14 April 2010

Menyingkap Jam Air Ridhwan al-Sa'ati


Jam air Ridhwan al-Sa'ati merupakan warisan perangkat mekanik Muslim yang di dalamnya dibenamkan teknologi maju.

Berbagai upaya telah diupayakan untuk menemukan jawaban memuaskan. Ini tentang sebuah jam air yang ada di Masjid Ummayah, Damaskus, Suriah. Setiap jam, bunyi berdentang terdengar dari jam itu. Ternyata, jam ini sudah ada enam abad sebelum pembuatan Big Ben di London, Inggris, pada 1859.

Pada akhirnya, sejumlah manuskrip terkumpul. Selubung misteri jam tersebut pun ikut tersingkap. Manuskrip-manuskrip yang ada mengisahkan, jam itu diletakkan di pintu masuk sebelah timur Masjid Ummayah atau di sebelah kanan pintu keluar masjid yang berdekatan dengan istana pemerintah, Qasr al-Khadhra.

Pintu masuk sebelah timur itu dinamakan Bab al-Sa'at yang disebut pula sebagai Gerbang Jam. Ada pula nama lain yang disematkan pada pintu masuk itu, di antaranya Bab Jayrun dan Bab El-Labbadin. Keberadaan dan kerja jam air itu digambarkan oleh operator awal jam tersebut, Ridhwan.

Ini terungkap dalam sebuah manuskrip tahun 600 Hijriyah atau 1202 Masehi. Jam itu dinamai dengan nama sang operator tersebut, yaitu Ridhwan al-Sa'ati. Keberadaan jam itu merupakan salah satu warisan perangkat mekanik Muslim yang membenamkan teknologi maju di dalamnya.

Memang, pada jam ini, terdapat sejumlah keunikan dan kecanggihan teknologi. Jam ini menunjukkan pentingnya perkiraan waktu dan ditempatkan di lokasi yang strategis, antara istana pemerintah dan masjid. Jadi, jam ini berada di dekat pusat pemerintahan dan pusat kegiatan umat.

Keunikan lain yang melekat pada jam ini adalah kemampuannya menghubungkan kalender Hijriyah terkait perubahan musim dengan kondisi udara, menetapkan sudut sinar matahari, serta membagi waktu siang dan malam masing-masing selama 12 jam yang tak terpengaruh apakah lebih panjang atau pendek dalam sebuah tahun.

Tak hanya itu, jam ini juga memberitahukan khalayak mengenai pergantian waktu setiap jam dengan dentangan suaranya. Dengan keberadaan semua kemampuan pada jam tersebut, Ridhwan sebagai operator jam dianugerahi status tinggi sebagai seorang menteri dalam pemerintahan.

Di sisi lain, pemerintah juga mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan dan keberlangsungan alat itu. Sejumlah pakar mengatakan, jam Ridhwan termasuk dalam kelompok perangkat waktu hidrolik yang terkenal pada masa lalu, seperti Clepsydra dan Ghati. Ini juga menunjukkan perkembangan konstruksi pembuatan jam dari waktu ke waktu.

Terutama, saat Khalifah Harun al-Rasyid pada 786 Masehi menghadiahkan jam air yang terbuat dari kayu kepada Charlemagne I yang merupakan raja kaum Frank di Barat. Diyakini pula, bentuk berbeda dari perangkat sejenis itu ada di wilayah lain di dunia Islam. Jadi, jam itu menyebar luas di wilayah Islam.

Menurut manuskrip Ridhwan al-Sa'ati; ayah Ridhwan, yaitu Abu 'Abdullah Muhammad bin Naser bin Saghir bin  Khalid al-Kaysarani, merupakan orang pertama yang mengoperasikan jam tersebut. Ini terjadi sebelum Sultan  Nur Ed-Din Mahmud bin Zanki mengambil alih Damaskus pada 1154 Masehi.

Kaysarani sendiri merupakan seorang terpelajar yang ahli dalam puisi, astronomi, teknik, dan matematika. Setelah dia, ada Muhammad bin Ali al-Khurasani yang merekonstruksi jam itu setelah terbakar pada 1166. Ridhwan al-Sa'ati menyebutkan pula tiga orang yang mengoperasikan jam itu setelah kematian ayahnya.

Mereka adalah al-Muhadhab bin al-Naqqash, al-Muhadhab bin al-Hajib, dan Abu al-Fadhl al-Najjar. Kemudian, Ridhwan yang akhirnya mengoperasikan jam itu. Ridhwan dikenal sebagai Fakhr al-Din Ridhwan al-Sa'ati al-Khurasani al-Dimashqi. Dia menjabat sebagai menteri pada masa Raja Isa bin al-Malik.

Isa menugaskan pula pemberian anggaran khusus untuk pemeliharaan dan pengoperasian jam itu. Di sisi lain, keberadaan jam itu juga sangat terkenal. Sejumlah pelancong menggambarkannya. Ada Rabbi Benjamin dari Tuleda yang mengunjungi Damaskus antara 1159 dan 1174. Menurut dia, Damaskus memiliki sebuah sinagog pengikut Muhammad.

Benjamin menyatakan, itu pasti istana Ibnu Haddad. Salah satu dindingnya dibangun dengan kekuatan ajaib. Pada dinding bangunan itu terdapat sebuah perangkat yang disinari matahari dan tertera jumlah hari dari tahun matahari. Perangkat itu terbagi dalam dua belas tingkat untuk menyesuaikan waktu dalam sehari.

Ini merupakan gambaran jam matahari, yang dianggap terletak di dekat masjid tersebut, tak sesuai dengan gambaran jam yang dilakukan oleh Ridhwan dan dua pelancong lainnya, yaitu Ibnu Jubayr dan Ibnu Battuta. Menurut laman Muslimheritage, gambaran Rabbi Benjamin itu secara salah dikutip Donald R Hill dalam bukunya Arabic Water Clocks.

Ibnu Jubayr menceritakan pula jam air ini saat ia melakukan perjalanan dan tinggal di Damaskus pada 1184. Gambaran dia tentang jam itu sangat mendekati apa yang diungkapkan dalam manuskrip Ridhwan al-Sa'ati. Gambaran yang dibuat Ibnu Battuta pada 1326 mendekati gambaran Ibnu Jubayr, namun lebih ringkas.

Berdasarkan survei dan analisis terhadap semua literatur tentang jam Ridhwan, terungkap bahwa seorang insinyur dari Mesir bernama Abdullah Baylak al-Qabagaqi merupakan orang yang paling mengerti jam air itu. Sebab, dia bersentuhan langsung dengan perangkat bersangkutan. Selain itu, catatannya dimasukkan dalam salinan naskah asli Ridhwan.

Sebab, dia langsung bersentuhan dengan perangkat waktu tersebut dan juga karena catatannya dimasukkan dalam salinan naskah asli Ridhwan. Pada awal abad kedua puluh, seorang ahli fisika dan sejarah Jerman, yaitu Eilard Wiedemann dan Fritz Hauser, mempelajari perangkat jam air itu.

Mereka bahkan mencapai tingkat pemahaman yang tinggi atas cara kerja jam tersebut. Lalu, mereka menerbitkan hasil penelitiannya pada 1915 dalam beberapa artikel. Meski karya mereka dianggap sebagai karya perintis, mereka melahirkan konsepsi tidak lengkap soal jam air itu. Sejumlah kesalahan pun muncul dari penjelasan mereka.

Seorang penulis, Syekh Muhammad Ahmad Dahman, pernah mengedit naskah Ridhwan dan menggunakan teks tersebut untuk memahami jam air. Ia menganggap teks asli Ridhwan cukup jelas untuk membantu dalam merekonstruksi jam air tersebut. Namun, dia tidak menambahkan komentar untuk menjelaskan operasi dan konstruksi dari jam air tersebut.

Paling tidak, ada tiga manuskrip yang mengungkap keberadaan jam itu. Pertama, manuskrip asli yang didiktekan oleh Ridhwan sendiri dan sekarang ada di perpustakaan Forschungsbibliothek di Gotha, Jerman. Kedua adalah salinan yang ditulis Baylak Abdullah al-Qabagaqi. Naskah ini ada 5-6 tahun setelah keberadaan manuskrip asli.

Manuskrip itu disimpan di Istanbul, Turki. Sedangkan, manuskrip ketiga merupakan salinan naskah al-Qabagaqi. Kini, naskah itu ada di Kairo, Mesir.


Merujuk pada Al-Jazari

Jam air dikenal sejak sebelum masehi. Di dunia Islam, Al-Jazari, dikenal sebagai perintis jam air. Namun, ia bukan satu-satunya ilmuwan Muslim yang menciptakan jam air. Asa ilmuwan lainnya yang bernama Ibnu al-Haytam yang membuat jam sejenis pada 1000 Masehi.

Muncul pula nama Al-Zarqali. Ia menciptakan dua jam air besar yang berada di tepi Sungai Tagus di Toledo. Meski demikian, jam air yang paling monumental diciptakan oleh seorang insinyur besar Muslim, Al-Jazari.

Kehebatan Al-Jazari di bidang teknik, sangat dikenal di dunia Islam. Ia bahkan membuat beberapa jenis jam air. Salah satunya, sebuah jam bertenaga air yang tingginya satu meter dan lebarnya satu setengah meter. Jam tersebut berhasil direkonstruksi ulang pada 1976.

Jam air karya Al-Jazari yang sangat terkenal adalah jam berbentuk gajah. Jam itu bisa menghasilkan suara. Dalam sebuah naskah karya Al-Jazari, jam itu merupakan jam paling awal yang memakai flow regulator, sebuah sistem tutup-lubang.

Para ilmuwan modern banyak yang mengakui kehebatan Al-jazari dalam membuat jam air, yang pada masa itu jam merupakan barang istimewa. Rancangan jam air buatan Al-Jazari penuh dengan ide-ide dan teknik-teknik yang penting bagi sejarah desain mesin jam.

Al-Jazari dikenal sebagai ilmuwan yang lebih tertarik pada pengembangan perangkat yang memiliki nilai pakai. Tak heran jika ia melakukan serangkaian percobaan untuk membuat perangkat-perangkat teknik.

Sementara itu, deskripsi paling awal mengenai jam air dalam bahasa Arab terdapat dalam risalah mesin karya Al-Muradi, yang bekerja di Spanyol pada abad ke-11.

Ahmad Ibnu Yusuf, Ilmuwan Besar dari Mesir

Buku Ahmad Ibnu Yusuf diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan memberikan pengaruh pemikiran matematika di Eropa.

Ahmad Ibnu Yusuf, mengikuti jejak ayahnya, Yusuf Ibnu Ibrahim, menekuni matematika. Melalui bidang ini, ia kemudian dikenal luas. Nama besarnya sebagai ilmuwan tak hanya didengar di seluruh Mesir, tetapi juga sampai ke Eropa.

Menurut laman  Muslimheritage , Ahmad Ibnu Yusuf merupakan ilmuwan Mesir pertama yang dikenal di dunia internasional dan salah satu ilmuwan Muslim terbesar yang pernah ada. Namun, ilmuwan yang hidup di Mesir pada paruh kedua abad kesembilan ini hampir tak dikenal.

