08 May 2010

Masjid Cheng Hoo, Sarat Pesan Kedamaian



Melihat bentuk Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya dari kejauhan, sekilas tidak tampak seperti bangunan masjid di Indonesia pada umumnya. Selain tidak ada kubah dan menara sebagaimana masjid-masjid lainnnya, bentuk masjid ini juga lebih mirip bangunan kelenteng (tempat ibadah umat Budha). Masjid Cheng Hoo memang unik, dan antik.

Masjid Cheng Hoo selain untuk tempat ibadah, sejak awal pendiriannya diharapkan bisa menjadi simbol kerukunan dan perdamaian umat Islam, terutama bagi warga muslim etnik Tionghoa. Tidak aneh bilamasjid ini bentuk maupun arsitekturnya kental dengan nuansa budaya Tiongkok. "Masjid ini memang berdiri atas prakarsa teman-teman anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), yang sebelumnya sudah membentuk Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo," ujar Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo, Ustadz Hariyono Ong kepada Republika.

Masjid Muhammad Cheng Hoo digagas HMY Bambang Sujianto, Ketua yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan para anggota Pembina Iman Tauhid Islam -- Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Masjid ini mulai dibangun 15 Mei 2001 dengan dana awal Rp 500 juta. Dana ini berasal dari hasil menerbitkan buku 'Saudara Baru/Jus Amma' dalam tiga bahasa. Masjid Cheng Hoo selesai dibangun dan diresmikan bertepatan dengan ulang tahun PITI yang ke 42 pada 28 Mei 2003. Masjid yang diresmikan oleh Menteri Agama RI, Pro Dr Said Agil Husain Al-Munawar ini menghabiskan biaya total Rp3,3 miliar.

Menurut ustadz Hariyono Ong, rancangan awal Masjid Cheng Hoo Indonesia diilhami dai bentuk masjid Niu Jie di Beijing, Cina, yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Pengembangan desain arsitekrurnya dilakukan oleh Ir Azis Johan (anggota PITI asal Bojonegoro) serta didukung tim teknis, HS willy Pangestu, Donny Asalim SH, Ir Tony Bagyo, dan Ir Rahmat Kurnia.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan bernuansa etnik dan antik cukup menonjol dibandigkan bentuk masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning, menambah khasanah budaya Indonesia.

Masjid Cheng Hoo berdiri di atas areal tanah keseluruhan seluas 3.070 meter persegi. Untuk ukuran sebuah masjid jami', bangunan masjid Cheng Hoo tidak terlalu besar. Secara keseluruhan masjid Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11 x 9 meter. Masjid ini memiliki keunikan bentuk bangunannya yang mirip bangunan Kelenteng. Pada sisi kiri kanan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Sehingga bangunan masjid tampak melebar, tidak memanjang atau persegi empat seperti bangunan masjid di Indonesia umumnya.

Arsitektur bangunan masjid Cheng Hoo memang tidak terlalu menonjol dan istimewa, kecuali pada bentuk bengunannya yang unik, menyerupai bangunan Kelenteng. Seleruh bahan bangunan juga tidak ada yang diimpor, tepi menggunakan bahan bangunan lokal.

Sejak awal pemabangunannya, kata ustadz Hariyono Ong, masjid ini memang lebih menekankan pada pesan atau misi yang diemban. Selain sebagai tempat ibadah, masjid Chneg Hoo diharapkan menjadi simbol kerukunan dan kedamaian. Karena itu pula, setiap ukuran dan bentuk elemen bangunan memiliki makna dan filosofi sendiri.

Ukuran bangunan utama, misalnya. Panjang 11 meter pada bangunan ini merujuk pada lebar bangunan Ka'bah. Pada saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS, Ka'bah memiliki panjang 11 meter. Sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama, ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syi'ar Islam di tanah Jawa.

Arsitekturnya yang menyerupai kelenteng, kata Hariyono Ong, itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama Budha.

Pada bagian atas bangunan utama, juga merupakan ciri hkas arsitektur Tiongkok, yakni atap bersusun tiga dan berbentuk segi delapan (pat kwa). Angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut Fat, yang berarti jaya atau keberuntungan. "Ini juga memiliki makna dan filosofi sendiri," kata ustad Hariyono Ong.

Kejayaan dan keberuntungan itu, merujuk pada risalah saat Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, nabi dikejar-kejar oleh kaum kafir Qurais dan bersembunyi dalam goa Tsur. Pada saat hendak memasuki goa tersebut, terdapat rumah laba-laba yang berbentuk sperti segi 8. Namun, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak sarang laba-laba itu.

Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum Qurais. Dengan pertolongan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki goa Tsur tanpa merusak rumah laba-laba tersebut. Saat situasi sudah aman, beliau keluar dari goa Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah. Ketika berada dalam goa Tsur, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

"Ini menunjukkan bahwa agama Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW merupakan agama yang cinta damai," tegas Haiyono Ong.

Pesan cinta damai dan kerukunan itu juga terwakil pada bentuk bangunan ruang imam. Ruangan yang dipergunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah ini sengaja didesain seperti pintu gereja. Ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberdaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Makna sesungguhnya, Islam mencinai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Sebagai penghormatan kepada diplomat muslim Tiongkok, yang dikenal dengan diplomasi silaturahim-nya, pada sisi kanan masjid terdapat relief perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapalnya yang dipergunakan mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia khususnya, agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Sebab, menurut ustad Hariyono Ong, orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa. Akan tetapi, itu merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun lalu, sudah ada seorang laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo. Sang Laksamana utusan Raja Dinasti Ming ini telah turut mensyi'arkan agama Islam di tanah Indonesia pada jaman itu.

No comments: