Untuk itu, Roehana selalu menghimbau agar kaum perempuan tak jemu menimba ilmu supaya menjadi golongan yang tangguh, pandai mengelola keluarga tanpa selalu bergantung pada suami. Melalui tulisannya, Roehana menganjurkan, “Rajin-rajinlah dan tetaplah hati saudara-saudara setiap hari menuntut ilmu, karena ilmu itu telah bersendi kemajuan bagi pihak beberapa bangsa... Sebab kemajuan itu tak hanya pendapat pada pihak laki-laki saja. Bangsaku perempuan hendaknya juga dimajukan, jangan sekali ditinggalkan di belakang. Sekali lagi, anak perempuan harus terus disekolahkan!” (Hajar NS, 2008: 221).&lt;br /&gt;Berkat peran vitalnya dalam menggalang keberlangsungan Soenting Melajoe, nama Roehana melambung ke panggung pers nasional sebagai jurnalis perempuan yang konsisten memperjuangkan emansipasi. Sebagai pedagog sekaligus jurnalis, nama Roehana kemudian dikenang-kenang sebagai jurnalis pertama perempuan Pribumi karena dia juga terlibat langsung dalam membangun manajemen pers di dekade kedua abad ke-20 itu. “Soerat Kabar Perempuan di Alam Minangkabau”, demikian jargon yang diusung Soenting Melajoe. Jargon ini senafas dengan perjuangan Soenting Melajoe mengangkat harkat perempuan, utamanya adalah bagaimana mendudukan posisi yang sejajar dengan kaum laki-laki di dalam dunia pergerakan. &lt;br /&gt;Tak jemu-jemu Roehana menuntut agar hak-hak kaum perempuan tidak terlalu ditekan. Roehana berjuang sekuat tenaga melalui bidang yang dikuasainya. Lewat media surat kabar, pergerakan Roehana lebih leluasa dalam melancarkan kritikan dan sentilan pedas kepada pihak-pihak yang tak ingin kaum perempuan memperoleh kemajuan. Sebagai ransum untuk memperkaya wawasannya sebagai seorang guru sekaligus jurnalis, Roehana terus membekali dirinya dengan membaca surat kabar pergerakan, seperti Fadjar Asia, Modjopahit, Goentoer Bergerak, juga Sinar Djawa/Sinar Hindia. Koran-koran ini kebanyakan adalah corong pergerakan yang dimotori para pejuang generasi muda yang berdarah-darah menentang kolonialisme dan imperialisme. &lt;br /&gt;Roehana menemukan alasan kuat mengapa tertarik terjun ke dunia jurnalistik. Pertama, perasaaan bangga karena dengan menjadi wartawan dapat bertemu dengan para tokoh besar. Kedua, kerja-kerja menulis seorang wartawan adalah ruang untuk memerdekakan pikiran, bahkan bisa untuk mengkritik atau mengkoreksi hal-hal yang dirasa tidak benar dan dianggap perlu diketahui oleh khalayak. Ketiga, kewajiban seorang wartawan untuk mengemban amanat rakyat yang hakiki berupa kemerdekaan hati nurani rakyat. Terakhir, dengan menjadi seorang wartawan, Roehana dapat leluasa memperjuangkan nasib perempuan agar tidak terus ditindas oleh aturan adat serta perlakuan diskriminatif. Roehana berkehendak memenangkan perjuangan perempuan, dan itulah yang dilakukannya melalui Soenting Melajoe dan surat kabar lain yang dikelolanya.&lt;br /&gt;3. Jasa dan Karya&lt;br /&gt;Perjuangan nyata Roehana demi kepentingan dan kemajuan kaum perempuan sangat banyak. Sepanjang Roehana hidupnya, Roehana telah menorehkan banyak prestasi, antara lain:&lt;br /&gt;1. Menggagas perkumpulan perempuan Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911 di mana Roehana ditunjuk sebagai ketuanya.&lt;br /&gt;2. Mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang pada 1911, sekolah ini masih bertahan hingga sekarang.&lt;br /&gt;3. Menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia.&lt;br /&gt;4. Menjadi kontributor koran khusus perempuan terbitan Batavia, Poetri Hindia, pada 1908.&lt;br /&gt;5. Menggagas dan memimpin penerbitan surat kabar khusus perempuan Soenting Melajoe, yang diterbitkan di Padang sejak 10 Juli 1912.&lt;br /&gt;6. Menjadi guru di sekolah Dharma Putra di Medan pada 1920.&lt;br /&gt;7. Membantu penerbitan surat kabar terbitan Medan, Perempoean Bergerak, pada 1920.&lt;br /&gt;8. Menjadi redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Sumatra yang diterbitkan di Padang.&lt;br /&gt;4. Penghargaan&lt;br /&gt;Sebagai bentuk pengabadian atas jasa-jasa Roehana, pada 1974 pemerintah daerah Sumatra Barat memberi penghargaan kepada Roehana sebagai wartawati pertama Indonesia. Pemerintah Orde Baru tidak mau kalah, pada peringatan Hari Pers Nasional ke III, 9 Februari 1987, Roehana dianugerahi gelar sebagai perintis pers Indonesia. Selanjutnya, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut menggenapkan gemilang jasa yang ditorehkan Roehana dengan menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Roehana atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa melalui dunia jurnalistik. Penghargaan yang diberikan pada 16 Februari 2008 itu diserahkan melalui Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi, dan diterima keluarga Roehana Koedoes yang diwakili cucunya, Juneydi Juni, pada acara puncak Hari Pers Nasional tingkat Sumatra Barat di Istana Negara Bung Hatta, Bukittinggi. (Iswara NR/ MelayuOnline)&lt;br /&gt;Kepustakaan&lt;br /&gt;AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007,&lt;br /&gt;Fitriyanti, Roehana Koeddoes:Perempuan Sumatera Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001.&lt;br /&gt;Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan (Eds.), Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan, Jakarta: IBOEKOE, 2008.&lt;br /&gt;M Balfas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati, Jakarta: Djambatan, 1952.&lt;br /&gt;Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006&lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008.&lt;br /&gt;Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.&lt;br /&gt;Rudolf Mrazek, Sjahrir:Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996.&lt;br /&gt;Tamar Djaja, Roehana Koddoes, Srikandi Indonesia, Jakarta:  Penerbit Mutiara, 1980.&lt;br /&gt;Artikel dalam Buku&lt;br /&gt;Dian Andika Winda, “Perempoean Bergerak: Dari Deli untuk Kesetaraan, “dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 148.&lt;br /&gt;Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.&lt;br /&gt;Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Surat kabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 38.&lt;br /&gt;Iswara N Raditya, “Datoek Soetan Maharadja: Penghulu Adat Berkiblat Barat”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 24.&lt;br /&gt;M Yuanda Zara, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 73.&lt;br /&gt;Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini, Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 91&lt;br /&gt;Rhoma Dwi Aria Yuliantri, “Parada Harahap: King of The Java Press”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 88.&lt;br /&gt;St Kartono, “Masih Ada Guru”, dalam Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006, hlm. 20.&lt;br /&gt;Artikel dalam Surat Kabar/Internet&lt;br /&gt;-------, “Roehana Kudus”, tersedia di www.wikipedia.org. diakses pada 6 April 2009.&lt;br /&gt;-------, “Balai Wartawan "Rohana Kudus" Bukti Sejarah,” tersedia di www.opensubscriber. com, diakses pada 7 April 2009.&lt;br /&gt;Nasrul Azwar (2007), “Roehana Kudus, Jurnalis Perempuan Dari Sumatra Barat” tersedia di www.ranah-minang.com, diakses pada 6 April 2009.&lt;br /&gt;Riny Yunita (2008), “Roehana Kudus Rintis Surat kabar Perempuan”, tersedia di www.langitperempuan.com, diakses pada 6 April 2009.&lt;br /&gt;Siti Roehana Koedoes (1918), “Perempoean”, dalam Soenting Melajoe, 13 Desember 1918.&lt;br /&gt;Siti Roehana Koedoes (1920), “Mentjari Isteri”, dalam Soenting Melajoe, 10 Desember 1920.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4287391770804583213?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4287391770804583213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4287391770804583213' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4287391770804583213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4287391770804583213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/siti-roehana-koedoes.html' title='Siti Roehana Koedoes'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4107579833857293764</id><published>2010-10-02T10:42:00.000+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Idrus Tintin</title><content type='html'>1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;Idrus Tintin, dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932, dari seorang emak bernama Tiamah dan bapak bernama Tintin. Ibunya Tiamah, berasal dari Penyimahan dan menetap di Enok Dalam, Melayu Timur, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Indragiri Hilir, Riau). Sementara bapaknya Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau). Idrus Tintin merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu Mohammad Boya (sulung), Mustika, Idrus Tintin, dan Norma (bungsu). Sejak kecil, oleh sanak keluarga dan kawan-kawannya, ia dipanggil Derus. Ayahanda Idrus Tintin bekerja pada Jawatan Pelayaran Indonesia kemudian dipindahtugaskan sebagai Nahkoda Kapal Patroli Pemerintah ke Laut Cina Selatan, Tarempa, Kepulauan Riau. Dengan berbagai pertimbangan, ayahnya akhirnya memutuskan pindah ke Tarempa dan menetap di sana bersama keluarganya. &lt;br /&gt;Idrus Tintin memulai riwayat pendidikannya di Sekolah Rakyat Tarempa, kemudian pindah ke Sekolah Rakyat di Rengat. Kepindahannya ini disebabkan kondisi Tarempa pada waktu itu dibombardir oleh pasukan Jepang pada tanggal 14 Desember 1941. Dalam peristiwa tersebut tidak kurang dari 300 orang masyarakat sipil, termasuk ayahandanya, menjadi korban dan meninggal dunia pada tahun 1942. Sepeninggal ayahandanya, ia bersama keluarga akhirnya kembali ke Tanjung Pinang dan meneruskan sekolah hingga selesai. Usai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat, Idrus Tintin melanjutkan pendidikan di Chugakko (sekolah tingkat pertama) milik Jepang, namun tidak selesai. Pada akhir tahun 1944 ia ke Tembilahan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Muhammdiyah, itupun tidak diselesaikannya. Tahun 1947 Idrus Tintin kembali ke Rengat dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertamanya. Ia juga pernah mengikuti kursus Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sore hari untuk program ekstranei hingga lulus. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah ke Tingkat Menengah Atas Sore Tanjung Pinang. &lt;br /&gt;Selama hidupnya, Idrus Tintin telah melakoni berbagai pekerjaan. Sekitar tahun 1943, ia dititipkan oleh emaknya di asrama Dai Toa Kodomo Ryo, yaitu asrama penampungan yatim piatu milik Pemerintah Pendudukan Jepang. Karena pandai berbahasa Jepang, ia diterima bekerja di Sentral Telepon Pendudukan Jepang. Tidak lama setelah itu ia dipindahkan ke asrama Kubota dan bekerja di Biro Okhabuthai di Tanjung Pinang. Ia bekerja di biro tersebut selama 5 bulan. Saat berumur 16 tahun, pada bulan Februari 1949, ia kembali lagi ke Tembilahan dan bergabung menjadi TNI. Ia juga pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di beberapa tempat antara lain; sebagai Staf Q Brigade DD Angkatan Darat TNI, Juru Tulis Kantor Camat Tarempa, Jawatan Penghubung Sosial Kewedanaan Pulau Tujuh, Tarempa dan guru honorer selama 17 tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Pekanbaru, Riau. &lt;br /&gt;Dalam dunia seni peran/teater, berbagai pengalaman telah ia peroleh dan berbagai sumbangsih telah ia berikan. Itu dimulainya sejak tahun 1943 saat bermain drama dalam bahasa Jepang produksi Raja Khadijah. Tahun 1944 di Tanjung Pinang, ia menggelar sandiwara dengan ide cerita Nosesang, dimana cerita ini bertutur tentang kehidupan petani dan nelayan. Tahun 1945 di Rengat, beberapa kali ia bermain sandiwara bersama grup Seniman Muda Indonesia (SEMI) asuhan Agus, Moeis dan Hasbullah. Pada tahun 1952, ia kembali ke Tarempa dan mendirikan sebuah sanggar sandiwara bernama “Gurinda”.&lt;br /&gt;Untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan seni peran yang telah ia geluti, pada tahun 1959, ia memutuskan mengembara ke Pulau Jawa. Di sinilah,  Idrus berkenalan dengan seniman-seniman Jawa antara lain; Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M. Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan seniman lain. Pertemuan inilah yang menjadi titik tolak perkenalan Idrus dengan seni peran/teater modern/kontemporer. Selama berada di Jawa, ia sempat menjadi peserta dalam berbagai forum diskusi para seniman, baik formal maupun non-formal, terutama yang membicarakan tentang pemeranan dan penyutradaraan. &lt;br /&gt;Pada tahun 1961, Idrus Tintin kembali menetap di Rengat dan membentuk sebuah kelompok teater. Sejak menetap di Riau, setiap ada perayaan hari-hari besar, Idrus selalu tampil bermain teater. Tahun 1964, Idrus mengikuti Festival Drama di Pekanbaru yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Riau. Naskah yang dipentaskan adalah naskah Pasien. Tahun 1968, Idrus menyutradarai pertunjukan teater modern di Gedung Trikora Pekanbaru berjudul Tanda Silang. Tahun 1974, bersempena Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Idrus menyutradarai pertunjukan teater kolosal di Balai Dang Merdu Pekanbaru dengan judul Harimau Tingkis. Pada tahun yang sama, ia bersama Armawai KH. menubuhkan wadah pembinaan teater di Riau yang diberi nama “Teater Bahana.” &lt;br /&gt;Idrus Tintin meninggal dunia pada tanggal 14 Juli 2003 di usia 71 tahun, akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri, Mahani dan Masani. Ia dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya Rengat Indragiri Hulu.  &lt;br /&gt;2. Pemikiran/Pengaruh&lt;br /&gt;Banyak tokoh kesenian sependapat bahwa Idrus lebih menonjol dengan keaktorannya dalam dunia teater dari pada dunia kepenyairan. Oleh sebab itu, Idrus lebih menonjol aspek oralnya dari pada aspek tulisnya. Dilihat dari sisi ini, memang ketungkuslumusan Idrus, oleh beberapa pengamat, dianggap sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk menjadikan hal-hal tragedik menjadi komedik. Dalam teater memang sulit dilupakan bahwa Idrus merupakan sosok yang berhasil mendobrak dominasi sandiwara tradisional/klasik yang disebut “teater cis.” Dalam pemikiran Idrus, sandiwara tradisional atau klasik terkesan eksklusif (menutup diri) terhadap unsur-unsur baru. Berbeda halnya dengan teater modern atau kontemporer yang penuh nuasa alternatif dan kreasi. Pemikiran Idrus Tintin tersebut, banyak memberikan pengaruh pada para seniman di daerah Provinsi Riau, seperti Pekanbaru, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Tanjung Pinang, Batam, dan lain-lain. &lt;br /&gt;3. Karya-karya&lt;br /&gt;Sebagai sosok seniman dan budayawan, Idrus Tintin telah banyak melahirkan karya, antara lain berupa sajak dan puisi yang terangkum dalam berbagai buku yaitu: &lt;br /&gt;1. Luput, adalah kumpulan sajak Idrus Tintin, berisi 26 sajak, dituliskan kembali oleh Armawi KH (tahun 1986). &lt;br /&gt;2. Burung Waktu, adalah kumpulan puisi Idrus Tintin, berisi 37 judul puisi, diterbitkan oleh Gramitra Pekanbaru (tahun 1990).&lt;br /&gt;3. Idrus Tintin Seniman dari Riau; Kumpulan Puisi dan Telaah, adalah kumpulan tiga judul puisi Idrus Tintin yaitu: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan (tahun 1996).&lt;br /&gt;4. Jelajah Cakrawala; Seratus Lima Belas Sajak Idrus Tintin, adalah kumpulan puisi Idrus Tintin (tahun 2003). &lt;br /&gt;Selain karya-karya tersebut di atas, Idrus Tintin juga memiliki karya-karya lain berupa naskah teater dan pernah dipentaskan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Naskah cerita berjudul “Buih dan Kasih Sayang Orang Lain”&lt;br /&gt;2. Naskah cerita berjudul “Bunga Rumah Makan”  &lt;br /&gt;3. Naskah cerita berjudul “Awal dan Mira” &lt;br /&gt;4. Naskah cerita berjudul “Pasien” &lt;br /&gt;Kesemuanya ditulis dan telah dipentaskan dalam sebuah pementasan di Tanjung Pinang.&lt;br /&gt;4. Penghargaan &lt;br /&gt;Atas semua karya dan jasa-jasanya bagi budaya dan kesenian, Idrus Tintin telah dianugerahi beberapa penghargaan, yaitu:&lt;br /&gt;1. The Best Actor dalam Festival Drama di Pekanbaru dari Pemerintah Provinsi Riau (tahun 1996). &lt;br /&gt;2. Anugerah Sagang Kategori Seniman dan Budayawan Pilihan Sagang, dari Yayasan Sagang (tahun 1996). &lt;br /&gt;3. Seniman Pemangku Negeri (SPN) kategori Seni Teater, dari Dewan Kesenian Riau  (tahun 2001).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4107579833857293764?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4107579833857293764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4107579833857293764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4107579833857293764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4107579833857293764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/idrus-tintin.html' title='Idrus Tintin'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4149876549559898521</id><published>2010-10-02T10:40:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Biografi Raja Ali Haji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://zamrud-khatulistiwa.or.id/wp-content/uploads/2009/08/penyengat01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 327px;" src="http://zamrud-khatulistiwa.or.id/wp-content/uploads/2009/08/penyengat01.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Data Diri&lt;br /&gt;Nama Lengkap RAH adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Ia dilahirkan pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (kini masuk dalam wilayah Kepulauan Riau, Indonesia). &lt;br /&gt;Sekilas tentang Pulau Penyengat. Dalam buku-buku Belanda, pulau kecil ini disebut Mars. Menurut masyarakat setempat, nama pujian-pujian dari pulau ini adalah Indera Sakti. Di pulau ini banyak terlahir karya-karya sastra dan budaya Melayu yang ditulis oleh tokoh-tokoh Melayu sepanjang abad ke-19 dan dua dasawarsa abad ke-20, di mana RAH termasuk di dalamnya. &lt;br /&gt;Catatan tentang hari dan bulan kelahiran RAH berbeda dengan ayahnya. Catatan mengenai kelahiran ayahnya begitu rinci, yaitu pada hari Kamis waktu ‘Ashar bulan Rajab tahun 1193 H di Istana Yang Dipertuan Muda Riau-Raja Haji Ibni Daeng Celak. Sedangkan catatan mengenai RAH jusru singkat sekali. Bahkan, catatan kelahiran RAH lebih banyak didasarkan pada perkiraan saja. Menurut Hasan Junus (2002: 62), masa yang berbeda, keadaan yang berbeda, mengantar pada semangat zaman yang berbeda. Semangat zaman yang berkembang pada saat itu menyebabkan orang-orang memanggil nama RAH dengan sebutan “Raja”.&lt;br /&gt;Orang-orang Melayu pada masa itu sering mengingat waktu kelahiran si anak dengan mendasarinya pada peristiwa-peristiwa penting. RAH lahir lima tahun setelah Pulau Penyengat dibuka sebagai tempat kediaman Engku Puteri. Atau ia lahir dua tahun setelah benteng Portugis A-Famosa di Melaka diruntuhkan atas perintah William Farquhar. Orang-orang Melayu juga sering memberikan nama anaknya dengan mengambil nama datuk (kakek) apabila datuknya itu sudah meninggal. Hal inilah yang menyebabkan banyak terjadi kemiripan nama dalam masyarakat Melayu. &lt;br /&gt;Tahun kapan meninggalnya RAH sempat menjadi perdebatan. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 1872. Namun, ternyata ada fakta lain yang membalikkan pandangan umum tersebut. Pada tanggal 31 Desember 1872, RAH pernah menulis surat kepada Hermann von de Wall, sarjana kebudayaan Belanda yang kemudian menjadi sahabat terdekatnya, yang meninggal di Tanjungpinang pada tahun 1873. Dari fakta ini dapat dikatakan bahwa RAH meninggal pada tahun yang sama (1873) di Pulau Penyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam RAH berada di komplek pemakaman Engku Putri Raja Hamidah. Persisnya, terletak di luar bangunan utama Makam Engku Putri. Karya RAH, Gurindam Dua Belas diabadikan di sepanjang dinding bangunan makamnya. Sehingga, setiap pengunjung yang datang dapat membaca serta mencatat karya maha agung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Silsilah dan Latar Belakang Keluarga&lt;br /&gt;RAH adalah putra Raja Ahmad, yang setelah berhaji ke Mekkah bergelar Engku Haji Tua, cucu Raja Haji Fisabilillah. Ibunya bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor atau Putri Raja Selangor yang meninggal pada tanggal 5 Agustus 1844. &lt;br /&gt;Kakek (datuk) RAH bernama Raja Haji Fisabilillah, merupakan Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau IV. Ia dikenal sebagai YDM yang berhasil menjadikan Kesultanan Riau-Lingga sebagai pusat perdagangan yang sangat penting di kawasan ini. Ia juga seorang pahlawan yang terkenal berani melawan penjajah Belanda, sehingga meninggal di medan perang di Teluk Ketapang (18 Juni 1784). Ia meninggalkan dua putra, yaitu Raja Ahmad (ayah RAH) dan Raja Ja'far.