27 July 2010

Menengok Studi Islam di Xinjiang

Sejak kecil, Mamat Reyim (23), warga Urumqi, Uighur Xinjiang, sebuah daerah otonomi di Republik Rakyat Cina (RRC) sudah gemar membaca Alquran. ''Membaca kitab suci Alquran selalu menjadi hal yang menyenangkan buat saya,'' tutur Reyim.

Kecintaannya kepada kitab suci membuatnya bercita-cita menjadi seorang ulama yang ahli Alquran. Untuk mewujudkan impiannya itu, Reyim pun menimba ilmu di Akademi Studi Kitab Suci Islam Xinjiang. Jika tak ada aral melintang, tahun ini Reyim akan menyelesaikan studinya di akademi itu.

Selepas menyelesaikan studinya di Xinjiang, Reyim berencana untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi Islam terkemuka di dunia, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Demi mewujudkan cita-citanya menjadi ulama yang ahli Alquran, Reyim pun telah mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan beasiswa dari Kedutaan Besar Mesir di Beijing.

''Saya sangat yakin dengan kemampuan saya untuk bersaing mendapatkan beasiswa,'' tutur Reyim kepada surat kabar China Daily seusai mengikuti audisi di Kedutaan Besar Mesir di Beijing, Senin (18/5). Saat ditanya apakah dirinya tegang saat dites, sembari tersenyum Reyim berkata, ''Tidak sama sekali.''

Selain pandai berbahasa Arab dan Inggris, Reyim juga dikenal sebagai atlet atletik di kampusnya. Ia pun ahli menggunakan instant messaging untuk menjalin pertemanan dengan orang Timur Tengah dan Cina. Pemuda yang pemalu itu mengaku sangat mencintai akademi tempat dirinya menimba ilmu saat ini.

Ia pun berjanji akan kembali ke kampusnya begitu menyelesaikan studinya di Mesir, kelak. ''Saya akan kembali untuk mengajar setelah meraih gelar di Mesir,'' ungkapnya. Reyim adalah salah satu dari 160 anak muda Muslim di Provinsi Xinjiang Cina yang beruntung bisa melanjutkan studinya di Akademi Studi Alquran.

Berdasarkan data statistik, di wilayah otonomi Uighur Xinjiang, terdapat sekitar 12 juta umat Muslim.  Di wilayah itu, tersebar sekitar 24 ribu tempat ibadah, sekitar 23.900 di antaranya adalah masjid. Urumqi, tempat kelahiran Reyim, tercatat memiliki 461 tempat ibadah, sekitar 433 di antaranya adalah masjid.

"Keberadaan lembaga pendidikan, seperti Akademi Studi Alquran Xinjiang  merupakan sarana yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan spiritual penduduk lokal,'' tutur Muhetaer Aishan, deputi ketua Komisi Hubungan Keagamaan dan Etnik Xinjiang.

Akademi yang telah berdiri sejak 1987 itu menawarkan program studi keislaman selama empat tahun. Selain itu, perguruan tinggi itu juga mengadakan pelatihan singkat bagi para imam. Menurut Pimpinan Akademi Studi Alquran Xinjiang, Wupuer Rexiti, Pemerintah Cina turut membantu mendanai aktivitas akademik.

Menurut Rexiti, untuk meningkatkan fasilitas dan kegiatan akademik, Pemerintah Cina menyalurkan bantuan sebesar 4 juta yuan per tahunnya. "Anak muda Muslim di Xinjiang yang berusia antara 18 hingga 25 tahun bisa kuliah di akademi ini, selepas mereka menyelesaikan sekolah menengah atas,'' ungkap Rexiti.


Akademi itu menawarkan 16 pogram studi, termasuk hafalan Alquran, hukum dan kebudayaan Islam, komputer, bahasa Arab, dan Inggris. "Mahasiswa kami harus menguasai pengetahuan agama dan umum serta keahlian. Sehingga, mereka bisa melayani umat Islam ketika mengabdikan dirinya menjadi pemimpin umat di masjid-masjid yang tersebar di Xinjiang.

Muslim di Sri Lanka Dari Arab Hingga Melayu

Muslim di Sri Lanka tergolong minoritas di tengah mayoritas penduduk beragama Buddha. Populasinya hanya sekitar delapan persen dari sekitar 20 juta penduduk negeri yang semula bernama Sailan itu. Secara umum, komunitas Muslim di negara yang terletak di Selat India ini terbagi menjadi tiga kelompok, yakni Sri Lanka Moors, India Muslim, dan Melayu. Keberadaan kelompok-kelompok itu punya sejarah dan tradisi masing-masing.

Berbagai catatan sejarah menunjukkan kehadiran Islam ke wilayah ini punya sejarah yang panjang. Islam masuk ke Sri Lanka bermula dari kedatangan pedagang Arab di abad ke-8. Banyak di antara mereka menetap di pulau bagian bawah negeri ini, menikah dengan masyarakat Sri Lanka, dan melakukan penyebaran agama Islam. Mereka melakukan perdagangan bersama penduduk setempat hingga mencapai kejayaannya pada abad ke-15. Mereka itulah yang kemudian disebut Sri Lanka Moors. Istilah "Moor" dipandang dari sudut etimologi, pertama kali digunakan oleh orang Portugis. Populasi Sri Lanka Moors mencapai 93 persen dari penduduk Muslim di negeri ini.

Situs wikipedia mencatat, Islam berkembang di Sri Lanka tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Pantai Malabar, India. Tradisi mencatat, orang Arab yang menetap di Pantai Malabar biasa berlayar dari Pelabuhan Cranganore ke Sri Lanka, untuk menziarahi apa yang mereka percayai sebagai bekas tapak kaki Nabi Adam di puncak sebuah gunung yang hingga kini masih dikenal sebagai Puncak Adam. Ibn Batuta, pengembara Arab terkenal di abad ke-14, menemukan banyak pengaruh Arab di Sri Lanka dalam catatan pengembaraannya.

Bahkan, tulis situs itu, sebelum akhir abad ke-7 sebuah koloni pedagang Islam telah tiba di Sri Lanka. Terpukau dengan keindahan pemandangan sekitar dan tertarik dengan tradisi yang dikaitkan dengan Puncak Adam, pedagang Islam tiba dalam jumlah yang besar. Sebagian di antara mereka kemudian mengambil keputusan untuk menetap di pulau itu. Kehadiran mereka diterima baik oleh pemerintah setempat. Kebanyakan mereka tinggal di sepanjang kawasan pantai, hidup aman dan makmur sambil menjalin hubungan budaya dan perdagangan dengan bandar-bandar Islam yang lain.