Ahmad dianggap telah mampu merancang dasar-dasar bagi perkembangan matematika modern dan Eropa di abad pertengahan. Ia dikenal pula sebagai Ametus Filius Joseph. Karyanyanya yang terkenal adalah tentang busur yang sama atau  De similibus arcubus .

Buku ini merupakan komentar atas karya Ptolemius, yaitu  Centiloquium . Melalui buku ini, Ahmad membuktikan bahwa busur lingkaran yang serupa bisa sama juga bisa tidak. Buku ini diterjemahkan oleh Plato Tiburtinus.

Terjemahan ini pertama kali dicetak di Venice pada 1493, dengan judul  Incipit liber centum verborum ptholemei cum commento haly. Ahmad menulis buku lainnya, tentang rasio dan proporsi dengan judul  Kitab Al-nisba wal tanasub atau  De proportione et roportionalitate .
 
Buku ini kemudian membawa pengaruh pemikiran matematika di Eropa di zaman pertengahan melalui Leonardo da Pisa dan Jordanus Nemorarius. Dua buku karya Ahmad ini kemudian diterjemahkan oleh penerjemah terkenal pada abad ke-12, Gerard of Cremona.

Sebagian besar isi dalam buku ini merupakan komentar dan pengembangan  Book Five of Euclid's Elements karya Euclid, ahli matematika dari Yunani. Pemikiran Euclid memang banyak memberikan pengaruh terhadap pemikiran Ahmad.

Buku karya Euclid ini dianggap sebagai buku yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah matematika dalam bidang geometri. Karya Euclid ini terdiri atas 13 jilid yang ditulis saat berada di Alexandria, yang berisi definisi, postulat, dalil, dan konstruksi dari proposisi.

Karya Euclid ini, pertama kali dicetak di Venesia pada 1482. Buku ini juga merupakan salah satu karya matematika yang paling awal dicetak setelah ditemukannya mesin cetak. Karya ini juga digunakan sebagai dasar-dasar teks geometri di Barat.

Selain dua buku terkenalnya itu, Ahmad membuat metode untuk menyelesaikan masalah perpajakan. Bahasan yang dilakukannya itu muncul dalam buku Liber Abaci yang membahas aritmatika karya Fibonacci atau Leonardo Pisano, seorang ilmuwan ahli matematika yang berasal dari Italia.

Dalam karya tersebut, Fibonacci memperkenalkan angka-angka Arab dan elemen utama sistem desimal kepada orang-orang Eropa. Dia mempelajari angka-angka Arab tersebut ketika dia tinggal di Afrika Utara dengan ayahnya, Guglielmo Bonaccio.

Karya Ahmad yang berupa metode untuk menyelesaikan masalah perpajakan juga banyak dikutip oleh para ilmuwan lain di bidang matematika, antara lain Bradwardine, Jordanus, dan Pacioli. Ia memiliki pula keahlian dalam bidang astronomi. Tak heran, jika kemudian Ahmad pun memiliki karya dalam bidang astronomi. Ia memberikan gambaran tentang astrolabe. Ini merupakan instrumen yang dimiliki para astronom untuk memperkirakan letak matahari dan planet lainnya serta memperkirakan waktu.

Ada beberapa karya yang dikaitkan dengan dirinya, tak jelas siapa yang menulisnya. Sejumlah catatan menyatakan beberapa karya tersebut merupakan tulisan Ahmad. Namun, ada pula yang menyanggahnya dan menyatakan itu karya bersama Ahmad dan ayahnya.

Ahmad lahir di Baghdad, Irak. Namun, ia bersama ayahnya kemudian pindah ke Damaskus, Suriah, pada 839. Beberapa lama kemudian, keluarganya pindah ke Kairo, Mesir. Tak diketahui secara pasti kapan ia meninggalkan Damaskus dan kemudian menetap di Mesir.

Tak heran jika kemudian di belakang namanya disematkan sebutan al-Misri. Meski tak tahu secara pasti Ahmad pindah ke Mesir, namun sejumlah sejarawan menyatakan kemungkinan ia pindah ke Mesir bersama keluarganya saat ia masih kanak-kanak.

Saat di Kairo, Mesir, Ahmad tumbuh dalam sebuah lingkungan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Apalagi, ayahnya merupakan ahli matematika, astronomi, dan juga seorang dokter. Ayahnya, dikenal pula sebagai anggota tim yang membuat dan merancang tabel astronomi.

Di sisi lain, ayah Ahmad merupakan bagian dari kelompok ilmuwan terpelajar. Tak heran jika kemudian ia selalu berada dalam lingkungan yang sarat pengetahuan. Ia pun memiliki ketertarikan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan.
 
Ahmad lalu tumbuh menjadi sosok yang selalu haus akan ilmu. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, ia mampu menguasai sejumlah bidang yang juga dikuasai ayahnya. Ia menguasai matematika dan juga astronomi dan menuangkan pemikirannya dalam sejumlah karya.

Selain dikenal sebagai ilmuwan, Ahmad juga memiliki jabatan di pemerintahan, yaitu pada saat Dinasti Tulunid berkuasa di Mesir. Ia menjabat sebagai sekretaris. Ia meninggal dunia pada 912, namun namanya tetap dikenang sebagai ilmuwan besar.

Islam di Kamerun, Mengurai Kebersamaan dalam Persatuan

Aspek pendidikan merupakan salah satu solusi dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Dunia pernah dibuat kagum oleh para pesepak bola asal Kamerun. Salah satunya adalah aksi brilian striker Kamerun, Roger Milla, kala menumbangkan tim kuat Argentina pada laga pembuka Piala Dunia 1990 di Italia. Itulah momen ketika nama Kamerun segera menjadi topik pembicaraan hangat di seantero jagat.

Hingga kini, negara yang terletak di sub-Sahara Afrika itu tetap mampu mempertahankan tradisi sepak bola andalnya. Pemain-pemain Kamerun telah berkiprah di liga-liga terbaik dunia sekaligus mengharumkan nama Kamerun. Selain Roger Milla, pemain asal Kamerun lainnya yang kini sangat populer adalah Samuel Eto'o, mantan pemain Barcelona yang kini bermain di klub Inter Milan, Italia. Eto'o pernah menjadi top skor La Liga (Spanyol) saat memperkuat Barcelona.

Sesungguhnya, bukan hanya dari kancah sepak bola saja yang membuat Kamerun dikenal dunia. Sejak lama, negara tersebut diakui sebagai contoh terbaik perwujudan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di benua Afrika.

Ya, berbeda dengan negara-negara tetangga mereka, sejauh ini Kamerun sangat jarang terdengar munculnya konflik komunal yang diakibatkan perbedaan keyakinan agama. Masyarakat Kamerun justru dapat memelihara sikap saling menghargai satu sama lain.

Pujian pun datang dari mana-mana. Salah satunya dari Paus Benediktus XVI. Pemimpin umat Nasrani ini bahkan menjadikan Kamerun sebagai awal lawatannya ke benua Afrika, medio Maret 2009.

Dalam kesempatan itu, Paus menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah tokoh Islam di sana. Ketika itu, secara khusus Paus memberikan apresiasi dan penghargaan pada peran umat Islam dalam menjaga kerukunan beragama.

Paus lantas mengatakan, Islam adalah salah satu agama yang menjadi dasar peradaban manusia. Oleh sebab itu, dia meminta umat Islam dan Nasrani di Kamerun dapat meneruskan contoh kerukunan tadi kepada negara-negara Afrika lainnya.

''Saya berharap, umat Islam dan Nasrani di Kamerun untuk dapat selalu bekerja sama dalam upaya membangun peradaban cinta,'' ujar Paus dalam pertemuan di Ounde, Kamerun. Berdasarkan data, jumlah umat Muslim di Kamerun saat ini sekitar 22 persen dari populasi sebanyak 17,2 juta jiwa. Adapun penganut Katolik dan Animisme masing-masing berjumlah 27 persen dan 18 persen lagi merupakan penganut Protestan.

Lebih jauh, Paus mengharapkan umat beragama di Kamerun dapat terus mempertahankan situasi rukun dan damai, sekaligus menghindari konflik antaragama. ''Kita ingin melihat kehidupan umat beragama di negara ini bisa menjadi panutan bagi negara-negara lain di kawasan dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama,'' tegasnya.

Seperti disebutkan David Grim, peneliti senior bidang agama dan kerja sama internasional di Pew Forum in Religion and Public Life, kedua agama (Islam dan Nasrani) sedang mengalami pertumbuhan pesat di Afrika.

Dulu, hanya satu dari 10 orang di sub-Sahara Afrika adalah penganut Nasrani. Kini, jumlahnya hampir enam dari 10 orang. ''Begitu pula umat Islam, jika pada awal abad 20 jumlahnya baru sekitar 14 persen dari populasi, saat ini sudah mencakup 20-30 persen,'' tegasnya.

Maka itu, sangatlah penting agar setiap pemeluk agama dapat memelihara toleransi di antara mereka. ''Sejauh ini, Kamerun telah berhasil memenuhi harapan itu,'' paparnya bangga.

Hal ini dipertegas oleh Krisztof Zielenda, direktur Institut Saint Joseph Mukasa Institute, Yoaunde. Dia melihat, selama ini umat beragama di Kamerun dapat hidup berdampingan secara damai dan penuh harmoni.

Menurutnya, selain sikap toleransi yang memang telah tertanam sejak lama, situasi kondusif itu juga ditopang oleh kebijakan pemerintah yang dirasakan sangat akomodatif, termasuk telah tercantum dalam undang-undang negara. ''Kerja sama antaragama terpelihara dengan baik. Ini antara lain karena pemerintah amat memberikan perhatian,'' papar Zielanda.

Dia lantas mencontohkan, pada tahun 2004, pernah hampir terjadi gesekan antara pemuda Islam dan Nasrani di wilayah utara. Akan tetapi, segera seluruh pejabat pemerintah turun tangan meredam gejolak tersebut yang pada akhirnya mampu mendamaikan kedua pihak.

''Saat itu, para tokoh agama, baik Islam, Katolik, maupun Protestan, dipertemukan dan difasilitasi pemerintah. Di situ, kita sepakat untuk turun ke masyarakat dan menyosialisasikan pesan-pesan damai dalam agama,'' terangnya.


Meningkatkan taraf hidup
Kondisi damai memang tercipta. Meski demikian, bukan berarti kewajiban umat Islam telah selesai. Masih ada tugas lain yang lebih berat, yakni bagaimana meningkatkan taraf kehidupan agar menjadi lebih baik, khususnya dalam distribusi kesejahteraan.

Bukan rahasia lagi, negara berpenduduk sekitar 16 juta jiwa itu masih menghadapi tantangan untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan yang menimpa sebagian warganya. Hal itu telah berlangsung lama, dimulai oleh praktik eksploitasi sumber daya manusia dan alam oleh kaum kolonial di masa lalu.

Bahkan, hingga kemerdekaan penuh diraih tahun 1973, negara di kawasan barat Afrika itu masih harus berjuang keras mengatasi problem itu. Dibanding negara lainnya di kawasan tersebut, Kamerun tergolong negara dengan sumber daya alam melimpah.