&lt;br /&gt;Raja Ahmad (ayah RAH) dikenal sebagai intelektual Muslim yang produktif menulis karya-karya besar, seperti Syair Perjalanan Engku Putri ke Lingga (1835), Syair Raksi (1841), dan Syair Perang Johor (1843). Ia juga dikenal sebagai pemerhati sejarah, terutama sejarah masa lalu. Dalam karyanya, Syair Perang Johor, ia menguraikan fakta perang Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh pada abad XVII, yaitu pada masa keemasan Johor. Ia dikenal sebagai penulis pertama yang melahirkan sebuah epik yang menghubungkan sejarah Bugis di wilayah Melayu dan hubungannya dengan sultan-sultan Melayu. &lt;br /&gt;Keluarga Raja Ahmad terdiri dari orang-orang terpelajar dan suka dengan dunia tulis-menulis. Anggota keluarganya yang pernah menghasilkan karya adalah Raja Ahmad Engku Haji Tua, RAH, Raja Haji Daud, Raja Salehah, Raja Abdul Mutallib, Raja Kalsum, Raja Safiah, Raja Sulaiman, Raja Hasan, Hitam Khalid, Aisyah Sulaiman, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Umar, Abu Muhammad Adnan, dan lain sebagainya. Jika ditelusuri hingga keturunan Raja Haji Fisabilillah (kakek RAH), maka anggota keluarga Raja Ahmad yang giat berkarya akan bertambah lagi, yaitu Raja Ali, Raja Abdullah, Raja Ali Kelana, R. H. M. Said, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Dari ayah yang sama (Raja Ahmad), Raja Ali Haji mempunyai beberapa saudara laki-laki dan perempuan, yaitu Raja Haji Daud yang menjadi tabib, Raja Haji Umar (Raja Endut), Raja Salehah (Zaleha), Raja Cik, Raja Aisyah, Raja Haji Abdullah, Raja Ishak, Raja Muhammad Said, Raja Abu Bakar, Raja Siti, Raja Abdul Hamid, dan Raja Usman. &lt;br /&gt;RAH sebenarnya berasal dari keturunan Bugis. Garis keturunan ini berasal neneknya (Opu Daeng Cellak) yang berasal dari tanah Bugis, namun kemudian menetap di Riau dan memperoleh jabatan sebagai Yang Dipertuan Agung (pembantu sultan dalam urusan pemerintahan). Cerita ini bermula ketika La Madusilat, Raja Bugis yang pertama kali masuk Islam, ternyata memiliki keturunan yang salah satunya bernama Daeng Rilaka. &lt;br /&gt;Daeng Rilaka mempunyai lima anak, yaitu Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Cellak, dan Opu Daeng Kemasi. Bersama kelima anaknya itu, Daeng Rilaka meninggalkan tanah Bugis dan mengembara ke wilayah Kesultanan Riau-Johor. Keturunan ini mendapat kedudukan di istana kesultanan. Anak keempat Daeng Rilaka, Opu Daeng Cellak yang merupakan nenek RAH menjadi Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau II (1728-1745), menggantikan saudaranya Opu Daeng Marewah, YDM Muda Riau I (1723-1728).&lt;br /&gt;Jabatan tersebut merupakan realisasi dari perjanjian Kesultanan Riau-Lingga dengan Raja Bugis yang telah berhasil menaklukkan Minangkabau. Ketika itu memang terjadi perang antara Kerajaan Minangkabau dan Kesultanan Melayu. Berdasarkan garis keturunan itu, maka RAH merupakan keturunan Kesultanan Riau-Lingga yang dikenal memiliki tradisi keagamaan dan keilmuan yang sangat kuat.&lt;br /&gt;RAH memiliki 17 orang putra-putri, yaitu: 1). Raja Haji Hasan, 2). Raja Mala’, 3). Raja Abdur Rahman, 4). Raja Abdul Majid, 5). Raja Salamah, 6). Raja Kaltsum, 7). Raja Ibrahim Kerumung, 8). Raja Hamidah, 9). Raja Engku Awan ibu Raja Kaluk, 10). Raja Khadijah, 11). Raja Mai, 12). Raja Cik, 13). Raja Muhammad Daeng Menambon, 14). Raja Aminah, 15). Raja Haji Salman Engku Bih, 16). Raja Siah, dan 17). Raja Engku Amdah.&lt;br /&gt;Anak RAH yang pertama (Raja Haji Hasan) mempunyai 12 orang putra-putri, yaitu: 1). Raja Haji Abdullah Hakim, 2). Raja Khalid Hitam (meninggal dunia di Jepang), 3). Raja Haji Abdul Muthallib, 4). Raja Mariyah, 5). Raja Manshur, 6). Raja Qamariyah, 7). Raja Haji Umar, 8). Raja Haji Andi, 9). Raja Abdur Rasyid, 10). Raja Kaltsum, 11). Raja Rahah, dan 12). Raja Amimah. Cucu-cucu RAH ini kemudian menjadi ulama-ulama dan tokoh-tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan&lt;br /&gt;RAH memperoleh pendidikan dasarnya dari ayahnya sendiri. Di samping itu, ia juga mendapatkan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Di lingkungan kesultanan ini, secara langsung ia mendapatkan pendidikan dari tokoh-tokoh terkemuka yang pernah datang. Ketika itu banyak tokoh ulama yang merantau ke Pulau Penyengat dengan tujuan mengajar dan sekaligus belajar. Di antara ulama-ulama yang dimaksud adalah Habib Syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;Pada saat itu, Kesultanan Riau-Lingga dikenal sebagai pusat kebudayaan Melayu yang giat mengembangkan bidang agama, bahasa, dan sastra. Oleh karena RAH merupakan bagian dari keluarga besar kesultanan, maka ia termasuk orang pertama yang dapat bersentuhan dengan pendidikan model ini, yaitu bertemu langsung dengan tokoh-tokoh ulama yang datang ke Pulau Penyengat. Ia belajar al-Qur’an, hadits, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pendidikan dasar yang diperoleh RAH adalah sama dengan anak-anak seusianya. Hanya saja, memang RAH memiliki kecerdasan yang di atas rata-rata. &lt;br /&gt;RAH juga mendapatkan pendidikan dari luar lingkungan kesultanan. Ketika ia beserta rombongan ayahnya pergi ke Betawi pada tahun 1822 (sebagaimana akan dibahas pada bagian tersendiri), RAH memanfaatkan momentum ini sebagai wahana untuk belajar. Ia juga pernah belajar bahasa Arab dan ilmu agama di Mekkah, yaitu ketika ia bersama ayahnya dan sebelas kerabat lainnya mengunjungi tanah suci Mekkah pada tahun 1828 (untuk berhaji). Mereka merupakan bangsawan Riau yang pertama kali mengunjungi Mekkah. RAH beserta ayah dan rombongannya sempat ke Mesir, setelah berkelana di Mekkah beberapa bulan. Ketika itu, RAH masih berusia muda.&lt;br /&gt;Selama berkelana di Mekkah, RAH memanfaatkan banyak waktunya untuk menambah pengetahuan keagamaannya. Di tanah suci inilah, pendidikannya seakan-akan mengalami peningkatan yang sangat tajam. Di sana ia sempat berhubungan dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani. Ia belajar kepadanya seputar pengetahuan bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Ulama ini merupakan sosok ulama terpandang di kalangan masyarakat Melayu yang ada di Mekkah. Selama di Mekkah, RAH juga bersahabat dengan salah seorang anak Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, yaitu Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengalaman Jabatan&lt;br /&gt;Ketika masih dalam usia muda, RAH sudah diamanahi tugas-tugas kenegaraan yang penting. Dalam usia 30 tahun, RAH mengikuti saudara sepupunya, Raja Ali bin Ja’far, pergi ke seluruh kawasan Kesultanan Riau-Lingga hingga ke pulau-pulau terpencil. Keperluan mereka adalah untuk memeriksa kawasan tersebut. Ketika Raja Ali bin Ja’far dipercaya menjadi Wakil Yang Dipertuan Muda di Kesultanan Riau-Lingga, RAH juga ikut membantu pekerjaan saudara sepupunya itu. &lt;br /&gt;Ketika usia RAH telah mencapai 32 tahun, ia beserta saudara sepupunya itu dipercaya memerintah wilayah Lingga untuk mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah, yang pada saat itu masih berumur sangat muda. Ketika itu Sultan Mahmud Muzaffar Syah belum mau menunjuk Yang Dipertuan Muda pengganti Marhum Kampung Bulan yang telah meninggal dunia. Pada tanggal 26 Juni 1844 atau Hari Rabu 9 Jumadil-akhir 1260 H, RAH membuat petisi yang isinya mendukung Raja Ali menjadi Wakil Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga. Petisi itu ditandatangani oleh para pendukung Raja Ali.&lt;br /&gt;Ketika Raja Ali bin Ja’far diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VIII pada tahun 1845, RAH diangkat sebagai penasehat keagamaan kesultanan. Meski diserahi tanggung jawab kenegaraan yang begitu berat karena menguras tenaga dan pikirannya, namun RAH tetap menunjukkan profesionalitasnya sebagai penulis yang sangat produktif. &lt;br /&gt;Bersama dengan Raja Abdullah Mursyid dan Raja Ali bin Ja’far, RAH berdagang di Pulau Karimun dan Kundur. Mereka juga mengelola penambangan timah. Ketika Yang Dipertuan Muda Riau Raja Ali bin Ja’far digantikan oleh adiknya Raja Haji Abdullah Mursyid, RAH dan Raja Ali bin Ja’far kemudian membangun lembaga “Ahlul Halli wa Aqdi” yang membantu jalannya roda pemerintahan kesultanan.&lt;br /&gt;Menjelang wafatnya pada tahun 1858, Yang Dipertuan Muda Raja Haji Abdullah Munsyi menulis surat wasiat yang isinya mengangkat RAH sebagai pemegang segala pekerjaan hukum, yaitu semua urusan yang menyangkut jurisprudensi Islam. Di sela-sela tugasnya sebagai abdi negara, pada tanggal 7 Mei 1868, RAH mengetuai rombongan Kesultanan Riau-Lingga menuju Teluk Belanga untuk menghadiri penobatan Tumenggung Johor Abu Bakar sebagai Maharaja Johor. Pekerjaan sebagai penanggung jawab bidang hukum Islam di Kerajaan Riau-Lingga diemban oleh RAH hingga ia meninggal pada tahun 1873.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Aktivitas Nasional dan Internasional&lt;br /&gt;5. 1. Perjalanan ke Betawi&lt;br /&gt;RAH dikenal sangat dekat dengan ayahnya. Pada tahun 1822, RAH ikut ayahnya ke Betawi selama tiga bulan. Ayahnya membawa rombongan Kesultanan Riau-Lingga, termasuk istri dan dua orang anaknya, yaitu RAH sendiri dan Raja Muhammad. Kepergian ayahnya beserta rombongan itu adalah dalam suatu urusan Kesultanan Riau-Lingga dengan pemerintah Hindia Belanda, tepatnya dalam urusan perdagangan dan penelitian. Secara khusus, rombongan ini akan menemui Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Godart Alexander Gerad Philip Baron van der Capellen. Mereka bertolak dari Riau dengan menggunakan sebuah penjajab, sebuah penisi, sebuah “belah semangka”, dan sebuah perahu biasa. Perjalanannya dimulai dengan bersinggah sebentar di Lingga, dan kemudian meneruskan pelayaran melalui Selat Bangka. &lt;br /&gt;Sesampainya di Betawi, RAH memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang bakal dilihat atau ditemuinya di sana. Ia sempat bertemu dengan Gubernur Jenderal Godart Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen yang menjamu rombongan Raja Ahmad di Istana Gubernur Jenderal Belanda. Ia juga dapat berkenalan dengan beberapa orang Belanda yang menguasai bahasa Melayu dengan baik. Ia juga dapat mengunjungi Bogor dan menonton berbagai pertunjukan kesenian di sana, seperti opera. Ia juga sempat mengunjungi ulama terkenal Betawi bernama Saiyid Abdur Rahman al-Mashri. &lt;br /&gt;Rekaman peristiwa dan pengalaman RAH selama di Betawi dituangkan dalam karyanya berjudul Tuhfat al-Nafis. Ada dua peristiwa penting dari pengalamannya selama di Betawi yang kelak mempengaruhi pemikiran RAH. Pertama, kesempatannya ketika menonton opera di Gedung Schouwburg (yang kini bernama Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta). Bangunan gedung ini bentuknya seperti rumah yang lekuk ke dalam tanah. Kedua, pertemuannya dengan Christiaan van Angelbeek, penerjemah resmi Biro Urusan Pribumi pada Pemerintah Hindia Belanda. &lt;br /&gt;Pada abad ke-19, sebenarnya ada tiga buah gedung yang sering digunakan sebagai tempat pertunjukan kesenian di Betawi, yaitu Gedung Schouwburg, Gedung Societet de Harmonie, dan Gedung Societet Concordia. Gedung terakhir tidak mungkin ditonton oleh RAH dan rombongan Kesultanan Riau-Lingga karena baru dibangun setelah kedatangan mereka, yaitu pada tahun 1833. Gedung Societet de Harmonie sendiri dibangun pada tahun 1815 dengan kapasitas tempat duduk 250 orang dan beratapkan rumbia. Oleh Daendels, gedung ini difungsikan sebagai gedung pameran. Pada tahun 1821, gedung ini dipugar kembali untuk dijadikan sebagai gedung teater dengan luas 1.476 meter persegi dan diberi nama Schouwburg. &lt;br /&gt;Pernah ada perdebatan tentang manakah yang benar: di Gedung Societet de Harmonie atau di Gedung Schouwburg sebagai tempat RAH dan rombongan Kesultanan Riau-Lingga menonton berbagai pertunjukan kesenian? Teks dalam Tuhfat al-Nafis disebutkan: “Syahdan pada satu malam datang panggil Gubernur Jenderal segala anak raja utusan itu; yang disuruhnya yaitu Sayid Hasan. Maka pergilah sekalian utusan itu. Maka lalulah dibawanya kepada satu rumah main wayang, Holanda, kata orang namanya wayang komedi, dan sifat rumahnya itu lekuk ke dalam tanah....”. Berdasarkan teks ini, maka jelas bahwa gedung yang ditontoh RAH dan rombongan Kesultanan Riau-Liangga adalah Gedung Schouwburg (yang terbaru), bukan Gedung Societet de Harmonie.&lt;br /&gt;Pada tahun 1826, RAH juga pernah ikut ayahnya pergi ke pesisir utara Pulau Jawa, selain Betawi. Ayahnya melakukan perjalanan ke sana dengan tujuan berniaga agar dapat menghasilkan dana untuk pergi haji. Menurut cerita, RAH sempat sakit di Kota Juana, bahkan dalam keadaan koma (hampir meninggal). Ayahnya sempat membelikan keranda karena mengira anaknya akan meninggal. Namun atas kuasa Allah SWT, RAH akhirnya dapat sembuh kembali.&lt;br /&gt;5. 2. Perjalanan ke Mekkah&lt;br /&gt;Sebagaimana telah sedikit dibahas pada bagian sebelumnya, pada tahun 1828 RAH mengikuti sejumlah rombongan Kesultanan Riau-Lingga untuk menunaikan ibadah haji yang dipimpin oleh ayahnya sendiri (Raja Ahmad). Pada tanggal 5 Maret 1828 atau 18 Sya’ban 1243, rombongan ini sampai di Jeddah. Sejak menunaikan ibadah haji itu, Raja Ahmad dikenal dengan gelar Engku Haji Tua dan anaknya (RAH) mulai bergelar Raja Ali Haji. Selama berkelana di Mekkah, RAH banyak mendapat ilmu yang sangat berharga dalam kehidupan dan perkembangan intelektualnya.&lt;br /&gt;Sekembalinya dari tanah suci, RAH menjadi ulama terkemuka di masanya. Ketika saudara sepupunya yang bernama Raja Ali bin Raja Ja’far menjadi Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau VIII (tahun 1845-1857) menggantikan saudaranya Raja Abdur Rahman bin Raja Haji Yamtuan Muda Kerajaan Riau VII (tahun 1833-1845), RAH diminta oleh sepupunya itu untuk mengajar agama Islam di lingkungan Kesultanan Riau-Lingga. Bahkan, Raja Ali bin Raja Ja’far juga ikut belajar kepada RAH. &lt;br /&gt;RAH menjadi tumpuan banyak orang yang menanyakan masalah-masalah keislaman. Dengan penuh kesabaran, ia menuntun dan membimbing masyarakat dengan segala keahliannya. Ia dikenal ahli dalam bidang agama, sastra, bahasa, sejarah, hukum, dan tata negara. Ia mengajarkan ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu ushuluddin, ilmu fikih, ilmu tasawuf, dan pengetahuan agama lainnya. Ada banyak tokoh ulama setelah itu yang merupakan murid RAH, di antaranya adalah Raja Haji Abdullah yang kemudian menjadi Yang Dipertuan Muda Riau IX (tahun 1857-1858) dan Saiyid Syaikh bin Ahmad al-Hadi. &lt;br /&gt;5. 3. Aktivitas Kepenulisan&lt;br /&gt;Usia 40 tahun adalah masa di mana RAH banyak mencurahkan perhatiannya pada penulisan karya-karya sastra. Ia tercatat sebagai penulis paling produktif di masanya. Kesultanan Riau-Lingga, Johor, dan Pahang ketika itu menjadi terkenal berkat karya-karya RAH yang banyak dibicarakan pakar bahasa dan sastra di Nusantara dan juga di luar negeri. &lt;br /&gt;Adapun aktivitas kepenulisan RAH digambarkan berikut ini. Pada tahun 1846, RAH menyelesaikan penulisan karya Gurindam Dua Belas, yang diterbitkan dalam bahasa Belanda Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II (oleh E. Netscher) pada tahun 1854. Karyanya berjudul Bustanul Katibin selesai dicetak di Betawi pada tahun 1850. Pada tanggal 15 April 1857, karya ini dicetak-batu di Pulau Penyengat. Pada tahun ini pula, RAH dan Haji Ibrahim bekerjasama dengan H. Von de Wall menyusun sebuah kamus bahasa Melayu. Pada tahun ini, RAH menyiapkan naskah berjudul Muqaddimah fi Intizam al-Wazaif al-Mulk Khususan ila Maulana wa Shahibina Yang Dipertuan Muda Raja Ali al-Mudabbir lil Biladi al-Riauwiyah wa Sairi Dairatihi, yaitu sebuah risalah tipis yang berisikan tiga buah wazifah yang dijadikan sebagai pegangan oleh pemegang kendali hukum sebelum menjatuhkan (putusan) hukuman. Pada tahun 1865, karyanya Silsilah Melayu dan Bugis selesai ditulis. Pada tahun 1866, RAH menyelesaikan karya Syair Hukum Nikah atau Kitab Nikah atau Syair Suluh Pegawai. Pada tanggal 25 November 1866, RAH menyelesaikan Tuhfat al-Nafis.&lt;br /&gt;RAH dikenal dekat dengan Hermann von de Wall yang nama aslinya adalah Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir von de Wall (kelahiran Giessen, Jerman, tanggal 30 Maret 1807). Pada bulan November hingga Desember 1807, RAH menyiapkan sebuah silsilah untuk sahabatnya itu. Pada tanggal 12 Juni 1862, RAH menyarankan kepada Hermann von de Wall agar menyusun sebuah kamus bahasa Melayu. Kerjasama mereka berlanjut hingga tahun 1870, di mana H. Von de Wall menerbitkan Bustanul Katibin karya RAH sebagai “Kitab perkeboenan djoeroetoelis bagi kanak-kanak yang hendak menoentoet belajar akan dija”. Atas kerjasama sahabatnya itu pula, pada tahun 1872 karya RAH berjudul Tjakap-2 Rampai-2 Bahasa Malajoe Djohor jilid II diterbitkan oleh Percetakan Gupernemen di Betawi (Batavia). Pada tanggal 2 Mei 1873, H. Von de Wall meninggal dunia. Sebagaimana disebutkan di atas, diperkirakan RAH meninggal dunia pada tahun yang sama.&lt;br /&gt;6. Penghargaan&lt;br /&gt;Pada tanggal 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada RAH pada saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, Jakarta. Buku karya RAH berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa (selesai ditulis tahun 1851 M, dicetak di Singapura tahun 1925 M) telah ditetapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 sebagai bahasa nasional (Indonesia). Atas dasar kontribusi yang sangat penting inilah, penghargaan tersebut memang layak diberikan kepada Raja Ali Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber&lt;br /&gt;• Abdullah, Wan Mohd. Shaghir. “Raja Ali Haji: Pujangga Melayu termasyhur”,www.ulama-nusantara.blogspot.com.&lt;br /&gt;• Junus, Hasan. 2002. Raja Ali Haji: Budayawan di Gerbang Abad XX, cet. II. Pekanbaru: Unri Press. &lt;br /&gt;• “Raja Ali Haji: Magma Sastra Melayu”, dalam http://www.kompas.com/gayahidup/news/0411/25/011519.htm, diakses tanggal 20 November 2007.&lt;br /&gt;• Tim Penyusun, Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia, (Pekanbaru: Unri Press, 2004).&lt;br /&gt;• “Ulama dan Sastrawan Melayu”, dalam http://republika.co.id/, diakses tanggal 21 November 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4149876549559898521?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4149876549559898521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4149876549559898521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4149876549559898521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4149876549559898521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/biografi-raja-ali-haji.html' title='Biografi Raja Ali Haji'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-7699085632334305985</id><published>2010-10-02T10:36:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Agus Salim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_7bnITXGl480/SvOr1u_lNEI/AAAAAAAAAAM/aAySnkaBHGg/s320/kh_agus_salim.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_7bnITXGl480/SvOr1u_lNEI/AAAAAAAAAAM/aAySnkaBHGg/s320/kh_agus_salim.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama asli Agus Salim adalah Mashudul Haq yang berarti “Pembela Kebenaran”. Ia lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gedang, Bukit Tinggi, Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Ia merupakan keturunan dari keluarga yang terpelajar. Ia adalah anak dari pasangan Muhammad Salim, yang selama 50 tahun pernah menjabat sebagai Kepala Jaksa di Pengadilan Tinggi Riau, dan Siti Zainab. Agus Salim merupakan putra kelima dari 15 bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dasar Agus Salim dimulai dari sekolah Belanda yang dikhususkan untuk anak-anak keturunan Eropa, Europesche Lagere School (ELS). Pada masa itu, belajar di sekolah Belanda merupakan sebuah keistimewaan tersendiri karena yang boleh bersekolah di sana hanya anak-anak keturunan Eropa, sedangkan dari keturunan pribumi hanya kalangan bangsawan dan pegawai tinggi saja. Setelah menamatkan studi di ELS pada tahun 1898, ia kemudian melanjutkan studinya ke Hoegere Burger School (HBS), sebuah sekolah setingkat SMP hingga SMU di Batavia (Jakarta). Selama studi di sana, ia “mondok” di sebuah rumah milik keluarga asal Belanda, yaitu orang tua dari Prof TH Kock. Di rumah ini ia diasuh oleh seorang pembantu perempuan asal Jawa. &lt;br /&gt;Sejak studi di sekolah ini, panggilan nama Agus Salim lebih populer dibandingkan dengan nama aslinya sendiri, Mashudul Haq. Pada waktu itu, menurut kebiasaan adat Jawa, pembantu perempuan biasanya memanggil anak lelaki “tuannya” dengan sebutan “Gus”. Mashudul Haq juga dipanggil dengan sebutan ini dengan adanya penambahan huruf “A” di depannya, sehingga menjadi Agus, yang kemudian ditambah satu kata “Salim”, sehingga menjadi Agus Salim. Masyarakat kemudian lebih mengenal nama ini dibandingkan nama aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim menempuh studinya di HBS hanya selama lima tahun. Ia mendapat predikat terbaik di HBS se-kawasan Hindia Belanda. Pada tahun 1903, ia pernah mengajukan permohonan beasiswa kepada pemerintah Hindia Belanda untuk melanjutkan studi ilmu kedokteran di Belanda. Namun, ternyata permohonan itu ditolak. Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara yang juga merupakan pahlawan nasional, tertarik untuk merekomendasikan Agus Salim agar mau menggantikan dirinya pergi ke Belanda. Kartini tidak jadi ke Belanda karena perkawinannya dengan orang Jawa tidak memungkinkan dirinya berangkat ke sana. Sebab, dalam adat Jawa, perempuan tidak diperbolehkan bersekolah hingga tingkat yang lebih tinggi. Sebagai bentuk rekomendasi itu Kartini kemudian menulis surat kepada JH Abendanon, tertanggal 24 Juli 1903. Pemerintah Hindia Belanda menyetujui permintaan Kartini tersebut, namun Agus Salim justru menolaknya dengan alasan bahwa kesempatan itu bukan atas dasar kemampuan dirinya sendiri melainkan sebagai bentuk “pemberian” dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba bekerja di berbagai tempat, pada tahun 1906, Agus Salim mendapat tawaran kerja sebagai dragoman (ahli penerjemah) di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Awalnya ia enggan menerima tawaran itu. Atas saran ibunya, ia akhirnya bersedia berangkat ke Arab Saudi dan bekerja di sana antara tahun 1906 hingga tahun 1911. Keberadaannya di sana tidak disia-siakan begitu saja olehnya. Meski telah bekerja, ia juga sempat memperkaya wawasan keilmuannya, baik tentang agama maupun non-agama. Ia sempat belajar agama dan bahasa Arab kepada ulama-ulama yang bermukim di sana. Ia sempat belajar ilmu-ilmu keislaman pada Syech Ahmad Khatib, Imam Masjidil Haram yang juga pamannya sendiri. Di sana ia juga mempelajari bagaimana cara-cara berdiplomasi yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1911, Agus Salim kembali ke tanah air, tepatnya ke kampung halamannya di Kota Gedang. Kepulangannya itu dibarengi dengan kematangannya dalam hal berdiplomasi dengan teknik tinggi, termasuk kemahirannya dalam berbahasa asing, seperti bahasa Arab, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, dan Jepang. Kemampuan berbahasanya memang dikenal luar biasa. Ia juga mahir berbahasa Melayu. Tata bahasa Melayunya terasa indah sekali. Hal itu dapat dilihat dari berbagai tulisannya di sejumlah media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim memang sangat mencintai dunia pendidikan. Kepulangannya ke kampung halaman juga dimanfaatkan untuk memajukan dunia pendidikan di sana. Ia mendirikan Hollandsche Inlandsche School (HIS) di sana, yang diasuhnya hingga tahun 1915. Sungguh suatu bentuk kecintaan dan pengabdian yang besar terhadap dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Pada tahun 1912, Agus Salim menikah dengan gadis sekampungnya, Zaitun Nahar. Mereka berdua dikaruniai delapan anak, yaitu Theodora Atia, Yusuf Taufik, Violet Hanisah, Maria Zenibiyang, Ahmad Syauket (meninggal dunia pada masa revolusi), Islam Basari, Siti Asiah, dan Mansur Abdurrahman Sidik. Perhatian Agus Salim terhadap keluarganya sangat besar. Bahkan, ketika dirinya dalam keadaan sesibuk apapun, ia masih bisa menyempatkan waktu untuk bercengkerama dengan istri dan anak-anaknya. Seluruh keluarganya, termasuk istri dan anak-anaknya, diwajibkan mengikuti pelajaran-pelajaran yang disampaikannya setiap hari. Pelajaran-pelajaran yang diajarkan biasanya berupa baca-tulis, bahasa, budi pekerti, dan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih pengantin baru, Agus Salim berpesan kepada istrinya agar banyak membaca dan juga berdzikir. Sebab, ia berencana  tidak akan menyekolahkan anak-anaknya secara formal, cukup dididik sendiri. Rencana tersebut ternyata benar-benar diterapkan kepada seluruh anak-anaknya. Ia beralasan bahwa dengan cara seperti ini diharapkan anak-anaknya tidak terpengaruh oleh pikiran dan kebudayaan kaum penjajah. Ia juga ingin membentuk kepribadian dan sikap anak-anaknya yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Namun demikian, ia juga menanamkan sikap kritis kepada anak-anaknya. Mereka sering diajak berdikusi, berdialog, dan berdebat agar pikiran mereka selama ini tidak kaku. Dalam hal ini, ia tidak pernah marah jika ada anaknya yang membantah pendapatnya asalkan dengan argumen yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan Agus Salim ke kampung halamannya juga sebagai pertanda bahwa perjuangannya terhadap penjajahan kolonial Belanda telah dimulai. Ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Ia mengawali karir politiknya di Serikat Islam (SI) bersama dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis, yang dilakoninya sejak tahun 1915.. Organisasi ini banyak menyuarakan kepentingan perjuangan bangsa dan negara Indonesia. Melalui organisasi ini, ia bersama teman-teman seperjuangannya berkesempatan untuk mengecam tindakan pemerintah kolonial Belanda yang sering menyengsarakan rakyat Indonesia. Agus Salim langsung masuk dalam jajaran ketua di Central Serikat Islam (CSI, Dewan Pusat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim juga pernah aktif di Volksraad (Dewan Rakyat), yang merupakan organisasi underdog di bawah SI. Dalam sebuah perkumpulan Volksraad, ia berpidato agar bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi organisasi, bukan bahasa Belanda. Ketika masuk pertama kali di Volksraad, ia langsung menempati posisi sebagai salah satu pengurus. Ketika H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim kemudian menggantikan posisi mereka selama empat tahun (1921-1924). Ternyata, ia juga merasakan sebagaimana pendahulunya bahwa perjuangan melalui Volksraad tidak banyak bermanfaat. Ia akhirnya memutuskan keluar dari Volksraad dan lebih berkonsentrasi di SI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1923, terjadi perpecahan di dalam tubuh SI. Semaun dan kelompoknya menghendaki SI lebih condong ke kiri, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolak hal itu. Perbedaan ini menyebabkan dua kubu ini semakin berseberangan. Semaun dan kelompoknya membentuk Serikat Rakyat (pengembangan dari SI Merah atau SI Kiri) yang nantinya berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), sementara Agus Salim dan kelompoknya tetap bertahan di SI (dapat disebut sebagai kelompok SI Putih). Pada tahun 1934, Agus Salim menggantikan posisi Tjokroaminoto sebagai Ketua SI.&lt;br /&gt;Ketika aktif di SI, Agus Salim dikenal sebagai “singa podium” yang pandai berdebat dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Suatu ketika, ia pernah berdebat dengan Muso, tokoh SI yang kemudian menjadi tokoh penting di PKI. Ceritanya, Muso pernah mengejek Agus Salim dengan kalimat: “Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?”. Hadirin yang datang sontak menjawab: “Kambing!” Muso melanjutkan pertanyaannya: “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?” Jawab hadirin: “Kucing!”. Agus Salim yang memang memelihara jenggot dan kumis tidak mau tinggal diam. Ketika berkesempatan menyampaikan pidatonya, ia dengan bersemangat mengatakan: “Saudara-saudara, orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?” Hadirin berteriak riuh: “Anjing!”. Agus Salim kemudian merasa puas dan tetap percaya diri atas “kritik”-nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan perburuhan. Ketika masih aktif di SI, ia pernah mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh bersama Semaun pada tahun 1919. Melalui organisasi ini, Agus Salim bersama teman-teman seperjuangannya menuntut pemerintah Belanda agar mendirikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sesungguhnya. Melalui organisasi ini juga, ia ikut mengorganisir pemogokan buruh di sejumlah daerah di tanah air, seperti Semarang, Surabaya, dan Cirebon. Pada tahun 1929, ia diangkat sebagai penasehat teknis delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda ke Konferensi Kaum Buruh Internasional di Jenewa. Di samping aktif dalam bidang perburuhan, ia juga aktif dalam organisasi keagamaan. Ia pernah mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB), yang melahirkan banyak intelektual Muslim di tanah air. &lt;br /&gt;Agus Salim juga aktif dalam bidang jurnalisme dan tulis-menulis. Pada tahun 1915, ia aktif di Harian Neratja sebagai Redaktur II yang kemudian meningkat posisinya sebagai Ketua Redaksi. Aktivitas jurnalistiknya berkembang pesat. Pada tahun 1925, ia pernah menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Pada tahun yang sama, ia menerbitkan Harian Fadjar Asia di Yogyakarta. Ada suatu pengalaman menarik ketika ia menjadi wartawan di harian ini. Sebagai wartawan, ia pasti sering turun ke lapangan untuk menyaksikan secara langsung bahan berita yang akan ditulisnya. Ia pernah memasuki pedalaman-pedalaman di Jawa, Sumatera, dan kalimantan. Ia sendiri menyaksikan betapa kesengsaraan yang diderita masyarakat akibat dari berbagai peraturan dan ketentuan pemerintah Hindia Belanda yang memeras harta mereka hanya untuk kepentingan pihak kolonial semata. Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan kuli kontrak dengan memberikan bayaran yang sangat kecil (poenale sanctie) dan tanah rakyat disewakan kepada pengusaha Eropa dalam jangka panjang (erfpacht).&lt;br /&gt;Karir jurnalistiknya masih berlanjut. Setelah aktif di Harian Fadjar Asia, ia kemudian sebagai redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Pengalamannya dalam bidang jurnalisme membuatnya dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang mulai dilantik pada tahun 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai tokoh pembaharu, Agus Salim juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam barisan para pendiri  (the founding fathers) Republik Indonesia. Menjelang akhir penjajahan Jepang, ia pernah diangkat menjadi anggota Panitia 19 BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yaitu badan-badan negara yang tugasnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Disebut Panitia 19 karena memang jumlah anggotannya ada 19 orang yang dipimpin langsung oleh Soekarno. Ia juga pernah duduk sebagai anggota Panitia Perancang UUD 1945. Bersama dengan Djajadiningrat dan Soepomo, ia menjadi penghalus bahasa dalam penyusunan batang tubuh UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, Agus Salim pernah menduduki sejumlah posisi penting, yaitu: Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947); Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin (1947); Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta (1948-1949); menjadi Menteri Luar Negeri pada masa Kabinet Presidentil; dan pada tahun 1947 pernah membuka hubungan diplomatik pertama kali antara Indonesia dan negara-negara Arab, terutama Mesir. Sejak tahun 1950 hingga akhir hayatnya, ia pernah menjadi Penasehat Menteri Luar Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kurun waktu tahun 1946-1950, Agus Salim kerap dijuluki dengan sebutan “Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Julukan itu sebagai bentuk penghargaan atas pengaruh dan kontribusinya yang besar terhadap pembentukan bangsa dan negara Indonesia pada masa itu. Di samping itu, julukan “Orang Tua” memang masuk akal karena ketika rapat-rapat Badan BPUPKI dan PPKI berlangsung antara bulan Juni-Agustus 1945, Agus Salim sudah berumur 61 tahun. Padahal, para peserta lainnya masih di bawah umurnya, seperti Soekarno yang baru berumur 39 tahun dan Hatta berumur 43 tahun. Julukan itu bukan berarti sebagai “pelecehan umur” karena memang Agus Salim benar-benar jenius dan sangat pandai sehingga menjadi