Matematika dan astronomi. Dua ilmu penting itulah yang dikembangkan Qadi Zada al-Rumi, saintis Muslim terkemuka di era kejayaan Dinasti Timurid – yang berkuasa di kawasan Asia Tengah dan Persia pada abad ke-14 M. Ia bersama Sultan Timurid, Ulugh Beg mendirikan observatorium di Samarkand, Uzbekistan – sebuah pusat studi astronomi termegah sepanjang sejarah Islam.
Qadi Zada, sejatinya, hanyalah nama julukan. Astronom dan matematikus yang terlahir pada 1364 di Bursa , Turki itu bernama Salah al-Din Musa Pasha. Ia dipanggil Qadi Zada yang berarti "anak dari seorang hakim", karena ayahnya memang seorang hakim terkemuka pada masa itu.
Ia tumbuh besar di tanah kelahirannya, kota Bursa, Turki. Qadi Zada menyelesaikan pendidikannya di Basra, salah satu kota pusat kebudayaan dan pendidikan Islam terkemuka. Di kota itu, Qadi Zada mempelajari ilmu geometri dan astronomi.
Guna mengasah dan mengembangkan ilmu pengetahuannya, dia kemudia berguru kepada al-Fanari. Sang guru menyadari potensi dan kecerdasan Qadi Zada. Al-Fanari paham betul bahwa muridnya itu adalah seorang pemuda dengan kemampuan yang sangat luar biasa di bidang matematika dan astronomi.
Al-Fanari menasihati Qadi Zada untuk hijrah ke pusat kebudayaan Kerajaan Khurasan atau Transoxania. Di Khurasan, Qadi Zada akhirnya bisa bertemu dan belajar dari para ahli matematika dan astronomi hebat. Khurasan memang dikenal sebagai kota pendidikan yang banyak disinggahi para ilmuwan yang singgah maupun tmenetap di kota itu.
Tak sekedar mendorong, al-Fanari juga mendukung Qadi Zada dengan sehelai surat rekomedasi. Ia juga dibekali gurunya sebuah kitab berjudul Emmuzeg al-Ulum (Tipe-tipe Ilmu Pengetahuan), sebagai tanda bahwa dia adalah seorang pelajar. Mengikuti nasihat gurunya, Qadi akhirnya belajar matematika dan astronomi di Transoxiana sebagai pusat kebudayaan.
Pada 1383, reputasi Qadi Zada langsung meroket. Ia begitu populer sebagai ahli matematika, lewat bukunya berjudul Risala fi'l Hisab ( Risalah Aritmatika). Buku tersebut berisi pengetahuan kompleks mengenai aritmatika, aljabar, dan pengukuran.
Saat Qadi masih muda, penguasa dan pendiri Dinasti Timurid, Timur Lenk mulai menguasai kawasan Iran, Irak, dan bagian timur Turki. Setelah kematian Timur pada 1405, Dinasti Timurid diperebutkan anak-anaknya. Shah Rukh yang merupakan anak keempat Timur Lenk akhirnya memenangkan perebutan kekuasaan peninggalan Timur Lenk tersebut.
Pada 1407, Shah Rukh mendapatkan kekuasaan secara menyeluruh di sebagian besar kerajaan, termasuk Iran dan Turkistan. Dia juga menguasai Samarkand. Wilayah yang dikuasai Shah Rukh merupakan pusat-pusat kebudayaan di mana Qadi Zada mengembangkan ilmunya. Wilayah tersebut meliputi Herat di Khorasan, Bukhara dan Samarkand di Transoxania.
Pada 1407, Qadi bertualang mengunjungi kota-kota tersebut, termasuk Samarkand. Tidak ada yang mengetahui alasan sang saintis mengunjungi Samarkand. Pada masa mudanya, ia belum sempat mengunjungi kota-kota tersebut. Mungkin, dia masih sibuk dengan astronominya. Saat mengunjungi kota-kota tersebut, Qadi sudah memiliki reputasi yang bagus sebagai seorang ahli matematika.
Dia juga sudah menghasilkan karya berupa sebuah risalah aritmatika yang ditulisnya ketika tinggal di Bursa pada 1383. Buku risalah aritmatika tersebut berisi aritmetika, aljabar dan pengukuran.
Setelah mengunjungi sejumlah kota-kota pusat kebudayaan lainnya, Qadi baru mencapai kota Samarkand sekitar 1410. Setahun sebelumnya, Shah Rukh, telah menguasai kekaisaran Timur ayahnya dan memutuskan untuk menjadikan Herat di Khurasan sebagai ibu kota baru. Shah Rukhmenempatkan putranya Ulugh Beg sebagai penguasa di Samarkand.
Ulugh Beg, saat itu, baru berusia 17 tahun, ketika bertemu dengan Qadi di Samarkand. Saat bertemu dengan Qadi, Ulugh Beg sangat mengagumi kecerdasan dan kehebatan sang saintis dalam bidang matematika dan astronomi. Sehingga, dia meminta agar Qadi mengajariny.
Berkat bimbingan Qadi, akhirnya Ulugh Beg juga menjadi seorang ahli astronomi yang terkemuka. Qadi merupakan seorang ilmuwan yang jauh lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari pada politik atau penaklukan militer. Tetapi bagaimanapun juga, dia menjadi seorang wakil penguasa di seluruh kerajaan, terutama wilayah Mawaraunnahr.
Sehingga meskipun sedikit, dia mau tidak mau terkena arus politik. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pertemuannya dengan Ulugh Beg merupakan titik balik bagi kehidupan Qadi Zada. Sehingga dia memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan bekerja di Samarkand. Dia juga menikah dengan seorang wanita di kota tersebut dan memiliki putra yang bernama Syams al-Din Muhammad.
Qadi menulis sejumlah karya matematika dan astronomi pada tahun pertama menetap di Samarkand. Karya-karyanya ini banyak yang dipersembahkan untuk Ulugh Beg. Hal itu juga menunjukkan reputasi Qadi sebagai seorang guru muda yang brilian dan sangat ahli dalam bidang matematika.
Secara khusus, Qadi menulis komentar tentang Kompendium ahli astronomi al-Jaghmini pada 1412 hingga 1413. Dia juga menulis komentar terhadap karya al-Samarqandi. Komentar yang ditulisnya berupa karya pendek yang hanya terdiri dari 20 halaman. Dalam komentarnya, ia membahas tiga puluh lima dari proposisi Euclid.
Pada 1417, Ulugh Beg membangun madrasah atas dorongan Qadi. Madrasah tersebut digunakan Qadi sebagai pusat pembelajaran yang terletak di depan alun-alun Rigestan di Samarkand. Dengan berdirinya madrasah tersebut, Ulugh Beg mulai mengumpulkan para ilmuwan terkemuka untuk mengajar di madrasahnya, termasuk al-Kashi. Baik Qadi, Ulugh Beg, dan al-Kashi merupakan para astronom terkemuka pada masa itu.
Qadi Zada dan Observatorium Samarkand
Pada 1424, sejarah tertoreh di Samarkand. Seorang penguasa Dinasti Timurid bernama Ulugh Beg berhasil membangun sebuah observatorium untuk penelitian astronomi. Menurut sejarawan sains, Krisciunas, observatorium yang dibangun Ulugh Beg itu merupakan yang termegah di antara tempat pengamatan benda antariksa lainnya yang dimiliki peradaban Islam.
Pembanguna observatorium Ulugh Beg di Samarkand itu tak lepas dari jasa dan ide brilian Qadi Zada. Betapa tidak. Dia adalah guru astronomi Ulugh Beg. Kehebatan Qadi Zada dan Ulugh Beg dituturkan sejawatnya, al-Kashi. Dalam surat kepada ayahnya yang tinggal di Kashan, al-Kashi memuji kemampuan dan kehebatan Ulugh Beg dan Qadi Zada dalam matematika dan astronomi.
Al-Kashi menganggap kedua ilmuwan tersebut merupakan yang paling unggul dibandingkan para ilmuwan lainnya, di zaman itu. Dalam surat tersebut, al-Kashi juga menceritakan bahwa mereka sering mengadakan pertemuan ilmiah yang dipimpin oleh Ulugh Beg dan dihadiri para ilmuwan terkemuka. Saat membahas masalah-masalah dalam astronomi yang cukup sulit, biasanya al-Kashi dan Qadi Zada mampu menyelesaikan masalah tersebut tanpa kesulitan yang berarti.
Karya asli Qadi adalah perhitungan sin 1° dengan tingkat akurasi yang luar biasa. Dia menerbitkan metode perhitungan sin 1° dalam Risalat al-Jayb (Risalah Sinus). Al-Kashi sebagai teman seangkatannya juga menghasilkan sebuah metode untuk memecahkan masalah ini. Namun metode mereka berdua berbeda dan menunjukkan bahwa dua ilmuwan yang luar biasa tersebut sama-sama bekerja pada masalah yang sama di Samarkand.
Qadi menghitung sin 1° mendekati tingat akurasi 10 pangkat minus 12. Pekerjaan utama yang dilakukan Qadi dan sahabat-sahabatnya, baik al-Kashi maupun Ulugh Beg di Observatorium di Samarkand adalah memproduksi Katalog Bintang-bintang. Katalog yang dihasilkan di observatorium tesebut, merupakan katalog bintang pertama yang komprehensif sejak zaman Ptolemeus.
Katalog Bintang itu, menjadi rujukan para astronom hingga abad ke-17 M. Katalog bintang yang diterbitkan pada 1437 itu menjelaskan 992 posisi bintang. Katalog bintang tersebut merupakan hasil dari kolaborasi para ilmuwan yang bekerja di Observatorium tetapi kontributor utamanya adalah Qadi Zada, Ulugh Beg, dan al-Kashi.
Katalog bintang tersebut, selain berisi posisi bintang juga berisi tabel pengamatan yang dilakukan di Observatorium, serta berisi hasil perhitungan kalender trigonometri. Qadi juga menulis komentar terhadap risalah astronomi karya ilmuwan besar Nashir ad-Din al-Tusi. Selain itu, dia juga menulis sebuah risalah mengenai masalah menghadapi Makkah, di mana masalah penting tersebut banyak didiskusikan oleh para astronom dan ahli matematika Muslim.
Setelah wafatnya al-Kashi, Qadi akhirnya menjadi direktur observatorium di Samarkand. Dia terus melakukan pekerjaan utama di Observatorium tersebut dengan memproduksi katalog bintang-bintang. Bahkan katalog bintang yang disebut Zij-i Sultani itu digunakan selama beberapa abad.
Pada 1436, Qadi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Namun kontribusinya kepada ilmu astronomi dan matematika yang begitu besar, membuat namanya selalu diingat dan dikenang. Bahkan karya-karyanya masih digunakan, hingga kini.
24 November 2009
Abu al Fida, Sejarawan Muslim dari Dinasti Mamluk
Dedikasi dan pengabdian sang ilmuwan Muslim bernama Abu al-Fida ini telah diakui oleh peradaban Barat. Tak heran jika namanya diabadikan di sebuah kawah bulan, yakni Abulfeda. "Manusia yang sungguh luar biasa,'' begitu penulis Barat bernama de Vaux memuji sosok sejarawan dan geografer Muslim di abad ke-13 itu.
Ia bernama lengkap Abu al-Fida Ismail Ibnu Ali bin Mahmud al-Malik al-Mu'ayyad Imad Ad-din. Ia adalah seorang ahli sejarah keturunan Kurdi yang sangat legendaris. Abu al-Fida terlahir di kota Damaskus, Suriah pada November 1273 M. Ayahnya, Malik ul-Afdha, adalah saudara dari pangeran Hamah.
Abu al-Fida merupakan keturunan dari Ayyub, ayah seorang panglima hebat pada masa Perang Salib yakni Salahuddin al-Ayyubi. Abu al-Fida terlahir dalam kondisi politik dan keamanan yang tak menentu, menyusul serangan bangsa Mongol ke kota-kota Islam. Pada saat lahir, ayahnya telah diusir dari kerajaan Hama oleh para penyerang dari Mongol yang melakukan invansi kedua pada 1259 di bawah komando Hulagu Kan. Invasi pertama Mongol terjadi pada 1219-1222 yang dipimpin Jenghis Khan.
Meski tumbuh dalam situasi politik dan keamanan yang tak menentu, semangat Abu al-Fida untuk belajar tak pernah surut. Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Alquran, hadis dan ilmu pengetahuan umum.
Mengingat kondisi keamanan yang tak menentu, setelah tumbuh menjadi remaja, Abu al-Fida mencurahkan dirinya untuk terjun dalam bidang militer.Ia telah turut angkat senjata membela agama Allah SWT saat melawan para Tentara Perang Salib dari Roma.
Setelah menerima pendidikan, pada usianya yang ke-12, dia sudah berani berjuang melawan tentara Salib bersama ayahnya bersama Penguasa Dinasti Mamluk. Dia juga tercatat ikut berjuang mengambil alih benteng tentara Salib dari Ksatria Markab Hospitaler.
Ketika menginjak usia 16 tahun, Abu al-Fida masih berjuang bersama ayahnya dan sepupunya untuk merebut Tripoli dari tentara salib. Setelah berjuang merebut Tripoli, dia masih berjuang melawan tentara salib dengan pasukan muslim lainnya untuk menaklukan Kastil Roum yang penting untuk mengendalikan kekuasaan di wilayah Sungai Eufrat. Beberapa tahun kemudian, dia berada di bawah perintah Sultan Mamluk Ladjyn berperang melawan orang-orang Kristen di Armenia.
Abu al Fida juga pernah menceritakan kehebatan kisah Sultan Ladjyn yang berasal dari Jerman dan asal-usulnya sebagai keturunan dari Ordo Ksatria Teutonik. Sultan Ladjyn berjuang melawan kaum Kristen di Italia dan melawan orang-orang kafir, kemudian dia datang ke Syria untuk melawan kaum Muslimin, lalu terpesona oleh keagungan agama Islam dan akhirnya masuk Islam. Setela itu, dia bergabung dengan Dinasti Mamluk, dan secara bertahap naik pangkat sampai akhirnya dia menjadi seorang Sultan dan menjadi teman abu al Fida sendiri.
Pada tahun 1309, Abu al Fida berjuang di Armenia melawan pasukan aliansi Mongol-Armenia saat dia baru saja kembali dari perjalanan ziarah ke Mekkah. Lalu pada tahun 1316 dia berada di Kairo Mamluk dan ditunjuk sebagai letnan untuk Sultan. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi Pangeran Hama, dengan demikian dia telah berjuang memulihkan kebesaran nama nenek moyangnya. Abu al Fida juga meriwayatkan kembali kota para leluhurnya supaya dikenang kebesarannya sepanjang masa.
Abu al Fida kemudian kembali lagi ke Mekkah pada tahun 1321, lalu dia pergi melakukan kampanye militer sekali lagi untuk berperang di wilayah Asia Kecil. Saat berada di tengah-tengah kampanye militer ini, Abu al Fida menggunakan sedikit waktunya yang tersisa untuk menulis. Pada tahun 1323, dia kembali ke Hama dan menulis karya geografi. Dia juga banyak memakai waktunya untuk berdiskusi dan belajar, bahkan dia juga sempat melakukan perdagangan. Abu al Fida hidup dengan luar biasa. Seluruh hidupnya dari masa kanak-kanak hanyalah serangkaian kampanye militer, selain itu dia naik haji ke Mekah sebanyak tiga kali, mencurahkan banyak waktu untuk mananam modal, memberikan perlindungan kepada para pelajar, serta menulis.
Pada tahun 1285 Abu al-Fida ikut dalam pertempuran melawan kubu Knights of St John, dan dia juga ikut melakukan pengepungan di wilayah Tripoli, Acre dan Qal'at ar-Rum. Pada tahun 1298 dia bekerja untuk melayani Sultan Mamluk Malik al-Nasir dan setelah menganbdi selama dua belas tahun kepada Sultan Mamluk tersebut, dia mendapatkan jabatan sebagai Gubernur Hama. Pada tahun 1312 dia menjadi pangeran dengan gelar Malik Us Salhn dan pada tahun 1320 dia menerima pangkat secara turun-temurun dengan gelar Sultan Malik ul-Mu'ayyad.
Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya ia Abu al-Fida memerintah dalam suasana yang penuh ketenangan dan keindahan. Dia mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan membuat berbagai macam karya yang membuatnya menjadi termasyhur. Dia juga tipoe orang yang suka sekali berkirim surat. Sehingga banyak sekali surat yang datang untuknya. Abu al Fida sendiri meninggal pada puncak kemuliaan dan kekuasaannya di Hama pada tahun 1331.
Meskipun Abu al Fida sangat tertarik dengan ilmu sejarah dan geografi, dia juga aktif mempelajari dengan baik berbagai bidang ilmu lainnya seperti botani dan Materia Mediaca. Dia juga menulis sebuah karya dalam banyak volume tentang obat-obatan yang berjudul Kunash, dan dia juga membuat sebuah buku tentang keseimbangan.
Karya Abu al Fida
Salah satu karya fenomenal Abu al Fida adalah bukunya yang berjudul The Concise History of Humanity (Ringkasan sejarah manusia) atau dalam bahasa Arabnya Tarikhu 'l-Mukhtasar fi Akhbari' l-Bashar yang dia tulis pada tahun 1315, lalu dia lanjutkan penulisan buku tersebut pada tahun 1329. Buku ini selain memuat tentang penciptaan dunia, juga memuat tentang sejarah universal, sejarah pra-Islam dan sejarah Islam pada tahun 1329. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Perancis dan Inggris.
Abu al-Fida sendiri dalam menciptakan karya-karyanya berdasarkan kepada sumber-sumber kepercayaannya juga pengalaman sendiri sebagai seorang pejuang yang menyaksikan berbagai peristiwa penting dan bersejarah. Dia juga mendapatkan banyak pengaruh dari sejarawan besar di Mosul sebelum dia, yaitu Ibn al-Atsir. The Concise History of Humanity merupakan sebuah karya penting, sehingga banyak yang menuliskan lanjutan dari sejarah tersebut. Beberapa ahli sejarah yang melanjutkan karya Abu al Fida antara lain Ibn al-Wardi pada tahun 1348, Ibn al-Shihna al-Halabi pada tahun 1403.
Karya-karya Abu Al Fida banyak dihargai oleh para orientalis Barat. Bahkan banyak dari karyanya sebagian diterbitkan di Barat, John Cagnier (1670-1740) pernah menerbitkan karya Abu al Fida, begitu pula Reiske. Sehingga karya sejarah Islam banyak dikenal di dunia Barat.
Seperti banyak karya sejarah sebelumnya, termasuk karya-karya Ptolemeus dan Muhammad al-Idrisi. The Concise History of Humanity memiliki sebuah pengantar panjang tentang berbagai macam masalah geografis yang isinya tentang kota-kota utama di dunia. Dalam buku tersebut juga terdapat garis bujur, lintang, iklim, ejaan. Buku tersebut mulai diterbitkan dan diterjemahkan pada awal tahun 1650 di Eropa.
Dalam bukunya dia juga menegaskan bahwa tiga perempat permukaan bumi tertutup dengan air. Beberapa wilayah yang diceritakan dalam buku tersebut antara lain 1, Arab; 2. Mesir; 3. Maghrib; 4. Africa; 5. Spanyol; 6; Pulau-pulau di Mediterania dan Atlantik; 7. Bagian utara Eropa dan Asia; 8 Suriah; 9 Jazirah; 10. Irak'; 11. Khuzistan atau Ahwaz; 12. Fars; 13. Kirman; 14 Sijistan; 15: Sind; 16: India; 17. China; 18 Pulau-pulau di timur; 19 Rum (Asia Kecil); 20. Armenia.
Buku tersebut juga berisi tentang negara termasuk batas-batasnya, keanehan fisik, kehidupan politik, divisi etnis , sopan santun, adat istiadat, monumen, jalan-jalan utama, kota-kota utama, sumber informasi, bujur, lintang, iklim, ortografi, deskripsi singkat. Abu al Fida berusaha keras untuk menetapkan ortografi dan orthophony dari nama-nama tempat. Salah satu aspek yang paling penting dalam karya Abu al-Fida adalah pengamatan bentuk bola bumi.
Ia bernama lengkap Abu al-Fida Ismail Ibnu Ali bin Mahmud al-Malik al-Mu'ayyad Imad Ad-din. Ia adalah seorang ahli sejarah keturunan Kurdi yang sangat legendaris. Abu al-Fida terlahir di kota Damaskus, Suriah pada November 1273 M. Ayahnya, Malik ul-Afdha, adalah saudara dari pangeran Hamah.