Tak terkecuali dengan umat Muslim. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan utara dan sebagian hidup kekurangan. Akan tetapi, umat senantiasa berupaya untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan tersebut.

Selain aspek ekonomi, salah satu yang kini terus dikembangkan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas bidang pendidikan. Ini mengingat telah muncul kesadaran bahwa di antara penyebab maraknya kemiskinan adalah kurangnya tingkat pendidikan, baik umum maupun agama, di kalangan umat selama ini.

Lembaga keislaman
Oleh karena itu, di beberapa wilayah mayoritas Muslim, mulai dibangun sejumlah masjid dan sekolah. Program ini telah dimulai sejak tahun lalu dan mendapat sambutan luas segenap umat Muslim.

Adalah sebuah lembaga bernama Humanitarian Relief Foundation yang mensponsori program itu. Belum lama ini, sebuah masjid berlantai tiga telah diresmikan di distrik Pakakatorz, Kota Duala. Pembangunan masjid ini juga didanai oleh Osman Gazi Municipality.

Selain untuk tempat ibadah, masjid ini juga dapat difungsikan untuk beragam kegiatan, misalnya pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. ''Ini adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat. Semoga lebih banyak masjid dan sekolah lagi yang dapat dibangun,'' tegas Durmus Aydin, direktur Relief Foundation, saat acara peresmian. berbagai sumber ed : sya



Syiar Islam Sejak Abad X

Agama Islam pertama kali masuk ke kawasan utara Kamerun pada abad ke-10 yang dibawa oleh para pedagang dari jazirah Arab melalui Sahara. Mereka berdagang berbagai barang keperluang harian, emas, perunggu, garam, tembaga, dan lain sebagainya.

Di samping berniaga, para pedagang ini sekaligus mendakwahkan Islam pada penduduk pribumi dan dalam waktu singkat telah mendapatkan sambutan luas. Islam pun tumbuh pesat dan akhirnya menguasai wilayah bagian utara dan tengah.

Islam mulai meraih kejayaan ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad yang dipimpin oleh Dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi, masuk Islam tahun 1221. Dinasti ini memerintah sampai dengan tahun 1251. Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger, hingga Kamerun.

Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun berlanjut hingga abad ke-15. Namun, agama Islam baru menjadi kekuatan penuh di bagian utara saat suku Fulani (Fulbe) berkuasa pada abad ke-18. Mereka lantas mendirikan Kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate) yang meliputi Kamerun dan Nigeria.

Suku Fulani dikenal sebagai salah satu suku unggulan di Afrika dan gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Sebelumnya, suku ini melakukan ekspansi ke Kerajaan Bamoun di abad ke-17 yang didirikan oleh Nshare Yen dan Kerajaan Bamoun menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Agama Nasrani baru berkembang pada abad ke-19. Dimulai oleh kedatangan orang Barat pertama, yakni Fenando Po dari Portugis, pada tahun 1472. Dinamakan Kamerun karena orang Portugis ini melihat banyak udang di perairan di sana sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (The Prawn River)

Di bawah kekuasaan bangsa Barat inilah, agama Nasrani disebarluaskan ke seluruh negeri. Dengan dukungan kebijakan kaum kolonial dan dana yang memadai, agama ini kian berkembang dan menjangkau penduduk lebih luas.

Faktor inilah yang menyebabkan agama Nasrani tumbuh menjadi mayoritas, kendati secara awal kedatangan, Islam-lah yang lebih dahulu tiba. Sedangkan, agama Islam tetap 'menguasai' kawasan utara dan tengah hingga saat ini.

Presiden Muslim
Peran umat Islam dalam percaturan perpolitikan dan sosial tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ini misalnya ditunjukkan dengan tampilnya El Haji Ahmadou Babatoura Ahijo sebagai presiden pertama setelah negara itu memperoleh kemerdekaan pada 1 Januari 1960. Ahmadou Ahijo bahkan dinobatkan sebagai Bapak Kemerdekaan Kamerun.

Dia adalah pejuang Muslim sejati yang berasal dari suku Fulani. Pria kelahiran 1924 ini membawa negara seluas 475 ribu km persegi itu pada gerbang kemerdekaan ketika partainya, l'Union Camerounaise, berhasil menguasai parlemen pada tahun 1958.

Ada dua hal penting yang patut dicatat selama pemerintahan Ahijo ini. Pertama, mampu mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Prancis.  Kedua adalah pemerintahan ini berhasil memajukan sektor pertanian dan industri.

Presiden Ahijo mengundurkan diri dari jabatannya pada 6 November 1982 karena alasan kesehatan. Selanjutnya, ia digantikan Paul Biya. Pemimpin karismatik ini wafat di Dakar, Senegal, pada 30 November 1989. yusuf/taq


Biodata

Nama: Kamerun
Ibu Kota: Yaounde
Bahasa: Prancis dan Inggris
Penduduk: 17,2 juta jiwa
Agama: Islam (22 persen), Katolik (27 persen), Protestan (18 persen)

Yaqut al-Hamawi, Ahli Geografi Muslim

Yaqut berujar, jika ilmuwan tak memikirkan sebuah karya dan manfaat bagi orang lain, ini menjadi awal bagi manipulasi ilmu pengetahuan.

Misteri sebuah tempat, memikat hati Yaqut ibn-‘Abdullah al-Rumi al-Hamawi. Ilmuwan yang lahir di Asia Kecil ini, kemudian menelusuri dan menyingkap beragam tempat yang ia kun jungi dan dikisahkan oleh orang-orang yang ia jumpai setelah melakukan sebuah perjalanan.

Ketertarikan Yaqut, demikian ia sering dipanggil, membuahkan sejumlah karya dalam bidang yang kemudian akrab disebut geografi. Paling tidak ada dua karya yang melambungkan namanya, yaitu Mu’jam al-Udaba atau Kamus Orang-orang Terpelajar.

Sedangkan buku lainnya yang secara khusus membicarakan tentang bidang yang ia kuasai, geografi, berjudul Mu’ajam al-Buldan atau Kamus Negara-negara. Dua karya tersebut memiliki ketebalan hingga 33.180 halaman.

Mu’jam al-Buldan, merupakan sebuah ensiklopedia geografi yang lengkap, yang memuat hampir seluruh wilayah yang ada di abad pertengahan dan kejayaan Islam. Dalam menjelaskan sebuah tempat, Yaqut memasukkan hampir seluruh aspek yang terkait tempat tersebut.

Yaqut menguraikan mengenai aspek arkeologi, etnografi, antropologi, ilmu alam, geografi, dan koordinat dari setiap tempat yang ia jelaskan dalam ensiklopedianya itu. Bahkan, ia juga memberikan nama untuk setiap kota, menginformasikan monumen dan bangunan megah di kota itu.

Tak lupa pula, Yaqut mengisahkan tentang sejarah sebuah tempat, populasi, hingga figur atau sosok ternama dari tempat atau kota yang ia jelaskan. Untuk mendapatkan informasi perinci yang ia gunakan dalam ensiklopedianya itu, ia melangkahkan kakinya ke sejumlah wilayah.

Yaqut bepergian ke Persia, Arabia, Irak, dan Mesir. Ia sendiri saat itu menetap di Allepo, Suriah. Ia membangun relasi dan pertemanan dengan para ahli geografi dan sejarawan. Ia mengorek kumpulan fakta dari mereka dan juga para pelancong.

Namun, hal yang paling penting dan ini menjadi ruh dalam ensiklopedianya itu, ia menuliskan fakta-fakta yang dikumpulkan dari perjalananperjalanan yang ia lakukan sendiri dan dari orang yang ia temui saat ia melakukan sebuah perjalanan.

Selain itu, Yaqut juga sepenuhnya memahami dengan beragam konsep para ahli geografi Muslim sebelumnya bahwa mereka tak hanya menguasai geografi, tetapi juga mengaitkannya dengan sejumlah bidang ilmu lainnya. Seperti, matematika dan fisika.

Semua itu, Yaqut tuangkan pula dalam karyanya. Bahkan, dalam bab pendahuluan di dalam ensiklopedianya itu, ia terlebih dahulu membahas mengenai istilah yang ia gunakan dalam karyanya itu dan istilah-istilah geografi yang tersebar di dalamnya.

Untuk melengkapi dan memperkaya data, Yaqut memanfaatkan hasil kerja dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Namun, ia bersikap kritis terhadap data-data yang ia gunakan. Ia melakukan koreksi atas data yang ingin ia gunakan jika memang diperlukan.

Bahkan, Yaqut dikenal sebagai ilmuwan yang sangat ketat dengan data dan fakta yang ingin ia gunakan dalam karyanya. Hasil kerjanya, merupakan akhir dari sebuah proses ketat yang ia lakukan. Semua data dan fakta ia teliti. Fakta yang dinilai tak valid, ia buang.

Yaqut sangat berpegang pada akurasi dan ketelitian informasi. Tak heran jika dalam laman Muslimheritage, disebutkan bahwa Mu’jam al-Buldan hingga sekarang dianggap sebagai sumber referensi yang sangat bagus.

Dalam karyanya itu, Yaqut juga melihat adanya hubungan erat antara geografi dan sejarah. Ia menekankan pula peran ortografi atau sistem penulisan dari tempat-tempat yang ia gambarkan dalam karya ensiklopedianya itu.

Selain itu, pengaturan alfabet dalam karyanya, merupakan upaya untuk memberikan ejaan yang tepat mengenai nama-nama tempat, posisi geografisnya, batas, pegunungan, padang pasir, laut, dan pulau-pulau yang ada di suatu tempat.

Yaqut juga menyematkan nama pada setiap tempat, nama aslinya, termasuk anekdot, dan fakta-fakta penting lainnya yang terkait tempat yang ia jelaskan itu. Ia memberikan catatan pula, para penulis terdahulu tak memiliki perhatian memadai soal ketepatan ejaan sebuah tempat.

Tak hanya itu, Yaqut juga menilai mereka menyebutkan lokasi yang tepat mengenai sejumlah tempat. Ini membuat banyak ilmuwan salah mendapatkan informasi dari catatan-catatan yang dihasilkan oleh sejumlah ilmuwan terdahulu.

Yaqut juga menegaskan, karya ensiklopedianya itu tak hanya bermanfaat bagi Muslim dalam bepergian. Apa yang ia tulis juga terinsipirasi ajaran Alquran. Ia yakin bahwa karyanya bukan hanya berguna bagi para pelancong, tapi juga bagi para hakim, teolog, sejarawan, dan dokter.

Dalam karya lainnya, yang dalam bahasa Inggris berjudul Dictionary of Men of Letters, Yaqut menuliskan pandangannya. Ia membedakan antara orang terpelajar dengan ilmuwan. Ia mengatakan, orang terpelajar memilih dari segala bahan kemudian menyusunnya.

Sedangkan ilmuwan, ungkap Yaqut, adalah seseorang yang memilih cabang ilmu pengetahuan tertentu kemudian mengembangkannya. Ia juga menekankan pada kegunaan atau manfaat. Dalam konteks ini, ia mengutip seorang ilmuwan bernama Ali Ibnu al-Hasan.