orang yang dituakan dan dihormati. Hatta pernah menyebut Agus Salim sebagai “Salim op zijn best (Agus Salim adalah orang hebat dan terbaik)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kongres Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) berlangsung pada bulan Maret 1950, salah satu keputusannya adalah meminta Agus Salim bersedia menjadi menjadi ketua umum partai. Agus Salim menolak permintaan tersebut dengan sejumlah alasan (bahasan lebih lanjut ada pada bagian pemikiran). Sebelumnya Agus Salim memang pernah aktif dalam bidang kepartaian. Pada tahun 1936, ia pernah mendirikan Partai Penyadar. Misi partai ini adalah memberikan kesadaran kepada umat manusia agar mau berpegang teguh pada ajaran al-Quran dan hadits. Di samping itu, partai ini juga bermaksud memberdayakan kelompok masyarakat untuk membangkitkan kemampuannya sendiri melalui sejumlah perkumpulan mandiri, seperti Persatuan Pedagang Pasar, Persatuan Sopir Oplet, Perkumpulan Buruh Batik, dan sebagainya. Hal itu menunjukkan betapa Agus Salim memiliki kepudulian yang sangat besar terhadap nasib dan kehidupan rakyat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim aktif memberikan ceramah-ceramah ilmiah dalam berbagai kesempatannya diundang ke sejumlah perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1953, ia memberi kuliah tentang Islam di Cornell University (Itacha) dan Priceton University, Amerika Serikat (AS). Ia mengemukakan pentingnya Islam sebagai pandangan hidup setiap Muslim. Ceramahnya itu kemudian diterbitkan oleh Cornell University, yang merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas dan pernah menjadi pusat kajian tentang Islam di AS. Dengan demikian, pemikiran Agus Salim telah mendapat pengakuan secara internasional. Tentu hal ini amat membanggakan bagi nama baik bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim pernah diangkat sebagai guru besar pada Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTNI) di Yogyakarta. Namun, sayangnya pengangkatan itu belum sempat dilakoninya. Sebab, ia keburu wafat pada tanggal 4 November 1954 di RSU Jakarta, Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang pemikiran Agus Salim, maka akan sangat luas cakupannya. Ia merupakan pemikir yang komprehensif. Bung Karno pernah mengatakan tentang figur Agus Salim sebagai “The grand old man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek”. Agus Salim merupakan komposisi yang unik antara ulama dan intelektual. Pemikirannya mencakup banyak hal, mulai dari soal sosialisme Islam, demokrasi, hak asasi manusia, hubungan antara Islam dan negara, pluralisme, hingga soal gender. Berikut ini akan dibahas satu persatu pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sosialisme Islam&lt;br /&gt;Agus Salim merupakan tokoh intelektual Muslim dan nasional yang gencar menyuarakan pentingnya membangun gagasan Sosialisme Islam di Indonesia. Gagasan ini pernah disampaikannya pada Kongres Al-Islam di Garut pada tahun 1924. Sebelumnya ia sering terlibat dalam perdebatan-perdebatan tentang isu ini, baik di tubuh SI maupun dalam berbagai forum diskusi dengan berbagai tokoh nasional.  &lt;br /&gt;Pada pertengahan Februari 1920, Muhammad Hatta bersama Bahder Djohan dan Amir Syraifuddin pernah menemui Agus Salim dengan maksud ingin berdiskusi dengannya tentang Islam, sosialisme, dan kapitalisme. Amir mengajukan pertanyaan terlebih dahulu: “Bagaimana menyesuaikan kapitalisme dengan Islam sebab sosialisme yang didirikan Karl Marx bersifat materialisme, anti-Tuhan?”. Sebagaimana dikemukakan Hatta, Agus Salim menjawab pertanyaan penting ini dengan penjelasan sebagai berikut: Ajaran sosialisme sebenarnya sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sejak 12 abad lebih dahulu daripada Karl Marx ketika mengajarkan Marxisme dan komunisme. Istilah sosialisme sendiri baru ada pada abad ke-19. Namun, sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berbeda dengan Marx yang memang anti-Tuhan. Islam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa tujuan ajaran sosialisme dalam Islam adalah membentuk masyarakat yang berdasarkan pada prinsip “sama rasa sama rata” yang bebas dari kemiskinan dan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak perdebatan dan diskusi tentang sosialisme Islam terjadi pada Kongres Nasional VI SI Oktober 1921 di Surabaya. Kelompok Semaun dan Tan Malaka yang merupakan fraksi komunis berusaha mengendalikan jalannya proses kongres dengan berusaha menjadikan haluan SI lebih ke kiri. Namun, usaha tersebut ditentang oleh Agus Salim. Lagi-lagi, ia mengajukan argumentasinya bahwa “Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan sosialisme sejak seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx”, sebagaimana tertulis dalam Buku putih (G.30-S Pemberontakan PKI) yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara (Setneg) pada tahun 1994 (halaman 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa Agus Salim memiliki pandangan yang maju, yaitu mensintesiskan antara Islam dan sosialisme. Ia memang sengaja tidak suka dengan istilah komunisme karena istilah yang satu ini lebih berkonotasi “kiri yang anti-Tuhan”. Pandangannya bisa dikatakan senada atau justru bertolak belakang dengan pemikiran H. Misbach, tokoh SI asal Solo. H. Misbach lebih suka menggunakan kata komunisme. Namun, komunisme yang dipahaminya harus bersintesis dengan Islam. Sebab menurutnya, Islam dan komunisme tidaklah bertentangan. Keduanya saling memperkuat dalam upaya melakukan perbaikan kondisi sosial, di mana dan kapanpun selama eksploitasi dan penindasan itu masih merajalela di muka bumi. Artinya, persamaan antara Agus Salim dan H. Misbach terletak pada sintesisme pemikiran antara Islam dan sosialisme (komunisme). Hanya saja, memang Agus Salim berpendapat bahwa ajaran-ajaran Islam tentang keadilan dan pembebasan kaum lemah (yang dipahami sebagai sosialisme) sudah cukup sebagai pegangan, sehingga tidak perlu mengacu pada Marxisme atau komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Demokrasi &lt;br /&gt;Agus Salim sangat komitmen dengan demokrasi beserta nilai-nilainya. Deskripsi berikut ini dapat dijadikan sebagai contoh. Ia pernah menolak permintaan pimpinan Kongres Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada bulan Maret 1950 yang memintanya agar mau menjadi ketua umum partai. Mengapa tawaran itu ditolaknya? Ada sejumlah alasan. Pertama, sebagaimana isi surat yang ia tujukan kepada M Zein Arief pada tanggal 26 Maret 1950 bahwa ia merasa ngeri dengan kondisi perpolitikan nasional pada saat itu di mana banyak partai politik hanya sebagai kendaraan untuk mencapai kursi kabinet kekuasaan. Tuntutan yang diinginkan partai politik itu kadang dalam bentuk demonstrasi besar-besaran, rapat akbar, dan berbagai macam tuntutan lainnya. Kedua, Agus Salim berkeberatan terhadap perkembangan partai politik yang hanya memperbanyak jumlah anggota (kuantitas), bukannya bagaimana berpikir untuk meningkatkan kualitas anggotanya. Menurutnya, penambahan jumlah anggota tiada lain hanya sebagai alat untuk meraih jabatan atau kursi kabinet (politik). Jika demikian cara berpikir partai politik, maka bagaimana nasib rakyat nantinya?&lt;br /&gt;Dalam pandangan Agus Salim, demokrasi merupakan suara rakyat (dari, oleh, dan untuk rakyat). Pemahaman tentang politik perlu disiarkan kepada rakyat. Partai politik jangan hanya berpikir tentang kepentingannya saja, namun juga harus memperhatikan nasib rakyat. Partai politik perlu mendidik rakyat agar pemahamannya tentang kehidupan sosial-politik dapat terbuka luas, sehingga aspirasi mereka dapat tertampung melalui saluran-saluran politik kepartaian. Jadi, partai politik berperan sebagai “katalisator” dan pelopor pembaharuan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hak Asasi Manusia &lt;br /&gt;Agus Salim memiliki pandangan yang konsisten tentang hak asasi manusia (HAM). Emil Salim, dalam kata pengantar buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, cetakan kedua (1996), mengemukakan perihal pemikiran Agus Salim tentang HAM: “Jauh sebelum dunia Barat bicara tentang hak asasi manusia, Haji Agus Salim sudah menyinggung dalam perjuangannya menuntut kemerdekaan sebagai hak manusia, bahkan hak segala bangsa!”.&lt;br /&gt;Kutipan di atas memang tafsir Emil Salim terhadap pemikiran Agus Salim tentang HAM. Jika ditelusuri lebih jauh sesungguhnya pemikiran Agus Salim dalam memperjuangan nilai-nilai HAM terlihat sangat konsisten. Keterlibatannya dalam perumusan Rancangan UUD 1945 membuktikan betapa ia berpengaruh besar terhadap isi Pembukaan UUD 1945 yang telah memuat seluruh elemen dasar HAM, baik itu di bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Bahkan, ia juga menegaskan bahwa hak kolektif sebuah bangsa untuk merdeka dan bebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan perlu mendapat tempat, termasuk dalam konstitusi negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim memiliki pemikiran yang progresif tentang kaitan antara kebebasan beragama dan HAM. Sebagaimana dikutip Musdah Mulia, ternyata Agus Salim mendukung kebebasan beragama. Dalam pandangan Agus Salim, Pancasila menjamin setiap warga negara memeluk agama apapun, bahkan juga menjamin setiap warga negara untuk memilih tidak beragama sekalipun.