Menurut Tikiri Abeyasinghe dalam Portuguese Rule in Ceylon , 1594-1612 (Pemerintahan Portugis di Ceylon, 1594-1612), Muslim yang pertama datang ke Sri Lanka adalah sekelompok orang Arab Bani Hashim yang diusir dari Tanah Arab pada awal abad ke-8 oleh pemerintah tirani Khalifah Abd al-Malik ibn Marwan. Mereka berasal dari selatan Sungai Furat lalu menetap di Concan, bagian selatan benua India, Pulau Ceylon (Sailan), dan Melaka. Sebagian dari mereka yang datang ke Ceylon membentuk permukiman besar di sepanjang pantai timur laut, utara, dan barat pulau tersebut, yakni sebuah di Trincomalee, sebuah di Jaffna, sebuah di Colombo, sebuah di Barbareen, dan sebuah di Point de Galle.

Negeri yang indah
Sejak dulu, negeri ini terkenal dengan keindahannya, kaya akan sumber daya alam. Sebutlah, misalnya, teh bermutu tinggi, di samping terkenal dengan kerajinan batu mulia. Kondisi ini mengundang perhatian negara-negara besar di masa lalu. Mereka tertarik dengan kekayaan alam itu dan ingin menguasainya. Kehadiran negara-negara besar itu perlahan-lahan mengubah masa kejayaan Muslim yang lebih dulu berkembang di negeri tersebut.

Pada abad ke-16, Portugis masuk ke wilayah negeri ini. Kehadirannya memaksa warga Muslim berimigrasi ke Central Highlands dan ke pantai timur negara itu.Abad ke-18, Belanda datang dan menguasai Sailan. Tak jauh berbeda dengan masa kekuasaan Portugis, kehadiran Belanda di Sri Lanka pun tidak memberikan ruang gerak yang bebas bagi warga Muslim. Dalam berbagai literatur disebutkan, masa itu, selain memerintah dengan kekerasan, kolonial Belanda juga membuat undang-undang yang melarang kaum Muslim melakukan kegiatan ibadah dan membatasi aktivitas perdagangan atau berhubungan dengan pedagang Muslim lainnya.

Belanda pergi, Inggris datang ke Sri Lanka pada abad ke-19. Di masa kekuasaan Belanda dan Inggris, banyak orang Jawa dan Malaysia yang telah beragama Islam dikirim ke Sri Lanka. Kala itu, Belanda menjajah Indonesia dan Inggris menguasai Malaysia. Kehadiran 'orang-orang buangan' itu dengan sendirinya menjadi gelombang baru kehadiran Muslim di Sri Lanka. Sebagaimana halnya dengan pedagang Arab yang datang jauh sebelumnya, Muslim dari Indonesia dan Malaysia pun banyak yang memilih berdiam dan menetap di negeri ini.

Kebanyakan pendatang Melayu adalah tentara yang dibawa oleh Belanda ke Sri Lanka yang kemudian mengambil keputusan untuk menetap di pulau tersebut. Pendatang lain adalah anggota keluarga bangsawan dari Indonesia yang dibuang ke negeri itu. Populasi keturunan orang Melayu Sri Lanka yang berasal dari Asia Tenggara--Indonesia dan Malaysia--kini diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu orang.

Selain dari Asia Tenggara, gelombang kedatangan warga Muslim ke Sri Lanka juga datang dari India dan Pakistan. Mereka ini adalah orang Islam keturunan yang datang untuk mencari peluang usaha pada masa kolonial di Sri Lanka. Sebagian datang ke negara ini di awal kekuasaan Portugis, lainnya tiba di masa kekuasaan Inggris. Umumnya mereka datang dari negeri-negeri, seperti Tamil Nadu dan Kerala.


Merdeka
Sri Lanka memperoleh kemerdekaannya, lepas dari penjajahan kolonial pada 1948, saat kaum Muslim terbebas dari segala penindasan di seluruh sektor kehidupan, seperti budaya, politik, dan sosial. Di awal kemerdekaan, mayoritas Sinh memegang kekuasan dan menjalankan pemerintahan dengan sistem demokrasi yang menguntungkan kaum Muslim.

Namun, pemerintahan berikutnya mulai melakukan diskriminasi terhadap kaum Muslim dengan membangun permukiman bagi warga Sinh agar mereka tidak menjadi penduduk mayoritas. Tahap demi tahap pemerintah mengurangi jumlah sekolah-sekolah bagi kaum Muslimin, melarang mereka belajar di universitas, serta menghancurkan sendi-sendi perekonomian mereka.

Kondisi ini berlangsung sampai musibah besar menimpa negeri ini, seiring dengan terjadinya peperangan antara etnis Tamil dan Sinh pada 1983. Etnis Tamil menuntut kemerdekaan dengan mendirikan sebuah negara di sebelah selatan dan timur Sri Lanka. Tuntutan ini menggiring mereka pada pertikaian bersenjata dengan Pemerintah Sri Lanka yang menelan ribuan korban jiwa.

Pertikaian antaretnis itu tidak menguntungkan posisi warga Muslim. Di tengah pertikaian itu, banyak warga Muslim yang terpaksa mengungsi. Kehidupan mereka di pengungsian, jauh dari kondisi yang harmonis. Banyak di antara mereka yang tinggal di perkemahan dengan kebutuhan hidup minimal, sulit mendapatkan pekerjaan yang memadai untuk mengatasi kesulitan ekonomi mereka. Kesempatan bagi anak-anak mereka yang tinggal di pengungsian untuk mendapatkan pendidikan, apa boleh buat, menjadi terbatas. bur/berbagai sumber


Dibawa Melayu
Islam Melayu yang kini berdiam dan menjadi warga di Sri Lanka mayoritas berasal dari wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Orang-orang dari Indonesia yang ada di negeri itu dikenal sebagai ''Ja Minissu'' yang berarti orang Jawa. Populasi mereka kini berjumlah sekitar 50 ribu orang atau kurang lebih lima persen dari warga Muslim di negeri itu.

Situs  wikipedia menyebutkan, nenek moyang Islam Melayu yang ada di Sri Lanka saat ini, didatangkan ke negeri itu ketika Sri Lanka dan Indonesia menjadi wilayah jajahan Belanda. Kebanyakan dari para imigran Melayu pertama yang didatangkan ke negeri ini adalah tentara yang ditempatkan oleh penguasa kolonial Belanda di Sri Lanka. Imigran lainnya adalah tahanan atau anggota keluarga bangsawan dari Indonesia yang dibuang ke Sri Lanka.

Umumnya 'orang-orang buangan' yang sudah beragama Islam itu memilih tinggal dan menetap di negeri seluas 65 km2 yang terdiri atas sembilan provinsi tersebut. Di sini, mereka kemudian mengembangkan keturunan hingga populasinya mencapai sekitar 50 ribu orang.Selain dari Indonesia, sebagian Muslim Melayu di Sri Lanka berasal dari Malaysia. Sebagaimana halnya Melayu dari Indonesia, orang-orang Malaysia dibawa oleh Inggris ke Sri Lanka ketika negeri jiran itu diperintah oleh Inggris.