Jika ilmuwan tak berpikir tentang kegunaan dan hasil kerja, ujar Yaqut, itu akan menjadi awal bagi terwujudnya manipulasi terhadap ilmu pengetahuan. Dengan persepsinya itu, ia kemudian menuntaskan Mu'jam al-Udaba.

Di sisi lain, Yaqut juga berpandangan bahwa ilmu di atas kekuasaan. Ia menuliskan pandangannya itu dalam Mu'jam al-Udaba, melalui sebuah kisah Khalifah Al-Mutamid. Suatu pagi, khalifah berjalan di taman dan mengangkat Thabit Ibnu Qurra dengan tangganya.

Lalu, Khalifah Al-Mutamid, menjatuhkan Thabit secara perlahan. Dan ini membuat Thabit bertanya. Ada apa tuan? tanya Thabit. Khalifah pun kemudian menjawab, tanganku ada di atasmu, namun ilmu pengetahuan lebih tinggi lagi, katanya.

Dalam karyanya tersebut, Yaqut ingin menjelaskan bahwa dalam persepsi Muslim, tingkatan ilmu pengetahuan lebih tinggi dibandingkan kekuatan politik.

Kisah Yaqut
Yaqut lahir dari keluarga berdarah Yunani. Meski ia lahir di wilayah Asia Kecil, ia lebih dikenal sebagai ilmuwan yang berasal dari Suriah. Sebab, ia lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di wilayah tersebut. Ia hidup antara 1179 hingga 1229 M.

Yaqut pernah menja lani kehidupan sebagai seorang budak. Saat itu, berkecamuk perebutan kekuasaan antara Kerajaan Seljuk dan Byzantium. Banyak orang yang kemudian ditangkap dan dijual kepada orang kaya sebagai budak.

Saat itu, Yaqut jatuh ke tangan seorang pedagang buku dari Baghdad. Namun, pedagang tersebut akhirnya membebaskan Yaqut dan memberinya pendidikan yang memadai. Namun, ia juga masih terus ikut bersama pedagang tersebut, ia menjadi sekretaris mantan tuannya.

Bahkan, Yaqut juga ikut berkeliling ke sejumlah wilayah bersama pedagang buku tersebut. Ia pun kemudian menjadi penulis. Bahkan, ia menguasai bahasa Arab. Ia tertarik pula dengan geografi. Pengalamannya dalam mengunjungi sejumlah tempat membuatnya tertarik menuliskannya.

Yaqut akhirnya sampai ke Kota Merv, Turkmenistan, sebuah kota yang dikenal sebagai gudangnya ilmu pengetahuan dan ilmuwan. Ia sangat menyukai kota tersebut dan tinggal di sana selama dua tahun. Ia senang mengunjungi perpustakaan yang ada di masjid dan madrasah.

Menurut Yaqut, di satu perpustakaan yang ada di masjid agung di Merv, terdapat 12 ribu judul buku. Ia betah berkutat di perpustakaan itu. Ia bahkan diizinkan petugas perpustakaan membawa 200 buku dalam satu waktu ke dalam sebuah ruangan di perpustakaan itu.

Pada 1218, Yaqut pindah ke Khiva dan Balkh. Namun, ini merupakan saat yang salah baginya untuk pindah. Sebab, pada awal 1220-an, tentara Mongol bergerak ke wilayah barat. Seluruh wilayah timur Islam dihancurkan.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Mongol berhasil menguasai bagian-bagian wilayah Islam yang subur dan makmur. Kemudian, mereka menghancurkan semua yang berharga. Anak lelaki Jengiz Khan, Jagtai, menguasai dan menghancurkan Otrar.

Sedangkan, tentara Jengiz Khan menyerang Bukhara, Samarkand, dan Balkh. Mereka juga bergerak menuju Khurasan. Merv dan Nishapur akhirnya takluk juga. Dalam penyerangan itu, Yaqut hampir tertangkap. Namun, akhirnya, ia berhasil lolos dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Beruntung, Yaqut juga berhasil membawa manuskrip-manuskrip yang dimilikinya. Ia bergerak menyeberangi Persia ke Mosul. Dari Mosul, ia ke Aleppo, Suriah, di mana ia tinggal di sana. Selama tinggal di sana, ia sempat melancong ke beberapa tempat, seperti Irak.

Teori Gempa di Masa Islam

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.

Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat tulisan berjudul The Science of Winds in the Bowels of the Earth, which Produce Many Earthquakes and Cave-in.

Ibnu Sina, yang dikenal sebagai seorang ilmuwan dan dokter, juga menyampaikan pandangannya mengenai gempa bumi. Ia mengutip sejumlah ilmuwan Yunani yang mengaitkan gempa bumi dengan tekanan gas yang tersimpan di dalam bumi dan kemudian berusaha keluar dari bumi.

Namun, Ibnu Sina tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan para ilmuwan Yunani tersebut. Jadi, ia menentang teori mereka dengan memberikan penjelasan dari pemikirannya sendiri dan mengembangkan teorinya sendiri.

Ibnu Sina mengungkapkan, gempa terkait dengan tekanan besar yang terperangkap dalam rongga udara yang ada di dalam bumi. Tekanan ini, bisa datang dari air yang masuk ke dalam rongga bumi dan menghacurkan sejumlah bagian bumi.

Dalam esai panjangnya, Ibnu Sina memberikan sebuah metode untuk mengatasi dampak gempa bumi. Ia menyarankan masyarakat untuk menggali dan membuat sumur di tanah, supaya tekanan gas menurun. Sehingga, getaran akibat gempa bumi berkurang.

Beberapa sejarawan mengatakan, setelah abad ke-10 dan ke-11 teori para ilmuwan Muslim tentang penyebab gempa lebih menekankan pada sisi religius. Mereka berpikir bahwa gempa merupakan fenomena alam yang telah ditetapkan Tuhan.

Namun, pendapat lain mengemuka, para ilmuwan Muslim mengadopsi filsafat logika dan fisik, untuk menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sejak abad ke-10. Pendekatan itu, agak dihindari menjelang periode berakhirnya kekuasaan Mamluk.

Sejumlah ilmuwan lain dalam periode klasik Islam yang menulis tentang gempa bumi, antara lain, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, Jabir bin Hayyan. Mereka membahas gempa bumi dalam buku yang mereka tulis dalam bidang meteorologi, geografi, dan geologi.

Pada masa-masa berikutnya, kajian ilmiah tentang gempa bumi terus dilakukan oleh ilmuwan Muslim. Abu Yahya Zakariya' ibn Muhammad al-Qazwini, ahli geografi, astrnomi, fisika, abad ke-12 asal Persia, menyampaikan teorinya mengenai gempa.

Menurut Al-Qazwini, gempa bumi disebabkan oleh adanya gas bertekanan tinggi sampai menjadi cairan, kemudian berusaha keluar dari dalam bumi sehingga proses ini, selain menyebabkan gempa juga gunung berapi.

Ilmuwan yang sezaman dengan Al-Qazwini, yaitu Al-Tifashi, menambahkan, penumpukan gas menyebabkan tekanan terhadap bumi dan akhirnya menimbulkan gempa. Ia berpendapat, tekanan gas yang sangat kuat menggerakkan kerak bumi.

Ada pula ilmuwan lain, Al-Nuwayri yang hidup sekitar tahun 1373, mengadopsi teori pseudo-fisik yang mengatakan setiap wilayah di bumi memiliki kaitan dengan pegunungan Qaf, yang mengelilingi bumi. Saat Tuhan ingin menghukum manusia, Dia menggerakkan kaitan itu.

Sementara, studi awal mengenai bagaimana bertahan dari gempa bumi, ditulis seorang ilmuwan Mesir, Jalaluddin Al-Suyuti, yang hidup sekitar tahun 1505. Ia tak mengikuti teori fisik tentang gempa bumi yang diadopsi Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Qazwini, maupun Al-Tifashi.

Sebaliknya, Al-Suyuti malah menerima teori pseudo-fisik gunung Qaf dan menceritakan bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah hukuman dari Tuhan terhadap orang-orang berdosa. Dia kemudian membuat catatan 130 gempa bumi yang terjadi di berbagai wilayah Muslim.

Rupanya karya Al-Suyuti menginspirasi karya-karya orang lain untuk menuliskan gempa bumi. Muridnya, Al-Dawudi, menambahkan informasi tentang delapan gempa bumi yang terjadi di Kairo, Mesir. Murid lainnya, Abdulqadir Al-Syadzili, hidup pada 1528, melakukan hal sama.

Al-Syadzili menuliskan pengalamannya saat mengalami dua gempa bumi.
Lalu, ada Badr Al-Din Al-Ghazzi, yang pada 1576 memberikan informasi tentang tiga gempa bumi yang terjadi di Damaskus, Suriah. Najm Al-Din Al-Ghazzi menuliskan 12 gempa bumi di sejumlah tempat.

Menurut laman Muslimheritage, dari tinjauan catatan seismik di Arab, menujukkan adanya fenomena langit dan fenomena di permukaan bumi yang menyertai gempa bumi. Pada waktu itu terjadi gempa bumi yang disebabkan oleh sebuah komet atau meteor.

Pada tahun 1500 terjadi gempa bumi ringan di Kairo. Kala itu orang-orang melihat bintang-bintang di langit tercerai-berai. Pada tahun 1504 terlihat bintang jatuh di Yaman yang disertai dengan serpihan-serpihan materi bintang, lalu diikuti dengan terjadinya gempa bumi.

Pada tahun 1511 terdapat meteor yang terbang dari timur menuju ke utara dan itu diikuti oleh gempa bumi yang berlangsung selama tiga bulan di Kota Moza, Yaman. Sejumlah catatan pada masa itu juga menuliskan bahwa gerhana dan badai pun menyertai terjadinya gempa bumi.

Tak heran jika kemudian mereka menganggap indikasi akan datangnya gempa bumi jika ada meteor, gerhana, atau fenomena alam lainnya yang terjadi. Bahkan, astrologi juga terkadang ikut digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi.

Merespons gempa

Selain mengurai kajian tentang gempa bumi, ilmuwan Muslim juga menyampaikan pandangannya mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi gempa. Termasuk bagaimana mendirikan bangunan agar bisa tahan gempa.

Di daerah-daerah yang rawan gempa, arsitek-arsitek Muslim menyampaikan serangkaian teori. Mereka menegaskan, agar bagunan memiliki fondasi yang kuat dan dalam. Dinding juga harus memiliki dimensi besar untuk menyangga kubah ketika terjadi gempa.

Dengan demikian, bangunan tidak runtuh saat digoyang gempa. Ini terbukti dengan masih tegak berdirinya monumen-monumen Islam yang ada di Kairo. Bangunan-bangunan itu mampu bertahan dari gempa besar pada 1992 dan masa-masa sebelumnya.

Pada masa kekuasaan Islam, masyarakat bereaksi secara berbeda-beda saat menghadapi gempa. Sejumlah orang segera menuju masjid dan gereja untuk berdoa. Namun, sebagian orang lainnya bergegas menuju area terbuka, kemudian membangun tenda pengungsian.

Ini terjadi pada 1431, saat gempa melanda Granada dan juga sejumlah gempa yang terjadi di Levant. Pada 1504, saat Kota Zayla, Yaman, diguncang gempa, warganya pergi ke area terbuka, yaitu pantai. Di sejumlah wilayah rawan gempa, mereka membangun gubuk kayu.