&lt;br /&gt;Penegakan HAM tentu dilandasi dengan adanya penegakan hukum yang adil karena HAM itu menyangkut hak masyarakat secara luas. Agus Salim pernah menulis di Harian Fadjar Asia (29 November 1927) tentang “Polisi dan Rakyat". Berikut kalimatnya: “Sikap polisi terhadap rakyat, istimewa keganasan dan kebuasan polisi dalam memeriksa orang yang kena dakwa atau yang hanya kena sangka-sangka rupanya belum berubah-ubah. Hampir tiap hari ada pesakitan di depan landraad yang mencabut “pengakuan" di depan polisi yang lahir bukan karena betul kejadian melainkan hanya karena kekerasan siksa”. Dari tulisan ini terlihat jelas bagaimana ia mengkritik polisi yang seharusnya berperan sebagai penegak hukum, bukan justru melanggar hak-hak asasi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim juga memperhatikan bagaimana peran hakim yang seharusnya. Dalam tulisannya di Harian Fadjar Asia (26 Juni 1928), ia mengatakan: “Jika negeri hendak selamat, haruslah pengadilan berderajat tinggi dalam anggapan orang ramai di negeri ini. Dan hakim-hakim, istimewa yang mengepalai majelis pengadilan wajiblah selalu menunjukkan sikap kebesaran yang anggun, disertai kesabaran, keramahan dan kemurahan, yang menunjukkan ia menjaga jalannya hukum dengan sungguh-sungguh, dengan memakai timbangan yang jernih, yang sekali-sekali tidak boleh kecampuran pengaruh cinta dan benci, yang kira-kira boleh memincangkan teraju timbangannya”. Agus Salim ingin mengingatkan kepada semua orang bahwa penegakan hukum termasuk penegakan HAM hanya akan dapat berhasil jika para penegaknya, terutama hakim, dapat berlaku adil dan memerankan posisi dengan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;d. Islam dan Negara&lt;br /&gt;Pemikiran Agus Salim dalam bagian ini amat menarik. Fachri Ali menyebut bahwa Agus Salim merupakan tokoh Muslim pada tahun 1930-an yang amat kosmopolit. Artinya, curahan perhatiannya tidak hanya untuk menyelesaikan permasalah negara saja, namun juga memikirkan permasalahan dan pemikiran Islam serta Barat. Dengan kata lain, ia mensintesiskan antara Islam dan kebangsaan (nasionalisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Agus Salim tentang hubungan antara Islam dan negara dapat ditelusuri melalui perdebatan hangat para polikus di tahun 1920-an. Ia pernah berdebat dengan Soekarno yang mengobarkan cinta tanah air sebagai spirit untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Ketika itu Agus Salim mengingatkan kepada Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya bahwa cinta tanah air diperbolehkan asalkan tidak menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Nasionalisme memang merupakan modal spirit yang sangat penting, namun jangan sampai menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai contoh, Hitler yang dikenal sangat nasional, namun ternyata di kemudian hari ia justru malah menjadi seorang pemimpin yang sangat diktator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim ingin meletakkan nasionalisme pada porsinya. Artinya, nasionalisme memang perlu digunakan untuk mengembangkan rasa cinta tanah air, namun juga perlu diorientasikan untuk tujuan-tujuan perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara yang besar dan maju. Perjuangan semacam ini tentunya juga merupakan bentuk pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, ia bermaksud mensintesiskan antara nasionalisme sejati dengan nilai-nilai ketuhanan yang sifatnya lebih substanstif. Atas dasar ini, ketika menjadi anggota Panitia 19 ia pernah menyarankan agar pengkuan bahwa "Republik Indonesia berdiri atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa" perlu dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pemikiran Agus Salim banyak bernafaskan Islam, namun ia menolak dengan tegas bentuk pemerintahan teokrasi (kedaulatan Tuhan). Dalam ceramahnya tentang Islam di Itacha, dengan jelas ia menolak keinginan sejumlah ulama yang ingin memasukkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits dalam Rancangan UUD 1945. Dalam ceramah XIII dan VIII di Itacha, ia mengatakan: "I think that for Indonesia we have overcome that difficulty”. Artinya, dalam pandangan Agus Salim, menjadikan Indonesia sebaga negara teokratis itu sangat mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pluralisme&lt;br /&gt;Pemikiran dan sikap Agus Salim dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan egalitarianisme. Pada saat perumusan Rancangan UUD 1945, Agus Salim pernah melakukan kritik perihal adanya sekelompok orang yang berniat memasukkan identitas Islam dalam perumusan rancangan tersebut. Wachid Hasyim yang didukung Sukiman pernah mengusulkan agar pasal yang mengatur kekuasaan pemerintah negara mencantumkan kalimat "Presiden adalah orang Indonesia asli dan yang beragama Islam". Agus Salim mengingatkan rekan-rekannya agar menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme. Ia meminta rekan-rekannya agar berpegang pada kesepakatan kelompok nasionalis dengan Islam untuk melindungi agama lain. Atas masukan Agus Salim, kata beragama Islam itu akhirnya dicoret, tidak jadi dicantumkan dalam ketentuan Rancangan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim juga menyoroti masalah pluralisme ketika dirinya pernah bergabung dalam PSII. Ia tidak setuju jika semua partai itu berasaskan Islam, meski mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Ia mencontohkan ada banyak orang yang masuk ke dalam partai non-Islam, namun ternyata dirinya tetap berpegang teguh terhadap keyakinan Islam. Artinya, label Islam tidak menentukan bagaimana kepribadian anggota partai karena yang penting adalah substansinya. Atas dasar pemikiran inilah, ia memutuskan untuk tidak lagi aktif di partai (PSII) dengan alasan karena ia ingin lebih leluasa dalam melakukan berbagai kegiatan pencerahan masyarakat, di antaranya dengan cara memberikan pemahaman Islam yang pluralis dan juga pendidikan demokrasi.&lt;br /&gt;Pemikiran Agus Salim tentang pluralisme dapat juga dipahami melalui sejumlah ceramah-ceramahnya di Itacha. Sebagaimana dikemukakan Buddy Munawar-Rachman (Kompas, 21 Agustus 2004), Agus Salim berpendirian bahwa pluralisme itu telah diajarkan dalam Islam, bahkan jauh sebelum Barat mewacanakan dan mengembangkannya. Dalam pandangan Agus Salim, pengalaman pluralisme di Barat masih terbatas di kalangan panganut Kristen saja. Sementara di kalangan Yahudi masih terbelenggu oleh doktrin antisemitisme yang mencapai puncaknya pada tragedi Nazi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Gender&lt;br /&gt;Agus Salim memiliki pandangan yang progresif tentang gender dan keluarga. Menurutnya, teks dalam al-Qur’an perlu ditafsirkan secara kontekstual. Ketentuan tentang jilbab sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Ahzab Ayat 59 perlu dilihat bagaimana konteks turunnya ayat (asbabun nuzul)-nya. Artinya, anjuran untuk mengenakan jilbab merupakan suatu bentuk budaya masyarakat pada saat itu, bahkan sebelum Islam datang budaya ini memang sudah ada.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim melakukan pembaharuan terhadap konsep pemikiran Islam yang selama ini masih dianggap kaku atau taken for granted oleh sebagian besar umat Islam. Kejadian pada saat Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) ke-2 di Yogyakarta tahun 1927 dapat dijadikan contoh betapa ia memiliki pandangan yang pro-gender. Organisasi ini banyak melahirkan generasi cendekiawan Muslim yang setelah proklamasi mereka berkumpul dalam Partai Masyumi. Pada kongres itu, ia menyerukan agar diberlakukan emansipasi, yaitu bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Misalnya, ia menganjurkan agar jangan dibuat tabir (pemisah) dalam setiap rapat atau pertemuan yang dihadiri oleh laki-laki dan perempuan. Ia mendekati seorang anggota panitia dan berkata: "Bung, saya minta turunkan tabir itu". Anggota panitia itu menjawab: “Enggak bisa, kecuali kalau bapak sendiri yang menurunkannya”.  Agus Salim berdiri dan mengatakan “Baik!”, sambil kemudian menarik tabir tersebut dan membuangnya.&lt;br /&gt;Mengapa Agus Salim bersikap seperti itu? Sebab baginya, tabir merupakan kebiasaan bangsa Arab yang bukan murni dari Islam. Tradisi ini merupakan warisan dari ajaran agama-agama sebelum Islam datang, seperti dari Yahudi dan Kristen yang pada saat itu masih memandang posisi perempuan masih rendah di bawah laki-laki. Datangnya Islam justru sebagai pembaharu yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Ia pernah menegaskan dalam sidang JIB sebagaimana telah diulas di atas bahwa: "Saya tidak ragu-ragu bertindak secara demonstratif dan menonjol membongkar hijab atau tabir yang memisahkan para hadirin wanita dan para hadirin pria dan menurut pemandangan mereka terhadap rapat seluruhnya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim pernah menulis di surat kabar Neratja, 4 September 1917, yang intinya menolak pandangan sejumlah pihak yang menyatakan perempuan tidak perlu mendapat pendidikan yang tinggi. Ditegaskan olehnya, pandangan semacam itu benar-benar sesat. Ia pun mengatakan bahwa pendidikan bagi perempuan itu sangat penting meskipun nantinya jika telah menikah mereka masih tidak bekerja. Ia memberikan dasar argumen bahwa pendidikan tetap penting bagi perempuan karena terkait dengan bagaimana kemampuannya dalam memegang uang belanja, mengendalikan rumah tangga, serta mendidik dan mengajar anak. Intinya, baik laki-laki maupun perempuan harus mendapatkan kesempatan yang sama, termasuk dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Salim juga memiliki pandangan yang progresif tentang kepemimpinan perempuan. Menurutnya, perempuan boleh saja menjadi pemimpin asalkan didukung oleh adanya pendidikan dan kemampuannya dalam berpolitik. Jika syarat-syarat itu telah ada dalam diri perempuan maka mungkin saja nanti akan muncul pemimpin-pemimpin perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Karya&lt;br /&gt;Karya Agus Salim sebenarnya banyak sekali. Namun, yang baru dapat diperoleh datanya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan?, yang kemudian judulnya diperbaharui menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal (1953).&lt;br /&gt;2. Ketuhanan Yang Maha Esa (belum diketahui data tahun penerbitannya).&lt;br /&gt;3. Ia aktif menulis di Het Licht (1925-1926), Pedoman Masyarakat (1936-1938), Pandji (1939), dan Hikmah (1953).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penghargaan&lt;br /&gt;Agus Salim mendapat perhargaan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961. Ia juga mendapatkan perhargaan Bintang Mahaputera Tingkat I (1960) dan Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961). Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah/kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;• Alam Tulus, “Muhammad Mengajarkan Sosialisme Juah Sebelum Karl Marx”, www.media.isnet.org.&lt;br /&gt;• Asvi Warman Adam, “Agus Salim, Manusia Merdeka”, Kompas, 21 Agustus 2004.&lt;br /&gt;• M. Faliqul Isbah, “Wacana Kiri dalam Sejarah Indonesia” (Resensi Buku), www.ruangbaca.com.&lt;br /&gt;• Siti Musdah Mulia, “Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama”, www.icrp-online.org.&lt;br /&gt;• Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006).&lt;br /&gt;• Kompas, 21 Agustus 2004.&lt;br /&gt;• Republika, 27 Oktober 2001.&lt;br /&gt;• www.humanrights.go.id.&lt;br /&gt;• www.mesias.8k.com/agussalim.htm.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-7699085632334305985?