Jejak keberadaan mereka hingga kini bisa ditemukan dalam berbagai ciri khas Melayu. Mereka, misalnya, tetap menggunakan identitas Melayu yang ditandai dengan penggunaan bahasa. Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari mencakup banyak kata yang diserap dari bahasa Sinhala dan varian bahasa Moor dari bahasa Tamil.


Tahun 1980-an, orang-orang Melayu ini mencapai lima persen dari populasi Muslim di pulau itu. Posisi ini menempatkan mereka dalam salah satu kelompok minoritas terkecil di tengah mayoritas penduduk beragama Buddha di Sri Lanka.

Mengenang Jasa Sang Muslim Perintis


Dr Ahmed El-Kadi (gambar)


Komunitas Muslim di Amerika Serikat (AS) kehilangan seorang tokoh dan pemimpin umat yang berjasa mengembangkan ajaran Islam di Negeri Paman Sam. Dia adalah Dr Ahmed El-Kadi. Tokoh yang mengabdikan dirinya untuk melayani umat Muslim AS itu telah berpulang ke Rahmatullah, akhir pekan lalu.

"Dia merupakan contoh bagi Muslim Amerika,'' ungkap Syeikh Shaker El-Sayed, imam Islamic Center Dar-Al-Hijra di Virginia. Menurut Sayed, bagi masyarakat Muslim di negara adidaya, Kadi merupakan sosok berpengaruh yang telah mengubah wajah komunitas Islam.

Sayed menuturkan, kepemimpinan Kadi dan dorongannya untuk memajukan komunitas Islam di Amerika tak bisa terlupakan. ''Jasanya bagi kemajuan Islam di Amerika tak bisa terlupakan,'' imbuh Sayed yang juga ketua  Muslim American Society (MAS). Kadi yang dikenal sebagai dokter bedah termasyhur dan tokoh Muslim itu wafat pada usia 69 tahun di Panama City, Florida.

Tokoh Muslim AS kelahiran Mesir itu, selama 44 tahun terakhir, mendedikasikan dirinya untuk membesarkan Islam dan memberdayakan komunitas Muslim Amerika. ''Ia adalah sahabat saya di Muslim American Society dan kami selalu bekerja bersamanya,'' tutur Sayed mengenang.

Saat hidupnya, Kadi pun telah memainkan peranan penting dalam mendirikan sejumlah organisasi Muslim, baik di AS maupun Amerika Utara. Sang tokoh pun sempat memipin sejumlah organisasi Muslim, seperti Islamic Circle of North America (ICNA), Muslim Youth of North America (MYNA), dan Islamic Medical Association (IMA).

"Jasa dan dedikasi Dr El-Kadi dalam mengembangkan pendidikan dan penelitian kedokteran Islam akan tetap dikenang,'' ujar Muslim American Society dalam pernyataannya. Tujuh juta Muslim AS, papar MAS, sangat kehilangan sosok Kadi yang telah mendorong komunitas Islam mencapai kemajuan.


Sang dokter juga dinilai sebagai perintis dan penggerak semangat juang umat Muslim di Amerika. ''Dialah perintis dan pendiri Muslim Youth of North America," papar Syeikh Sayed seperti dikutip Islamonline.net. Ayah empat anak itu hijrah ke Amerika pada tahun 1965 setelah merampungkan studi kedokterannya di Austria.

Dalam waktu singkat, pamornya sebagai dokter bedah jantung begitu mengkilap. Sebagai seorang dokter Muslim, Kadi pun dikenal berhasil merumuskan definisi kedokteran Islam yang sangat komprehensif. ''Dia adalah dokter bedah jantung terkemuka sepanjang masa,'' ucap Syeikh Sayed.

Kadi pun dikenang sebagai sosok yang memiliki jaringan begitu luas. Ia berkeliling dunia untuk membangun silaturahim dengan Muslim di berbagai negara. Berbekal jaringan itu pula, sang dokter kemudian mendirikan organisasi amal, sosial, dan pendidikan bagi umat Muslim di AS dan seluruh benua.

Salah satu pencapaiannya yang tak akan pernah terlupakan adalah Islamic Circle of North America (ICNA). Organisasi Muslim yang bermarkas di New York itu telah memiliki 22 cabang di seluruh Amerika. Di Panama City,  Kadi telah mendirikan sekolah Muslim dan lembaga penelitian yang giat mengembangkan dan melacak warisan pengobatan dari Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya pencapaiannya yang akan dikenang. Menurut Sayed, umat Muslim AS tak akan pernah lupa dengan kepribadian Kadi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. "Dr Ahmed El-Kadi adalah seorang figur yang berhati lembut, santun bahasanya, bersih tangannya, dan baik hati,'' tutur Sayed.

"Dia sangat termasyhur karena selalu menjaga ucapannya. Dia juga selalu melakukan yang terbaik bagi dirinya dan komunitasnya. Kami sungguh merasa kehilangan. Semoga kami bisa melanjutkan warisan kepemimpinannya,'' ucap Sayed.

Berkat perjuangan Kadi, umat Muslim AS kini lebih berdaya. Salah satu contohnya adalah masjid-masjid di AS yang kini lebih dari sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim. Mereka cenderung menjadi pusat rumah spiritual komunitas, tempat budaya, titik peleburan sosial, dan pusat kesadaran politik menjadi satu.


Masjid dan seluruh Islamic Center di penjuru Paman Sam pun memainkan peranan penting terhadap komunitas Muslim Amerika. Tidak ada catatan akurat mengenai jumlah masjid di Amerika. Namun, diperkirakan terdapat 2.000 masjid di penjuru negara tersebut. Di bidang politik pun, kesadaran komunitas Muslim terus meningkat.

Madrasah Singapura Berkurikulum Moderen

Selain pendidikan agama Islam, siswa juga belajar tentang subjek umum
SINGAPURA— Para siswa mempelajari agama Islam sementara mereka juga mempelajari subjek-subjek non Islam, membuat madrasa Al Irsyad Al Islamiah di Singapura menjadi contoh pendidikan Islam yang sejalan dengan dunia modern di negeri singa tersebut.

"Ini seperti halnya American Idol," ujar Razak Mohamed Lazim, kepala Al Irsyad seperti yang dikutip oleh New York Times, 23 April. Di dalam sekolah siswa memulai harinya dengan doa dan puja-puji shalawat terhadap Nabi Muhammad.

Saat di kelas, siswa mempelajari subjek agama seperti halnya mata pelajaran lain, seperti Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran lain sesuai kurikulum nasional.

"Di sini, mereka mengajari banyak hal dari sekedar belajar Islam," ujar Noridah Mahad, 44, salah satu orang tua siswa yang bersekolah di sana. "Sehingga siswa Muslim akan memahami dua hal: tentang Islam dan tentang dunia luar," imbuhnya

Madrasah Al Irsyad Al Islamiah sendiri memiliki total siswa 900 orang mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Demi mengakomodasi kurikulum ganda, Islam dan nasional, sekolah memiliki waktu sekolah tiga jam lebih panjang dari pada sekolah umumnya. Madrasah Al Irsyad menempati urutan pertama dari enam madrasah yang ada di Negeri Singa tersebut.