Gubuk tersebut dibangun di disamping rumah mereka, yang biasanya digunakan untuk bermalam saat terjadi gempa. Sebagian lain menghabiskan malam di area terbuka atau perahu.

Saat Bencana Memantik Penyakit

Bencana alam, seperti gempa bumi, seringkali disertai dengan merebaknya wabah penyakit atau epidemik. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh mayat yang tak segera dikuburkan atau kamp-kamp pengungsian di lokasi yang tak dapat dikatakan higienis.

Sejumlah ilmuwan Muslim juga menorehkan buah pemikirannya dalam karya-karya mereka, terkait dengan merebaknya epidemik ini. Sebut saja, Qusta Ibnu Luqa, hidup pada abad ke-9, yang menuliskan buku yang disebut Contagion atau infeksi.

Dalam karyanya itu, ia menggambarkan bagaimana penyakit menular
dari seseorang yang sakit ke orang yang sehat. Ibnu Luqa menyatakan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh udara sekitar dan infeksi. Ia menjelaskan pula tentang penyakit yang disebabkan oleh angin.

Biasanya, para pengungsi akibat bencana alam, juga diterpa angin kencang hingga membuat mereka menderita penyakit. Pada abad ke-10, ada ilmuwan lain yang menulis mengenai epidemik, yaitu Al-Tamimi. Ia memberikan sejumlah penjelasan.

Di antaranya adalah prosedur higienis untuk menghindari infeksi saat terjadi epidemik. Ia juga memberikan penjelasan bagaimana cara mengatasi penyakit yang dibawa oleh udara. Abu Sahl Al-Masihi juga memberikan kontribusi besar.

Al-Masihi hidup di masa yang sama dengan Al-Tamimi. Sejumlah kalangan menilai, buku karya Al-Masihi lebih perinci dibandingkan karya Al-Tamimi. Dalam manuskripnya sebanyak 19 halaman, ia mengelompokkan penyakit epidemik, penyebabnya, dan cara pengobatannya.

Karyanya, dibagi menjadi empat bagian di antaranya adalah bagaimana epidemik mengganggu tubuh manusia dan pencegahan serta pengobatan terhadap setiap jenis epidemik. Ia juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara epidemik (al-Waba) dan endemik.

Menurut Al-Masihi, ada tiga penyebab terjadinya epidemik, yaitu kelembaban dan kehangatan udara yang berlebihan, udara kering yang berlebihan, dan udara sedang berubah ke dalam sebuah kondisi yang abnormal.

11 April 2010

Sinagog Israel Kuno Ternyata Istana Dinasti Umayyah

Sebuah reruntuhan bangunan kuno yang selama ini Didufa Sinagog atau tempat suci umat Yahudi di Israel, ternyata merupakan sisa bangunan istana khalifah Arab yang dibangun 1.300 tahun lalu.

Bangunan yang terletak di pinggir Sungai Galilee, sebelumnya diklaim sebagai sebuah Sinagog kuno oleh arkeolog Israel pada 1950 lalu. Saat itu para arkeolog menemukan lukisan Menorah atau tempat lilin bercabang tujuh, yang dikenal sebagai simbol Yahudi pada reruntuhan bangunan.

Tetapi dalam laporan yang diterbitkan pekan ini teridentifikasi jika klaim tersebut salah besar. Setelah diselidiki ternyata runtuhan bangunan tersebut merupakan istana musim dingin yang digunakan oleh keluarga Dinasti Umayyah. Dinasti Arab yang paling terkenal ini, merupakan penguasa Yerusalem yang membangun kubah emas atau Masjid Al Aqsa.

Sebelumnya kalangan sejarawan Arab memang menyebutkan keberadaan dari istana musim dinging Dinasti Umayyah tersebut. Namun sejarawan Arab tidak mengetahui lokasi pasti dari istana yang biasa disebut Al Sinnabra itu. Demikian diberitakan Associated Press, Kamis (18/3/2010).

Hasil penemuan terbaru yang dilakukan oleh arkeolog dari Universitas Tel Aviv dan Universitas Hebrew ini, diraih setelah mereka meneliti kembali sisa-sisa bangunan yang dibuat pada zaman perunggu tersebut.

Tim arkeolog ini juga melihat keanehan dari hasil penelitian yang diraih para arkeolog pada tahun 1950 lalu. Arkeolog yang saat itu menemukan bangunan ini pertama kali, juga mengeluarkan klaim keliru, yang menyebutkan jika kekhalifahan Arab pada masa awal tidak banyak membuat bangunan dengan skala besar.

Para peneliti awal sempat ragu mengenai dari zaman bagunan bersejarah ini berasal. Namun hal tersebut berubah saat arkeolog Universitas Chicago Donald Whitcomb memperkirakan, jika runtuhan tersebut berasal dari zaman Dinasti Umayyah. Identifikasi Whitcomb tersebut akhirnya terbukti pada temuan pekan ini.

Sementara terkaan awal yang menyebutkan runtuhan tersebut sebagai sebuah sinagog kuno, diduga didasarkan atas lukisan Menorah tadi. Namun kalangan peneliti meyakini jika lukisan Menorah tadi bukan bagian asli dari bangunan bersejarah ini.

Arkeolog mengatakan kemungkinan besar jika istana Dinasti Umayyah tersebut digunakan sebagai sinagog usai keruntuhan Kerajaan Arab tersebut. Bahkan mereka juga memperkirakan jika lukisan tersebut tidak lebih dari lukisan grafiti kuno.

Menurut Profesor Arkeologi dari Universitas Tel Aviv Rafi Greenberg, identifikasi yang benar dari istana ini akan membantu kaitan arsitektural antara zaman Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Arab.

Dinasti Umayyah sendiri merupakan kerajaan Islam yang berkuasa di Yerusalem pada tahun 661 hingga 750 sebelum masehi. Wilayah kerajaan ini amat luas mencakup wilayah Spanyol dan Pakistan.

15 March 2010

Membaca Tanda Alam dalam Khazanah Islam

Perahu penyelamat di kapal induk telah digunakan para pelaut Muslim sejak abad kesembilan.

Bercengkerama dengan alam telah melahirkan kemahiran tersendiri bagi umat Islam. Para ilmuwan Muslim kemudian juga memiliki ilmu pengetahuan mengenai alam semesta. Misalnya, menentukan ke mana arah angin dan memperkirakan terjadinya badai.

Ilmu pengetahuan ini, yang kemudian disebut meteorologi, menularkan manfaat bagi para pelaut Muslim, misalnya, dalam upaya mereka mengarungi ganasnya samudra dan menentukan waktu harus melaut. Pun, masyarakat umum dalam mengantisipasi terjadinya badai.

Ilmuwan Muslim mengenal beragam jenis badai berbahaya dan dampak yang ditimbulkannya. Dan tentunya, mereka perlu memperkirakan kedatangan badai tersebut. Filolog Arab pada awal masa Islam menyebutkan ada sejumlah karya ilmuwan Muslim mengenai bidang ini.

Dalam sebuah risalah disebutkan terdapat 100 kata yang menguraikan tentang jenis angin menurut dampaknya, kualitas, dan arah angin tersebut. Termasuk, angin ribut dan topan. Kian banyak buku tentang meteorologi seiring penerjemahan buku-buku Yunani.

Pada abad kesembilan, ilmuwan Muslim, Al-Kindi, menghasilkan sebuah karya yang terkait dengan masalah meteorologi. Bahkan, ia dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memperkenalkan percobaan dalam ilmu bumi, termasuk meteorologi.

Al-Kindi juga menulis buku berjudul Risala fi l-Illa al-Failali l-Madd wa l-Fazr. Salah satu hal yang ia jelaskan di dalam bukunya adalah soal angin. Menurut dia, angin terkait dengan pergerakan udara, termasuk ke tempat-tempat lebih rendah.

Selain itu, Al-Kindi juga melakukan percobaan di laboratoriumnya. Dalam percobaan itu, Al-Kindi menemukan bagaimana udara yang sangat dingin berubah wujud menjadi air. Dia mengambil botol kaca lalu memenuhi botol tersebut dengan salju dan menutupinya secara rapat.

Lalu, pada permukaan botol tersebut udara berubah menjadi air, seperti botolnya mengeluarkan titik-titik air. Melalui percobaan itu, ia pun meluruskan pandangan sejumlah orang. Ia mengatakan, air atau salju tak dapat melewati kaca.

Pada abad ke-12 dan ke-13, Al-Tifashi yang hidup antara 1184 hingga 1253, mengikuti jejak Al-Kindi. Ia membuat definisi tentang angin ribut, yaitu angin yang mengembangkan kekuatannya dan naik ke atmosfer. Ada pula, ilmuwan Muslim bernama Al-Qazwini (1203-1283).

Al-Qazwini juga mengulang ide Al-Kindi. Ia membuat sebuah definisi yang hampir sama dengan apa yang telah dinyatakan Al-Tifashi. Namun, ia memberikan definisi yang lebih perinci. Pengetahuan tentang angin kemudian dikembangkan lebih jauh.

Langkah ini dilakukan oleh Ahmed Ibn Majid, yang berasal dari Ras al-Khaymah yang sekarang lebih dikenal Uni Emirat Arab dan Sulayman al-Mahri dari Yaman. Kedua orang tersebut merupakan navigator kapal dan pengetahuan tentang angin sangat berguna bagi pekerjaan mereka.

Sebagai navigator kapal, mereka memanfaatkan ilmu tersebut dalam menjalankan profesinya. Dalam pembicaraannya mengenai topan, Al-Mahri  mengatakan, sangat perlu seorang navigator untuk tahu banyak tentang topan dan tanda-tanda datangnya.

Tanda-tanda yang biasanya menyertai datangnya topan adalah meningginya temperatur air laut, hujan lebat, dan perubahan angin yang begitu tiba-tiba. Sedangkan Al-Mahri, menyebut ada lima jenis topan di Samudra India yang biasa menerjang kapal yang berlayar.

Salah satu jenis topan yang ada dalam daftar Al-Mahri adalah topan 40. Ini merupakan topan urutan ketiga dalam daftarnya. Menurut dia, topan jenis ini biasanya menghantam Laut Hurmuz. Ibn Majid juga berbicara mengenai topan.

Menurut Ibn Majid, ada topan yang menerjang laut dalam beberapa tahun dan hilang pada beberapa tahun lainnya. Topan memiliki tanda-tanda saat datang. Di antaranya adalah meningkatnya debu di daratan dan laut.

Tanda lainnya, petir dan awan menutupi langit. Ini terjadi saat langit tertutup awan yang warnanya seperti warna kulit sapi. Setelah mengetahui hal ihwal angin, navigator menentukan langkah yang harus dipersiapkan sebelum dan saat berlayar.

Seorang navigator akan meminta sejumlah awak kapal untuk meneliti lambung kapal saat masih berada di daratan. Ini untuk meneliti apakah ada bahan pembuat kapal yang tak memenuhi standar dan menuliskannya.

Tak hanya itu, para awak kapal juga diminta untuk terus memeriksa peralatan berlayar setiap saat. Ini perlu dilakukan agar semua peralatan dalam keadaan baik dan bisa segera diperbaiki bila terjadi kerusakan.

Selain itu, ada langkah lain yang juga perlu dilakukan, yaitu mempertimbangkan antara kapasitas kapal dengan beban kargo dan muatan yang dibawa penumpang ke dalam kapal. Bahkan, ada urutan siapa yang bertanggung jawab jika prosedur ini dilanggar.

Pertama yang bertanggung jawab adalah kapten kapal. Selanjutnya, pemilik barang atau para pedagang yang biasanya membawa muatan dalam kapal. Ini jika mereka telah diingatkan mengenai kelebihan beban muatan.

Pemilik kapal juga dimintai pertanggungjawabannya jika terbukti terlibat dalam pelanggaran tersebut. Ada pula langkah yang biasa direkomendasikan kepada para navigator untuk menghindari hantaman topan, yaitu kembali ke pelabuhan terdekat.

Kasus seperti ini pernah terjadi pada Sabtu, 13 November 1518. Saat itu, sejumlah kapal yang meninggalkan Alexandria menuju Istanbul, terpaksa harus kembali ke pelabuhan Rosetta karena adanya topan yang menghadang mereka.

Membawa perahu penyelamat seperti yang lazim ada pada kapal-kapal besar di masa sekarang, telah dilakukan pada masa itu. Ini merupakan langkah kehati-hatian dalam menghadapi badai yang terjadi di tengah samudra.

Perahu penyelamat yang ditempatkan di kapal induk, telah diketahui dan digunakan oleh para navigator Muslim dan Arab selama masa periode klasik Islam, yaitu pada abad kesembilan hingga ke-13.

Biasanya perahu-perahu tersebut digunakan ketika kapal induk tak dapat lagi menahan hantaman badai. Selain itu, perahu itu juga bisa digunakan untuk perjalanan laut jarak pendek saat musim angin tiba.

MENYINGKAP RAHASIA HUJAN

Tak hanya persoalan angin yang telah menarik perhatian ilmuwan Muslim. Gejala alam lainnya juga menarik perhatian mereka. Pada abad ke-9, ada Ibnu Doraid Al-Azdi yang me nulis sebuah buku yang dalam terjemahan bahasa Inggris berju dul Description of Rain and Clouds.

Dalam buku yang berisi 27 bab itu, Ibnu Doraid memberikan penjelasan ilmiah tentang hujan dan awan. Selain itu, buku ini juga membahas perkiraan cuaca; deskripsi awan, baik corak maupun warna mereka; gerakan awan; akumulasi; serta penebalan dan perubahan bentuk awan.

Ibnu Doraid pun memberi gambaran mengenai jenis curah hujan dan efeknya terhadap tanah dan sumber daya air tanah. Seperti dikutip muslimheritage, ia memberikan penjelasan mengenai Al-Hamma’a dan Al-Hawwa’a atau awan hitam yang menjadi merah.

Selain hujan dan awan, Ibnu Doraid menjelaskan kilat. Ia membagi kilat berdasarkan intensitas cahayanya. Al-hafo merupakan kilat yang paling lemah, Al-wamed bentuknya mirip senyum kecil, dan Al-wallaf adalah kilat yang menyerang dua kali.

Dengan mengetahui gerak dan penyebaran awan serta intensitas kilat, Ibnu Doraid memperkirakan jumlah dan tingkat kelebatan hujan. Ia menjelaskan pula jenis intensitas hujan, antara lain Ghait Thare atau hujan deras.

Seabad kemudian, Ibnu Wahshiyyahe, seorang ahli di bidang pertanian dari Irak, menulis buku berjudul Kitab al-Falaha al-Nabatiya. Buku ini berisi pembahasan mengenai perkiraan cuaca, perubahan atmosfer, dan tanda turunnya hujan berdasar fase bulan.

Dengan adanya perkiraan cuaca, kemudian diketahui awal musim tanam secara tepat. Ini melahirkan kemajuan yang berarti bagi umat Islam dalam bidang pertanian. Para petani pun bisa merencanakan penanaman sejumlah tanaman dan panen dalam setahun.

Ada pula Ibn al-Haytham, lebih dikenal Alhazen, yang pada 1021 memperkenalkan bukunya yang berjudul Kitab Optik. Ia membahas soal pergantian masa. Salah satu penjelasannya mengenai senja yang ia yakini disebabkan oleh pembiasan atmosfer.

Alhazen juga menyatakan, senja baru akan mewujud saat matahari berada 19 derajat di bawah cakrawala. Ia pun menerbitkan kitab lainnya sebagai pelengkap Kitab Optik, yaitu Risalah fi l-Daw atau risalah tentang cahaya.

Dalam Risalah fi l-Daw, Alhazen memberikan penjelasan tentang meteorologi, pelangi, kepadatan atmosfer, dan berbagai fenomena langit lainnya, termasuk gerhana, matahari terbenam, dan cahaya bulan.

Ibnu Juljul Menjadi Rujukan Pengobatan Herbal


Kemahirannya di bidang pengobatan mengantarnya memasuki gerbang istana.

Bergelut dengan ilmu, bukan hal yang asing bagi Abu Da'ud Sulayman bin Hassan, yang akrab dipanggil Ibnu Juljul. Sejak usia dini, ia telah akrab dengan beragam bacaan dan ilmu pengetahuan. Hingga kemudian, ia dikenal di bidang medis dan pengobatan herbal.

Bahkan, karya-karya Ibnu Juljul dalam pengobatan herbal, menjadi rujukan banyak ilmuwan lainnya. Ia memang tak hanya mumpuni dalam praktik pengobatan herbal. Namun, ia pun rajin menggerakkan penanya untuk menuangkan buah pemikirannya. Ibnu Juljul, lahir di Kordoba, Spanyol, pada 994. Sejak masa kanak-kanak, ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan telah tertanam dalam dirinya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Saat berusia 10 tahun, ia telah belajar tata bahasa dan tradisi masyarakatnya.

Ketika usia Ibnu Juljul beranjak 15 tahun, ia mulai bersentuhan dengan ilmu kedokteran. Padahal, pada masa sekarang, ilmu kedokteran baru dipelajari secara mendalam di bangku kuliah. Tak heran, jika di usianya yang masih belia, ia menguasai ilmu kedokteran.

Di sisi lain, Ibnu Juljul juga terampil dalam pengobatan herbal. Dan rupanya, ia memang sejak semula juga sangat tertarik dengan obat-obatan, terutama yang berhubungan dengan herbal, obat alami yang banyak diekstrak dari tumbuh-tumbuhan. Ia juga mendalami farmasi.

Kemahirannya di bidang pengobatan mengantarnya memasuki gerbang istana. Menurut situs Muslimheritage, Ibnu Juljul pernah bekerja sebagai dokter pribadi Al-Mu'ayyad Billah Hisyam, seorang khalifah yang berkuasa pada 977 hingga 1009.

Selain mempraktikkan keahlian medisnya, Ibnu Juljul juga banyak menuliskan karya-karya di bidang medis. Tak hanya itu, upaya mendalami ilmu pengobatan terus ia lakukan. Dalam hal ini, ia banyak berbagi pandangan dan berlatih dengan Albucasis.

Albucasis merupakan nama tenar Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Saat itu, Albucasis adalah dokter bedah ternama di Kordoba. Ia menemukan penyakit hemofilia, di mana penderitanya, jika luka darahnya akan terus mengalir dan sulit membeku.

Dalam kariernya sebagai dokter, Albucasis menulis buku yang sangat terkenal berjudul At-Tasrif liman 'Ajiza 'an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). Ibnu Juljul dan Abulcasis tak hanya berbagi pandangan, tetapi juga bersama-sama menuliskan pemikirannya di bidang medis.

Mereka bersama-sama menulis saat masa-masa terakhir kekhalifahan di Andalusia, Spanyol. Di sisi lain, Ibnu Juljul juga menghasilkan karyanya sendiri. Sejarawan terkenal dari Baghdad, Irak, Bin Abi Usaybi'a, menyatakan, Ibnu Juljul menulis buku sejarah pengobatan. Buku itu berjudul Atibba'wa'l Tabaqat al-Hukama . Buku tersebut telah beberapa kali diedit.

Ibnu Juljul mengawali tulisan dalam bukunya itu dengan menguraikan tentang riwayat ayahnya yang juga ahli obat-obatan. Pada bab-bab selanjutnya, ia menuliskan para ahli obat-obatan yang sangat terkenal sebagai para pendahulunya di Andalusia.

Selain itu, Ibnu Juljul mengungkapkan soal hubungan dan komunikasi yang terjalin antara kekhalifahan di Timur dan Andalusia. Ia pun mengisahkan bagaimana banyaknya para mahasiswa menempuh perjalanan dari tempat yang jauh untuk mencari ilmu pengetahuan.

Ibnu Juljul mempelajari ilmu pengobatan herbal yang dilakukan oleh Pedanius Dioscorides, seorang dokter Yunani kuno, ahli farmasi, dan ahli botani. Dioscorides sering bepergian guna mencari bahan-bahan jamu dari seluruh wilayah Romawi dan Yunani.

Dia juga menulis lima jilid buku dalam bahasa Yunani asli. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul  De Materia Medica (Masalah-masalah yang berhubungan dengan medis). Berdasarkan ajaran dalam buku milik Dioscorides, Ibn Juljul membuat sebuah karya berjudul Maqalah .

Dalam karyanya itu, Ibnu Juljul menuliskan berbagai macam tumbuhan yang penting bagi obat-obatan, termasuk sifat tumbuh-tumbuhan tersebut. Lalu, dia juga menuliskan efek dari penggunaan tumbuh-tumbuhan itu bagi organ tubuh tertentu.

Tumbuh-tumbuhan untuk herbal yang ditulisnya sebanyak 28 jenis berasal dari India atau yang perjalanannya melalui rute perdagangan India, dua  dari Yaman, dua dari Mesir, satu dari Ceylan, satu dari Khwarizm, dan dua dari kota yang dekat dengan Kordoba. Dalam bukunya itu, Ibnu Juljul kadang-kadang menuliskan nama orang yang pertama kali menggunakan tumbuhan tersebut untuk pengobatan atau orang yang menceritakan fungsi dan efek penggunaan tumbuhan pada tubuh manusia.

Ibnu Juljul, juga membahas tentang batu Bezoar yang dapat digunakan untuk melawan semua racun. Batu tersebut memiliki warna yang kekuning-kuningan dengan garis-garis putih. Selain itu, dia juga pernah membahas soal Ribas. Mengutip pedagang kepercayaannya, Ibnu Juljul mengungkapkan, Ribas merupakan sejenis sayuran yang rasanya masam. Ribas bisa didapatkan di pegunungan yang tertutup salju. Apa yang diungkapkan dalam bukunya sarat dengan pengalaman dan pengetahuan Ibnu Juljul di bidang medis.

Banyak dipelajari
Karya Ibnu Juljul tentang pengobatan herbal, dipelajari pula oleh banyak ilmuwan lainnya. Di antara ilmuwan yang mempelajari karya Ibnu Juljul, adalah ahli botani yang bernama Al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuhan dari Spanyol maupun Afrika. Selain itu, Al-Ghafiqi juga membuat catatan yang menggambarkan secara rinci tentang jenis-jenis tumbuhan yang dikoleksinya itu. Bahkan, seorang ahli sejarah dari Barat, George Sarton, mengatakan, Al-Ghafiqi merupakan ahli botani paling cerdas pada masanya.

Sejumlah kalangan mengatakan, deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Karya fenomenal Al-Ghafiqi berjudul Al-Adwiyah al-Mufradah. Buku milik Al-Ghafiqi, menginspirasi Abdullah Ibnu Ahmad Ibn Al-Baitar atau Ibnu Baitar, untuk meneliti tumbuh-tumbuhan. Ia juga dikenal sebagai salah satu ahli botani sekaligus obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan.

Selain terinsipirasi Al-Ghafiqi, Ibnu Baitar juga mengutip empat belas tulisan tentang obat-obatan herbal milik Ibn Juljul. Padahal, Al-Baitar merupakan ahli botani yang hebat. Terbukti, ia mengoleksi dan mencatat 1.400 jenis tanaman obat.

Catatan dan koleksi tersebut, Ibnu Baitar peroleh saat ia menjelajahi pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karya Al-Baitar yang paling termasyhur berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah. Dari banyaknya para ahli botani dan medis yang mengutip karya Ibnu Juljul, menunjukkan bahwa karyanya di bidang pengobatan herbal merupakan karya hebat dan teruji. Karya Ibnu Juljul dianggap sebagai karya yang memiliki nilai tinggi.

Bahkan, karya Ibnu Juljul tak hanya menjadi rujukan ilmuwan di wilayah Andalusia, namun juga oleh ilmuwan luar negeri seperti Maroko. Kontribusi Ibnu Juljul di dunia medis, sangat berharga bagi penggunaan tanaman untuk obat, bahkan di dunia modern.

Dunia Islam dan Tumbuhan

Ajaran agama untuk menggali ilmu pengetahuan telah mendorong Muslim untuk mengenal banyak ilmu. Segala upaya mereka kerahkan untuk menekuni sebuah, bahkan beragam ilmu. Termasuk, ilmu pengobatan yang menggunakan tumbuhan.

Ketertarikan pada tumbuhan tak hanya melahirkan ahli pengobatan herbal. Namun, juga melahirkan perkembangan menakjubkan di bidang pertanian. Termasuk, teknik baru dalam mengembangkan tanaman, bahkan pembangunan bendungan dan irigasi.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan ilmuwan Muslim soal tanaman ini, kemudian lahirlah ilmu tentang pengobatan herbal. Dalam banyak literatur Islam di abad pertengahan, kehidupan tumbuh-tumbuhan erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan agronomi.

Sejak Al-Asma'i yang hidup pada 740 hingga 828, seorang ilmuwan terkenal pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid menuliskan Kitab al-Nabat wa-'l-Shajar, ilmuwan Muslim tak lagi merasa ragu untuk menggunakan istilah botani.

Bahkan kemudian, para filolog Muslim menggambarkan tanaman secara sistematis. Beragam jenis tumbuhan digolongkan menurut jenisnya. Ada tanaman masuk dalam golongan pohon, bunga, sayur-sayuran, dan semak-semak. Pohon juga dibagi menurut kualitas yang dapat dimakan dari kulit dan biji buah-buahan pohon tersebut.

Menengok Revolusi Pertanian di Era Islam




Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Lahan pertanian telah lama menjadi karib umat Islam. Dalam konteks ini, umat Islam tak sekadar mengolah lahan. Namun, mereka juga mengenalkan sistem dan cara pengolahan lahan pertanian secara lebih modern. Termasuk, cara tanam dan penggunaan irigasi.

Bahkan, pada awal abad ke-9, sistem pertanian modern menjadi pusat kehidupan ekonomi dan organisasi di negeri-negeri Muslim. Pertanian di Timur Dekat, Afrika Utara, dan Spanyol, didukung sistem pertanian yang maju.

Sebab, praktik pertanian di sana telah menggunakan irigasi yang baik dan pengetahuan yang sangat memadai. Fakta ini menunjukkan bahwa metode pertanian yang dipraktikkan merupakan metode paling maju di dunia.

Umat Islam memiliki kuda-kuda terbaik, ternak domba, dan kemampuan membudidayakan kebun buah-buahan dan sayuran. Mereka tahu bagaimana cara membasmi serangga dan menggunakan pupuk dengan dosis yang tepat.

Selain itu, mereka juga telah memiliki kecakapan dalam mencangkok pohon dan tanaman untuk menghasilkan varietas baru. Tak heran jika kemudian lahir varietas tanaman yang unggul dan menambahkan keragaman tanaman yang ada.

Sejumlah jenis tanaman yang sebelumnya tak dikenal, juga diperkenalkan oleh umat Islam. Pohon jeruk, misalnya, dibawa umat Islam dari India ke Arab sebelum abad ke-10. Pohon ini kemudian diperkenalkan ke wilayah lainnya.

Pada akhirnya, pohon jeruk ini juga dikenal di Suriah, Asia Kecil, Palestina, Mesir, dan Spanyol. Berawal dari Spanyol, lalu pohon jeruk tersebut menyebar ke seluruh wilayah yang ada di Eropa Selatan.

Budidaya tebu dan pemurnian gula juga disebarkan oleh orang-orang Arab Muslim dari India melalui Timur Dekat, kemudian dibawa tentara Salib ke negara-negara Eropa. Kapas pertama kali dibudidayakan di Eropa oleh bangsa Arab.

Pencapaian umat Muslim dalam bidang pertanian mampu pula diwujudkan di tanah Arab, yang sebagian besar merupakan lahan kering. Ini terwujud dengan menggunakan sistem irigasi yang terorganisasi dengan baik.

Khalifah sebagai pemimpin pemerintahan, membiayai pemeliharaan kanal-kanal besar demi kepentingan pertanian. Sungai Efrat dialirkan ke Mesopotamia, sedangkan air dari Tigris dialirkan ke Persia.

Tak hanya itu, pemerintahan Islam juga membangun sebuah kanal besar yang menghubungkan dua sungai di Baghdad. Kekhalifahan Abbasiyah merupakan dinasti yang memelopori pengeringan rawa-rawa agar digunakan untuk pertanian.

Saat memerintah, mereka pun merehabilitasi desa-desa yang hancur dan memperbaiki ladang yang mengering. Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan pangeran-pangeran Samanid, daerah antara Bukhara dan Samarkand, Uzbekistan berkembang pesat.

Tak heran jika kemudian, daerah tersebut ditetapkan sebagai salah satu dari empat surga dunia. Tiga wilayah lainnya adalah Persia Selatan, Irak Selatan, dan kawasan yang ada di sekitar Damaskus, Suriah.

Berdasarkan catatan sejarah dan komentar para ilmuwan termasuk dari Barat, sistem pertanian pada era Spanyol Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia.

Hal ini terjadi karena kaum Muslim memperkenalkan banyak perubahan. Salah satu bukti, pada masa itu seluruh Eropa hancur di bawah perbudakan, namun tanah di bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuan pesat di bidang pertanian.

Salah seorang cendekiawan berkebangsaan Inggris, Joseph McCabe, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab, perkebunan di Andalusia jarang dikerjakan oleh budak. Tapi, perkebunan dikerjakan oleh para petani sendiri.

Di sepanjang Sungai Guadalquivir, juga terdapat 12 ribu desa yang berkecukupan, bahkan makmur. Revolusi pertanian Islam telah diawali pada abad ke-7. Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Para ahli geografi awal mengungkapkan, terdapat 360 desa di Fayyum, sebuah provinsi di selatan Kairo, Mesir, yang masing-masing dapat menyediakan kebutuhan makanan bagi penduduk seluruh Mesir setiap hari.

Di sisi lain, terdapat 12 ribu desa di sepanjang Guadalquivir, Spanyol, yang memiliki lahan pertanian subur. Ada pula 200 desa di sepanjang Sungai Tigris, Irak, yang pertaniannya juga maju.

Bukti lain, yang menunjukkan kemajuan umat Islam di bidang pertanian, yakni adanya sebuah sensus yang dilakukan pada abad ke-8 di Mesir. Dalam sensus itu, dari 10 ribu desa di Mesir, tak ada desa yang memiliki bajak kurang dari 500 unit.

Wilayah-wilayah yang kemudian berada di bawah kekuasaan pemerintah Islam, juga mengalami perubahan ke arah kemajuan yang drastis. Banyak wilayah yang sebelumnya tak maju, namun di bawah pemerintah Islam, kemajuan kemudian terwujud.

Pada masa pra-Islam, Mediteranian kuno pada umumnya hanya bisa memanen tanaman saat musim dingin. Itu pun, satu bidang lahan hanya mampu menghasilkan satu jenis tanaman setiap tahunnya.

Namun, datangnya Islam ke sana membuat segalanya berubah. Sebab, Muslim yang datang ke wilayah itu
memperkenalkan berbagai macam tanaman baru. Dengan demikian, garapan pertanian pun kian beragam. Seorang ahli agronomi Andalusia, seperti Al-Tignarî yang berasal dari Granada, membuat referensi tentang tanaman-tanaman yang memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pertanian yang cukup signifikan.

Salah seorang orientalis dari Prancis, Baron Carra de Vaux, bahkan menyebutkan, sejumlah tumbuhan dan hewan yang berasal dari Timur dibawa ke Spanyol oleh umat Islam. Tumbuhan dan hewan itu, kata dia, digunakan untuk beragam kebutuhan. Jadi, tak hanya untuk keperluan pertanian maupun peternakan, tapi tumbuhan dan hewan itu digunakan juga untuk keperluan pengembangan perkebunan, status kemewahan, perdagangan, dan seni.

De Vaux membuat sebuah daftar. Tumbuhan dan hewan itu adalah tulip, bakung, narcissi, lili, melati, mawar, persik, plum, domba, kambing, kucing Anggora, ayam Persia, sutra, dan katun. Salah satu tanaman penting yang diperkenalkan oleh umat Islam di Spanyol adalah tebu. Sedangkan kapas, mulai dibudidayakan di Andalusia pada akhir abad ke-11. Andalusia kemudian mampu berswasembada kapas.

Bahkan kemudian, para petani di Andalusia mampu mengekspor kapas hingga ke luar negeri. Di sisi lain, pengenalan tanaman baru kelak melahirkan sistem pertanian yang kompleks. Termasuk, pembangunan irigasi. Semula sebidang lahan hanya menghasilkan sekali panen satu macam tanaman per tahun. Namun, dengan makin beragamnya tanaman dan adanya irigasi, petani mampu panen tiga atau lebih tanaman per tahun.

Dengan produksi pertanian yang semacam ini, penduduk kosmopolitan di kota-kota Islam, termasuk yang ada di Spanyol, mampu memenuhi kotanya dengan beragam produk buah dan sayuran yang sebelumnya tak dikenal di Eropa.

Paling tidak, ada beberapa faktor penyebab revolusi pertanian Islam yang akhirnya sampai ke Spanyol. Yaitu, pengenalan tanaman baru oleh umat Islam, penggunaan irigasi yang intensif, dan penggunaan serta pengolahan tanah yang lebih baik.