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/7699085632334305985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=7699085632334305985' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7699085632334305985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/7699085632334305985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/agus-salim.html' title='Agus Salim'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_7bnITXGl480/SvOr1u_lNEI/AAAAAAAAAAM/aAySnkaBHGg/s72-c/kh_agus_salim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-4093629599606958774</id><published>2010-10-02T10:32:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Tuan Guru Abdurrahman Sidiq</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://rifafreedom.files.wordpress.com/2008/10/shaikh-abdurrahman-siddiq-al-banjari.jpg?w=240&amp;h=320"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://rifafreedom.files.wordpress.com/2008/10/shaikh-abdurrahman-siddiq-al-banjari.jpg?w=240&amp;h=320" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq dilahirkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1287 H/1864 M., dari seorang ayah bernama Muhammad Afif bin Khadhi H. Mahmud dan ibu bernama Shafura. Ia adalah keturunan (buyut) dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu sosok ulama besar yang pertama kali mengembangkan Islam di Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Abdurrahman Siddiq memulai pendidikannya dengan menimba ilmu dasar-dasar agama pada Mak Ciknya, Siti Saidah, seperti membaca al-Qur’an, ilmu fiqh dan ilmu Alat (khususnya dari kitab-kitab fiqh seperti: Kitab Dammun, Matan Jurumiah, dan Matan Bina). Pada usia 13 tahun, ia meluaskan pengetahuannya dengan mempelajari berbagai kitab antara lain: Kitab Mukhtasar, Kailani, Ilmu Bayan, Mantik, Ma’ani, Tafsir dan Hadis. Saat usianya menginjak dewasa, ia memutuskan ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Di Mekkah, ia berguru pada beberapa ulama besar kala itu, seperti Syekh Said Satta (pengarang kitab I’anatut al-Thalibin), Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Ahmad Bapadhil, dan Syekh Umar Sambas. Selain berguru secara formal pada guru-guru terkemuka di Masjidil Haram, ia juga banyak berguru pada ulama-ulama sufi di kota Mekkah. Maka tak heran, jika Syekh Abdurrahman Siddiq lebih banyak berkarya di bidang ilmu tauhid daripada ilmu fiqh. Setelah 6 tahun menimba ilmu di Mekkah, sekitar tahun 1316 H, ia kembali ke kampung halamannya di Kampung Dalam Pagar, Martapura, untuk menyebarkan agama Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1324 H/1913 M, Syekh Abdurrahman Siddiq merantau ke Indragiri. Ketika datang pertama kali, ia bermastautin di Sapat (sekarang ibukota kecamatan Kuala Indragiri) sebagai tukang mas selama 7 bulan. Kemudian tahun 1337 H, ia secara resmi diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri yang pertama oleh Sultan Mahmud Syah yang berkedudukan di Rengat. Ia menjabat mufti di Kerajaan Indragiri selama kurang lebih 20 tahun. Disamping sebagai mufti, ia juga membuka perkebunan kelapa di Parit Hidayat dan mendirikan sebuah perguruan untuk mengajarkan ilmu agama kepada santri-santrinya. Pengajaran biasa diberikan di masjid atau di rumah yang biasa disebut Rumah Besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq wafat di Parit Hidayat, Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Riau, pada tanggal 10 Maret 1366 H/1930 M. Abdurrahman Siddiq meninggalkan sembilan orang istri yaitu Salmah, Nursam, Rahmah, Zulaiha, Halimah, Fatimah, Hutnah, Aminah, dan Fatmah dan 35 orang putra-putri. Salah satu peninggalan Syekh Abdurrahman Siddiq yang terkenal adalah Masjid Tua di Parit Hidayat yang dibangun bersama para santri pada tahun 1927. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran / Pengaruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karya Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq yang sangat terkenal adalah Syair Ibarat Khabar Kiamat yang dikategorikan sebagai karya sastra keagamaan (Islam). Ide, gagasan, dan pandangan Syekh Abdurrahman Siddiq banyak tertuang melalui syair-syair yang termaktub di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai eksistensi manusia dan hari kiamat. Menurut Abdurrahman Siddiq, eksistensi manusia sebagai makhluk tuhan adalah sebagai khalifah dan sekaligus hamba Allah di muka bumi, yang datang dan akan kembali kepada-Nya. Konsep eksistensi manusia sebagai khalifah adalah meletakkan manusia sebagai makhluk tuhan yang bertanggung jawab atas segala tingkah-lakunya di dunia ini. Manifestasi dari konsep manusia sebagai khalifah dapat dilihat dalam pengabdian diri kepada tuhan melalui shalat bagi umat Islam. Shalat adalah sebuah kewajiban yang konstan dan absolut, tidak ada pengecualian terhadap suatu golongan untuk tidak mengerjakan perintah shalat dalam kondisi apapun. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ganjaran dan hukuman bagi manusia di akhirat kelak. Ibadah shalat merupakan syarat utama dalam mengesahkan pemberian ganjaran tersebut, sebagaimana digambarkan dalam syair berikut; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pahala sembahyang tiada berkurang &lt;br /&gt;banyaknya lebih daripada bintang&lt;br /&gt;meninggalkan dia amal pun hilang &lt;br /&gt;di akhirat tiada lagi ditimbang&lt;br /&gt;jika tiada sembahyang selama-lama&lt;br /&gt;Haji dan zakat tiada diterima &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pandangan Syekh Abdurrahman Siddiq mengenai hari kiamat ialah bahwa kefanaan dunia ini diakhiri sebuah kejadian yang mahadahsyat yaitu hari kiamat. Terjadinya kiamat adalah sebuah momen puncak hancurnya dunia ini dan disambut oleh alam akhirat yang kekal dimana semua manusia akan menemuinya setelah menjalani proses kematian di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dan gagasan Syekh Abdurrahman Siddiq tersebut, banyak memberikan pengaruh kepada para seniman di daerah Sumatera, khususnya Riau dan kawasan-kawasan lain seperti Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan bahkan sampai ke pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sosok ulama besar dan seorang pujangga, Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq telah melahirkan beberapa karya tulis berupa buku-buku agama dan karya sastra, antara lain:&lt;br /&gt;1. Syair Ibarat Khabar Kiamat, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1915).&lt;br /&gt;2. Fath al-Alim fi Tartib al-Ta’lim (tahun 1929).&lt;br /&gt;3. Risalah Amal Ma’rifat, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1338).&lt;br /&gt;4. Asrar al-Shalat min ‘Iddat al-Kutub al-Mu’tabarat, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1931).&lt;br /&gt;5. Bay’ al-Hayawan li al-Kafirin, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1916 M).&lt;br /&gt;6. Risalah fi ‘Aqaid al-Iman, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1936).&lt;br /&gt;7. Kitab al-Farai’dh, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1919).&lt;br /&gt;8. Majmu’ al-Ayat wa al-Ahadits fi Fahmi al-’Ilm wa al-Ulama wa al-Muta’allimin wa al-Mustami’in, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1927).&lt;br /&gt;9. Tazkiratun li Nafsi wa li Amtsali, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1935).&lt;br /&gt;10. Maw’izhatun li Nafsi wa li Amtsali Min al-Ikhwan, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1936).&lt;br /&gt;11. Risalah Syajarah al-Arsyadiyyah wa ma Ulhiqa Biha, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1937).&lt;br /&gt;12. Risalah Takmilat Qawal al-Mukhtashar, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1937).&lt;br /&gt;13. Sejarah Perkembangan Islam di Kerajaan Banjar.&lt;br /&gt;14. Kumpulan Khutbah, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1938).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8038389595510719206-4093629599606958774?l=ristu-hasriandi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/feeds/4093629599606958774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8038389595510719206&amp;postID=4093629599606958774' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4093629599606958774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8038389595510719206/posts/default/4093629599606958774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2010/10/tuan-guru-abdurrahman-sidiq.html' title='Tuan Guru Abdurrahman Sidiq'/><author><name>Ristu hasriandi Khoo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14686167194971653015</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_92D2FSIuL3c/SuhjaxyggfI/AAAAAAAAALI/gSqeXowBjPI/S220/futsal+euy.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8038389595510719206.post-3339683710908625288</id><published>2010-10-02T10:25:00.002+07:00</published><updated>2011-07-20T15:24:07.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Islam'/><title type='text'>Abdul Rauf Singkel</title><content type='html'>A. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua legenda yang dikaitkan dengan Abdul Rauf Singkel. Legenda pertama menyatakan bahwa ia adalah mubaligh pertama yang mengislamkan Aceh (lihat Liaw Yock Fang, 1975: 198 dan Braginsky, 1998: 474). Legenda kedua menyatakan bahwa khotbah-khotbahnya telah membawa “para pelacur” dari “bordil”, yang konon dibuka oleh Hamzah Fansuri di ibukota Aceh, untuk kembali ke jalan yang benar (Snouck Hurgronje dalam Braginsky, 1998: 474). Braginsky (1998) menegaskan bahwa kedua legenda itu tentu saja tidak sesuai dengan kebenaran sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tentang peranan Abdul Rauf sebagai mualim, ulama dan pendakwah yang berpengaruh dalam kedua legenda tersebut, tentu saja tidak bisa disangkal. Arah gagasannya selalu praktis. Sebagai seorang mualim ia selalu menaruh perhatian besar pada murid-muridnya. Karya-karyanya selalu bertolak dari perhatiannya yang demikian itu, yaitu untuk membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik lagi, menasehati mereka supaya tidak tertimpa musibah, memperteguh kesalehan mereka, dan menghindarkan mereka dari tindakan salah dan tidak toleran (A. Johns dalam Braginsky, 1998: 474).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Rauf Singkel, yang bernama panjang Syeh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili, lahir di Fansur, lalu dibesarkan di Singkil pada awal abad ke-17 M. Ayahnya adalah Syeh Ali Fansuri, yang masih bersaudara dengan Syeh Hamzah Fansuri. A. Rinkes memperkirakan bahwa Abdul Rauf lahir pada tahun 1615 M. Ini didasarkan perhitungan, ketika Abdul Rauf kembali dari Mekah, usianya antara 25 dan 30 tahun (lihat Abdul Hadi WM, 2006: 241). Namun, Abdul Hadi WM (2006) menyatakan bahwa perkiraan itu bisa meleset, karena Abdul Rauf berada di Mekah sekitar 19 tahun, dan kembali ke Aceh pada 1661. Bila dalam usia 30 tahun ia kembali dari Mekah, berarti ia dilahirkan pada 1630.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sekitar 19 tahun menghimpun ilmu di Timur Tengah, Abdul Rauf tidak 