Selain menganut kurikulum modern, institusi pendidikan Islam tersebut juga memiliki titik utama sebagai Islamic Center dari Dewan Agama Islam Singapura, dewan penasihat yang memberi masukan kepada pemerintah perihal urusan menyangkut Muslim.

Al Irsyad dipilih untuk menjadi pusat "percontohan" ujar Razak yang juga menjadi anggota dewan agama tersebut. Muslim di Singapura diperkirakan mencapai 450 ribu hingga 500, menjadi 14 hingga 15 persen dari total populasi.

Banyak lulusan dari Al Irsyad mengaku beruntung bersekolah di institusi tersebut. "Ada yang menjadi pegawai pemerintahan, beberapa lagi menjadi guru dan ada pula yang bekerja di layanan sipil," ujar Mohamed Muneer, 32 tahun, guru kimia di Al Irsyad.

"Keseimbangan antara mata pelajaran Islam dan umum sangat membantu siswa menjalani hidup normal bila dibanding dengan siswa madrasah lain," ujarnya.

Madrasah di Singapura mengalami peningkatan popularitas pada tahun 1990-an sejalan dengan ketertarikan baru terhadap Islam. Hanya saja peningkatan itu sedikit menurun dengan miskinnya pendidikan non-religius dalam mata pelajaran madrasah, hal yang sempat menjadi perhatian negara.

Pada 2003, pemerintah membuat kewajiban standar pendidikan sekolah dasar untuk diikuti semua sekolah umum, mengikutkan pula madrasah, dan memeri tenggat agar setiap sekolah memberikan standar dasar hingga tahun 2010 nanti

Jika mereka gagal, mereka harus menghentikan memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak.

"Peraturan tersebut memaksa madrasah mengganti kurikulum mereka tak sekedar murni sekolah agama," ujar Mukhlis Abu Bakar, ahli pendidikan madrasah di Institut Pendidikan Nasional, sekaligus guru di di Al Irsyad

Dilihat sebagai model pendidikan Islam yang segelombang dengan dunia modern, Al Irsyad kini bahkan menjadi model bagi banyak sekolah serupa di kawasan Asia Selatan.

Dua madrasah di Indonesia mengacu pada kurikulum Al Irsyad. Institusi itu baru-baru ini juga melakukan perbincangan kerjasama dengan madrasah Filipina dan Thailand dalam hal transfer model kurikulum moderen.


"Dunia Muslim secara umum tengah berjuang dalam pendidikan Islam,"ujar Razak. "Dalam banyak kasus, itu juga tantangan yang dihadapi dunia Muslim, Karena sering kali kita lupa tidak memasukkan kebutuhan Islam sebagai keyakinan yang harus hidup dan berinteraksi di tengah-tengah komunitas lain dan agama lain," ujarnya.

11 July 2010

Momentum Kebangkitan Islam di Rusia

Pernah mengalami masa kelam di era Imperium Rusia dan komunis. Kini, sendi-sendi Islam menggeliat kembali.

Saat ini terdapat sekitar 20 juta pemeluk agama Islam di negara Federasi Rusia, atau mencakup 15 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 140 juta jiwa. Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan warga Muslim di sejumlah negara Eropa lain, komunitas Muslim Rusia bukanlah berasal dari kaum pendatang (imigran).

Mereka merupakan penduduk asli negara yang sebelumnya bernama Uni Soviet dan keberadaannya telah ada sejak lama. Oleh sebab itulah, umat Islam tidak bisa lagi dilepaskan dari denyut nadi kehidupan masyarakat serta negara. Sebagai contoh, pada perhelatan Olimpiade Beijing 2008, dari torehan 23 medali emas yang diraih kontingen atlet Rusia, sebanyak 10 di antaranya disumbangkan oleh atlet-atlet Muslim.

Mayoritas komunitas Muslim Rusia tinggal di kawasan Volga-Ural dan Kaukasus Utara. Beberapa kawasan lain, termasuk kota-kota besarnya, seperti Moskow dan Saint-Petersburg, juga menjadi tempat tinggal umat Islam dalam jumlah cukup signifikan. Adapun dominasi kaum Muslim sejatinya berada di tujuh negara bagian Federasi Rusia. Antara lain, Republik Bashkortostan dan Tatarstan di wilayah Volga-Ural, Republik Chechnya (yang kini mencoba memerdekakan diri dari Rusia), Ingushetia, Dagestan, Kabardino-Balkaria, dan Karachay-Cherkessia di Kaukasus.

Tetap tegar
Terentang jauh ke belakang, agama Islam pertama kali masuk ke Rusia, yakni di Dagestan pada pertengahan abad ke-7 lalu berkembang hingga ke Kaukasus Utara, terutama lewat jalur perdagangan dengan negara-negara Muslim sekitar.

Ketika itu, pasukan Muslim di bawah kepemimpinan Abd Rahman ibn Rabiah, mencapai Kaukasus Selatan setelah mengambil alih kendali di Persia dan al-Quds (Yerusalem). Pasukan tersebut berhasil menaklukkan Kerajaan Kazar yang berkuasa di wilayah ini selama masa Pemerintahan Bani Umayyah, tahun 737 masehi. Tak lama, Kerajaan Kazar pun tunduk kepada penguasa Bani Umayyah, yang lantas mengubah wilayah ini sebagai pusat administrasi sekaligus penyebaran Islam kepada penduduk asli Kaukasus.

Hingga selanjutnya, terbentuklah negeri Muslim yang pertama, Volga Bulgaria pada tahun 922. Dari sinilah akhirnya Islam dapat lebih melebarkan pengaruhnya sampai ke wilayah utara dan timur Rusia, khususnya Siberia. Oleh penduduk lokal, agama Islam dapat diterima dengan terbuka. Ini karena ide-ide universal yang dibawa seperti keadilan, persaudaraan, antikezaliman, dan mencintai ilmu, mampu merebut hati warga.

Gelombang kedua masa penyebaran Islam di Rusia berlangsung pada periode kekuasaan bangsa Mongol di bawah pimpinan Jusi Ulusi atau Altan Ordon, yang mendiami kawasan utara Mongolia pada tahun 1242. Mereka memang sempat mengendalikan wilayah Kaukasus dan Dagestan, akan tetapi tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial warga.

Jadilah, segala yang ada di masyarakat tidak berubah, misalnya budaya, agama, bahasa, dan lainnya. Maka itu, di awal abad 15, muncul kerajaan-kerajaan Islam di setiap kawasan, kecuali wilayah antara kota Moskow dan Kiev yang memang dihuni etnis Slav. Hingga akhirnya, kerajaan-kerajaan kecil Islam ini ditaklukkan oleh Kekaisaran Rusia pada abad ke-16. Dan, yang pertama kali tunduk adalah kerajaan Islam di Volga-Ural, mengingat Rusia memang mengincar kawasan itu karena dinilai amat strategis untuk jalur transportasi.