Abu al-Fida merupakan keturunan dari Ayyub, ayah seorang panglima hebat pada masa Perang Salib yakni Salahuddin al-Ayyubi. Abu al-Fida terlahir dalam kondisi politik dan keamanan yang tak menentu, menyusul serangan bangsa Mongol ke kota-kota Islam. Pada saat lahir, ayahnya telah diusir dari kerajaan Hama oleh para penyerang dari Mongol yang melakukan invansi kedua pada 1259 di bawah komando Hulagu Kan. Invasi pertama Mongol terjadi pada 1219-1222 yang dipimpin Jenghis Khan.
Meski tumbuh dalam situasi politik dan keamanan yang tak menentu, semangat Abu al-Fida untuk belajar tak pernah surut. Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Alquran, hadis dan ilmu pengetahuan umum.
Mengingat kondisi keamanan yang tak menentu, setelah tumbuh menjadi remaja, Abu al-Fida mencurahkan dirinya untuk terjun dalam bidang militer.Ia telah turut angkat senjata membela agama Allah SWT saat melawan para Tentara Perang Salib dari Roma.
Setelah menerima pendidikan, pada usianya yang ke-12, dia sudah berani berjuang melawan tentara Salib bersama ayahnya bersama Penguasa Dinasti Mamluk. Dia juga tercatat ikut berjuang mengambil alih benteng tentara Salib dari Ksatria Markab Hospitaler.
Ketika menginjak usia 16 tahun, Abu al-Fida masih berjuang bersama ayahnya dan sepupunya untuk merebut Tripoli dari tentara salib. Setelah berjuang merebut Tripoli, dia masih berjuang melawan tentara salib dengan pasukan muslim lainnya untuk menaklukan Kastil Roum yang penting untuk mengendalikan kekuasaan di wilayah Sungai Eufrat. Beberapa tahun kemudian, dia berada di bawah perintah Sultan Mamluk Ladjyn berperang melawan orang-orang Kristen di Armenia.
Abu al Fida juga pernah menceritakan kehebatan kisah Sultan Ladjyn yang berasal dari Jerman dan asal-usulnya sebagai keturunan dari Ordo Ksatria Teutonik. Sultan Ladjyn berjuang melawan kaum Kristen di Italia dan melawan orang-orang kafir, kemudian dia datang ke Syria untuk melawan kaum Muslimin, lalu terpesona oleh keagungan agama Islam dan akhirnya masuk Islam. Setela itu, dia bergabung dengan Dinasti Mamluk, dan secara bertahap naik pangkat sampai akhirnya dia menjadi seorang Sultan dan menjadi teman abu al Fida sendiri.
Pada tahun 1309, Abu al Fida berjuang di Armenia melawan pasukan aliansi Mongol-Armenia saat dia baru saja kembali dari perjalanan ziarah ke Mekkah. Lalu pada tahun 1316 dia berada di Kairo Mamluk dan ditunjuk sebagai letnan untuk Sultan. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi Pangeran Hama, dengan demikian dia telah berjuang memulihkan kebesaran nama nenek moyangnya. Abu al Fida juga meriwayatkan kembali kota para leluhurnya supaya dikenang kebesarannya sepanjang masa.
Abu al Fida kemudian kembali lagi ke Mekkah pada tahun 1321, lalu dia pergi melakukan kampanye militer sekali lagi untuk berperang di wilayah Asia Kecil. Saat berada di tengah-tengah kampanye militer ini, Abu al Fida menggunakan sedikit waktunya yang tersisa untuk menulis. Pada tahun 1323, dia kembali ke Hama dan menulis karya geografi. Dia juga banyak memakai waktunya untuk berdiskusi dan belajar, bahkan dia juga sempat melakukan perdagangan. Abu al Fida hidup dengan luar biasa. Seluruh hidupnya dari masa kanak-kanak hanyalah serangkaian kampanye militer, selain itu dia naik haji ke Mekah sebanyak tiga kali, mencurahkan banyak waktu untuk mananam modal, memberikan perlindungan kepada para pelajar, serta menulis.
Pada tahun 1285 Abu al-Fida ikut dalam pertempuran melawan kubu Knights of St John, dan dia juga ikut melakukan pengepungan di wilayah Tripoli, Acre dan Qal'at ar-Rum. Pada tahun 1298 dia bekerja untuk melayani Sultan Mamluk Malik al-Nasir dan setelah menganbdi selama dua belas tahun kepada Sultan Mamluk tersebut, dia mendapatkan jabatan sebagai Gubernur Hama. Pada tahun 1312 dia menjadi pangeran dengan gelar Malik Us Salhn dan pada tahun 1320 dia menerima pangkat secara turun-temurun dengan gelar Sultan Malik ul-Mu'ayyad.
Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya ia Abu al-Fida memerintah dalam suasana yang penuh ketenangan dan keindahan. Dia mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan membuat berbagai macam karya yang membuatnya menjadi termasyhur. Dia juga tipoe orang yang suka sekali berkirim surat. Sehingga banyak sekali surat yang datang untuknya. Abu al Fida sendiri meninggal pada puncak kemuliaan dan kekuasaannya di Hama pada tahun 1331.
Meskipun Abu al Fida sangat tertarik dengan ilmu sejarah dan geografi, dia juga aktif mempelajari dengan baik berbagai bidang ilmu lainnya seperti botani dan Materia Mediaca. Dia juga menulis sebuah karya dalam banyak volume tentang obat-obatan yang berjudul Kunash, dan dia juga membuat sebuah buku tentang keseimbangan.
Karya Abu al Fida
Salah satu karya fenomenal Abu al Fida adalah bukunya yang berjudul The Concise History of Humanity (Ringkasan sejarah manusia) atau dalam bahasa Arabnya Tarikhu 'l-Mukhtasar fi Akhbari' l-Bashar yang dia tulis pada tahun 1315, lalu dia lanjutkan penulisan buku tersebut pada tahun 1329. Buku ini selain memuat tentang penciptaan dunia, juga memuat tentang sejarah universal, sejarah pra-Islam dan sejarah Islam pada tahun 1329. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Perancis dan Inggris.
Abu al-Fida sendiri dalam menciptakan karya-karyanya berdasarkan kepada sumber-sumber kepercayaannya juga pengalaman sendiri sebagai seorang pejuang yang menyaksikan berbagai peristiwa penting dan bersejarah. Dia juga mendapatkan banyak pengaruh dari sejarawan besar di Mosul sebelum dia, yaitu Ibn al-Atsir. The Concise History of Humanity merupakan sebuah karya penting, sehingga banyak yang menuliskan lanjutan dari sejarah tersebut. Beberapa ahli sejarah yang melanjutkan karya Abu al Fida antara lain Ibn al-Wardi pada tahun 1348, Ibn al-Shihna al-Halabi pada tahun 1403.
Karya-karya Abu Al Fida banyak dihargai oleh para orientalis Barat. Bahkan banyak dari karyanya sebagian diterbitkan di Barat, John Cagnier (1670-1740) pernah menerbitkan karya Abu al Fida, begitu pula Reiske. Sehingga karya sejarah Islam banyak dikenal di dunia Barat.
Seperti banyak karya sejarah sebelumnya, termasuk karya-karya Ptolemeus dan Muhammad al-Idrisi. The Concise History of Humanity memiliki sebuah pengantar panjang tentang berbagai macam masalah geografis yang isinya tentang kota-kota utama di dunia. Dalam buku tersebut juga terdapat garis bujur, lintang, iklim, ejaan. Buku tersebut mulai diterbitkan dan diterjemahkan pada awal tahun 1650 di Eropa.
Dalam bukunya dia juga menegaskan bahwa tiga perempat permukaan bumi tertutup dengan air. Beberapa wilayah yang diceritakan dalam buku tersebut antara lain 1, Arab; 2. Mesir; 3. Maghrib; 4. Africa; 5. Spanyol; 6; Pulau-pulau di Mediterania dan Atlantik; 7. Bagian utara Eropa dan Asia; 8 Suriah; 9 Jazirah; 10. Irak'; 11. Khuzistan atau Ahwaz; 12. Fars; 13. Kirman; 14 Sijistan; 15: Sind; 16: India; 17. China; 18 Pulau-pulau di timur; 19 Rum (Asia Kecil); 20. Armenia.
Buku tersebut juga berisi tentang negara termasuk batas-batasnya, keanehan fisik, kehidupan politik, divisi etnis , sopan santun, adat istiadat, monumen, jalan-jalan utama, kota-kota utama, sumber informasi, bujur, lintang, iklim, ortografi, deskripsi singkat. Abu al Fida berusaha keras untuk menetapkan ortografi dan orthophony dari nama-nama tempat. Salah satu aspek yang paling penting dalam karya Abu al-Fida adalah pengamatan bentuk bola bumi.
Abu al Fida, Sejarawan Muslim dari Dinasti Mamluk
Dedikasi dan pengabdian sang ilmuwan Muslim bernama Abu al-Fida ini telah diakui oleh peradaban Barat. Tak heran jika namanya diabadikan di sebuah kawah bulan, yakni Abulfeda. "Manusia yang sungguh luar biasa,'' begitu penulis Barat bernama de Vaux memuji sosok sejarawan dan geografer Muslim di abad ke-13 itu.
Ia bernama lengkap Abu al-Fida Ismail Ibnu Ali bin Mahmud al-Malik al-Mu'ayyad Imad Ad-din. Ia adalah seorang ahli sejarah keturunan Kurdi yang sangat legendaris. Abu al-Fida terlahir di kota Damaskus, Suriah pada November 1273 M. Ayahnya, Malik ul-Afdha, adalah saudara dari pangeran Hamah.
Abu al-Fida merupakan keturunan dari Ayyub, ayah seorang panglima hebat pada masa Perang Salib yakni Salahuddin al-Ayyubi. Abu al-Fida terlahir dalam kondisi politik dan keamanan yang tak menentu, menyusul serangan bangsa Mongol ke kota-kota Islam. Pada saat lahir, ayahnya telah diusir dari kerajaan Hama oleh para penyerang dari Mongol yang melakukan invansi kedua pada 1259 di bawah komando Hulagu Kan. Invasi pertama Mongol terjadi pada 1219-1222 yang dipimpin Jenghis Khan.
Meski tumbuh dalam situasi politik dan keamanan yang tak menentu, semangat Abu al-Fida untuk belajar tak pernah surut. Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Alquran, hadis dan ilmu pengetahuan umum.
Mengingat kondisi keamanan yang tak menentu, setelah tumbuh menjadi remaja, Abu al-Fida mencurahkan dirinya untuk terjun dalam bidang militer.Ia telah turut angkat senjata membela agama Allah SWT saat melawan para Tentara Perang Salib dari Roma.
Setelah menerima pendidikan, pada usianya yang ke-12, dia sudah berani berjuang melawan tentara Salib bersama ayahnya bersama Penguasa Dinasti Mamluk. Dia juga tercatat ikut berjuang mengambil alih benteng tentara Salib dari Ksatria Markab Hospitaler.
Ketika menginjak usia 16 tahun, Abu al-Fida masih berjuang bersama ayahnya dan sepupunya untuk merebut Tripoli dari tentara salib. Setelah berjuang merebut Tripoli, dia masih berjuang melawan tentara salib dengan pasukan muslim lainnya untuk menaklukan Kastil Roum yang penting untuk mengendalikan kekuasaan di wilayah Sungai Eufrat. Beberapa tahun kemudian, dia berada di bawah perintah Sultan Mamluk Ladjyn berperang melawan orang-orang Kristen di Armenia.
Abu al Fida juga pernah menceritakan kehebatan kisah Sultan Ladjyn yang berasal dari Jerman dan asal-usulnya sebagai keturunan dari Ordo Ksatria Teutonik. Sultan Ladjyn berjuang melawan kaum Kristen di Italia dan melawan orang-orang kafir, kemudian dia datang ke Syria untuk melawan kaum Muslimin, lalu terpesona oleh keagungan agama Islam dan akhirnya masuk Islam. Setela itu, dia bergabung dengan Dinasti Mamluk, dan secara bertahap naik pangkat sampai akhirnya dia menjadi seorang Sultan dan menjadi teman abu al Fida sendiri.
Pada tahun 1309, Abu al Fida berjuang di Armenia melawan pasukan aliansi Mongol-Armenia saat dia baru saja kembali dari perjalanan ziarah ke Mekkah. Lalu pada tahun 1316 dia berada di Kairo Mamluk dan ditunjuk sebagai letnan untuk Sultan. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi Pangeran Hama, dengan demikian dia telah berjuang memulihkan kebesaran nama nenek moyangnya. Abu al Fida juga meriwayatkan kembali kota para leluhurnya supaya dikenang kebesarannya sepanjang masa.
Abu al Fida kemudian kembali lagi ke Mekkah pada tahun 1321, lalu dia pergi melakukan kampanye militer sekali lagi untuk berperang di wilayah Asia Kecil. Saat berada di tengah-tengah kampanye militer ini, Abu al Fida menggunakan sedikit waktunya yang tersisa untuk menulis. Pada tahun 1323, dia kembali ke Hama dan menulis karya geografi. Dia juga banyak memakai waktunya untuk berdiskusi dan belajar, bahkan dia juga sempat melakukan perdagangan. Abu al Fida hidup dengan luar biasa. Seluruh hidupnya dari masa kanak-kanak hanyalah serangkaian kampanye militer, selain itu dia naik haji ke Mekah sebanyak tiga kali, mencurahkan banyak waktu untuk mananam modal, memberikan perlindungan kepada para pelajar, serta menulis.
Pada tahun 1285 Abu al-Fida ikut dalam pertempuran melawan kubu Knights of St John, dan dia juga ikut melakukan pengepungan di wilayah Tripoli, Acre dan Qal'at ar-Rum. Pada tahun 1298 dia bekerja untuk melayani Sultan Mamluk Malik al-Nasir dan setelah menganbdi selama dua belas tahun kepada Sultan Mamluk tersebut, dia mendapatkan jabatan sebagai Gubernur Hama. Pada tahun 1312 dia menjadi pangeran dengan gelar Malik Us Salhn dan pada tahun 1320 dia menerima pangkat secara turun-temurun dengan gelar Sultan Malik ul-Mu'ayyad.
Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya ia Abu al-Fida memerintah dalam suasana yang penuh ketenangan dan keindahan. Dia mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan membuat berbagai macam karya yang membuatnya menjadi termasyhur. Dia juga tipoe orang yang suka sekali berkirim surat. Sehingga banyak sekali surat yang datang untuknya. Abu al Fida sendiri meninggal pada puncak kemuliaan dan kekuasaannya di Hama pada tahun 1331.
Meskipun Abu al Fida sangat tertarik dengan ilmu sejarah dan geografi, dia juga aktif mempelajari dengan baik berbagai bidang ilmu lainnya seperti botani dan Materia Mediaca. Dia juga menulis sebuah karya dalam banyak volume tentang obat-obatan yang berjudul Kunash, dan dia juga membuat sebuah buku tentang keseimbangan.
Karya Abu al Fida
Salah satu karya fenomenal Abu al Fida adalah bukunya yang berjudul The Concise History of Humanity (Ringkasan sejarah manusia) atau dalam bahasa Arabnya Tarikhu 'l-Mukhtasar fi Akhbari' l-Bashar yang dia tulis pada tahun 1315, lalu dia lanjutkan penulisan buku tersebut pada tahun 1329. Buku ini selain memuat tentang penciptaan dunia, juga memuat tentang sejarah universal, sejarah pra-Islam dan sejarah Islam pada tahun 1329. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Perancis dan Inggris.
Abu al-Fida sendiri dalam menciptakan karya-karyanya berdasarkan kepada sumber-sumber kepercayaannya juga pengalaman sendiri sebagai seorang pejuang yang menyaksikan berbagai peristiwa penting dan bersejarah. Dia juga mendapatkan banyak pengaruh dari sejarawan besar di Mosul sebelum dia, yaitu Ibn al-Atsir. The Concise History of Humanity merupakan sebuah karya penting, sehingga banyak yang menuliskan lanjutan dari sejarah tersebut. Beberapa ahli sejarah yang melanjutkan karya Abu al Fida antara lain Ibn al-Wardi pada tahun 1348, Ibn al-Shihna al-Halabi pada tahun 1403.
Karya-karya Abu Al Fida banyak dihargai oleh para orientalis Barat. Bahkan banyak dari karyanya sebagian diterbitkan di Barat, John Cagnier (1670-1740) pernah menerbitkan karya Abu al Fida, begitu pula Reiske. Sehingga karya sejarah Islam banyak dikenal di dunia Barat.
Seperti banyak karya sejarah sebelumnya, termasuk karya-karya Ptolemeus dan Muhammad al-Idrisi. The Concise History of Humanity memiliki sebuah pengantar panjang tentang berbagai macam masalah geografis yang isinya tentang kota-kota utama di dunia. Dalam buku tersebut juga terdapat garis bujur, lintang, iklim, ejaan. Buku tersebut mulai diterbitkan dan diterjemahkan pada awal tahun 1650 di Eropa.
Dalam bukunya dia juga menegaskan bahwa tiga perempat permukaan bumi tertutup dengan air. Beberapa wilayah yang diceritakan dalam buku tersebut antara lain 1, Arab; 2. Mesir; 3. Maghrib; 4. Africa; 5. Spanyol; 6; Pulau-pulau di Mediterania dan Atlantik; 7. Bagian utara Eropa dan Asia; 8 Suriah; 9 Jazirah; 10. Irak'; 11. Khuzistan atau Ahwaz; 12. Fars; 13. Kirman; 14 Sijistan; 15: Sind; 16: India; 17. China; 18 Pulau-pulau di timur; 19 Rum (Asia Kecil); 20. Armenia.
Buku tersebut juga berisi tentang negara termasuk batas-batasnya, keanehan fisik, kehidupan politik, divisi etnis , sopan santun, adat istiadat, monumen, jalan-jalan utama, kota-kota utama, sumber informasi, bujur, lintang, iklim, ortografi, deskripsi singkat. Abu al Fida berusaha keras untuk menetapkan ortografi dan orthophony dari nama-nama tempat. Salah satu aspek yang paling penting dalam karya Abu al-Fida adalah pengamatan bentuk bola bumi.
Ia bernama lengkap Abu al-Fida Ismail Ibnu Ali bin Mahmud al-Malik al-Mu'ayyad Imad Ad-din. Ia adalah seorang ahli sejarah keturunan Kurdi yang sangat legendaris. Abu al-Fida terlahir di kota Damaskus, Suriah pada November 1273 M. Ayahnya, Malik ul-Afdha, adalah saudara dari pangeran Hamah.
Abu al-Fida merupakan keturunan dari Ayyub, ayah seorang panglima hebat pada masa Perang Salib yakni Salahuddin al-Ayyubi. Abu al-Fida terlahir dalam kondisi politik dan keamanan yang tak menentu, menyusul serangan bangsa Mongol ke kota-kota Islam. Pada saat lahir, ayahnya telah diusir dari kerajaan Hama oleh para penyerang dari Mongol yang melakukan invansi kedua pada 1259 di bawah komando Hulagu Kan. Invasi pertama Mongol terjadi pada 1219-1222 yang dipimpin Jenghis Khan.
Meski tumbuh dalam situasi politik dan keamanan yang tak menentu, semangat Abu al-Fida untuk belajar tak pernah surut. Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Alquran, hadis dan ilmu pengetahuan umum.
Mengingat kondisi keamanan yang tak menentu, setelah tumbuh menjadi remaja, Abu al-Fida mencurahkan dirinya untuk terjun dalam bidang militer.Ia telah turut angkat senjata membela agama Allah SWT saat melawan para Tentara Perang Salib dari Roma.
Setelah menerima pendidikan, pada usianya yang ke-12, dia sudah berani berjuang melawan tentara Salib bersama ayahnya bersama Penguasa Dinasti Mamluk. Dia juga tercatat ikut berjuang mengambil alih benteng tentara Salib dari Ksatria Markab Hospitaler.
Ketika menginjak usia 16 tahun, Abu al-Fida masih berjuang bersama ayahnya dan sepupunya untuk merebut Tripoli dari tentara salib. Setelah berjuang merebut Tripoli, dia masih berjuang melawan tentara salib dengan pasukan muslim lainnya untuk menaklukan Kastil Roum yang penting untuk mengendalikan kekuasaan di wilayah Sungai Eufrat. Beberapa tahun kemudian, dia berada di bawah perintah Sultan Mamluk Ladjyn berperang melawan orang-orang Kristen di Armenia.
Abu al Fida juga pernah menceritakan kehebatan kisah Sultan Ladjyn yang berasal dari Jerman dan asal-usulnya sebagai keturunan dari Ordo Ksatria Teutonik. Sultan Ladjyn berjuang melawan kaum Kristen di Italia dan melawan orang-orang kafir, kemudian dia datang ke Syria untuk melawan kaum Muslimin, lalu terpesona oleh keagungan agama Islam dan akhirnya masuk Islam. Setela itu, dia bergabung dengan Dinasti Mamluk, dan secara bertahap naik pangkat sampai akhirnya dia menjadi seorang Sultan dan menjadi teman abu al Fida sendiri.