Selain itu, faktor lain yang juga sangat menentukan adalah banyaknya karya ilmiah, yang memperkenalkan inovasi pertanian dan ilmu pengetahuan tentang pertanian.


Mereka yang Berjasa

Kemajuan pertanian di wilayah Islam, termasuk di Spanyol, tentu tak lepas dari kontribusi ahli pertanian Muslim. Mereka menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam buku-buku tentang pertanian. Karya mereka menjadi panduan dalam pengembangan pertanian kala itu.

Abu'l Khair, seorang ahli pertanian di Spanyol pada abad ke-12, misalnya, menulis Kitab Al-Filaha yang berisi tentang hal ihwal pertanian. Dalam kitabnya itu, ia menuliskan empat cara untuk menampung air hujan dan membuat perairan buatan.

Khair menegaskan perlunya penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek. Ia juga menguraikan tentang proses pembuatan gula yang sebelumnya telah diungkapkan ilmuwan lainnya, Ibn Al-Awwam.

Proses pembuatan gula diawali dengan memanen tanaman tebu yang telah dewasa. Lalu, tebu-tebu tersebut dipotong menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian dihancurkan dengan cara dimasukkan ke dalam alat penekan.

Setelah itu, ekstrak tebu direbus dalam jangka waktu tertentu lalu hasilnya disaring. Hasil saringan ekstrak tebu itu dimasak lagi sampai tinggal seperempat bagian dari jumlah semula. Kemudian, ekstrak tebu yang terakhir ini dituangkan ke dalam cetakan tanah liat.

Ekstrak tebu yang dimasukkan ke dalam cetakan-cetakan berbentuk khusus itu, disimpan di tempat teduh hingga mengeras atau mengkristal. Langkah selanjutnya, gula dikeluarkan dari cetakan dan dikeringkan di tempat yang teduh.

Gula tersebut digunakan untuk pemanis minuman maupun sebagai bahan campuran membuat makanan atau kue-kue yang sangat lezat. Di sisi lain, sisi tanaman tebu tak dibuang sia-sia. Namun, dijadikan makanan kuda, sebagai sumber kekuatan dan energi.

Ada pula ahli pertanian dari Damaskus Suriah, Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri (935/1529). Dia menulis sebuah buku tentang pertanian yang perinci. Secara umum, para penulis Arab kuno menuliskan tentang pertanian dalam berbagai subjek.

Di antaranya, soal jenis lahan pertanian dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan, penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah.

Mereka juga membahas soal budidaya serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan buah. 

Blues, Musik yang Berakar dari Tradisi Islam

Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and response itu diyakini publik AS dipopulerkan oleh 'Bapak Blues'--WC Handy (1873-1958).
Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim? Awalnya, publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.
Untuk membuktikan keterkaitan antara musik Blues Amerika dengan tradisi kaum Muslim, Diouf memutar dua rekaman. Yang pertama diperdengarkannya kepada publik yang hadir di sebuah ruangan Universitas Harvard itu adalah lantunan adzan--panggilan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat. Setelah itu, Diouf memutar Levee Camp Holler.
Rekaman kedua itu adalah lagu Blues lawas yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu blues yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunitas kulit hitam Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.
Lirik lagu Levee Camp Holler yang diperdengarkan Diouf itu terdengar seperti panggilan suara adzan--berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan adzan, lagu Levee Camp Holler itu menekankan kata-kata yang terdengar bergetar. Menurut Diouf, langgam yang sengau antara lagu Blues Levee Cam Holler yang mirip adzan juga merupakan bukti adanya pertautan antara keduanya.
Publik yang hadir di ruangan itu pun takjub dengan kebenaran bukti yang diungkapkan Diouf. "Tepuk tangan pun bergemuruh, sebab hubungan antara musik Blues Amerika dengan tradisi Muslim jelas-jelas terbukti," papar Diouf. "Mereka berkata, 'Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari sana (tradisi Islam)'."
Jonathan Curiel dalam tulisannya bertajuk, Muslim Roots, US Blues, mengungkapkan bahwa publik Amerika perlu berterima kasih kepada umat Islam dari Afrika Barat yang tinggal di Amerika. Sekitar tahun 1600 hingga pertengahan 1800 M, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika Barat yang dibawa paksa ke Amerika dan dijadikan budak.
Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen budak dari Afrika Barat yang dipekerjakan secara paksa di Amerika itu adalah Muslim. "Meski oleh tuannya dipaksa untuk menganut Kristen, namun banyak budak dari Afrika itu tetap menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya," cetus Curiel.
Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran setiap hari. Namun, sejarah juga mencatat bahwa para pelaut Muslim dari Afrika Barat adalah yang pertama kali menemukan benua Amerika sebelum Columbus. "Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya," tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya, They Came Before Columbus, membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam African Presence in Early America, Van Sertima menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
"Columbus juga tahu bahwa Muslim dari pantai barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Curiel menambahkan, pengaruh lainnya yang diberikan komunitas kulit hitam yang beragama Muslim di Amerika terhadap musik Blues adalah alat-alat musik yang bisa mereka mainkan. Pada era perbudakan di Amerika, orang kulit putih melarang mereka untuk menabuh drum, karena khawatir akan menumbuhkan semangat perlawanan para budak.
Namun, penggunaan alat musik gesek yang biasa dimainkan umat Islam dari Afrika masih diizinkan untuk dimainkan karena dianggap mirip biola. Guru Besar Ethnomusikologi dari Universitas Mainz, Jerman, bernama Prof Gehard Kubik mengatakan alat musik banjo Amerika juga berasal dari Afrika.
Secara khusus, Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999. "Saya yakin banyak penyanyi Blues saat ini yang tak menyadari bahwa pola musik mereka meniru tradisi musik kaum Muslim di Arab," cetusnya.
Secara akademis Prof Kubik telah membuktikannya. "Gaya vokal kebanyakan penyanyi Blues menggunakan melisma, intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti itu merupakan peninggalam masyarakat di Afrika Barat yang telah melakukan kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan 8 M," paparnya. Melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata.
Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor dan kembali lagi. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum Muslim melantunkan adzan dan membaca Alquran. Dengan fakta itu, papar Prof Kubik, para peneliti musik seharusnya mengakui bahwa Blues berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Afrika Barat.
Meski telah dibuktikan secara akademis, namun masih banyak pula yang tak mengakui adanya pengaruh tradisi masyarakat Muslim Afrika dalam musik Blues. "Non-Muslim sangat sulit untuk meyakini fakta itu, karena mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang peradaban Islam dan musik Islami," ungkap Barry Danielian, seorang pemain terompet yang tampil bersama Paul Simon, Natalie Cole, dan Tower of Power.
Suara lantunan adzan dan ayat-ayat Alquran yang biasa dilantunkan para Muslim kulit hitam di Amerika mengandung musikalitas. "Dalam jamaah saya, kata Danielian yang tinggal di Jersey City, New Jersey, 'Ketika kami berkumpul dan sang imam datang ada ratusan orang dan kami melantunkan doa, pasti terdengar sangat musikal. Anda akan mendengar musikal itu seperti orang Amerika menyebut Blues.'" Begitulah tradisi Islam di AS telah melahirkan sebuah aliran musik bernama Blues. N hri
Musik dalam Peradaban Islam
Bagaimanakah Islam memandang musik? Ada dua pandangan di dalam Islam terhadap musik. Ada ulama yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Perbedaan ini muncul lantaran Alquran tak membolehkan dan melarangnya.
Ulama terkemuka Dr Yusuf Al-Qardawi dalam bukunya, Al-Halaal wal Haraam fil Islam, memperbolehkan musik dengan sejumlah syarat. Sebenarnya, sejumlah ritual keagamaan yang dijalankan umat Islam mengandung musikalitas. Salah satu contohnya adalah alunan adzan. Selain itu, ilmu membaca Alquran atau ilm al-qiraah juga mengandung musik.
Meski begitu, Al-Albani melarang umat Islam untuk bermusik. Ia mendasarkannya pada salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. "Akan ada dari ummatku kaum yang menghalalkan zina, memakai sutra, minuman keras, dan alat-alat musik."
Secara umum, umat Islam memperbolehkan musik. Bahkan, di era kejayaannya, umat Islam mampu mencapai kemajuan dalam bidang seni musik. Terlebih lagi, musik dan puisi menjadi salah satu tradisi yang berkembang di Semenanjung Arab sebelum kedatangan Islam.
Pencapaian peradaban Islam dalam bidang musik tercatat dalam Kitab Al-Aghani yang ditulis oleh Al-Isfahani (897 M-967 M). Dalam kitab itu, tertulis sederet musisi di zaman kekhalifan, seperti Sa'ib Khathir (wafat 683 M), Tuwais (wafat 710 M), dan Ibnu Mijjah (wafat 714 M). Penyebaran Islam ke seluruh penjuru jazirah Arab, Persia, Turki, hingga India, semuanya memilik tradisi musik.
Seni musik berkembang pesat di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Para ilmuwan Muslim banyak menerjemahkan risalah musik dari Yunani terutama ketika Khalifah Al-Ma'mun berkuasa. Para Khalifah Abbasiyah pun turut mensponsori para penyair dan musisi. Salah satu musisi yang karyanya diakui dan disegani adalah Ishaq Al-Mausili (767 M-850 M).
Pada awal berkembangnya Islam, musik diyakini sebagai cabang dari matematika dan filsafat. Tak heran, jika matematikus dan filosof Muslim terkemuka, Al-Kindi (800 M-877 M), adalah ahli teori musik yang kesohor. Al-Kindi juga tercatat sebagai ilmuwan yang menjadikan musik untuk pengobatan dan penyembuhan penyakit. Ia menulis tak kurang dari 15 kitab tentang musik, namun yang masih ada tinggal lima. Al-Kindi adalah orang pertama yang menyebut kata 'musiqi'.
Tokoh Muslim lainnya yang juga banyak menyumbangkan pemikirannya bagi musik adalah Al-Farabi (870 M-950 M). Ia tinggal di Istana Saif al-Dawla Al-Hamdan¡ di kota Aleppo. Matematikus dan filosof ini juga sangat menggemari musik serta puisi. Selama tinggal di istana itu, Al-Farabi mengembangkan kemampuan musik serta teori tentang musik.
Al-Farabi juga diyakini sebagai penemu dua alat musik, yakni rabab dan qanun. Ia menulis tak kurang dari lima judul kitab tentang musik. Salah satu buku musiknya yang populer bertajuk, Kitabu al-Musiqa to al-Kabir, atau The Great Book of Music. Berisi teori-teori musik dalam Islam.
Pemikiran Al-Farabi dalam bidang musik masih kuat pengaruhnya hingga abad ke-16 M. Kitab musik yang ditulisnya itu sempat diterjemahkan oleh Ibnu Aqnin (1160 M-1226 M) ke dalam bahasa Ibrani. Selain itu, karyanya itu juga dialihbahasakan ke dalam bahasa latin berjudul De Scientiis dan De Ortu Scientiarum. Salah satu ahli teori musik Muslim lainnya adalah Ibnu Sina.