Pada 15 Oktober 1552, seusai mengalahkan Kerajaan Kazan, kerajaan terkuat di kawasan tadi, peluang Imperium Rusia untuk kian menancapkan pengaruh di daerah Volga dan Laut Kaspia, semakin terbuka lebar.Inilah awal kemunduran itu. Pada pertengahan abad ke-18, Muslim Rusia tidak dibolehkan melakukan aktivitas keagamaan, membangun masjid, dan sekolah. Intinya, apa pun yang bernafaskan keagamaan, coba diredam oleh penguasa Rusia.

Situasi kelam terus berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Pun, ketika meletusnya revolusi komunis pada 1917, semakin memunculkan situasi yang sangat buruk bagi semua pemeluk agama, terutama Muslim. Puncaknya adalah saat terjadi pemberantasan agama sejak 1927.

Akan tetapi, geliat Islam tak lantas pudar. Kendati tertindas semasa rezim komunis berkuasa, akar budaya ataupun sejarah Islam yang panjang, tak pernah tercabut. Sampai terjadilah momentum reformasi ekonomi, sosial, dan politik di penghujung tahun 80-an, dengan runtuhnya negara adidaya Uni Soviet. Hal itu lantas dimanfaatkan oleh elemen Muslim Rusia untuk berbenah serta menata kembali kehidupan sosial dan keagamaannya.

Kini, komunitas Muslim Rusia boleh berbangga. Mereka tercatat merupakan komunitas Muslim terbesar di Eropa. Jumlahnya mencakup sekitar 15-20 persen populasi penduduk dan terus bertambah dari waktu ke waktu.Di samping berasal dari Muslim keturunan, banyak di antara mereka merupakan Muslim Rusia yang mualaf. Bahkan, bisa dikatakan, 60 persen pemeluk baru adalah etnis Rusia yang sebelumnya tidak beragama (ateis).

Faktor imigrasi dari wilayah Utara Kaukasus dan Asia Tengah, juga memengaruhi pertambahan populasi Muslim. Tapi, ada satu hal yang menjadi perhatian serius kalangan Kristen Ortodoks Rusia, yakni adanya krisis kependudukan di kalangan etnis Rusia yang menyebabkan penurunan populasi 700 ribu orang per tahun.Inilah yang menimbulkan kekhawatiran, lantaran mereka bisa saja menjadi minoritas dan kehilangan identitas Rusia-nya. Apabila tren semacam ini terus berlanjut, diperkirakan populasi Muslim dalam 30 tahun mendatang bisa melebihi etnis Rusia. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan Muslim akan menjadi mayoritas di dinas ketentaraan Rusia.

Banyak masjid
Seiring perkembangan agama Islam di masa lampau, bertumbuh pula jumlah masjid yang tersebar di region-region Muslim. Akan tetapi, sejak masa Imperium Rusia, jumlahnya terus menyusut, dari sekitar 12 ribu menjadi hanya 343 masjid akibat tekanan berat terhadap aliran keagamaan.Barulah di akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, kehidupan agama kembali normal, termasuk Islam. Hal tersebut ditandai dengan banyak dibukanya masjid baru ataupun yang lama, dan menjadi pusat peribadatan serta sosial keagamaan.

Tercatat, saat ini di wilayah Federasi Rusia yang luasnya hanya separuh dari luas negara Uni Soviet serta Imperium Rusia, masjid yang ada jumlahnya hampir separuh dari jumlah sebelum revolusi. Secara resmi, telah terdaftar sebanyak 4.750 masjid.Kawasan paling banyak terdapat masjid adalah di Dagestan dengan jumlah 3.000 masjid. Begitu pula, di Tatarstan yang dalam 10 tahun terakhir telah mencapai seribu masjid. Sementara di ibu kota Moskow, yang populasi Muslimnya sekitar satu juta jiwa, terdapat 20 komunitas serta lima masjid.

Selain masjid yang bertambah, begitu juga organisasi dan lembaga keagamaan di tingkat lokal. Dari data register negara di kawasan Volga saja, ada sebanyak 1.945 organisasi Muslim, diikuti Kaukasus Utara sekitar 980 lembaga, serta Ural dengan 316 lembaga. Di beberapa kawasan lain pun bermunculan organisasi serupa meski jumlahnya lebih kecil.Tapi, secara umum ada tiga organisasi Muslim yang cukup berpengaruh, antara lain, pertama, Dewan Mufti Rusia, berkedudukan di Moskow serta membawahi sekitar 1.686 komunitas. Pemimpinnya bernama Mufti Ravil Gainutdin yang kharismatik.
 
Kedua, Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia berbasis di Ufa. Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan menjadi wadah bernaungnya 522 komunitas.Ketiga, Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia, dan wilayah Stavropol. Lembaga ini mencakup 830 komunitas. yus/berbagai sumber


Bangunan Sejarah

Siapa tidak mengenal Imam al-Bukhari? Ulama dan cendekiawan itu telah memberikan pencerahan kepada umat Muslim maupun dunia, lewat ilmu fikih dan kitab hadisnya yang termasyhur. Imam al-Bukhari berasal dari Bukhara, Uzbekistan.
 Ini adalah wilayah di Asia Tengah, yang pernah menjadi bagian dari negara Uni Soviet. Apabila merunut ke belakang, sejatinya tidak hanya kiprah ulama besar itu yang menjadi bukti kejayaan Islam di Rusia pada masa lampau, tapi juga berbagai peninggalan lain, terutama di Bukhara dan Samarkand.

Itulah dua pusat perkembangan Islam, terutama di kawasan Asia Tengah, antara abad ke-10 dan ke-12. Sejumlah bangunan masjid dengan menara nan indah, karya-karya dari ulama dan ahli agama terkemuka, kiprah madrasah dan sekolah Islam, geliat sektor ekonomi, pun pernah hadir di sini.Sejarah kawasan ini cukup panjang. Dimulai ketika Alexander Agung pada tahun 329 SM, berhasil mengalahkan Raja Spitamenes, pimpinan bangsa Soghidian yang mendiami wilayah Marakand (Samarkand di era modern), dalam ekspedisinya ke India.

Lantas berabad-abad kemudian, datanglah pasukan Arab pada abad ke-7 yang juga sukses menancapkan pengaruh di wilayah ini. Mereka pun berhasil mengajak penduduk setempat memeluk Islam, sekaligus menanamkan aspek sosial budaya, seni, dan pengetahuan Islam.

Etnis Turki dan Arab juga banyak berdatangan ke kawasan ini, yang secara perlahan, bersama penduduk lokal beralih memeluk Islam. Tapi, tak lama kemudian bangsa Cina menyerbu Farghana pada 745 dan menetap sampai tahun 751, sebelum dikalahkan panglima perang Islam, Ziyad ibn Saleh.

Akan tetapi, tahun 1220, Genghis Khan dan pasukan Mongolnya menginvasi Asia Tengah serta menduduki Samarkand, Bukhara, dan Urgens. Mereka menghancurkan banyak bangunan Islam, termasuk istana yang dibangun Khalifah Harun al-Rasyid di Tus dan makam Sultan Sanjar di Merv. Kendati di bawah tekanan, Islam mampu bertahan pada masa kepemimpinan Timur Lenk, seorang Muslim yang merupakan keturunan Genghis Khan. Dia berkuasa di tahun 1370 dengan wilayah meliputi Samarkand, kawasan barat Moskow, hingga timur Sungai Ganges.

Bahkan, setelah kematian Timur Lenk, Samarkand yang kemudian dikuasai Ulug Beg tetap bisa berkembang pesat. Kota ini akhirnya menjadi salah satu pusat budaya dan pendidikan Islam. Masjid-masjid agung didirikan di kawasan Asia Tengah ini, misalnya Masjid Haja Ahror di pinggir kota Samarkand, seperti juga 13 masjid lain di Tashkent.Adapun di Bukhara, madrasah Mir-i-Arab menyediakan sarana pendidikan Islam tingkat menengah dengan mengajarkan Alquran dan hadis, bahasa Arab, serta ilmu pengetahuan umum (matematika, kedokteran, dan lainnya).

Namun, seiring perjalanan waktu, banyak dari bangunan penting ini roboh ataupun rusak, baik oleh penghancuran maupun bencana alam. Namun, saat ini telah ada upaya untuk merenovasi sebagian peninggalan bersejarah tadi.Di Tashkent, Samarkand, Bukhara, dan Khiva, pemerintah setempat telah memperbaiki tembok-tembok masjid yang termakan usia, memperkuat fondasi menara masjid, mengganti keramik yang hilang, serta melapis ulang kubah masjid.

Pengerjaan konstruksi terbanyak mungkin dilakukan di Samarkand, utamanya sebelum tahun 1970 ketika memperingati hari jadi kota yang ke-2.500. Saat itu, bangunan Gur-i-Mir peninggalan Timur Lenk pada abad ke-14 direnovasi dan interiornya diganti baru.Bangunan peninggalan Islam lainnya di Samarkand adalah Shah-i-Zinda yang berada di kompleks 16 bangunan. Konon, Qasim ibn Abbas, sepupu Rasulullah SAW, dimakamkan di sini. Bangunan ini juga telah direstorasi.

Evolusi Islam di Tanduk Benua Hitam

Dibanding saudara-saudaranya nya di ujung selatan Benua Hitam, kawasan Tanduk Afrika, area yang meliputi Somalia, Etiopia, Djibouti, dan Eritrea merupakan kawasan dengan pemeluk Islam dominan. Islam diperoleh melalui nenek moyang mereka yang berpindah agama, atau para migran dari semenanjung Arab. Pemeluk Islam terutama dari kalangan etnis Somali, Oromo, Afar dan beberapa ras lain yang berbicara dengan Bahasa Cushitic.

Muslim di Somalia dan Djibouti kini bahkan hampir menjadi mayoritas, di Etiopia, 40 % adalah penganut Muslim sementara jumlah Muslim d Eritrea mencapai 50 %.

Sejarah Islam di Kawasan Tanduk Afrika

Menurut sejarah, imigrasi Muslim pertama ke Benua Hitam tersebut dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad ke Etiopia karena ancaman pembunuhan dari penyembah berhala di Mekkah, Arab pada 615 Masehi.

Raja Abyssinian (Habash) Nagashi menyambut hangat para Sahabat di kerajaannya dan mengijinkan mereka mengajarkan dan mendakwahkan agama mereka di Habash. Bahkan Nagashi pun tak mau menyerahkan mereka saat delegasi Arab meminta ekstradisi para Sahabat. Beberapa warga Etiopia pun memeluk Islam karena jasa para Sahabat yang tinggal bertahun-tahun di Habash sebelum Nabi Muhammad meminta mereka kembali ke tanah air. Penyebaran Islam pun terhenti sesaat setelah Sahabat pulang ke Mekkah.

Islam masuk ke Etiopia, sebagai keyakinan utama diyakini pada abad ke-16 lewat para pedagang dan pendakwah Arah, yang akhirnya menjadikan 65 % warga Etiopia memeluk Islam. Situasi itulah yang mulai memunculkan ketakutan pada pihak Gereja Eitopia yang kemudian menganggap Muslim sebagai ancaman utama terhadap keberadaan mereka.

Pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, Negara Islam ADAL diumumkan oleh para etnis Somalia dan Arab dipimpin oleh Ahmed Guray. Ahmad Guray atau Ahmed Gran di Etiopia, yang keturunan Arab, memimpin perang melawan Abyssinia dan mengalahkan mereka. Ahmed Guray bahkan menangkap lebih dari 50 % warga dataran tinggi Etiopia, sehingga mempercepat penambahan jumlah warga Etiopia yang memeluk Islam. Ahmed sendiri mendapat dukungan dari Kaisar Ottoman, Turki dan Raja Saeed Barqash dari Kesultanan Oman.

Perasaan negatif Gereja Etiopia terhadap Muslim meningkat sangat tajam, dan setelah mereka gagal menghentikan Ahmed Guray beserta pasukkannya, mereka mendesak Portugal mengirim bantuan. Ahmed Guray terus menambah daftar kemenangan atas pasukan Abyssinian selama dua dekade. Namun ia terbunuh dalam pertempuran melawan pasukan Portugis yang datang untuk membantu Etiopia. Sang Janda Ahmed, bernama Bati Del Wambara mengambil alih kepemimpinan kerajaan ADAL dan meneruskan kampanye peperangan terhadap Kristen Etiopia.

Markas besar ADAL sendiri terletak di kota Zayla, kota pantai yang menghubungkan Djibouti dan Tanah Somalia. ADAL sempat  ambruk sesaat setelah kematian Ahmed Guray. Situasi itu memberi kesempatan Etiopia untuk merebut kembali tanah yang hilang tanpa banyak perlawanan.

Setelah Portugis, masuk pula beberapa negara pengkoloni barat. Para pengkoloni barat pun membagi Somalia menjadi lima bagian, mereka menyerahkan Djibouti di bawah Perancis, Tanah Somalia di bawah Inggris, Selatan Somalia di bawah Italia, dan Area Cadangan dengan Etiopia sebagai tambahan wilayah NFD dan Kenya. Penjajahan area-area tersebut terjadi di dalam waktu berbeda. Terakhir Inggris menjual Area Cadangan dan NFD kepada Eitopia dan Kenya di abad ke-20.

Islam dan Somalia.

Somalia adala nama yang diambil dari kata Somali (Soo Maal) yang berarti kaya dengan sumber kehidupan. Negara itu merupakan satu-satunya negara di dunia dengan penduduk 100 Muslim. Seluruh Muslim di sana adalah kaum Suni yang mempraktekkan kitab Iman Syafi'i. Orang-orang yang hidup di Somalia umumnya berbicara Somalia dan Arab, plus bahasa Rahanwayn minoritas di selatan Somalia.

Ada empat suku besar di Somalia yakni Hawiye, Isaaq, Darod, dan Rahanwayn. Isaaq, Darod, dan Hawiye memiliki akar Arab, sementar Darod adalah keturunan dari Darod Ismail Jabarti yang berasal dari selatan Yaman. Isaaq, lebih tepatnya adalah keturunan Sheikh Isaaq bin Ahmed yang berasal dari Mosul Irak. Sedangkan Hawiye adalah kombinasi dari beberapa kelompok berbeda namun umumnya dari Yaman.

Para warga Somalia setelah ambruknya ADAL, mulai mendatangai universitas Arab khususnya Universitas Al-Azhar di Mesir. Hubungan antara Arab dan Somalia pun bertambah kuat, terutama antara Yaman dan Kesultanan Oman.

Beberapa lulusan Universitas Al-Azhar kembali pulang termasuk Sayed Abdullah Hassan, yang memiliki julkan, The Mad Mullah atau Mullah yang Gila. Ia bukanlah orang yang bijak dan mulai membangun pasukan untuk berjuang melawan Inggris. Ia mencoba mengambil alih beberapa bagian Tanah Somalia terutama area Hawd. Inggris pun menghancurkan pasukkannya dengan bom udara. The Mad Mullah itu pun terbunuh dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Inggris.

Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia  sekitar empat dekade lalu.

Awal Paham Salafi di Somalia
Sayed Abdullah Hassan (the Mad Mulla) dulu dikenal sebagai seorang penganut paham Sufi dan meyakinkan banyak warga Somalia untuk mempraktekan cara hidup Sufi sebagai keyakinan Islam. Namun kelompok Salafi, yang juga dijuluki Wahabis Somalia menolak ide pengasingan dari dunia luar. Para penganut Wahabi tersebut pun mulai berjuang untuk menyebarkan pandangan mereka di Somalia  sekitar empat dekade lalu

Hingga tahun 1960, mayoritas Muslim Somalia mempraktekkan paham Sufi, paham yang mendapat penghormatan besar di hampir seluruh suku Somalia. Warga menganggap Sufi memiliki tingkat kekerasan jauh lebih sedikit bila dibanding Salafi.

Namun setelah gerakan ulet yang dilakukan kaum Salafi selama 40 tahun lebih, berangsur-angsur membuat sebagian warga Somalia meninggalkan paham Sufi. Kini kondisi mulai berbalik. Jumlah praktek sufi lebih sedikit dibanding para penganut paham Salafi.


Salah satu keunikkan lain yang bisa ditemukan dalam tradisi Islam Somalia menulis Al Qur'an dengan lembar dari kayu dengan tinta yang dibuat dari batu-bara Somalia. Penulisan ulang dilakukan karena penduduk tidak mengerti bahasa Arab sehingga pengajaran dilakukan dengan bahasa Somalia.  Praktek penulisan macam itu sendiri masih dapat dijumpai hingga sekarang hanya saja semakin jauh berkurang.

Syekh Zayed, Masjid Terbesar Ketiga di Dunia

ABU DHABI--
Masjid Syekh Zayed yang berdiri megah di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), tercatat sebagai masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid yang secara resmi dibuka pada Ramadhan 2007 itu mampu meraih sejumlah rekor dunia.

Nama masjid itu diambil dari pendiri dan presiden pertama Uni Emirat Arab (UEA), Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan, yang juga dimakamkan di sekitar masjid. Masjid Syekh Zayed berlokasi di antara dua jembatan, yakni Mussafah dan Maqta. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid itu juga menjadi tempat wisata religi.

"Masjid ini adalah masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram,'' tutur Deputi Kepala Proyek, Khawla al-Suleimani. Awalnya, masjid itu terlarang untuk dikunjungi non-Muslim. Namun, sejak Maret 2008, otoritas kepariwisataan Abu Dhabi membolehkan non-Muslim mengunjungi Masjid Syekh Zayed guna mempromosikan kebudayaan dan pemahaman keagamaan.

Pengunjung non-Muslim dilarang untuk menyentuh Alquran dan wanita harus menggunakan penutup kepala. Masjid Syekh Zayed meraih sejumlah rekor dunia, salah satunya, permadani yang dipasang di masjid itu tercatat sebagai permadani terbesar di dunia.

Permadani itu secara khusus didatangkan dari Iran dan didesain khusus oleh seniman negeri para mullah terkemuka, Ali Khaliqi. Luas permadani yang dipasang di masjid itu mencapai 5.627 meter persegi dan beratnya mencapai 47 ton-35 ton wol dan 12 ton kapas.

Tak cuma itu, masjid ini juga dilengkapi dengan kandil (lampu) terbesar di dunia. Masjid Syekh Zayed dihiasi tujuh lampu berlapis emas dan tembaga yang terbuat dari kristal Swarovsky. Ketujuh lampu itu secara khusus didatangkan dari Jerman. Kandil terbesar berdiameter 10 meter dan tinggi 15 meter.Luas masjid itu mampu menampung 40 ribu jamaah. Kapasitas ruangan shalat utama mencapai 9.000 jamaah, sedangkan dua ruangan lainnya di sebelah ruang utama, masing-masing berkapasitas 1.500 jamaah, khusus untuk Muslimah.

Masjid ini makin megah karena diapit empat menara setinggi 115 meter di empat sudut. Jumlah kubah yang menambah keindahan Masjid Syekh Zayed mencapai 57 buah, menaungi halaman dalam dan gedung utama. Kubah masjid ini dihiasi marmer putih dan dekorasi interiornya juga terbuat dari marmer. Halaman masjid itu dilapisi marmer dengan desain motif bunga dan ukurannya mencapai 17 ribu meter persegi.


Masjid tersebut mulai dibangun pada 2006 dan selesai pada 2007. Pembangunan Masjid Syekh Zayed menelan biaya sebesar 8 juta dolar AS

Madain Saleh: Sisa Kehancuran Kaum Tsamud

Dalam Alquran banyak sekali dijelaskan tentang kehancuran bangsa-bangsa (kaum) yang tidak mau beriman kepada Allah SWT. Di antaranya, bangsa 'Ad (umat Nabi Hud), kaum Tsamud (umat Nabi Saleh), bangsa Madyan (umat Nabi Syu'aib), kaum Nabi Ibrahim, serta kaum Nabi Nuh.

Seperti umat lainnya, umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud, juga dihancurkan karena mereka tidak mau beriman kepada Allah SWT dan tidak mengakui Saleh sebagai seorang Nabi. Mereka dihancurkan oleh Allah SWT dengan petir yang menggelegar sehingga meruntuhkan bangunan tempat tinggal mereka.

''Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tshamud.'' (QS Hud ayat 67-68).