Pada tahun 1309, Abu al Fida berjuang di Armenia melawan pasukan aliansi Mongol-Armenia saat dia baru saja kembali dari perjalanan ziarah ke Mekkah. Lalu pada tahun 1316 dia berada di Kairo Mamluk dan ditunjuk sebagai letnan untuk Sultan. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi Pangeran Hama, dengan demikian dia telah berjuang memulihkan kebesaran nama nenek moyangnya. Abu al Fida juga meriwayatkan kembali kota para leluhurnya supaya dikenang kebesarannya sepanjang masa.
Abu al Fida kemudian kembali lagi ke Mekkah pada tahun 1321, lalu dia pergi melakukan kampanye militer sekali lagi untuk berperang di wilayah Asia Kecil. Saat berada di tengah-tengah kampanye militer ini, Abu al Fida menggunakan sedikit waktunya yang tersisa untuk menulis. Pada tahun 1323, dia kembali ke Hama dan menulis karya geografi. Dia juga banyak memakai waktunya untuk berdiskusi dan belajar, bahkan dia juga sempat melakukan perdagangan. Abu al Fida hidup dengan luar biasa. Seluruh hidupnya dari masa kanak-kanak hanyalah serangkaian kampanye militer, selain itu dia naik haji ke Mekah sebanyak tiga kali, mencurahkan banyak waktu untuk mananam modal, memberikan perlindungan kepada para pelajar, serta menulis.
Pada tahun 1285 Abu al-Fida ikut dalam pertempuran melawan kubu Knights of St John, dan dia juga ikut melakukan pengepungan di wilayah Tripoli, Acre dan Qal'at ar-Rum. Pada tahun 1298 dia bekerja untuk melayani Sultan Mamluk Malik al-Nasir dan setelah menganbdi selama dua belas tahun kepada Sultan Mamluk tersebut, dia mendapatkan jabatan sebagai Gubernur Hama. Pada tahun 1312 dia menjadi pangeran dengan gelar Malik Us Salhn dan pada tahun 1320 dia menerima pangkat secara turun-temurun dengan gelar Sultan Malik ul-Mu'ayyad.
Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya ia Abu al-Fida memerintah dalam suasana yang penuh ketenangan dan keindahan. Dia mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan membuat berbagai macam karya yang membuatnya menjadi termasyhur. Dia juga tipoe orang yang suka sekali berkirim surat. Sehingga banyak sekali surat yang datang untuknya. Abu al Fida sendiri meninggal pada puncak kemuliaan dan kekuasaannya di Hama pada tahun 1331.
Meskipun Abu al Fida sangat tertarik dengan ilmu sejarah dan geografi, dia juga aktif mempelajari dengan baik berbagai bidang ilmu lainnya seperti botani dan Materia Mediaca. Dia juga menulis sebuah karya dalam banyak volume tentang obat-obatan yang berjudul Kunash, dan dia juga membuat sebuah buku tentang keseimbangan.
Karya Abu al Fida
Salah satu karya fenomenal Abu al Fida adalah bukunya yang berjudul The Concise History of Humanity (Ringkasan sejarah manusia) atau dalam bahasa Arabnya Tarikhu 'l-Mukhtasar fi Akhbari' l-Bashar yang dia tulis pada tahun 1315, lalu dia lanjutkan penulisan buku tersebut pada tahun 1329. Buku ini selain memuat tentang penciptaan dunia, juga memuat tentang sejarah universal, sejarah pra-Islam dan sejarah Islam pada tahun 1329. Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Perancis dan Inggris.
Abu al-Fida sendiri dalam menciptakan karya-karyanya berdasarkan kepada sumber-sumber kepercayaannya juga pengalaman sendiri sebagai seorang pejuang yang menyaksikan berbagai peristiwa penting dan bersejarah. Dia juga mendapatkan banyak pengaruh dari sejarawan besar di Mosul sebelum dia, yaitu Ibn al-Atsir. The Concise History of Humanity merupakan sebuah karya penting, sehingga banyak yang menuliskan lanjutan dari sejarah tersebut. Beberapa ahli sejarah yang melanjutkan karya Abu al Fida antara lain Ibn al-Wardi pada tahun 1348, Ibn al-Shihna al-Halabi pada tahun 1403.
Karya-karya Abu Al Fida banyak dihargai oleh para orientalis Barat. Bahkan banyak dari karyanya sebagian diterbitkan di Barat, John Cagnier (1670-1740) pernah menerbitkan karya Abu al Fida, begitu pula Reiske. Sehingga karya sejarah Islam banyak dikenal di dunia Barat.
Seperti banyak karya sejarah sebelumnya, termasuk karya-karya Ptolemeus dan Muhammad al-Idrisi. The Concise History of Humanity memiliki sebuah pengantar panjang tentang berbagai macam masalah geografis yang isinya tentang kota-kota utama di dunia. Dalam buku tersebut juga terdapat garis bujur, lintang, iklim, ejaan. Buku tersebut mulai diterbitkan dan diterjemahkan pada awal tahun 1650 di Eropa.
Dalam bukunya dia juga menegaskan bahwa tiga perempat permukaan bumi tertutup dengan air. Beberapa wilayah yang diceritakan dalam buku tersebut antara lain 1, Arab; 2. Mesir; 3. Maghrib; 4. Africa; 5. Spanyol; 6; Pulau-pulau di Mediterania dan Atlantik; 7. Bagian utara Eropa dan Asia; 8 Suriah; 9 Jazirah; 10. Irak'; 11. Khuzistan atau Ahwaz; 12. Fars; 13. Kirman; 14 Sijistan; 15: Sind; 16: India; 17. China; 18 Pulau-pulau di timur; 19 Rum (Asia Kecil); 20. Armenia.
Buku tersebut juga berisi tentang negara termasuk batas-batasnya, keanehan fisik, kehidupan politik, divisi etnis , sopan santun, adat istiadat, monumen, jalan-jalan utama, kota-kota utama, sumber informasi, bujur, lintang, iklim, ortografi, deskripsi singkat. Abu al Fida berusaha keras untuk menetapkan ortografi dan orthophony dari nama-nama tempat. Salah satu aspek yang paling penting dalam karya Abu al-Fida adalah pengamatan bentuk bola bumi.
Ibnu al-Banna, Matematikus Legendaris dari Maroko
Ibnu al-Banna al-Marrakushi dikenal sebagai matematikus Muslim legendaris dari Maroko pada abad ke-13 M. Kontribusinya bagi pengembangan matematika sungguh sangat tak ternilai.
Lewat kitab yang ditulisnya bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika) dan Raf al-Hijab, ia memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para para sejarawan sains dan ilmuwan percaya bahwa simbolisme Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam.
Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Banna dan al-Qalasadi merupakan penemu notasi matematika. Dedikasinya dalam mengembangkan matematika telah diakui dunia. Untuk mengenang jasa-jasanya bagi kemajuan matematika, para ilmuwan dunia mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan yang diberi nama al-Marrakushi.
Al-Banna pun menjadi satu dari 24 ilmuwan Muslim legendaris yang namanya diabadikan di kawah bulan. Matematikus Muslim kesohor itu bernama lengkap Abu'l-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Utsman al-Azdi. Dalam catatan sejarah, tidak ada keterangan dengan jelas apakah al-Banna lahir di kota Marrakesh atau di wilayah yang diberi nama Marrakesh, Maroko oleh bangsa Eropa.
Ada pula yang menyebut al-Banna terlahir di Granada di Spanyol dan kemudian hijrah ke Afrika Utara untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup. Yang pasti, menurut sejarawan matematika JJ O'Connor dan EF Robertson, al-Banna menghabiskan sebagian besar hidupnya di Maroko.
Al-Banna lahir pada Desember 1256. Saat itu, Suku Banu Marin di Maroko merupakan sekutu Kekhalifahan Umayyah di Cordoba, Spanyol. Suku tersebut kemudian tinggal di bagian timur Maroko di bawah kepemimpinan Abu Yahya. Mereka mulai menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Suku Banu Marin menaklukan Fez pada 1248 dan menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota.
Kemudian mereka menaklukan Marrakesh dari kekuasaan suku Muwahhidun yang berkuasa pada 1269. Dengan demikian Suku Banu Marin mengambil alih kekuasaan di seluruh Maroko. Setelah mereka berhasil menaklukkan Maroko, Banu Marin mencoba membantu Granada untuk mencegah kemajuan peradaban Kristen.
Hubungan erat antara Granada dan Maroko itulah yang membuat para sejarawan kesulitan untuk menjelaskan dan mengetahui secara pasti asal al-Banna. Menurut O'Connor dan Robertson, al-Banna menyelesaikan studinya di Maroko. Matematika adalah bidang studi yang disukainya.
Saat itu, matematika merupakan ilmu favorit. Al-Banna sangat cinta dengan geometri serta memiliki ketertarikan untuk mempelajari Elemen Euclid. Ia juga mempelajari angka-angka pecahan dan belajar banyak dari orang-orang Arab yang telah menciptakan matematika s400 tahun sebelumnya. Menurut O'Connor, suku Banu Marin memiliki budaya yang kuat untuk belajar serta mencari ilmu pengetahuan.
Banu Marin juga menjadikan Kota Fez sebagai pusat studi dan kebudayaan Islam. Di Universitas Fez, al-Banna mengajarkan semua cabang ilmu matematika termasuk diantaranya; aritmatika, Aljabar, geometri dan astronomi. Fez merupakan kota yang berkembang dengan pesat. Di kota itu berdiri dengan megah istana kesultanan, madrasah, universitas, serta, masjid yang megah.
Selama mengajar di universitas di kota Fez, al-Banna mengembangkan komunitas akademis. Ia memiliki begitu banyak murid. Hal ini menunjukkan pengaruh al-Banna yang sangat kuat di mata muridnya. Komunitas akademis itu melakukan studi dan diskusi dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.
Al-Banna merupakan penulis yang sangat produktif. Dia telah melahirkan sejumlah karya besar dan legendaris. Tak kurang terdapat 82 karya al Banna yang didaftar oleh Renaud. Namun tidak semua karya al Banna berupa tulisan tentang ilmu matematika, meskipun kebanyakan karyanya adalah matematika.
Dia menulis buku berisi pengantar Elemen Euclid. Selain itu, menulis sebuah teks tentang Aljabar, dan menulis berbagai karya tentang astronomi. Para sejarawan sains mengaku kesulitan untuk mengetahui secara pasti jumlah karya asli al-Banna. Pasalnya, dia juga banyak menyadur buku karya matematikus Islam terdahulu. Kini, sebagian karya al-Banna telah hilang.
Dalam membuat karyanya, al-Banna memang mendapatkan banyak pengaruh dari para ahli matematika Arab sebelumnya. Al-Banna merupakan orang pertama yang mempertimbangkan pecahan sebagai perbandingan antara dua angka dan dia adalah orang pertama yang menggunakan ekspresi almanak, dalam sebuah karya yang berisi data astronomi dan meteorologi.
Karya al-Banna yang paling terkenal adalah Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Rritmatika) dan Raf al-Hijab. Kedua buku itu berisi komentar-komentar al-Banna terhadap karyanya Talkhis amal al-Hisab. Dalam karyanya itu, al-Banna memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para ilmuwan percaya bahwa simbolisme aljabar pertama kali dikembangkan matematikus Islam yakni al-Banna dan al-Qalasadi.
Dalam buku Raf al-Hijab, al-Banna menjelaskan berbagai macam pecahan matematika dan mereka terus digunakan untuk menghitung perkiraan dari nilai akar kuadrat. Hasil menarik lainnya terdapat pada seri menjumlahkan hasil. Berikut contoh rumus matematika yang dikembangkan al-Banna.
13 + 33 + 53 + ... + (2n-1)3 = n2(2n2 - 1) dan
12 + 32 + 52 + ... + (2n-1)2 = (2n + 1)2n(2n - 1)/6.
Mungkin yang paling menarik dari karya al Banna adalah bekerjanya koefisien binomial yang dijelaskan secara rinci dalam bukunya tersebut. Al -Banna menunjukkan bahwa:
pC2 = p(p-1)/2
lalu
pC3 = pC2(p-2)/3.
Memang hal itu sulit dijelaskan tetapi akhirnya al-Banna menerangkan bahwa:
pCk = pCk-1(p - (k - 1) )/k.
sehingga hasilnya
pCk = p(p - 1)(p - 2)...(p - k + 1)/(k !)
Sebenarnya karya al Banna merupakan langkah kecil dari hasil segitiga Pascal yang tiga abad sebelumnya dijelaskan al-Karaji. Meski begitu, ada sesuatu yang lebih fundamental dari pada segitiga Pascal, hasil itu justru merupakan kombinatorial eksposisi al-Banna, bersama-sama membentuk hubungan antara angka dan kombinasi poligonal.
Adikarya Sang Legendaris
Sebelum menjadi matematikus hebat, al-Banna lebih banyak belajar ilmu-ilmu tradisional seperti, bahasa Arab, Tata Bahasa (nahwu dan sharf), hadis, fikih, tafsir Alquran di kampung halamannya. Setelah itu, ia diperkenalkan dengan matematika dan ilmu kedokteran oleh guru-guru pembimbingnya.
Al-Banna diketahui pernah dekat dengan Saint Aghmat, Abu Zayd Abdur Rahman al-Hazmiri yang kemudian dikenal sebagai orang yang selalu mengarahkan dan memanfaatkan pengetahuan matematika Ibnu al-Banna untuk tujuan yang bersifat ramalan.
Al-Banna juga menjadi salah seorang yang mampu menguraikan atau menjabarkan prinsip-prinsip perhitungan dari bentuk-bentuk ghubar (hisab ghubar adalah suatu metode perhitungan yang berasal dari Persia).
Dia juga menjadi seorang figur yang sangat legendaris dan dikenal sebagai saintis yang ajaib. Betapa tidak. Kecerdasan dan kemampuannya sangat luar biasa dan mampu melebihi manusia pada umumnya. Hal ini dia lakukan dengan menerapkan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Meskipun demikian, para biografer memuji kerendahan hatinya dan kesalehannya sebagai hamba Allah SWT.
Dia mempunyai sifat dan tingkah laku yang sangat baik dan santun. Karya-karya al-Banna sebenarnya lebih dari 80 judul dengan berbagai macam variasi ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Karya-karyanya itu meliputi ilmu tata bahasa (nahwu), bahasa retorika, fikih, ushulluddin (perbandingan agama), tafsir Alquran, logika, pembagian warisan (al-farai’d), ramalan, astronomi, meteorologi dan matematika, juga termasuk sebuah resume karya Imam al-Ghazali, “Ihya’ Ulumuddin”.
Namun hanya sebagian karyanya yang dapat bertahan sampai sekarang ini. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain; Talkhis fi Amal al-Hisab, Risalah fi Ilm al-Masaha, al-Maqalat fi al-Hisab,Tanbih al-Albab, Mukhtashar Kafi li al-Mutallib, Kitab al-Ushul al-Muqaddamat fi al-Jabr wa al-Muqabala, Kitab Minhaj li Ta’dil al-Kawakib, Qanun li Tarhil asy-Syams wa al-Qamar fi al-Manazil wa ma Kifat Auqat al-Lain wa al-Nahar, Kitan al-Yasar Taqwim al-Kawakib as-Sayyara, Madkhal an-Nujum wa Taba’i al-Huruf, Kitab fi Ahkam al-Nujum, juga Kitab al-Manakh.
Dari sekian banyak karyanya, yang paling penting adalah Talkhis fi Amal al-Hisab, yang menjadi perhatian para ilmuwan. Karyanya itu juga telah diterjemahkan oleh A Marre, dan diterbitkan secara terpisah, di Roma pada 1865. Sebagai seorang ilmuwan yang hebat, al-Banna pernah mendapat penghargaan yang tinggi dari Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun berharap agar karya-karya al-Banna dapat dikembangkan para ilmuwan sepeninggalnya.
Lewat kitab yang ditulisnya bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika) dan Raf al-Hijab, ia memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para para sejarawan sains dan ilmuwan percaya bahwa simbolisme Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam.
Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Banna dan al-Qalasadi merupakan penemu notasi matematika. Dedikasinya dalam mengembangkan matematika telah diakui dunia. Untuk mengenang jasa-jasanya bagi kemajuan matematika, para ilmuwan dunia mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan yang diberi nama al-Marrakushi.
Al-Banna pun menjadi satu dari 24 ilmuwan Muslim legendaris yang namanya diabadikan di kawah bulan. Matematikus Muslim kesohor itu bernama lengkap Abu'l-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Utsman al-Azdi. Dalam catatan sejarah, tidak ada keterangan dengan jelas apakah al-Banna lahir di kota Marrakesh atau di wilayah yang diberi nama Marrakesh, Maroko oleh bangsa Eropa.
Ada pula yang menyebut al-Banna terlahir di Granada di Spanyol dan kemudian hijrah ke Afrika Utara untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup. Yang pasti, menurut sejarawan matematika JJ O'Connor dan EF Robertson, al-Banna menghabiskan sebagian besar hidupnya di Maroko.
Al-Banna lahir pada Desember 1256. Saat itu, Suku Banu Marin di Maroko merupakan sekutu Kekhalifahan Umayyah di Cordoba, Spanyol. Suku tersebut kemudian tinggal di bagian timur Maroko di bawah kepemimpinan Abu Yahya. Mereka mulai menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Suku Banu Marin menaklukan Fez pada 1248 dan menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota.
Kemudian mereka menaklukan Marrakesh dari kekuasaan suku Muwahhidun yang berkuasa pada 1269. Dengan demikian Suku Banu Marin mengambil alih kekuasaan di seluruh Maroko. Setelah mereka berhasil menaklukkan Maroko, Banu Marin mencoba membantu Granada untuk mencegah kemajuan peradaban Kristen.
Hubungan erat antara Granada dan Maroko itulah yang membuat para sejarawan kesulitan untuk menjelaskan dan mengetahui secara pasti asal al-Banna. Menurut O'Connor dan Robertson, al-Banna menyelesaikan studinya di Maroko. Matematika adalah bidang studi yang disukainya.
Saat itu, matematika merupakan ilmu favorit. Al-Banna sangat cinta dengan geometri serta memiliki ketertarikan untuk mempelajari Elemen Euclid. Ia juga mempelajari angka-angka pecahan dan belajar banyak dari orang-orang Arab yang telah menciptakan matematika s400 tahun sebelumnya. Menurut O'Connor, suku Banu Marin memiliki budaya yang kuat untuk belajar serta mencari ilmu pengetahuan.
Banu Marin juga menjadikan Kota Fez sebagai pusat studi dan kebudayaan Islam. Di Universitas Fez, al-Banna mengajarkan semua cabang ilmu matematika termasuk diantaranya; aritmatika, Aljabar, geometri dan astronomi. Fez merupakan kota yang berkembang dengan pesat. Di kota itu berdiri dengan megah istana kesultanan, madrasah, universitas, serta, masjid yang megah.
Selama mengajar di universitas di kota Fez, al-Banna mengembangkan komunitas akademis. Ia memiliki begitu banyak murid. Hal ini menunjukkan pengaruh al-Banna yang sangat kuat di mata muridnya. Komunitas akademis itu melakukan studi dan diskusi dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.
Al-Banna merupakan penulis yang sangat produktif. Dia telah melahirkan sejumlah karya besar dan legendaris. Tak kurang terdapat 82 karya al Banna yang didaftar oleh Renaud. Namun tidak semua karya al Banna berupa tulisan tentang ilmu matematika, meskipun kebanyakan karyanya adalah matematika.
Dia menulis buku berisi pengantar Elemen Euclid. Selain itu, menulis sebuah teks tentang Aljabar, dan menulis berbagai karya tentang astronomi. Para sejarawan sains mengaku kesulitan untuk mengetahui secara pasti jumlah karya asli al-Banna. Pasalnya, dia juga banyak menyadur buku karya matematikus Islam terdahulu. Kini, sebagian karya al-Banna telah hilang.
Dalam membuat karyanya, al-Banna memang mendapatkan banyak pengaruh dari para ahli matematika Arab sebelumnya. Al-Banna merupakan orang pertama yang mempertimbangkan pecahan sebagai perbandingan antara dua angka dan dia adalah orang pertama yang menggunakan ekspresi almanak, dalam sebuah karya yang berisi data astronomi dan meteorologi.
Karya al-Banna yang paling terkenal adalah Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Rritmatika) dan Raf al-Hijab. Kedua buku itu berisi komentar-komentar al-Banna terhadap karyanya Talkhis amal al-Hisab. Dalam karyanya itu, al-Banna memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para ilmuwan percaya bahwa simbolisme aljabar pertama kali dikembangkan matematikus Islam yakni al-Banna dan al-Qalasadi.
Dalam buku Raf al-Hijab, al-Banna menjelaskan berbagai macam pecahan matematika dan mereka terus digunakan untuk menghitung perkiraan dari nilai akar kuadrat. Hasil menarik lainnya terdapat pada seri menjumlahkan hasil. Berikut contoh rumus matematika yang dikembangkan al-Banna.
13 + 33 + 53 + ... + (2n-1)3 = n2(2n2 - 1) dan
12 + 32 + 52 + ... + (2n-1)2 = (2n + 1)2n(2n - 1)/6.
Mungkin yang paling menarik dari karya al Banna adalah bekerjanya koefisien binomial yang dijelaskan secara rinci dalam bukunya tersebut. Al -Banna menunjukkan bahwa:
pC2 = p(p-1)/2
lalu
pC3 = pC2(p-2)/3.
Memang hal itu sulit dijelaskan tetapi akhirnya al-Banna menerangkan bahwa:
pCk = pCk-1(p - (k - 1) )/k.
sehingga hasilnya
pCk = p(p - 1)(p - 2)...(p - k + 1)/(k !)
Sebenarnya karya al Banna merupakan langkah kecil dari hasil segitiga Pascal yang tiga abad sebelumnya dijelaskan al-Karaji. Meski begitu, ada sesuatu yang lebih fundamental dari pada segitiga Pascal, hasil itu justru merupakan kombinatorial eksposisi al-Banna, bersama-sama membentuk hubungan antara angka dan kombinasi poligonal.
Adikarya Sang Legendaris
Sebelum menjadi matematikus hebat, al-Banna lebih banyak belajar ilmu-ilmu tradisional seperti, bahasa Arab, Tata Bahasa (nahwu dan sharf), hadis, fikih, tafsir Alquran di kampung halamannya. Setelah itu, ia diperkenalkan dengan matematika dan ilmu kedokteran oleh guru-guru pembimbingnya.
Al-Banna diketahui pernah dekat dengan Saint Aghmat, Abu Zayd Abdur Rahman al-Hazmiri yang kemudian dikenal sebagai orang yang selalu mengarahkan dan memanfaatkan pengetahuan matematika Ibnu al-Banna untuk tujuan yang bersifat ramalan.
Al-Banna juga menjadi salah seorang yang mampu menguraikan atau menjabarkan prinsip-prinsip perhitungan dari bentuk-bentuk ghubar (hisab ghubar adalah suatu metode perhitungan yang berasal dari Persia).
Dia juga menjadi seorang figur yang sangat legendaris dan dikenal sebagai saintis yang ajaib. Betapa tidak. Kecerdasan dan kemampuannya sangat luar biasa dan mampu melebihi manusia pada umumnya. Hal ini dia lakukan dengan menerapkan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Meskipun demikian, para biografer memuji kerendahan hatinya dan kesalehannya sebagai hamba Allah SWT.
Dia mempunyai sifat dan tingkah laku yang sangat baik dan santun. Karya-karya al-Banna sebenarnya lebih dari 80 judul dengan berbagai macam variasi ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Karya-karyanya itu meliputi ilmu tata bahasa (nahwu), bahasa retorika, fikih, ushulluddin (perbandingan agama), tafsir Alquran, logika, pembagian warisan (al-farai’d), ramalan, astronomi, meteorologi dan matematika, juga termasuk sebuah resume karya Imam al-Ghazali, “Ihya’ Ulumuddin”.
Namun hanya sebagian karyanya yang dapat bertahan sampai sekarang ini. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain; Talkhis fi Amal al-Hisab, Risalah fi Ilm al-Masaha, al-Maqalat fi al-Hisab,Tanbih al-Albab, Mukhtashar Kafi li al-Mutallib, Kitab al-Ushul al-Muqaddamat fi al-Jabr wa al-Muqabala, Kitab Minhaj li Ta’dil al-Kawakib, Qanun li Tarhil asy-Syams wa al-Qamar fi al-Manazil wa ma Kifat Auqat al-Lain wa al-Nahar, Kitan al-Yasar Taqwim al-Kawakib as-Sayyara, Madkhal an-Nujum wa Taba’i al-Huruf, Kitab fi Ahkam al-Nujum, juga Kitab al-Manakh.
Dari sekian banyak karyanya, yang paling penting adalah Talkhis fi Amal al-Hisab, yang menjadi perhatian para ilmuwan. Karyanya itu juga telah diterjemahkan oleh A Marre, dan diterbitkan secara terpisah, di Roma pada 1865. Sebagai seorang ilmuwan yang hebat, al-Banna pernah mendapat penghargaan yang tinggi dari Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun berharap agar karya-karya al-Banna dapat dikembangkan para ilmuwan sepeninggalnya.
Kitab Al-Tasrif, Buku Rujukan Para Dokter
Selama enam abad, Kitab al-Tasrif menjadi pan duan praktik medis bagi para dokter dan ahli bedah, baik di dunia Islam maupun Eropa abad pertengahan.
Kitab al-Tasrif. Buku kedokteran karya Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis itu begitu fenomenal. Ditulis pada abad ke-10 M, Kitab al-Tasrif telah turut berjasa mengubah dunia kedokteran moden. Kehebatan buku kedokteran karya dokter bedah legendaris Muslim dari Andalusia itu telah diakui para dokter dan ilmuwan Barat.
Buku kedokteran karya al-Zahrawi telah menjadi referensi kalangan dokter di dunia Barat. Pada abad ke-14 M, seorang ahli bedah berkebangsaan Prancis bernama Guy de Chauliac tercatat mengutip Kitab al-Tasrif lebih dari 200 kali. Sedangkan Pietro Argallata yang hidup pada 1453 M menabalkan al-Zahrawi sebagai, "Kepala semua ahli bedah yang sangat andal dan tidak diragukan kemampuannya".
Gagasan dan pemikiran yang dituangkan al-Zahrawi dalam Kitab al-Tasrif telah menjadi pijakan dan pegangan para dokter selama lima abad, setelah wafatnya sang ahli bedah Muslim itu. Kitab al-Tasrif telah turut memantik semangat Renaisans yang berlangsung di dunia Barat. Betapa tidak. Al-Tasrif merupakan acuan para dokter terutama ahli bedah di
Kitab al-Tasrif terdiri i dari 30 volume yang mengupas dan membahas tentang; deskripsi anatomi, klasifikasi penyakit, informasi nutrisi, bagian-bagian pada obat-obatan, ortopedi, ophtalmologi, farmakologi, gizi, terutama operasi.
Di dunia Barat, kitab tersebut juga dikenal dengan judul Concessio Data ei Qui Componere Haud. Setidaknya selama enam abad, kitab itu sangat penting sebagai panduan praktik medis bagi para dokter maupun ahli bedah, baik di dunia Islam dan abad pertengahan di Eropa.
Kitab al-Tasrif mencakup berbagai topik medis, antara lain kedokteran gigi serta menangani kelahiran. Kitab tersebut berisi kumpulan pengalaman al-Zahrawi selama 50 mendedikasikan dirinya sebagai seorang dokter dan pengajar. Dalam kitab tersebut, al-Zahrawi menekankan arti pentingnya membangun hubungan yang positif antara dokter dengan pasien, serta hubungan positif antara seorang penagajar dengan para mahasiswanya.
Dia menyebut para mahasiswanya dengan sebutan sebagai "anak-anak saya". Dia juga menekankan pentingnya merawat pasien tanpa memandang status sosial mereka, baik mereka orang kaya mupun orang miskin. Dia juga mendorong pengamatan secara dekat dan mendetil terhadap kasus-kasus individu untuk membuat diagnosis yang paling akurat dan memberikan pengobatan yang terbaik.
Dalam Kitab al-Tasrif, al-Zahrawi menjelaskan secara baik " Metode Kocher" untuk mengobati dislokasi bahu dan metode "Posisi Walcheri" dalam bidang kebidanan. Al-Tasrif juga menggambarkan bagaimana pembuluh darah ligatur sebelum Ambroise Pare. Buku tersebut juga merupakan buku pertama yang mencatat dan mendokumentasikan beberapa perangkat gigi serta menjelaskan sifat turun-temurun dari penyakit darah haemofilia (penyakit kelainan pembekuan darah).
Penyakit tersebut sangat membahayakan jiwa, karena jik orang yang mengidap penyakit tersebut mengalami luka ditubuhnya, misalnya tangannya terkena pisau, maka dia sulit sembuh. Sebab darahnya sulit mengalami pembekuan.
Kitab al-Tasrif diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12 M, dan diberi ilustrasi untuk mempermudah pemahaman bagi para pembacanya. Selama beberapa abad kitab tersebut menjadi sumber utama pengetahuan di dunia medis Eropa, Sehingga kitab tersebut sering digunakan sebagai referensi bagi para dokter dan ahli bedah.
Berikut ini berbagai macam penemuan al-Zahrawi yang tertulis dalam Kitab al-Tasrif:
* Pembedahan pada wanita
Al-Zahrawi menjelaskan alat bedah yang unik untuk wanita, seperti penggunaan forseps dalam pemeriksaan vagina. Dia juga orang yang pertama kali melakukan operasi pengecilan payudara dengan menggunakan metode yang menyerupai teknik modern, seperti yang dijelaskan dalam Kitab al-Tasrif.
* Operasi gigi
Dalam kedokteran gigi dan perbaikan gigi, Kitab al-Tasrif merupakan buku pertama yang berisi penjelasan medis untuk menangani operasi gigi secara rinci dan mendetil. Dia memberikan metode yang rinci dan jelas untuk mencabut gigi dan menggantinya dengan gigi palsu yang baru.
* Pembedahan
Al-Zahrawi memiliki pengaruh yang besar dalam pengembangan studi pembedahan dan anatomi tubuh. Dia menekankan pentingnya pembedahan dalam bab bedah di Kitab al-Tasrif. Dia menemukan sejumlah alasan mengapa tidak ada ahli bedah yang berpraktik pada zamannya. Sebab belajar ilmu bedah kedokteran membutuhkan waktu yang sangat lama.
Selain itu, ilmu bedah juga membutuhkan banyak latihan sebelum terjun berpraktik. Untuk mengetahui masalah pembedahan, seseorang harus mempelajari anatomi tubuh terlebih dahulu. Galen menggambarkan bagaimana seorang ahli bedah harus mengetahui bentuk dan bagian-bagian dari fungsi tubuh, dia juga harus mengetahui bagaiman bagian tubuh tersebut terkait satu sama lain.
Yang jelas, seorang ahli bedah harus tahu tentang fungsi tulang, saraf, dan otot, pembuluh darah, arteri, serta vena tubuh. Orang-orang yang melakukan pembedahan tanpa mengetahui anatomi tubuh manusia sama saja dengan merusak sebuah kehidupan dan itu merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
* Lithotomy dan Urologi
Dalam urologi dan lithotomy, al-Zahrawi merupakan dokter pertama yang berhasil menemukan sebuah pisau untuk menghancurkan batu ginjal besar di dalam kandung kemih. Sehingga batu ginjal bisa dihancurkan satu demi satu. Inovasi ini penting untuk pengembangan operasi batu ginjal karena secara signifikan mampu mengurangi angka kematian sebelumnya yang disebabkan oleh operasi-operasi yang gagal.
* Bedah syaraf
Abu al-Qasim juga mengembangkan materi dan desain teknis yang masih digunakan dalam bedah saraf. Modern. Dia telah melakukan bedah plastik yang pertama kalinya pada masa zaman kuno Sushruta di india. Dia juga mengembangkan metode sayatan, penggunaan benang sutera untuk melakukan jahitan dan untuk mencapai cosmesis yang baik. Abu al Qasim juga menemukan prosedur operasi pengurangan mammoplasty untuk memperbaiki ginekomastia.
Meski telah berusia 1.000 tahun, Kitab al-Tasrif hingga kini masih diperbincangkan dunia kedokteran modern.
Dari Alat Bedah hingga Kosmetika
Selain berhasil menjelaskan berbagai teori penyembuhan dan operasi penyakit, al-Zahrawi dalam Kitab al-Tasrif, juga mengungkap beragam peralatan medis yang ditemukannya. Beberapa penemuan sang dokter legendaris itu antara lain;
*Alat bedah
Dalam al-Tasrif, al-Zahrawitelah lmemperkenalkan koleksi alat-alat bedah yang jumlahnya lebih dari 200 buah. Kebanyakan instrumen itu tidak pernah digunakan sebelumnya oleh para ahli bedah terdahulu. Sekurang-kurangnya terdapat 26 instrumen bedah inovatif yang diperkenalkan oleh Abu al-Qasim .
* Perban perekat dan Plaster
Pada buku kedokterannya, al-Zahrawi juga mengungkapkan keberhasilannya menciptakan perban perekat dan plester, yang masih digunakan di rumah sakit di seluruh dunia hingga zaman modern ini. Penggunaan perban perekat digunakan untuk pasien yang mengalami patah tulang. Hal itu juga menjadi praktik standar untuk dokter di wilayah Arab, meskipun praktik ini tidak diadopsi secara meluas di Eropa sampai abad ke-19.
* Senar dan Forsep
Al-Zahrawi pun mengungkapkan penggunaan senar untuk menjahit luka. Hal itu juga masih dipraktikkan di dalam metode bedah modern. Senar tampaknya menjadi satu-satunya zat alami yang mampu melarutkan dan dapat diterima oleh tubuh. Ia juga menemukan forsep untuk mengeluarkan janin yang sudah mati, seperti digambarkan dalam Kitab Al-Tashrif.
* Penggunaan kapas
Al-Zahrawi adalah ahli bedah pertama yang menggunakan kapas sebagai alat medis untuk mengendalikan perdarahan. Dengan menempelkan kapas pada tubuh yang terluka dan berdarah, maka pendarahan yang berlebihan bisa segera dicegah dengan baik.
* Kimia dan Kecantikan
Ia juga dikenal sebagai seorang ahli kimia dan mempersembahkan sebuah bab tentang ilmu kimia pada volume ke-19 Kitab al-Tasrif untuk tata rias. Dia juga menemukan obat kosmetik termasuk deodoran, alat pencabut bulu, losion tangan, pewarna rambut untuk mengubah rambut menjadi berwarna pirang atau hitam, obat untuk perawatan rambut untuk memperbaiki struktur rambut, obat untuk mengeriting rambut.
Dalam bab tersebut, dia juga menggambarkan bahan-bahan yang memiliki manfaat banyak sebagai obat. Misalnya, untuk menghilangkan bau mulut yang dihasilkan karena makan bawang putih atau bawang merah. Ia menyarankan mengkonsumsi kayu manis, pala, kapulaga dan mengunyah daun ketumbar.
Kosmetika lainnya yang ditemukan Abu al Qasim antara lain; lipstik yang wangi yang diletakkan dalam cetakan khusus, minyak mineral yang digunakan untuk tujuan pengobatan maupun tujuan estetika dan kecantikan. Dia juga menggambarkan perawatan dan kecantikan baik rambut, kulit, gigi dan bagian lain dari tubuh, yang dianjurkan dalam hadis.
* Kosmetik gigi
Dalam kedokteran gigi, kosmetika juga diperlukan. Dia menjelaskan metode untuk memperkuat gusi serta metode untuk pemutihan gigi dengan menggunakan pemutih gigi. Sehingga gigi tampak rapi, bersih dan putih, sehingga si pemilik gigi akan tampak lebih cantik atau tampan kala tersenyum.
Al-Zahrawi pun menemukan beberapa perangkat yang digunakan selama operasi, antara lain untuk tujuan pemeriksaan bagian dalam uretra, menerapkan dan memindahkan benda asing dari tenggorokan, juga pemeriksaan telinga.
Kitab al-Tasrif. Buku kedokteran karya Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis itu begitu fenomenal. Ditulis pada abad ke-10 M, Kitab al-Tasrif telah turut berjasa mengubah dunia kedokteran moden. Kehebatan buku kedokteran karya dokter bedah legendaris Muslim dari Andalusia itu telah diakui para dokter dan ilmuwan Barat.
Buku kedokteran karya al-Zahrawi telah menjadi referensi kalangan dokter di dunia Barat. Pada abad ke-14 M, seorang ahli bedah berkebangsaan Prancis bernama Guy de Chauliac tercatat mengutip Kitab al-Tasrif lebih dari 200 kali. Sedangkan Pietro Argallata yang hidup pada 1453 M menabalkan al-Zahrawi sebagai, "Kepala semua ahli bedah yang sangat andal dan tidak diragukan kemampuannya".
Gagasan dan pemikiran yang dituangkan al-Zahrawi dalam Kitab al-Tasrif telah menjadi pijakan dan pegangan para dokter selama lima abad, setelah wafatnya sang ahli bedah Muslim itu. Kitab al-Tasrif telah turut memantik semangat Renaisans yang berlangsung di dunia Barat. Betapa tidak. Al-Tasrif merupakan acuan para dokter terutama ahli bedah di
Kitab al-Tasrif terdiri i dari 30 volume yang mengupas dan membahas tentang; deskripsi anatomi, klasifikasi penyakit, informasi nutrisi, bagian-bagian pada obat-obatan, ortopedi, ophtalmologi, farmakologi, gizi, terutama operasi.
Di dunia Barat, kitab tersebut juga dikenal dengan judul Concessio Data ei Qui Componere Haud. Setidaknya selama enam abad, kitab itu sangat penting sebagai panduan praktik medis bagi para dokter maupun ahli bedah, baik di dunia Islam dan abad pertengahan di Eropa.
Kitab al-Tasrif mencakup berbagai topik medis, antara lain kedokteran gigi serta menangani kelahiran. Kitab tersebut berisi kumpulan pengalaman al-Zahrawi selama 50 mendedikasikan dirinya sebagai seorang dokter dan pengajar. Dalam kitab tersebut, al-Zahrawi menekankan arti pentingnya membangun hubungan yang positif antara dokter dengan pasien, serta hubungan positif antara seorang penagajar dengan para mahasiswanya.
Dia menyebut para mahasiswanya dengan sebutan sebagai "anak-anak saya". Dia juga menekankan pentingnya merawat pasien tanpa memandang status sosial mereka, baik mereka orang kaya mupun orang miskin. Dia juga mendorong pengamatan secara dekat dan mendetil terhadap kasus-kasus individu untuk membuat diagnosis yang paling akurat dan memberikan pengobatan yang terbaik.
Dalam Kitab al-Tasrif, al-Zahrawi menjelaskan secara baik " Metode Kocher" untuk mengobati dislokasi bahu dan metode "Posisi Walcheri" dalam bidang kebidanan. Al-Tasrif juga menggambarkan bagaimana pembuluh darah ligatur sebelum Ambroise Pare. Buku tersebut juga merupakan buku pertama yang mencatat dan mendokumentasikan beberapa perangkat gigi serta menjelaskan sifat turun-temurun dari penyakit darah haemofilia (penyakit kelainan pembekuan darah).
Penyakit tersebut sangat membahayakan jiwa, karena jik orang yang mengidap penyakit tersebut mengalami luka ditubuhnya, misalnya tangannya terkena pisau, maka dia sulit sembuh. Sebab darahnya sulit mengalami pembekuan.
Kitab al-Tasrif diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12 M, dan diberi ilustrasi untuk mempermudah pemahaman bagi para pembacanya. Selama beberapa abad kitab tersebut menjadi sumber utama pengetahuan di dunia medis Eropa, Sehingga kitab tersebut sering digunakan sebagai referensi bagi para dokter dan ahli bedah.
Berikut ini berbagai macam penemuan al-Zahrawi yang tertulis dalam Kitab al-Tasrif:
* Pembedahan pada wanita
Al-Zahrawi menjelaskan alat bedah yang unik untuk wanita, seperti penggunaan forseps dalam pemeriksaan vagina. Dia juga orang yang pertama kali melakukan operasi pengecilan payudara dengan menggunakan metode yang menyerupai teknik modern, seperti yang dijelaskan dalam Kitab al-Tasrif.
* Operasi gigi
Dalam kedokteran gigi dan perbaikan gigi, Kitab al-Tasrif merupakan buku pertama yang berisi penjelasan medis untuk menangani operasi gigi secara rinci dan mendetil. Dia memberikan metode yang rinci dan jelas untuk mencabut gigi dan menggantinya dengan gigi palsu yang baru.
* Pembedahan
Al-Zahrawi memiliki pengaruh yang besar dalam pengembangan studi pembedahan dan anatomi tubuh. Dia menekankan pentingnya pembedahan dalam bab bedah di Kitab al-Tasrif. Dia menemukan sejumlah alasan mengapa tidak ada ahli bedah yang berpraktik pada zamannya. Sebab belajar ilmu bedah kedokteran membutuhkan waktu yang sangat lama.
Selain itu, ilmu bedah juga membutuhkan banyak latihan sebelum terjun berpraktik. Untuk mengetahui masalah pembedahan, seseorang harus mempelajari anatomi tubuh terlebih dahulu. Galen menggambarkan bagaimana seorang ahli bedah harus mengetahui bentuk dan bagian-bagian dari fungsi tubuh, dia juga harus mengetahui bagaiman bagian tubuh tersebut terkait satu sama lain.
Yang jelas, seorang ahli bedah harus tahu tentang fungsi tulang, saraf, dan otot, pembuluh darah, arteri, serta vena tubuh. Orang-orang yang melakukan pembedahan tanpa mengetahui anatomi tubuh manusia sama saja dengan merusak sebuah kehidupan dan itu merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
* Lithotomy dan Urologi
Dalam urologi dan lithotomy, al-Zahrawi merupakan dokter pertama yang berhasil menemukan sebuah pisau untuk menghancurkan batu ginjal besar di dalam kandung kemih. Sehingga batu ginjal bisa dihancurkan satu demi satu. Inovasi ini penting untuk pengembangan operasi batu ginjal karena secara signifikan mampu mengurangi angka kematian sebelumnya yang disebabkan oleh operasi-operasi yang gagal.
* Bedah syaraf
Abu al-Qasim juga mengembangkan materi dan desain teknis yang masih digunakan dalam bedah saraf. Modern. Dia telah melakukan bedah plastik yang pertama kalinya pada masa zaman kuno Sushruta di india. Dia juga mengembangkan metode sayatan, penggunaan benang sutera untuk melakukan jahitan dan untuk mencapai cosmesis yang baik. Abu al Qasim juga menemukan prosedur operasi pengurangan mammoplasty untuk memperbaiki ginekomastia.
Meski telah berusia 1.000 tahun, Kitab al-Tasrif hingga kini masih diperbincangkan dunia kedokteran modern.
Dari Alat Bedah hingga Kosmetika
Selain berhasil menjelaskan berbagai teori penyembuhan dan operasi penyakit, al-Zahrawi dalam Kitab al-Tasrif, juga mengungkap beragam peralatan medis yang ditemukannya. Beberapa penemuan sang dokter legendaris itu antara lain;
*Alat bedah
Dalam al-Tasrif, al-Zahrawitelah lmemperkenalkan koleksi alat-alat bedah yang jumlahnya lebih dari 200 buah. Kebanyakan instrumen itu tidak pernah digunakan sebelumnya oleh para ahli bedah terdahulu. Sekurang-kurangnya terdapat 26 instrumen bedah inovatif yang diperkenalkan oleh Abu al-Qasim .
* Perban perekat dan Plaster
Pada buku kedokterannya, al-Zahrawi juga mengungkapkan keberhasilannya menciptakan perban perekat dan plester, yang masih digunakan di rumah sakit di seluruh dunia hingga zaman modern ini. Penggunaan perban perekat digunakan untuk pasien yang mengalami patah tulang. Hal itu juga menjadi praktik standar untuk dokter di wilayah Arab, meskipun praktik ini tidak diadopsi secara meluas di Eropa sampai abad ke-19.
* Senar dan Forsep
Al-Zahrawi pun mengungkapkan penggunaan senar untuk menjahit luka. Hal itu juga masih dipraktikkan di dalam metode bedah modern. Senar tampaknya menjadi satu-satunya zat alami yang mampu melarutkan dan dapat diterima oleh tubuh. Ia juga menemukan forsep untuk mengeluarkan janin yang sudah mati, seperti digambarkan dalam Kitab Al-Tashrif.
* Penggunaan kapas
Al-Zahrawi adalah ahli bedah pertama yang menggunakan kapas sebagai alat medis untuk mengendalikan perdarahan. Dengan menempelkan kapas pada tubuh yang terluka dan berdarah, maka pendarahan yang berlebihan bisa segera dicegah dengan baik.
* Kimia dan Kecantikan
Ia juga dikenal sebagai seorang ahli kimia dan mempersembahkan sebuah bab tentang ilmu kimia pada volume ke-19 Kitab al-Tasrif untuk tata rias. Dia juga menemukan obat kosmetik termasuk deodoran, alat pencabut bulu, losion tangan, pewarna rambut untuk mengubah rambut menjadi berwarna pirang atau hitam, obat untuk perawatan rambut untuk memperbaiki struktur rambut, obat untuk mengeriting rambut.
Dalam bab tersebut, dia juga menggambarkan bahan-bahan yang memiliki manfaat banyak sebagai obat. Misalnya, untuk menghilangkan bau mulut yang dihasilkan karena makan bawang putih atau bawang merah. Ia menyarankan mengkonsumsi kayu manis, pala, kapulaga dan mengunyah daun ketumbar.
Kosmetika lainnya yang ditemukan Abu al Qasim antara lain; lipstik yang wangi yang diletakkan dalam cetakan khusus, minyak mineral yang digunakan untuk tujuan pengobatan maupun tujuan estetika dan kecantikan. Dia juga menggambarkan perawatan dan kecantikan baik rambut, kulit, gigi dan bagian lain dari tubuh, yang dianjurkan dalam hadis.
* Kosmetik gigi
Dalam kedokteran gigi, kosmetika juga diperlukan. Dia menjelaskan metode untuk memperkuat gusi serta metode untuk pemutihan gigi dengan menggunakan pemutih gigi. Sehingga gigi tampak rapi, bersih dan putih, sehingga si pemilik gigi akan tampak lebih cantik atau tampan kala tersenyum.
Al-Zahrawi pun menemukan beberapa perangkat yang digunakan selama operasi, antara lain untuk tujuan pemeriksaan bagian dalam uretra, menerapkan dan memindahkan benda asing dari tenggorokan, juga pemeriksaan telinga.
11 November 2009
Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah
Pada abad ke-13 M, peradaban Islam memiliki seorang musikus ulung. Dia dikenal sebagai pencipta musik yang hebat di dunia Islam. Musikus Muslim legendaris itu bernama Safi al-Din al-Urmawi. Di era keemasan Islam, al-Urmawi telah menggunakan tujuh belas nada dalam menciptakan musik-musiknya.
Nada-nada yang diciptakannya itu, lalu dikembangkan bangsa Arab. Hasilnya, terciptalah musik-musik yang merdu dan enak didengar. Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Urmawi terlahir di Urmia pada 1216 M dan tutup usia pada 1294 M di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad.
Para sejarawan memperkirakan, dari asal-usul etnis keluarganya, al-Urmawi merupakan keturunan Persia dari Quthb al-Din al-Syiraz,i yang sering disebut sebagai Afdhal-i Iran yang artinya adalah seorang yang bijaksana yang berasal dari Iran. Pada masa mudanya, al-Urmawi hijrah dari tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di metropolis intelektual dunia pada masa itu, yakni Baghdad.
Di kota yang sangat terkenal itu, al-Urmawi mendapatkan pendidikan tentang bahasa Arab, sastra, sejarah juga seni tulisan tangan. Bahkan, dia juga mempelajari kaligrafi dan menjadikannya seorang ahli kaligrafi terkenal. Lalu dia diberi jabatan sebagai seorang ahli penyalin di perpustakaan yang dibangun oleh Khalifah Abbasiyah, al-Musta?im.
Selain mempelajari dan menguasai berbagai macam ilmu, al-Urmawi juga mempelajari ilmu hukum Syafi'i dan hukum perbandingan (Khilaf Fiqh) di Madrasah Mustansiriyya yang berdiri pada 1234. Kepandaiannya dalam kedua ilmu hukum tersebut membuatnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan sebagai administrator yuridis al-Mustasim pada 1258.
Setelah itu, kariernya kian moncer. Al-Urmawi kemudian dipercaya sebagai kepala pengawas yayasan (nazhariyyat al-wakaf) di Irak, sampai 1267, ketika Nasir al-Din Tusi mengambil alih kekuasaan di Irak. Selain berkiprah di bidang pemerintahan, al-Urmawi pun mulai dikenal sebagai seorang musisi terkemuka.
Ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang musisi dan pemain kecapi yang berbakat. Kehebatannya dlam bidang Muslim membuatnya menjadi seorang anggota pemain musik terkenal pada masa itu. Talentanya yang sangat tinggi dalam bidang musik, membuatnya tetap bisa bertahan hidu,p pada saat jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu.
Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, al-Urmawi justru mendapatkan perlakuan istimewa dari Hulagu Khan. Pemimpin bangsa Mongol itu sangat terkesan dengan kehebatan al-Urmawi. Sang musisi pun mendapatkan gaji yang besarnya dua kali lipat dari pendapatannya di era kepemimpinan Dinasti Abbassiyah.
Karier musik Al-Urmawi pun semakin berkibar. Ia mendapat dukungan dari keluarga Juvayni, terutama oleh Syams al-Din Muhammad dan putranya Sharaf Din Harun. Namun, setelah para pendukungnya tersebut mendapatkan hukuman mati, Al-Urmawi mengalami kejatuhan dan keterpurukan. Dia terlupakan dan jatuh miskin. Bahkan dia dijebloskan ke dalam tahanan karena didakwa berutang sebanyak 300 dinar. Hingga akhirnya dia meninggal Madrasah al-Khalil di Baghdad.
Sebagai seorang komposer, Al-Urmawi dikenal sebagai seorang yang mengembangkan bentuk vokal sawt, awl dan nawba. Dia juga dikenal sebagai orang yang menemukan dua alat musik dawai yaitu nuzha dan mughni. Bahkan dawai masih menjadi alat musik yang disukai hingga zaman modern ini.
Karya milik al-Urmawi yang paling penting adalah dua bukunya dalam bahasa Arab yang merupakan teori musik. Buku teori musik tersebut berjuduk Kitab al-Adwar dan risalah al-Sharafiyya fil Nisab al-Talifiyya. Bukunya yang berjudul Kitab al-Adwar dikerjakannya saat masih bekerja di perpustakaan al-Mustasim.
Khalifah al-Mustasim dikenal sebagai pemimpin yang sangat menyukai merdunya bunyi-bunyian dari berbagai macam musik. Kitab al-Adwar, merupakan kitab pertama yang mengembangkan sejumlah teori musik ilmiah yang sebelumnya telah ditulis oleh Ibnu Sina.
Kitab itu berisi informasi yang berharga mengenai berbagai macam praktik dan teori musik di Persia serta di Irak, seperti penciptaan lima senar kecapi yang belum pernah dilakukan pada masa Ibnu Sina. Selain itu, kitab tersebut juga berisi tahap akhir dalam pembagian oktaf menjadi 17 langkah, tata nama lengkap dan definisi timbangan yang merupakan sistem dari dua belas Makams (disebut shudud) dan enam Awaz.
Kitab ini juga berisi gambaran tepat tentang musik kontempore, dan penggunaan huruf dan angka untuk notasi melodi. Kitab karya al-Urmawi itu tercatat sebagai karya yang unik dan memiliki nilai terbesar. Kitab tersebut juga menggambarkan dominasi musik lokal Arab dan Persia dalam tradisi musik Arab.
Kitab al-Adwar yang isinya ringkas dan padat tersebut menjadi salah satu buku teori musik yang paling populer pada abad itu. Bahkan buku tentang musik itu memiliki pengaruh yang besar selama berabad-abad. Buku tersebut disalin baik dalam bahasa Arab, Persia, maupun Turki.
Pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, kitab tersebut disalin hingga beberapa kali. Bahkan buku tersebut juga telah disalin negara-negara Barat. Kitab al-Adwar dianggap sebagai kompendium (Mukhtasar) dari pengetahuan musik standar pada masanya.
Buku kedua al-Urmawi bertajuk Risalah al-Sharafiyya, yang ditulis sekitar 1267. Buku musik tersebut dipersembahkan kepada para mahasiswa dan kepada pelindung Khurasan, Sharaf Din Juvayni. Al-Urmawi adalah bagian dari kehidupan ilmiah, sastra dan seni di lingkungan keluarga Juvayni.
Melalui pertemuan dengan keluarga Juvayni, al-Urmawi pernah bertemu dengan sarjana Persia terkenal bernama Nasir al-Din Tusi yang membuat risalah singkat tentang proporsi interval musik yang menarik perhatian al-Urmawi. Risalah Nasir al-Din Tusi tersebut merangsang minat al-Urmawi dalam mempelajari bahasa Yunani serta ilmu pengetahuan dan teori musik.
Kedua adikarya al-Urmawi itu telah menjadi buku rujukan para akademisi di bidang musik Arab. Bahkan, seorang ahli musik modern, Briton Owen Wright juga banyak memberikan komentar mengenai karya-karya teoritis al-Urmawi.
Warisan Zarlino dari Timur
Dunia musik merupakan bagian dari hidupnya. Sepanjang kariernya, al-Urmawi dengan seksama menganalisis sumber-sumber teori musik, baik dari para pemusik Yunani maupun karya-karya musik para sarjana Muslim terdahulu seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina. Dia belajar musik praktis secara ilmiah dan sistematis yang tergambar dalam bukunya Kitab al-Adwar dan dalam risalah utamanya al-Risalah al-Sharafiyya fi al-Nisab al-Ta'lifiyya.
Kontribusi Safi al-Din al-Urmawi terhadap teori dan praktik musik Arab sangat penting dalam sejarah. Sebab karya-karyanya sangat berharga dalam rantai karya teoretis dalam sejarah teori musik yang dimulai dengan teori musik Al-Kindi. Kemampuannya dalam bidang fisika membuatnya mampu menciptakan alat-alat musik.
Dia juga dikenal sebagai salah satu pencipta sistem suara terbaik. Karena tingkat briliannya yang sangat memukau. Ia pun ditabalkan sebagai Gioseffo Zarlino dari Timur. Zarlino adalah komposer legendari dari Italia pada abad ke-16 M. Karya-karya al-Umrawi telah memberi inspirasi para musisi Muslim untuk menulis teori musik setelah wafatnya al-Urmawi. Tak heran jika pengaruhnya sebagai seorang ahli musik yang hebat tetap melekat dalam karya-karya para musikus setelahnya.
Buku al-Risalah al-sharafiyya yang ditulisnya terdiri dari lima bab dengan judul yang berbeda-beda. Dalam buku tersebut terdapat bab khusus yang membahas diletakkannya dasar-dasar matematika dalam dunia musik. Bagian dari karya-karya al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina yang penting bagi Al-Urmawi juga ditunjukkan dalam buku tersebut.
Akhirnya, jejak-jejak al-Sharafiyya bisa ditelusuri dengan melihat referensi beberapa karya yang ditulis beberapa abad kemudian. Hal itu memperlihatkan pentingnya dampak buku tersebut dalam dunia musik.
Al-Urmawi juga mempelajari rasio antara angka-angka yang sangat sistematis dalam bermusik, rasio tersebut bernama interval yang diklasifikasikan menurut konsonan dan disonan interval secara terperinci.
Ini merupakan karya terperinci dalam musik setelah karya al-Farabi. Dia juga menyebutkan empat tetrachords dengan interval dan pentachordal untuk menjelaskan jenis konsonan. Beberapa musisi setelahnya menghindari topik tersebut karena sangat rumit dan penuh detail. Inilah yang membuat musisi dunia memuji kehebatan al-Urmawi.
Nada-nada yang diciptakannya itu, lalu dikembangkan bangsa Arab. Hasilnya, terciptalah musik-musik yang merdu dan enak didengar. Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Urmawi terlahir di Urmia pada 1216 M dan tutup usia pada 1294 M di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad.
Para sejarawan memperkirakan, dari asal-usul etnis keluarganya, al-Urmawi merupakan keturunan Persia dari Quthb al-Din al-Syiraz,i yang sering disebut sebagai Afdhal-i Iran yang artinya adalah seorang yang bijaksana yang berasal dari Iran. Pada masa mudanya, al-Urmawi hijrah dari tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di metropolis intelektual dunia pada masa itu, yakni Baghdad.
Di kota yang sangat terkenal itu, al-Urmawi mendapatkan pendidikan tentang bahasa Arab, sastra, sejarah juga seni tulisan tangan. Bahkan, dia juga mempelajari kaligrafi dan menjadikannya seorang ahli kaligrafi terkenal. Lalu dia diberi jabatan sebagai seorang ahli penyalin di perpustakaan yang dibangun oleh Khalifah Abbasiyah, al-Musta?im.
Selain mempelajari dan menguasai berbagai macam ilmu, al-Urmawi juga mempelajari ilmu hukum Syafi'i dan hukum perbandingan (Khilaf Fiqh) di Madrasah Mustansiriyya yang berdiri pada 1234. Kepandaiannya dalam kedua ilmu hukum tersebut membuatnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan sebagai administrator yuridis al-Mustasim pada 1258.
Setelah itu, kariernya kian moncer. Al-Urmawi kemudian dipercaya sebagai kepala pengawas yayasan (nazhariyyat al-wakaf) di Irak, sampai 1267, ketika Nasir al-Din Tusi mengambil alih kekuasaan di Irak. Selain berkiprah di bidang pemerintahan, al-Urmawi pun mulai dikenal sebagai seorang musisi terkemuka.
Ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang musisi dan pemain kecapi yang berbakat. Kehebatannya dlam bidang Muslim membuatnya menjadi seorang anggota pemain musik terkenal pada masa itu. Talentanya yang sangat tinggi dalam bidang musik, membuatnya tetap bisa bertahan hidu,p pada saat jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu.
Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, al-Urmawi justru mendapatkan perlakuan istimewa dari Hulagu Khan. Pemimpin bangsa Mongol itu sangat terkesan dengan kehebatan al-Urmawi. Sang musisi pun mendapatkan gaji yang besarnya dua kali lipat dari pendapatannya di era kepemimpinan Dinasti Abbassiyah.
Karier musik Al-Urmawi pun semakin berkibar. Ia mendapat dukungan dari keluarga Juvayni, terutama oleh Syams al-Din Muhammad dan putranya Sharaf Din Harun. Namun, setelah para pendukungnya tersebut mendapatkan hukuman mati, Al-Urmawi mengalami kejatuhan dan keterpurukan. Dia terlupakan dan jatuh miskin. Bahkan dia dijebloskan ke dalam tahanan karena didakwa berutang sebanyak 300 dinar. Hingga akhirnya dia meninggal Madrasah al-Khalil di Baghdad.
Sebagai seorang komposer, Al-Urmawi dikenal sebagai seorang yang mengembangkan bentuk vokal sawt, awl dan nawba. Dia juga dikenal sebagai orang yang menemukan dua alat musik dawai yaitu nuzha dan mughni. Bahkan dawai masih menjadi alat musik yang disukai hingga zaman modern ini.
Karya milik al-Urmawi yang paling penting adalah dua bukunya dalam bahasa Arab yang merupakan teori musik. Buku teori musik tersebut berjuduk Kitab al-Adwar dan risalah al-Sharafiyya fil Nisab al-Talifiyya. Bukunya yang berjudul Kitab al-Adwar dikerjakannya saat masih bekerja di perpustakaan al-Mustasim.
Khalifah al-Mustasim dikenal sebagai pemimpin yang sangat menyukai merdunya bunyi-bunyian dari berbagai macam musik. Kitab al-Adwar, merupakan kitab pertama yang mengembangkan sejumlah teori musik ilmiah yang sebelumnya telah ditulis oleh Ibnu Sina.
Kitab itu berisi informasi yang berharga mengenai berbagai macam praktik dan teori musik di Persia serta di Irak, seperti penciptaan lima senar kecapi yang belum pernah dilakukan pada masa Ibnu Sina. Selain itu, kitab tersebut juga berisi tahap akhir dalam pembagian oktaf menjadi 17 langkah, tata nama lengkap dan definisi timbangan yang merupakan sistem dari dua belas Makams (disebut shudud) dan enam Awaz.
Kitab ini juga berisi gambaran tepat tentang musik kontempore, dan penggunaan huruf dan angka untuk notasi melodi. Kitab karya al-Urmawi itu tercatat sebagai karya yang unik dan memiliki nilai terbesar. Kitab tersebut juga menggambarkan dominasi musik lokal Arab dan Persia dalam tradisi musik Arab.
Kitab al-Adwar yang isinya ringkas dan padat tersebut menjadi salah satu buku teori musik yang paling populer pada abad itu. Bahkan buku tentang musik itu memiliki pengaruh yang besar selama berabad-abad. Buku tersebut disalin baik dalam bahasa Arab, Persia, maupun Turki.
Pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, kitab tersebut disalin hingga beberapa kali. Bahkan buku tersebut juga telah disalin negara-negara Barat. Kitab al-Adwar dianggap sebagai kompendium (Mukhtasar) dari pengetahuan musik standar pada masanya.
Buku kedua al-Urmawi bertajuk Risalah al-Sharafiyya, yang ditulis sekitar 1267. Buku musik tersebut dipersembahkan kepada para mahasiswa dan kepada pelindung Khurasan, Sharaf Din Juvayni. Al-Urmawi adalah bagian dari kehidupan ilmiah, sastra dan seni di lingkungan keluarga Juvayni.
Melalui pertemuan dengan keluarga Juvayni, al-Urmawi pernah bertemu dengan sarjana Persia terkenal bernama Nasir al-Din Tusi yang membuat risalah singkat tentang proporsi interval musik yang menarik perhatian al-Urmawi. Risalah Nasir al-Din Tusi tersebut merangsang minat al-Urmawi dalam mempelajari bahasa Yunani serta ilmu pengetahuan dan teori musik.
Kedua adikarya al-Urmawi itu telah menjadi buku rujukan para akademisi di bidang musik Arab. Bahkan, seorang ahli musik modern, Briton Owen Wright juga banyak memberikan komentar mengenai karya-karya teoritis al-Urmawi.
Warisan Zarlino dari Timur
Dunia musik merupakan bagian dari hidupnya. Sepanjang kariernya, al-Urmawi dengan seksama menganalisis sumber-sumber teori musik, baik dari para pemusik Yunani maupun karya-karya musik para sarjana Muslim terdahulu seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina. Dia belajar musik praktis secara ilmiah dan sistematis yang tergambar dalam bukunya Kitab al-Adwar dan dalam risalah utamanya al-Risalah al-Sharafiyya fi al-Nisab al-Ta'lifiyya.
Kontribusi Safi al-Din al-Urmawi terhadap teori dan praktik musik Arab sangat penting dalam sejarah. Sebab karya-karyanya sangat berharga dalam rantai karya teoretis dalam sejarah teori musik yang dimulai dengan teori musik Al-Kindi. Kemampuannya dalam bidang fisika membuatnya mampu menciptakan alat-alat musik.
Dia juga dikenal sebagai salah satu pencipta sistem suara terbaik. Karena tingkat briliannya yang sangat memukau. Ia pun ditabalkan sebagai Gioseffo Zarlino dari Timur. Zarlino adalah komposer legendari dari Italia pada abad ke-16 M. Karya-karya al-Umrawi telah memberi inspirasi para musisi Muslim untuk menulis teori musik setelah wafatnya al-Urmawi. Tak heran jika pengaruhnya sebagai seorang ahli musik yang hebat tetap melekat dalam karya-karya para musikus setelahnya.
Buku al-Risalah al-sharafiyya yang ditulisnya terdiri dari lima bab dengan judul yang berbeda-beda. Dalam buku tersebut terdapat bab khusus yang membahas diletakkannya dasar-dasar matematika dalam dunia musik. Bagian dari karya-karya al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina yang penting bagi Al-Urmawi juga ditunjukkan dalam buku tersebut.
Akhirnya, jejak-jejak al-Sharafiyya bisa ditelusuri dengan melihat referensi beberapa karya yang ditulis beberapa abad kemudian. Hal itu memperlihatkan pentingnya dampak buku tersebut dalam dunia musik.
Al-Urmawi juga mempelajari rasio antara angka-angka yang sangat sistematis dalam bermusik, rasio tersebut bernama interval yang diklasifikasikan menurut konsonan dan disonan interval secara terperinci.
Ini merupakan karya terperinci dalam musik setelah karya al-Farabi. Dia juga menyebutkan empat tetrachords dengan interval dan pentachordal untuk menjelaskan jenis konsonan. Beberapa musisi setelahnya menghindari topik tersebut karena sangat rumit dan penuh detail. Inilah yang membuat musisi dunia memuji kehebatan al-Urmawi.
Hasan Al-Banna, Tokoh Pembaru Islam Abad ke-20

Asy-Syahid ini menginginkan seluruh umat Islam bersatu dalam melawan setiap gerakan yang merusak akidah Islam.
Nama Hasan Al-Banna sudah sangat tidak asing bagi sebagian umat Islam. Sepak terjangnya, jejak perjuangannya, membuat namanya cukup tersohor di dunia Islam.
Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna. Ia adalah seorang mujahid dakwah, peletak dasar-dasar gerakan Islam sekaligus pendiri dan pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam). Karena perannya itu, ia mendapat julukan sebagai pembaru Islam Abad ke-20.
Hasan Al-Banna berusaha berjuang dan menyiarkan dakwah Islam, sebagaimana tuntutan Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Perhatiannya sangat besar terhadap upaya meluruskan pemahaman Islam dan mengembalikan nilai-nilai ajaran Islam yang telah dibuang oleh umat Islam sendiri.
Menurut Al-Banna, sebagian besar umat Islam hanya menginginkan akidah tanpa syariah, agama tanpa negara, kebenaran tanpa kekuatan, dan perdamaian tanpa perjuangan. Tetapi, Al-Banna menginginkan Islam sebagai akidah dan syariah, agama dan negara, kebenaran dan kekuatan, perdamaian dan perjuangan.
Suatu saat dia ditanya oleh seseorang dan si penanya mengharapkan Hasan Al-Banna menjelaskan tabiat dirinya. Imam Hasan Al-Banna berkata, ''Saya adalah seperti seorang pelancong (pengembara) yang sedang mencari kebenaran, orang yang mencari jati diri yang sebenarnya, warga negara yang mendambakan kemuliaan, kemerdekaan, ketenteraman, dan kehidupan yang mudah di bawah naungan agama Islam yang lurus. Saya berusaha untuk menerapkan Islam yang sebenarnya.''
''Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Tuhan alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah diri saya yang sebenarnya, sekarang siapa diri Anda yang sebenarnya?'' lanjutnya.
Hasan Al-Banna, dikenal sebagai seorang tokoh yang paling gigih memberikan penjelasan kepada umat Islam tentang arti penting keterlibatan umat Islam dalam politik. Menurutnya, politik adalah bagian dari Islam, dan sesungguhnya kemerdekaan adalah salah satu kewajibannya.
Selain itu, Al-Banna juga memberikan perhatian yang besar dalam pembentukan generasi muda Muslim yang istiqamah terhadap diri sendiri, dan menjadikan Allah sebagai tujuannya, Islam jalannya, dan Muhammad sebagai teladannya.
Untuk itu, menurut Al-Banna, para generasi muda Islam haruslah memahami Islam secara mendalam, memiliki iman yang kuat, menjalin hubungan yang erat satu sama lain, mengamalkan ajaran itu dalam dirinya sendiri, bekerja dan berjuang untuk mencapai kebangkitan Islam, serta berusaha mewujudkan kehidupan yang Islami di masyarakatnya.
Guna mencapai tujuan tersebut, kata Al-Banna, umat Islam tidak boleh terpecah belah. Sebab, perpecahan itu akan melemahkan kekuatan Islam. Dalam pandangannya, umat Islam harus disatukan dalam satu landasan Islam yang universal. Dan, Islam itu harus bersatu agar semakin kuat dan jaya.
Keinginan Al-Banna yang besar ini sudah muncul sejak ia masih muda. Dari sini pula, ia mendirikan perkumpulan atau organisasi Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Islam), bersama enam orang temannya, pada tahun 1938.
Tujuan dari pendirian organisasi tersebut adalah untuk memberi pemahaman Islam yang benar. Menurutnya, Islam adalah merupakan akidah, sarana untuk beribadah, tanah air, kewarganegaraan, kelapangan, kekuatan, akhlak, alat untuk mencari materi, kebudayaan, dan perundang-undangan. Beberapa tokoh yang tergabung di dalamnya, antara lain Sayyid Quthb dan Yusuf Al-Qaradhawi.
Dan, keberadaan organisasi Ikhwanul Muslimin ini mampu memberikan semangat baru bagi generasi muda Islam untuk bangkit dan bersama-sama memperjuangkan Islam, sesuai tuntunan Alquran dan Sunah Nabi SAW.
Menurut Almuzammil Yusuf, dalam bukunya tentang Pemikiran Politik Ikhwanul Muslimin, kelahiran organisasi ini disebabkan adanya fakta sejarah yang menunjukkan keimanan umat Islam sudah mulai bercampur dengan sesuatu, yang tidak diajarkan dalam Alquran maupun hadis Rasulullah SAW.
Selain itu, kemunculan organisasi ini disebabkan adanya fenomena perang Salib, keragaman pendapat dan gagasan tokoh Muslim, seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Di samping itu, kemunculannya juga disebabkan adanya pengaruh sufi dan tarekat serta gerakan ideologi politik.
Ahli pidato
Hasan Al-Banna dilahirkan pada 14 Oktober 1906 di Desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir. Ayahnya, Syekh As-Sa'ati, adalah seorang ulama hadis dan pengarang buku dalam bidang hadis yang berjudul Al Fath Ar Robani fi Tartib Musnad Al Imam Ahmad . Ia memperoleh pendidikan dasar di sekolah Ar-Rasyad Ad-Diniyah. Pada usia 12 tahun, Hasan al-Banna telah menghafal Alquran.
Walaupun masih muda, di sekolahnya dia sudah mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Jam'iyah Al-Akhlaq Al-Adabiyah dan organisasi Man'u Al-Muharramat. Dia juga selalu menulis surat yang dikirimkan kepada orang-orang yang berpengaruh. Dalam surat yang tidak menyebutkan namanya itu, berisi tentang nasihat-nasihat kepada mereka. Dia selalu mengunjungi perpustakaan As-Salafiyah dan tempat-tempat berkumpulnya para ulama Al Azhar.
Sewaktu muda, Hasan Al-Banna sering mengunjungi tempat-tempat hiburan, gedung-gedung pertemuan, dan klub-klub. Dalam kunjungannya ke tempat-tempat tersebut, Hasan Al-Banna dan teman-temannya selalu mengajak mereka agar kembali kepada Islam yang benar.
Selepas lulus SMA dengan memperoleh predikat ranking 5 tingkat negara Mesir, pada tahun 1923 Al-Banna melanjutkan pendidikan ke Fakultas Dar Al Ulum dan lulus pada tahun 1927 dengan mendapatkan peringkat pertama. Setelah menamatkan pendidikannya, ia kerap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berdakwah hingga kemudian ia memutuskan untuk menetap di Ismai'iliyah.
Tahun 1938, bersama enam orang temannya, ia mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin. Di Isma'iliyah, ia mendirikan masjid, kantor organisasi Ikhwanul Muslimin, dan sekolah Hara untuk mempelajari Islam. Di samping itu, di sana dia juga mendirikan sekolah yang diberi nama Ummahatul Mukminin. Tujuan dari pendirian sekolah tersebut adalah untuk mendidik putra-putri Islam dengan pendidikan Islam yang benar. Ia kemudian pindah ke Kairo, di sana dia mendirikan sebuah kantor pusat untuk organisasinya. Kantor yang didirikannya itu ia beri nama Kantor Pusat Umum.
Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berpidato, lidahnya sangat fasih, ahli dalam sastra dan pandai memilih kata-kata yang tepat. Pada tahun 1941, dia dipenjara selama sebulan berkaitan dengan pidato yang ia sampaikan yang isinya mengkritik sistem politik Inggris pada Perang Dunia ke II. Masih pada tahun yang sama, dia dipaksa pindah ke Qana.
Di tempat barunya ini, Al-Banna terus melanjutkan perjuangannya dengan menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam kepada umat dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia juga mengirimkan delegasi-delegasi ke seluruh penjuru dunia untuk mengetahui keadaaan umat Islam. Delegasi-delegasinya menginformasikan tentang realitas dunia Islam.
Pada tahun 1948, dia mengirimkan satu batalion pasukan ke Palestina. Pasukan yang ia kirim ke Palestina terdiri atas orang-orang Ikhwanul Muslimin. Dalam pertempuran melawan orang-orang Ikhwanul Muslimin, pasukan Yahudi mendapatkan kekalahan yang telak. Salah satu jenderalnya berkata, ''Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang Ikhwanul Muslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti bisa menaklukkan dunia.''
Sosok Kehidupan Asy-Syahid
Di kalangan para pendiri dan anggota Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati, sangat menjaga kebersihan, daya ingatnya sangat kuat, selalu semangat dan tak kenal lelah, sangat mencintai manusia dan berlaku lemah lembut kepada mereka, selalu senyum, pemberani, dan juga tidak pernah meninggalkan shalat malam.
Sayyid Quthb, salah seorang rekannya di Ikhwanul Muslimin, mengomentari Hasan Al-Banna, ''Sesuatu yang besar dalam diri Hasan Al-Banna adalah dia selalu berpikiran positif, berbuat baik, dan jenius.''
Syekh Muhammad Al-Hamid mengomentari Imam As-Syahid, ''Sejak lama umat Islam tidak menjumpai orang seperti Hasan Al-Banna.'' Syekh An-Nadawi juga berkomentar tentang diri Hasan Al-Banna, ''Dia adalah sosok yang mengejutkan Mesir dan dunia Islam.''
Suatu saat terjadi kekacauan di Mesir dan pemerintah tidak mampu mengatasinya. Pemerintah langsung menuduh Ikhwanul Muslimin yang ada di balik kekacauan tersebut. Dengan alasan ini, pemerintah Mesir menutup kantor-kantor Ikhwanul Muslimin dan banyak anggotanya yang dipenjara serta organisasi mereka juga dibubarkan.
Sementara sang pendiri Ikhwanul Muslimin, terbunuh sebagai syahid pada tahun 1948 di dekat perempatan Ramsis. Di suatu malam, ada tiga orang yang menembakkan senjatanya ke arah Hasan Al-Banna dan mereka langsung melarikan diri. Oleh banyak kalangan, para penembak misterius ini diyakini sebagai penembak 'titipan' pemerintah. Dua dari mereka adalah seorang intel dan satunya lagi adalah Muhammad Abdul Majid yang menjabat sebagai kepala Keamanan Negara Mesir saat itu.
Hasan Al-Banna kemudian dilarikan ke rumah sakit. Karena adanya ancaman yang keras dari pemerintah, orang-orang tidak ada yang berani mendekati dan membalut lukanya. Akibatnya, dua jam setelah penembakan terhadap dirinya, Hasan Al-Banna meninggal dunia tanpa ada yang memberinya pertolongan. Dia hanya dishalati oleh bapak dan keempat saudara perempuannya.
Sebelumnya, pemerintah memadamkan listrik terlebih dahulu di desanya. Pemerintah bersedia menyerahkan jenazah kepada keluarganya, dengan syarat mereka tidak akan mengumumkan berita duka. Jenazah kemudian dibawa oleh ayah dan saudara-saudaranya. Proses pemakaman jenazah dilakukan dalam suasana yang sangat mencekam dan dengan dikelilingi oleh tank-tank. Kuburannya dijaga ekstra ketat oleh tentara agar para pengikut Hasan Al-Banna tidak memindahkan jenazahnya.
Kepergian Hasan Al-Banna pun menjadi duka berkepanjangan bagi umat Islam. Ia mewariskan sejumlah karya monumental, di antaranya Mudzakkirat Ad-Du'at wa Ad-Da'iyyah (Catatan Harian Dakwah dan Da'i) serta Ar-Rasail (Kumpulan Surat-surat). Selain itu, Hasan Al-Banna mewariskan semangat dan teladan dakwah bagi seluruh aktivis dakwah saat ini. berbagai sumber/dia
Wirid Al-Ma'tsurat
Al-Ma'tsurat adalah salah satu karya yang pernah disusun oleh Hasan Al-Banna. Risalah kecil berupa wirid, doa, yang diambil dari sejumlah surah dalam Alquran ini, sangat populer di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan, wirid-wirid yang terkandung di dalamnya dijadikan sebagai amalan harian wajib bagi para pengikut kelompok Ikhwanul Muslimin dan kebanyakan para aktivis pergerakan Islam di Indonesia.
Bacaan doa dan wirid yang terdapat dalam kitab Al-Ma'tsurat ini merupakan bagian dari amalan-amalan tarekat Shufiyyah Hashshofiyyah, di mana Hasan Al-Banna telah menjadi salah satu pengikutnya sejak usia muda. Semasa hidupnya, ia selalu mengamalkan ritual-ritual tarekat Hashshofiyyah tersebut, seperti Wazhifah (wirid) Rozuqiyyah setiap pagi dan petang. Tak hanya mengamalkan Wazhifah Rozuqiyyah, bahkan dia juga mengikuti ritual Hashshofiyyah di kuburan-kuburan dengan cara menghadap kepada sebuah kuburan, yang terbuka dengan tujuan untuk mengingat kematian, kemudian ritual Hadhroh setelah shalat Jumat, dan ritual Maulid Nabi.
Namun, menurut Ustaz Abu Ahmad sebagaimana dikutip dari Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun VI edisi Februari 2007, beberapa di antara doa-doa dan zikir-zikir dalam Al-Ma'tsurat ini ada yang lemah dalilnya atau bahkan tidak ada asalnya sama sekali. Di samping itu, di dalam risalah Al-Ma'tsurat ini banyak wirid-wirid lain yang sahih lafaznya, tetapi bidah dari segi kaifiyyat-nya (tata cara), karena memberikan bilangan bacaan-bacaannya yang tidak pernah ada tuntunannya dari Rasulullah SAW.
Pada akhir Al-Ma'tsurat ini tercantum Doa Rabithah yang berbunyi: ''Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihi al-quluuba qadijtama'at 'alaa mahabbatika waltaqat 'alaa thaa'atika watawahhadat 'alaa da'watika wa ta'aahadat 'alaa nushrati syarii'atika fawassiq allahumma raabithhaa wa adim wuddahaa.'' (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya Ya Allah, abadikan kasih sayangnya.''
Mengenai Doa Rabithah ini, Syekh Ihsan bin Ayisy Al-Utaibi berkata: ''Di akhir Al-Ma'tsurat terdapat wirid rabithah ini adalah bidah shufiyyah, yang diambil oleh Hasan Al-Banna dari tarekatnya, Hashshofiyyah.'' (Kitab TarbiyatuI Aulad fil Islam li Abdullah Ulwan fi Mizani Naqd Ilmi, hal 126)
Karena itu, di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa kitab ini tidak layak dijadikan pegangan di dalam wirid-wirid keseharian seorang Muslim, mengingat banyaknya hal-hal yang bidah yang terdapat dalam Al-Ma'tsurat ini. Para ulama ini menganjurkan agar kaum Muslimin memilih kitab-kitab zikir lainnya, yang mengacu kepada doa dan zikir yang shahih dari Nabi SAW.
Nasuh Al-Matraki: Cendekiawan Besar dari Turki Usmani
Beragam ilmu pengetahuan yang dikuasainya telah membuat Nasuh Al-Matraki menjadi terpandang di era Kekhalifahan Usmani Turki. Ia pun menjadi salah seorang cendekiawan besar pada abad XVI. Sejarah peradaban Islam mencatat sumbangan penting yang diberikannya bagi pengembangan matematika, sejarah, geografi, kartografi, teknik serta kaligrafi.
Dia bukanlah ilmuwan biasa. Matraki juga dikenal sebagai seorang ksatria yang jago mengatur taktik perang. Tak heran jika, Sultan Sulaiman Al-Qanuni Khalifah Turki Usmani yang sangat disegani di seantero dunia pada abad XVI begitu terkesan dengan kehebatan ilmuwan yang satu ini.
Berkat kehebatannya, Sultan Sulaiman menganugerahi Matraki gelar ustad dan rais. Ilmuwan dan ksatria yang dikenal lihai memainkan beragam senjata itu, pamornya kian berkibar, setelah berhasil menciptakan sebuah permainan strategi perang yang diberi nama Matrak. Atas keberhasilannya itu, Matraki juga dikenal sebagai Master of Knight.
Sejatinya, ilmuwan Muslim masyhur pada abad XVI itu bernama lengkap Nasuh bin Karagozz Al-Bosnawi. Berkat permainan yang diciptakannya itu, dia lebih dikenal dengan sebuatan Nasuh Matraki Bey. Sejatinya, Matraki berasal dari keluarga Bosnia. Ayah dan kakeknya mengabdi sebagai pegawai pemerintahan KekhalifahanTurki Usmani.
Matraki menimba ilmu di sekolah istana pada era kekuasaan Sultan Bayezid II (1481-1521). Dia banyak berguru kepada Sai Celebi salah satu guru Sultan Bayezid II. Dia memulai karirnya sebagai seorang ksatria di masa kepemimpinan Sultan Selim I (1512-1520 M). Pada tahun 1520 M, Matraki memutuskan untuk hijrah ke Mesir. Di negeri piramida itu, ia meningkatkan kemampuannya dalam bidang permainan kemiliteran.
Kemampuan Matraki dalam permainan kemiliteran tak ada yang mampu menandingi. Dia diakui sebagai seorang ksatria yang sangat berbakat dalam bidang ini. Matraki juga dikenal sebagai seorang ksatria yang gemar menggunakan topeng dan ahli bermain pedang. Itulah mengapa dia dijuluki Al-Silahi. Matraki pun mengajarkan kemampuannya dalam memainkan senjata di Sekolah Enderun.
Kemampuannya dalam memainkan senjata telah membuat Sultan Sulaiman Al-Qanuni terpikat. Dalam sebuah acara perayaan khitanan putera sang Sultan, Matraki dan para muridnya mendemonstrasikan kemampuannya dalam seni menggunakan dan membuat persenjataan. Sultan Sulaiman berdecak kagum dengan kehebatan Matraki. Ia lalu menganugerahinya gelar kehormatan.
Menyusul keberhasilannya dalam acara perayaan khitanan putera Sultan Sulaeman Al-Qanuni itu, pada tahun 1529 Matraki juga mampu merampungkan sebuah buku bertajuk Tuhfat Al-Ghuzat. Kitab yang berisi lima bab itu mengupas dan membahas tentang seni menggunakan dan membuat persenjataan.
Dalam buku yang dilengkapi dengan ilustrasi itu, Matraki memaparkan cara-cara membuat dan menggunakan panah, pedang serta tongkat. Matraki pun memberi informasi seputar taktik-taktik militer dan ksatria. Dia juga memaparkan permainan-permainan perang, pendidikan militer, hingga cara menunggang kuda bagi pasukan kavaleri. Ia juga mengupas tentang taktik berperang bagi pasukan infanteri. Dalam buku yang ditulisnya itu, Matraki juga membuat ilustrasi tentang cara membuat benteng pertahanan bergerak.
Pamor Matraki sebagai seorang ilomuwan sekaligus ksatria makin kinclong setelah berhasil menciptakan permainan bernama Matrak. Dalam bahasa Turki, Matrak berarti mengagumkan. Hingga kini Matrak dikenal sebagai permainan orang Turki. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan tongkat yang biasa disebut cudgel atau rapier. Tongkat yang digunakan untuk permainan ini ditutup dengan ledder sepintas mirip tiang pancang bowling.
Bagian atas tongkat yang digunakan berbentuk bulat dan sedikit lebih lebar dibanding badan tongkat. Permainan yang diciptakan Matraki itu menyerupai pertempuran animasi. Permainan itu dimainkan di atas rumput. Matraki menciptakan permainan itu sebagai sarana untuk latihan perang. Kemampuannya dalam membuat permainan peperangan itu diperolehnya saat belajar di Mesir pada era kepemimpinan Gubernur Hayr Bey.
Tak hanya termasyhur sebagai seorang ksatria, Matraki pun dikenal sebagai seorang miniaturis, kaligrafer dan seorang pelukis yang ulung. Dia memiliki keahlian yang luar biasa dalam melukis. Setiap kali ikut dalam ekspedisi penaklukan yang dilakukan Kerajaan Usmani Turki, Matraki tak pernah lupa untuk menggambar dan melukiskan tempat-tempat yang disinggahi pasukan istana.
Selain itu, dia juga selalu menjelaskan setiap tempat yang dikunjunginya, mulai dari Istanbul hingga ke Baghdad melalui Tabriz. Kota-kota yang berhasil ditaklukan Kekhalifahan Usmani Turki dari genggaman Kerjaan Safavid semua dicatat dan digambarkan secara detail oleh Matraki. Jalur yang dilalui Matraki berbeda dengan yang dilalui pasukan militer Usmani Turki mereka menempuh perjalanan dari Istanbul ke Baghdad melalui Sivas-Erzurum dan kembali melalui jalan Diyarbakir-Allepo.
Bahkan, secara khusus dia mengambar peta daratan dengan jenis relief dalam kitab yang ditulisnya Bayân-i Manâzil-i Safar-i Iraqayn-i Sultan Süleyman Khan. Buku itu berisi informasi yang detil mengenai ekspedisi pertama Sultan Sulaiman Al-Qanuni saat melawan Kerajaan Sapavid Iran antara tahun 1533 hingga 1536.
Sejarah mencatat Matraki yang juga berhasil menciptakan gaya tulisan kaligrafi khas Usmani Turki. Gaya tulisan kaligrafi yang ditemukan itu bernama "kalem-i divani". Sebelum gaya tulisan kaligrafi khas Turki diciptakan Matraki, Kekhalifahan Usmani Turki masih menggunakan tulisan kaligrafi khas Iran ta'lik.
Matraki tutup usia pada 28 April 1564. Jabatan terakhir yang diembannya adalah memimpin kantor yang mengurusi masalah kuda-kuda istana. Masyarakat Turki mengagumi keberhasilan yang pernah dicapainya. Tak heran, bila karya-karyanya disejajarkan dengan Leonardo da Vinci. Untuk mengenangnya, Radio dan Televisi Turki pada tahun 1979 membuat film dokumenter tentang perjalanan hidup sang ilmuwan dan ksatria fenomenal di abad ke XVI itu.
Sumbangan Sang Ksatria
Sejarah
Matraki dikenal sebagai seorang sejarawan terkemuka di era Kekhalifahan Usmani Turki. Pada tahun 1520 M, dia berhasil menerjemahkan buku sejarah karya Al-Tabari yang berjudul Tarih Al_rasul wa Al-Muluk kedalam bahasa Turki. Karya alihbahasa itu diberi judul Madjma' Al-Tawarikh. Dalam kitab itu dia juga membuat semacam suplemen yang berisi tentang sejarah Ottoman.
Selain itu, Matraki juga menulis sejarah kepemimpinan Sultan Bâyezid II, Sultan Selim I dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Beberapa buku sejarah yang ditulis Matraki itu antara lain; Ta'rikh-i Sultan Bâyezid wa-Sultan Selim ; Bayân-i Manâzil-i Safar-i Iraqayn-i Sultan Süleyman Khan yang dikenal dengan Majmua'-i Manâzil (1537). Pada 1538, Matraki juga berhasil menuliskan kitab Fath-nâme-i Karabughdan.
Kitab sejarah lainnya yang ditulis Matraki berjudul Ta'rikh-i Feth-i Shiklos wa Estergon wa Istolnibelgrad . Dia juga menulis dua volume sejarah hidup Sultan Sulaiman dalam kitab Suleyman-name. Pada 1550, sejarawan Kerajaan Usmani Turki itu mendapat dukungan dari seorang menteri utama Sultan Sulaiman, Rustem Pasha untuk menerjemahkan karya Sejarawan Al-Tabari yang lainnya berjudul Djami' Al-Tawarikh. Dalam satu volume khusus pada bagian kitab yang diterjemahkannya itu, Matraki mengupas peristiwa-peristiwa penting di era kepemimpinan Sultan Sulaiman hingga tahun 1561.
Matematika
Matraki memang layak dijuluki ilmuwan serbabisa. Dia ternyata juga sangat populer sebagai seorang matematikus. Secara khusus, dia menulis dua buku matematika dalam bahasa Turki untuk meringankan tugas para ulama, dewan kerajaan (divan katipleri) dan para akuntan negara. Kedua buku matematika yang ditulis Matraki memegang peranan penting dalam kemajuan Kerajaan Usmani Turki.
Pasalnya, buku matematika yang disusun Matraki itu sangat mudah dipahami setiap kalangan. Tak heran, jika buku matematika yang ditulis sang ilmuwan ksatria itu sangat cocok untuk digunakan sebagai matematika bahasa. Buku ini juga dijadikan panduan para akuntan di era Usmani Turki dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan matematika.
Buku matematika pertama yang ditulis Matraki berjudul Jamal al-Kuttab wa Kamal al-Hussab . Kitab yang disusun pada tahun 1517 itu secara khusus didedikasikan Matraki untuk Sultan Selim I (1512-1520). Sedangkan, buku kedua yang bertajuk Umdat al-Hussab fi'l-furuz al-mukaddar bi'l-kulliyat diselesaikan Matraki pada tahun 1533 merupakan pengembangan dari kitab versi pertama.
Geografi Deskriptif
Di Era kekhalifahan Utsmani Turki, Matraki merupakan seorang yang sangat penting dalam bidang geografi deskriptif. Buku pertamanya yang paling bernilai dalam bidang itu berjudul Bayân-i Manâzil-i Safar Iraqayn berisi penjelasan tenpat-tempat yang disinggahi dalam dua ekspedisi ke Irak.
Dia juga membuat miniatur yang menggambarkan jalan yang menghubungkan Istanbul Tabriz Baghdad. Miniatur yang diciptakannya itu mirip sebuah peta. Karya-karya Matraki selalu menjadi rujukan bagi siapaun yang ingin mempelajariUsmani Turki terutama Istanbul pada abad ke-16 M. Selama berabad-abad lukisan hasil goresan tangan Matraki tentang ibukota Usmani Turki itu tetap dijadikan acuan.
Matraki pun sukses membuat peta. Uniknya peta yang diciptakan Matraki disertai dengan miniatur-miniatur sehingga sangat bernilai dari perspektif geografi. Dalam Ta'rikh-i Feth-i Shiklos wa Estergon wa Istolnibelgrad Matraki menggambarkan tempat penginapan yang ada di antara Istanbul dan Budapest. Dalam kitab itu juga dia menjelaskan kota-kota yang dilaluinya seperti Nice, Toulon dan Marseilles.
Dia bukanlah ilmuwan biasa. Matraki juga dikenal sebagai seorang ksatria yang jago mengatur taktik perang. Tak heran jika, Sultan Sulaiman Al-Qanuni Khalifah Turki Usmani yang sangat disegani di seantero dunia pada abad XVI begitu terkesan dengan kehebatan ilmuwan yang satu ini.
Berkat kehebatannya, Sultan Sulaiman menganugerahi Matraki gelar ustad dan rais. Ilmuwan dan ksatria yang dikenal lihai memainkan beragam senjata itu, pamornya kian berkibar, setelah berhasil menciptakan sebuah permainan strategi perang yang diberi nama Matrak. Atas keberhasilannya itu, Matraki juga dikenal sebagai Master of Knight.
Sejatinya, ilmuwan Muslim masyhur pada abad XVI itu bernama lengkap Nasuh bin Karagozz Al-Bosnawi. Berkat permainan yang diciptakannya itu, dia lebih dikenal dengan sebuatan Nasuh Matraki Bey. Sejatinya, Matraki berasal dari keluarga Bosnia. Ayah dan kakeknya mengabdi sebagai pegawai pemerintahan KekhalifahanTurki Usmani.
Matraki menimba ilmu di sekolah istana pada era kekuasaan Sultan Bayezid II (1481-1521). Dia banyak berguru kepada Sai Celebi salah satu guru Sultan Bayezid II. Dia memulai karirnya sebagai seorang ksatria di masa kepemimpinan Sultan Selim I (1512-1520 M). Pada tahun 1520 M, Matraki memutuskan untuk hijrah ke Mesir. Di negeri piramida itu, ia meningkatkan kemampuannya dalam bidang permainan kemiliteran.
Kemampuan Matraki dalam permainan kemiliteran tak ada yang mampu menandingi. Dia diakui sebagai seorang ksatria yang sangat berbakat dalam bidang ini. Matraki juga dikenal sebagai seorang ksatria yang gemar menggunakan topeng dan ahli bermain pedang. Itulah mengapa dia dijuluki Al-Silahi. Matraki pun mengajarkan kemampuannya dalam memainkan senjata di Sekolah Enderun.
Kemampuannya dalam memainkan senjata telah membuat Sultan Sulaiman Al-Qanuni terpikat. Dalam sebuah acara perayaan khitanan putera sang Sultan, Matraki dan para muridnya mendemonstrasikan kemampuannya dalam seni menggunakan dan membuat persenjataan. Sultan Sulaiman berdecak kagum dengan kehebatan Matraki. Ia lalu menganugerahinya gelar kehormatan.
Menyusul keberhasilannya dalam acara perayaan khitanan putera Sultan Sulaeman Al-Qanuni itu, pada tahun 1529 Matraki juga mampu merampungkan sebuah buku bertajuk Tuhfat Al-Ghuzat. Kitab yang berisi lima bab itu mengupas dan membahas tentang seni menggunakan dan membuat persenjataan.
Dalam buku yang dilengkapi dengan ilustrasi itu, Matraki memaparkan cara-cara membuat dan menggunakan panah, pedang serta tongkat. Matraki pun memberi informasi seputar taktik-taktik militer dan ksatria. Dia juga memaparkan permainan-permainan perang, pendidikan militer, hingga cara menunggang kuda bagi pasukan kavaleri. Ia juga mengupas tentang taktik berperang bagi pasukan infanteri. Dalam buku yang ditulisnya itu, Matraki juga membuat ilustrasi tentang cara membuat benteng pertahanan bergerak.
Pamor Matraki sebagai seorang ilomuwan sekaligus ksatria makin kinclong setelah berhasil menciptakan permainan bernama Matrak. Dalam bahasa Turki, Matrak berarti mengagumkan. Hingga kini Matrak dikenal sebagai permainan orang Turki. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan tongkat yang biasa disebut cudgel atau rapier. Tongkat yang digunakan untuk permainan ini ditutup dengan ledder sepintas mirip tiang pancang bowling.
Bagian atas tongkat yang digunakan berbentuk bulat dan sedikit lebih lebar dibanding badan tongkat. Permainan yang diciptakan Matraki itu menyerupai pertempuran animasi. Permainan itu dimainkan di atas rumput. Matraki menciptakan permainan itu sebagai sarana untuk latihan perang. Kemampuannya dalam membuat permainan peperangan itu diperolehnya saat belajar di Mesir pada era kepemimpinan Gubernur Hayr Bey.
Tak hanya termasyhur sebagai seorang ksatria, Matraki pun dikenal sebagai seorang miniaturis, kaligrafer dan seorang pelukis yang ulung. Dia memiliki keahlian yang luar biasa dalam melukis. Setiap kali ikut dalam ekspedisi penaklukan yang dilakukan Kerajaan Usmani Turki, Matraki tak pernah lupa untuk menggambar dan melukiskan tempat-tempat yang disinggahi pasukan istana.
Selain itu, dia juga selalu menjelaskan setiap tempat yang dikunjunginya, mulai dari Istanbul hingga ke Baghdad melalui Tabriz. Kota-kota yang berhasil ditaklukan Kekhalifahan Usmani Turki dari genggaman Kerjaan Safavid semua dicatat dan digambarkan secara detail oleh Matraki. Jalur yang dilalui Matraki berbeda dengan yang dilalui pasukan militer Usmani Turki mereka menempuh perjalanan dari Istanbul ke Baghdad melalui Sivas-Erzurum dan kembali melalui jalan Diyarbakir-Allepo.
Bahkan, secara khusus dia mengambar peta daratan dengan jenis relief dalam kitab yang ditulisnya Bayân-i Manâzil-i Safar-i Iraqayn-i Sultan Süleyman Khan. Buku itu berisi informasi yang detil mengenai ekspedisi pertama Sultan Sulaiman Al-Qanuni saat melawan Kerajaan Sapavid Iran antara tahun 1533 hingga 1536.
Sejarah mencatat Matraki yang juga berhasil menciptakan gaya tulisan kaligrafi khas Usmani Turki. Gaya tulisan kaligrafi yang ditemukan itu bernama "kalem-i divani". Sebelum gaya tulisan kaligrafi khas Turki diciptakan Matraki, Kekhalifahan Usmani Turki masih menggunakan tulisan kaligrafi khas Iran ta'lik.
Matraki tutup usia pada 28 April 1564. Jabatan terakhir yang diembannya adalah memimpin kantor yang mengurusi masalah kuda-kuda istana. Masyarakat Turki mengagumi keberhasilan yang pernah dicapainya. Tak heran, bila karya-karyanya disejajarkan dengan Leonardo da Vinci. Untuk mengenangnya, Radio dan Televisi Turki pada tahun 1979 membuat film dokumenter tentang perjalanan hidup sang ilmuwan dan ksatria fenomenal di abad ke XVI itu.
Sumbangan Sang Ksatria
Sejarah
Matraki dikenal sebagai seorang sejarawan terkemuka di era Kekhalifahan Usmani Turki. Pada tahun 1520 M, dia berhasil menerjemahkan buku sejarah karya Al-Tabari yang berjudul Tarih Al_rasul wa Al-Muluk kedalam bahasa Turki. Karya alihbahasa itu diberi judul Madjma' Al-Tawarikh. Dalam kitab itu dia juga membuat semacam suplemen yang berisi tentang sejarah Ottoman.
Selain itu, Matraki juga menulis sejarah kepemimpinan Sultan Bâyezid II, Sultan Selim I dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Beberapa buku sejarah yang ditulis Matraki itu antara lain; Ta'rikh-i Sultan Bâyezid wa-Sultan Selim ; Bayân-i Manâzil-i Safar-i Iraqayn-i Sultan Süleyman Khan yang dikenal dengan Majmua'-i Manâzil (1537). Pada 1538, Matraki juga berhasil menuliskan kitab Fath-nâme-i Karabughdan.
Kitab sejarah lainnya yang ditulis Matraki berjudul Ta'rikh-i Feth-i Shiklos wa Estergon wa Istolnibelgrad . Dia juga menulis dua volume sejarah hidup Sultan Sulaiman dalam kitab Suleyman-name. Pada 1550, sejarawan Kerajaan Usmani Turki itu mendapat dukungan dari seorang menteri utama Sultan Sulaiman, Rustem Pasha untuk menerjemahkan karya Sejarawan Al-Tabari yang lainnya berjudul Djami' Al-Tawarikh. Dalam satu volume khusus pada bagian kitab yang diterjemahkannya itu, Matraki mengupas peristiwa-peristiwa penting di era kepemimpinan Sultan Sulaiman hingga tahun 1561.
Matematika
Matraki memang layak dijuluki ilmuwan serbabisa. Dia ternyata juga sangat populer sebagai seorang matematikus. Secara khusus, dia menulis dua buku matematika dalam bahasa Turki untuk meringankan tugas para ulama, dewan kerajaan (divan katipleri) dan para akuntan negara. Kedua buku matematika yang ditulis Matraki memegang peranan penting dalam kemajuan Kerajaan Usmani Turki.
Pasalnya, buku matematika yang disusun Matraki itu sangat mudah dipahami setiap kalangan. Tak heran, jika buku matematika yang ditulis sang ilmuwan ksatria itu sangat cocok untuk digunakan sebagai matematika bahasa. Buku ini juga dijadikan panduan para akuntan di era Usmani Turki dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan matematika.
Buku matematika pertama yang ditulis Matraki berjudul Jamal al-Kuttab wa Kamal al-Hussab . Kitab yang disusun pada tahun 1517 itu secara khusus didedikasikan Matraki untuk Sultan Selim I (1512-1520). Sedangkan, buku kedua yang bertajuk Umdat al-Hussab fi'l-furuz al-mukaddar bi'l-kulliyat diselesaikan Matraki pada tahun 1533 merupakan pengembangan dari kitab versi pertama.
Geografi Deskriptif
Di Era kekhalifahan Utsmani Turki, Matraki merupakan seorang yang sangat penting dalam bidang geografi deskriptif. Buku pertamanya yang paling bernilai dalam bidang itu berjudul Bayân-i Manâzil-i Safar Iraqayn berisi penjelasan tenpat-tempat yang disinggahi dalam dua ekspedisi ke Irak.
Dia juga membuat miniatur yang menggambarkan jalan yang menghubungkan Istanbul Tabriz Baghdad. Miniatur yang diciptakannya itu mirip sebuah peta. Karya-karya Matraki selalu menjadi rujukan bagi siapaun yang ingin mempelajariUsmani Turki terutama Istanbul pada abad ke-16 M. Selama berabad-abad lukisan hasil goresan tangan Matraki tentang ibukota Usmani Turki itu tetap dijadikan acuan.
Matraki pun sukses membuat peta. Uniknya peta yang diciptakan Matraki disertai dengan miniatur-miniatur sehingga sangat bernilai dari perspektif geografi. Dalam Ta'rikh-i Feth-i Shiklos wa Estergon wa Istolnibelgrad Matraki menggambarkan tempat penginapan yang ada di antara Istanbul dan Budapest. Dalam kitab itu juga dia menjelaskan kota-kota yang dilaluinya seperti Nice, Toulon dan Marseilles.
21 October 2009
Cerrahiye-i Ilhaniye, Buku Bedah Anak Warisan Islam

MUSLIM HERITAGE
Pada abad ke-10 M, dunia kedokteran Islam memiliki seorang dokter bedah terkemuka bernama Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi. Dokter bedah kelahiran 936 M di kota Al-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol itu pun dikenal sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern.
Lima abad kemudian, peradaban Islam yang saat itu dikuasai Kekhalifahan Turki Usmani juga memiliki seorang dokter bedah terkemua bernama Serafeddin Sabuncuoglu. Ia sangat dikenal dengan buku kedokteran yang ditulisnya berjudul Cerrahiye-i Ilhaniye. Inilah buku ilmu bedah anak pertama di dunia yang dilengkapi dengan ilustrasi.
Cerrahiye-i Ilhaniye tidak hanya berisi gambar atau miniatur prosedur dari bedah anak, tetapi buku kedokteran itu juga menyumbangkan banyak hal yang penting bagi perkembangan buku-buku lain yang berkaitan dengan pembedahan. Sabuncuoglu menjelaskan rancangan dan teknik-teknik bedahnya sendiri dalam buku tersebut. Selain itu dia juga mengembangkan teknik bedah anak yang sudah dipraktikkan pada masa lalu.
Lewat buku itu, Sabuncuoglu menjelaskan teknik bedah, sayatan dan instrumen-instrumen bedah. Buku itu juga dilengkapi dengan miniatur gambar mengenai prosedur operasi. Beberapa bagian dari buku ini mencakup aspek teori dan praktik operasi bedah khusus bayi, balita dan anak-anak (pediatrik).
Secara umum, Sabuncuoglu, melakukan penggabungan kombinasi teknik bedah anak dari metode Yunani, Romawi, Arab, dan Turki. Sehingga metode pembedahan kombinasi yang diciptakannya sungguh sangat luar biasa dan mempengaruhi perkembangan ilmu bedah anak di daratan Eropa.
Meskipun penyebaran pengetahuan bedah anak itu bergerak dengan cepat, aspek historis bedah anak masih banyak yang belum dieksplorasi secara sistematis. Pada 1983, dalam pertemuan Asosiasi Bedah Anak Yunani di Chios, Montagnani, Roma, Italia disebutkan bahwa hanya Serafeddin yang selalu setia membuat terjemahan Buku Petunjuk Tentang Pembedahan milik Abu Kasim Al-Zahrawi.

Pada masa lalu, hanya ada dua atau tiga sumber sebagai referensi buku-buku tentang operasi, salah satunya karya-karya Abu Kasim Al-Zahrawi. Hingg a kini, terdapat tiga karya salinan asli tulisan tangan Sabuncuoglu. Dua buah buku salinan tersebut berada di Perpustakaan Nasional Istanbul dan Departemen Sejarah Kedokteran Capa Fatih, Universitas Istanbul.
Sedangkan buku yang ketiga berada di Perpustakaan Nasional Paris. Buku Cerrahiye-i Ilhaniye, mencakup empat bagian utama: teknik cauterisation, bedah umum termasuk bedah anak dan bedah plastik, ortopedi, dan inovasi persiapan pengobatan. Ketiga buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki modern.Berikut ini bedah modifikasi karya Sabuncuoglu dalam Cerrahiye-i Ilhaniye itu antara lain mengkaji tentang:
* Pengobatan Hydrocephalus
Untuk melakukan pembedahan terhadap penyakit Hydrocephalus (penyumbatan pada otak sehingga terdapat cairan pada otak) Sabuncuoglu menggambarkan pisau bedah dengan sayatan lebih lebar, tajam, dan ujungnya runcing. Tipe sayatan operasinya juga khusus.
Sabuncuoglu merupakan salah seorang ahli bedah yang paling awal menggunakan berbagai teknik drainase dan bahan-bahan untuk prosedur bedah saraf dalam kasus bedah anak. Dia menekankan bahaya perdarahan selama operasi bedah saraf dilakukan. Oleh karena itu pembedahan terhadap pasien harus dilakukan secara hati-hati.
* Sunat anak laki-laki
Sabuncuoglu menggambarkan untuk melakukan penyunatan lebih baik menggunakan gunting bengkok daripada yang lurus. Dia menyarankan sunat dilakukan dengan menggunakan sebuah potongan saja. Hal ini juga harus dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ahli, bukan orang pada umumnya.
* Pengobatan Hermafroditisme (jenis kelamin yang tidak jelas apakah laki-laki atau perempuan)
Beberapa abad yang lalu, Paulus dari Aeginae dan Zahrawi telah menjelaskan ambiguitas kelamin pada manusia, yang tak jelas alat kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Namun, Sabuncuoglu membuat penjelasan detil dan klasifikasi subjek tersebut dengan lengkap. Dia mengomentari penampilan daerah perineal dan klitoris yang ambigu tersebut. Orang hermaprodit membutuhkan pembedahan khusus untuk memperjelas alat kelamin yang lebih cocok dengannya.

Pengobatan alat kelamin eksternal wanita (vulva)
Sabuncuoglu adalah orang pertama yang menggambarkan posisi klasik pemeriksaan ginekologi. Ia membagi dua labia pada alat kelamin anak perempuan. Dia merekomendasikan tampon vagina yang berminyak untuk pencegahan radang dan kambuh sakitnya. Sedangkan, para ahli bedah zaman kuno, seperti Celsus dan Soraneus menggunakan gunting tang dan specula untuk pemeriksaan ini.
Untuk jenis prosedur pengobatan vulva ini, Sabuncuoglu menyebutkan pentingnya peran dokter perempuan dari pada bidan. Sabuncuoglu menggambarkan seorang "tabibe" atau dokter perempuan untuk melakukan praktik operasi terhadap pasien perempuan.
* Pengobatan jari
Sabuncuoglu mempelajari subjek tentang pengobatan jari yang jumlahnya berlebihan dan jari yang berselaput dalam bab berjudul "yarligan" dan "yincilmek" dan menggunakan istilah khusus "artuk parmak" dan "bitevi parmak." Dalam perawatan jari yang berlebihan yang timbul pada akar jari, Sabuncuoglu menyarankan untuk melakukan teknik manuver berliku untuk mengamputasi jari yang berlebihan atau tidak normal tersebut.
Sedangkan untuk mengobati jari yang berselaput, selaput yang terletak di antara jari tersebut harus dioperasi dan dibuang. Setelah itu, kain kasa khusus direndam dalam minyak mawar kemudian diletakkan di antara jari-jari untuk mencegah infeksi dan kambuh sakitnya. Sabuncuoglu adalah orang pertama yang menyarankan menempatkan kayu penyangga setelah bedah tangan untuk untuk meningkatkan penyembuhan luka.
* Pengobatan anus
Untuk mengobati anus yang tak berfungsi saat ingin buang hajat di mana anus tidak mau membuka, Sabuncuoglu menekankan perlunya operasi yang dilakukan oleh seorang ahli bedah ahli untuk mengurangi risiko kegagalan operasi yang berhubungan dengan otot. Anus yang tak berfungsi ini bisa terjadi akibat melahirkan. Dia menggambarkan prosedur operasi anus ini dengan baik.
Serafeddin Sabuncuoglu, Ahli Bedah Anak dari Turki Usmani

Serafeddin Sabuncuoglu merupakan seorang dokter dan ahli bedah pada masa kekuasaan Turki Usmani. Sang dokter hidup antara 1385-1468 M di Amasya, bagian utara Anatolia tengah. Selama periode awal Kekaisaran Ottoman, Amasya merupakan pusat perdagangan, budaya, dan seni.
Selama periode itu, Sabuncuoglu berpraktik selama 14 tahun di Rumah Sakit Amasya yang dibangun pada 1308 tersebut. Pada 1465, saat berusia 80 tahun, ia menulis sebuah buku berjudul Cerrahiye-i Ilhaniye. Semangat Sabuncuoglu yang sangat tinggi, membuatnya begitu intens menyelesaikan buku tersebut, meski usianya sudah sepuh.
Selama mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter, Sabuncuoglu sudah melakukan berbagai macam praktik operasi pada tubuh manusia jauh, sebelum ada perkembangan teknik steril dan anestesi modern dalam proses operasi pasien. Dia menggunakan kombinasi dari akar tanaman mandrake dan minyak almond untuk analgesia dan anestesi umum.
Tanaman Mandrake (mandragora officinarum L yang berasal dari keluarga nightshade [Solanaceae]) memiliki sifat-sifat umum belladonna dan sebelumnya digunakan sebagai narkotik serta obat penenang. Tanaman tersebut berisi dengan alkaloid mandragorine, hyoscyamine, dan scopolamine.
Dalam peradaban Yunani dan Romawi kuno, banyak tanaman digunakan sebagai obat untuk merangsang pembiusan seperti opium yang digunakan untuk anestesi dan penghilang rasa sakit, juga dikenal sebagai tanaman cinta
Pengetahuan tentang obat-obatan dan farmasi di Anatolia pada saat berkuasanya Dinasti Seljuk dan pada masa periode Kekuasaan Turki Usmani merupakan kelanjutan dari peradaban Seljuk Besar. Pada abad ke-12 hingga 14 M, di wilayah itu begitu banyak didirikan rumah sakit yang dilengkapi apotek yang bertugas menyiapkan obat-obatan bagi pasien.
Sabuncuoglu juga menekankan pentingnya apotek di dalam rumah sakit. Sehingga pasien bisa mendapatkan obat dengan mudah. Selain menulis buku Cerrahiyyetu'l-Haniyye , dia juga menulis buku yang berjudul Mucerrebname (Dalam Perjuangan).
Cerrahiyyetu'l-Haniyye merupakan buku bedah pertama yang memakai ilustrasi. Sebagian besar karya-karya Sabuncuoglu berdasarkan karya dokter bedah sebelumnya yakni Abu al-Qasim al-Zahrawi. Dia juga banyak memperkenalkan inovasi bedah terbaru dalam karya-karyanya. Dia bahkan menggambarkan ahli bedah perempuan dalam bukunya. Hal itu menujukkan penghargaannya terhadap kaum perempuan.
Rihla, Catatan Perjalanan Petualang Agung

Rihla. Inilah salah satu buku legendaris yang mengisahkan perjalanan seorang petualang agung bernama Ibnu Battuta pada 1325 hingga 1354 M. Sejatinya, Rihla bukanlah judul buku, tetapi hanya menggambarkan sebuah genre. Judul asli dari buku yang ditulis Ibnu Batutta itu adalah Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa-’Aja’ib al-Asfar.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, Tuntutlah ilmu walaupun hingga ke negeri Cina. Islam memerintahkan umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan, hingga ke tempat yang jauh sekalipun. Terinspirasi hadis itu, Ibnu Battuta pun melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan dan membentuk konsep al-Rihla fi Talab al-’Ilm (Perjalanan untuk Mendapatkan Ilmu Pengetahuan).
Ibnu Battuta menghabiskan waktu hingga 30 tahun untuk berpetualang dari satu negeri ke negeri lainnya. Hampir seluruh dunia telah dijelajahinya, meliputi; Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Utara, Timur Tengah, Benua Hindia, India, Asia Tengah, juga Cina.
Bahkan, perjalanan yang dicapai Ibnu Battuta itu mampu melewati rekor perjalanan yang ditorehkan Marco Polo. Ibnu Battuta menuliskan pengalaman perjalanannya dengan luar biasa. Ia menorehkan kisah perjalanannya meliputi aspek geografi, politik, kepribadian, sejarah, alam, serta adat lokal setempat.
Pada zaman dulu, orang-orang melakukan perjalanan hanya untuk membuat peta sebagai penunjuk rute terbaik naik haji. Namun Ibn Battuta melakukan perjalanan bukan hanya untuk membuat rute naik haji saja. Hal ini yang menyebabkan konteks perjalanan yang dilaluinya menjadi lebih luas.
Rihla sendiri bisa dibilang merupakan buku berisi ingatan tentang perjalanan Ibnu Battuta, karena sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa dia tidak pernah mengeluarkan catatannya selama melakukan perjalanan. Bahkan yang meminta Ibnu Battuta untuk menuangkan pengalamannya itu ke dalam sebuah buku justru Sultan Marinid Fez.
Sang sultan menilai perjalanan Ibnu Battuta mengandung begitu banyak kisah dan pengalaman berharga yang patut dijadikan pelajaran. Buku Rihla bisa disebut sebagai sejarah oral, karena Ibnu Battuta dalam menuangkan pengalamannya dalam buku itu dengan cara mendiktekannya kepada penyair yang bekerja di Kerajaan Sultan Marinid Fez.
Dia mendiktekan pengalaman yang ditempuhnya selama 30 tahun itu dalam waktu dua tahun lebih, hingga akhirnya menjadi sebuah buku yang utuh. Ibnu Juzayy merupakan seorang penulis yang memberikan petunjuk penulisan Rihla dan juga yang mengedit buku tersebut. Ibnu Juzzay dengan gayanya berupaya menjadikan Rihla sebagai sebuah buku berkualitas yang mudah dipahami pembacanya.
Sejumlah orientalis di negara-negara Barat memang agak meragukan sejumlah tempat yang benar-benar dikunjungi oleh Ibnu Battuta, seperti perjalanannya menuju Sungai Volga, dari New Sarai ke Bulgaria, perjalanannya ke Sana'a di Yaman, perjalanannya dari Balkh ke Bistam di Khurasan, perjalanannya berkeliling Anatolia, serta petualangannyake Cina. Meskipun sejumlah orientalis Barat menganggap beberapa cerita itu adalah fiksi, tetapi Rihla memberikan banyak keterangan penting berbagai tempat pada abad ke-14.
Ibnu Battuta dalam mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang dilaluinya mengalami beberapa kali gegar buadaya atau culture shock. Alasannya, budaya lokal setempat sungguh jauh berbeda dengan latar belakang dirinya yang cenderung menganut Islam ortodoks.
Saat bertemu dengan orang-orang Turki dan Mongolia yang berubah menjadi Islam, dia sangat terpesona dengan cara perempuan dari kedua etnis itu dalam bertingkah laku. Menurutnya mereka sopan sekali. Namun dia terlihat begitu terkejut waktu melihat perempuan di salah satu wilayah Afrika di sekitar gurun Sahara dan perempuan di pulau Maldives yang memakai pakaian yang begitu terbuka.
Dalam perjalanannya, Ibnu Battuta juga sering mendapatkan berbagai macam hadiah karena status sosialnya yang dianggap tinggi olah para penguasa di wilayah yang dikunjunginya. Selama berabad-abad, bukunya menimbulkan keragu-raguan.
Baru pada awal tahun 1800, bukunya dipublikasikan di Jerman dan Inggris berdasarkan sebuah manuskrip yang ditemukan di Timur Tengah yang berisi dengan versi Rihla karangan Ibn Juzayy dalam bahasa Arab dalam bentuk karangan pendek.
Ketika tentara Prancis menyerang Aljazair pada 1830, mereka juga menemukan lima buah manuskrip di Konstantin yang berisi versi menyeluruh dari buku Rihla. Lalu naskah-naskah tentang Rihla tersebut dibawa ke Bibliotheque Nationale di Paris dan dipelajari sarjana Perancis, Charles Defremery dan Beniamino Sanguinetti.
Pada 1853, mereka menerbitkan seri dari empat jilid berisi teks arab, catatan ekstensif dan sebuah terjemahan ke dalam bahasa Prancis. Hasil penerjemahan Defremery dan Sanguinetti dicetak dalam teks sekarang dan diterjemahkan ke banyak bahasa lainnya. Berkat Rihla, Ibnu Battuta menjadi tokoh terkenal hingga saat ini.
Rohla terdiri dari 13 bab. Setiap bab mengisahkan perjalanan Ibnu Batutta. Bab pertama dimulai kisah perjalanannya dari Maroko melintasi Afrika Utara dan petualangannya di Mesir tahun 1326. Bab kedua, menceritakan petualangannya ke Suriah dan Palestina serta perngalamannya menunaikan Haji pada 1326.
Dalam bab ketiga, Ibnu Batutta menyampaikan pengalamannya menjelajahi Persia dan Irak pada 1327. Pengalamannya menyusuri Lautan Arab dan Afrika Timur selama dua tahun, dari 1328 – 1330 dituangkannya dalam bab empat. Pada bab kelima, ia berkisah tentang pengalamannya di Anatolia (Turki) pada 1330 hingga 1331.
Bab keenam, diisi dengan kisah perjalanannya ke Asia Selatan. Pada bab ketujuh, ia menuturkan tentang pengalamannya dengan penguasa Dinasti Islam di Delhi, India pada 1334 – 1341. Pada bab delapan, ia mengisahkan keberhasilannya meloloskan diri dari Delhi dan sampai di Srilanka pada 1342. Pada 1345-1346, Ibnu Batutta dalam bab kesemnilan Rihla mengisahkan perjalannya ke Cina dan Nusantara.
Pada bab kesepuluh, ia memaparkan perjalannya kembali ke kampung halamannya di Maroko. Pengalamannya pada 1349 hingga 1350, dituliskan dalam bab sebelas tentang perjalanannya ke Andalusia. Pada bab ke-12, dia berkisah tentang petualangannya ke Afrika Barat. Sedangkan, pada bab ketigabelas mengisahkan tentang proses penulisan Rihla.
Jejak Sang Petualang
Ibnu Battuta adalah seorang petualang yang terkenal dengan berbagai macam kisah perjalanannya mengelilingi dunia. Dia dilahirkan pada sebuah keluarga sarjana Hukum Islam di Tangier, Maroko, pada 25 Februari 1304. Saat itu, Maroko dikuasai kekuasan Dinasti Marinid.
Sebagai seorang pemuda sekaligus pelajar yang sangat berbakat, dia juga telah menyelesaikan studinya di sekolah Sunni Maliki yang mengajarkan perihal hukum Islam yang dominan di Afrika Utara, pada saat itu.
PadaJuni 1325, ketika Ibnu Battuta genap berusia dua puluh satu tahun, dia melakukan perjalanan dari kota kelahirannya dengan tujuan pergi melaksanakan ibadah haji menuju ke Tanah Suci Makkah. Perjalanan tersebut berlangsung selama 16 bulan, tetapi dia rupanya tidakmelihat Maroko selama 24 tahun.
Perjalanan Ibnu Battuta menuju Mekah dilakukan melalui jalan darat. Dia berjalan menyusuri pantai Afrika Utara, lalu menyeberangi wilayah kekuasaan Kesultanan Abd al-Wadid dan Hafsid. Rutenya melewati Tlemcen, Bejaia dan kemudian ke Tunisia di mana dia tinggal di wilayah tersebut selama dua bulan.
Guna menghindari berbagai macam risiko kejahatan seperti diserang para perampok, dia memilih untuk melakukan perjalanan dengan sebuah kafilah. Sehingga banyak orang yang ikut menemani perjalanannya. Di Sfax, Ibnu Battuta menikah untuk yang pertama kalinya dari beberapa kali pernikahan yang dilakukannya dalam perjalanan yang panjang.
Pada awal musim semi 1326, setelah Ibnu Battuta melakukan perjalanan sejauh lebih dari 3.500 km, dia mengunjungi Pelabuhan Iskandariyah, yang merupakan bagian dari Kerajaan Mamluk Bahri. Dia menghabiskan beberapa pekan mengunjungi situs-situs yang terdapat di wilayah tersebut dan kemudian menuju pedalaman wilayah tersebut.
Lalu dia menuju Kairo, kota penting yang besar dan ibukota Dinasti Mamluk, di Kairo dia tinggal selama sekitar sebulan. Dalam wilayah Mamluk, perjalanan relatif aman. Secara umum, terdapat tiga rute umum yang biasanya digunakan dari Kairo menuju ke Makkah. Ibnu Battuta memilih rute perjalanan ke Nil, kemudian ke timur lewat darat ke pelabuhan Laut Merah Aydhab.
Namun, ketika mendekati kota, ia dipaksa untuk kembali ke Kairo karena pemberontakan lokal. Kembali ke Kairo, dia mengambil rute lain menuju Makkah. Dia juga menuju Damaskus dan bertemu dengan seorang laki-laki suci selama perjalanan pertamanya. Dia mengatakan, Ibnu Battuta hanya akan mencapai Makkah, setelah melakukan perjalanan melalui Suriah.
Lantaran melalui Suriah, dia bisa mengunjungi tempat-tempat suci sepanjang rute Hebron, Yerusalem, dan Betlehem. Dinasti Mamluk juga memastikan keamanan perjalan bagi orang-orang yang naik haji. Ibnu Battuta menghabiskan bulan Ramadan di Damaskus, lalu bergabung dengan kafilah perjalanan dari Damaskus ke Madinah, tempat pemakaman Nabi Muhammad.
Setelah empat hari, dia melanjutkan perjalanan ke Makkah. Di sana ia menyelesaikan ritual ibadah haji. Setelah itu dia memutuskan pulang ke tanah kelahirannya. Setelah Ibn Battuta menyelesaikan buku Rihla pada tahun 1355, dia diangkat menjadi hakim di Maroko. Lalu dia meninggal di Maroko pada 1368.
Subscribe to:
Posts (Atom)