Sebelum mereka dihancurkan dengan suara petir yang menggelegar, bangsa Tsamud ini diperintahkan untuk menyembah Allah dan mengikuti ajakan Nabi Saleh. Namun, mereka enggan melakukannya. Bahkan, ajakan itu justru dianggap menghina kaum Tsamud. Lalu, ketika diuji dengan diberikan seekor unta betina, mereka pun membunuhnya. Kemudian, Nabi Saleh memperingatkan umatnya. Cerita ini terdapat dalam surah Hud ayat 61-62 dan 65-68, Ibrahim ayat 9, Al-A'raf ayat 75-77, An-Naml ayat 47-50, Al-Qamar ayat 23-26, dan Asy-Syu'araa' 141-158.

Karena sikap sombong dan angkuh itu, mereka pun harus menerima akibat dan dihancurkan oleh Allah SWT sebagaimana telah dilakukan pada kaum 'Ad, umatnya Nabi Hud.

Berdasarkan hasil studi arkeologi dan sejarah terkini mengenai kehidupan dan peninggalan bangsa Tsamud ini, para peneliti arekologi berhasil menemukan dan mengungkapkan keberadaan kaum Tsamud di antara Yaman selatan dan utara Madinah yang disebut dengan nama Madain Saleh. Alquran menyebutkan, kaum Tsamud membuat rumah atau bangunan sesuai dengan gaya hidup mereka. Tsamud, seperti disebutkan dalam Alquran, merupakan fakta sejarah yang dibenarkan oleh banyak temuan arkeologis saat ini.

Menurut penjelasan Alquran, kaum Tsamud merupakan anak cucu dari kaum 'Ad. Hal ini dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis tentang keberadaan dan kehidupan mereka. Dijelaskan, akar kaum Tsamud dulunya hidup di utara Semenanjung Arab yang berasal dari selatan Arabia, tempat kaum 'Ad pernah hidup.

Sumber-sumber sejarah mengungkapkan, sekelompok orang yang disebut dengan Tsamud benar-benar pernah ada. Masyarakat al-Hijr (batu) sebagaimana disebutkan dalam Alquran adalah sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab al-Hijr. Kata 'Tsamud' adalah nama dari suatu kaum, sedangkan kata al-Hijr adalah salah satu di antara beberapa kota yang dibangun oleh orang tersebut. (Lihat Ensiklopedia Islam).

Seperti umat Nabi Hud yaitu kaum 'Ad, ahli geografi Yunani yang bernama Pliny menggambarkan bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat tinggal kaum Tsamud. Tempat tersebut hingga kini dikenal dengan nama Kota Al-Hijr.

Sumber tertua yang berkaitan dengan kaum Tsamud adalah hikayat kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan orang-orang ini dalam pertempuran di Arabia selatan. Bangsa Yunani juga menghubungkan kaum ini sebagai 'Tamudaei', yakni 'Tsamud' sebagaimana ditulis Aristoteles, Ptolomeus, dan Pliny. Kaum Tsamud ini diperkirakan hidup pada abad ke-8 Sebelum Masehi, sekitar tahun 800-an SM.

Dalam Alquran, kaum 'Ad dan Tsamud disebutkan secara bersamaan. Menurut para ahli tafsir, terdapat sebuah hubungan antara kedua kaum ini. Dan, kaum 'Ad pernah menjadi bagian dari sejarah kaum Tsamud.

Nabi Saleh memerintahkan umatnya untuk mengambil peringatan dari kejadian yang pernah menimpa umat Nabi Hud (kaum 'Ad). Sementara itu, kaum 'Ad ditunjukkan contoh dari kaum Nabi Nuh yang pernah hidup sebelum mereka. Kaum 'Ad mempunyai kaitan penting dengan kaum Nabi Nuh. Ketiga kaum ini mempunyai hubungan sejarah yang saling berkaitan.

Menurut Alquran, kaum yang pertama kali dihancurkan adalah kaum Nuh. Selanjutnya, kaum Nabi Luth yang melakukan hubungan sejenis (homoseksual). Kemudian berturut-turut, kaum Nabi Musa (penenggelaman Firaun), kaum Nabi Syu'aib (Madyan), kaum Nabi Hud ('Ad), dan kaum Nabi Saleh (Tsamud).

Menurut Harun Yahya dalam situsnya, umat Nabi Nuh dihancurkan pada 3000-2500 SM, kaum Ibrahim dan Luth awal tahun 2000 SM, umat Musa tahun 1300 SM, umat Hud ('Ad) 1300 SM, dan umat Nabi Saleh (Tsamud) sekitar tahun 800 SM.

Menurut beberapa sumber, urutan tersebut di atas belum sepenuhnya tepat. Namun, dari data itu, akan dihasilkan sebuah rangkaian yang sangat runtut (tertib), baik menurut Alquran maupun data-data sejarah.


Pahatan Batu

Dari beberapa keterangan yang ada, Britannica Micropedia menyebutkan:
Di Arabia Kuno, suku atau sekelompok suku tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud kemungkinan asal-usulnya dari Arabia selatan, sebuah kelompok besar rupanya pindah ke utara pada awal-awal tahun, secara tradisional berdiam di lereng gunung (Jaba) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan, sejumlah besar batu bertulis dan gambar-gambar kaum Tsamud tidak hanya ada di Jabal Athlab, tetapi juga di seluruh Arabia tengah. (Britannica Micropedia, vol 11, hlm 672).

Pada sekitar 2000 tahun yang lampau, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa arab yang lain, yaitu Nabataeans. Saat ini, di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Jordania, dapat dilihat berbagai contoh karya pahat batu yang terbaik dari kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, kaum Tsamud ini memiliki kemahiran dan keahlian dalam bidang pertukangan (ukiran dan pahat memahat).

''Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.'' (QS al-A'raf: 74)

Menurut Brian Doe, seorang peneliti arkeologi tentang keberadaan kaum Nabi Hud dan kaum Tsamud di Arabia selatan, kaum Tsamud ini dikenali melalui tulisan dan pahatan-pahatan yang mereka buat di dinding-dinding batu. Tulisan yang secara grafis itu sangat mirip dengan huruf-huruf Smaitic (yang disebut Thamudic) dan banyak ditemukan di Arabia selatan sampai ke Hijaz. (Brian Doe, Southern Arabia, Thames and Hudson, 1971, hlm 21-22)

Tulisan yang pertama ditemukan di daerah utara Yaman tengah yang dikenal sebagai Tsamud, ini dibawa ke utara oleh Rub'ah Khali ke selatan dan Hadramaut serta oleh Shabwah ke barat.

Seperti halnya kaum 'Ad, peninggalan kaum Tsamud banyak ditemukan di daerah sekitar Hadramaut, Yaman. Walaupun telah dihancurkan oleh Allah SWT selama ribuan tahun lalu, namun hingga kini sisa-sisa peninggalan mereka (berupa bangunan dan karya seni) masih dapat ditemukan di sekitar Hadramaut dan di Kota Madain Saleh, sebelah utara Madinah. sya/berbagai sumber


Warisan Dunia

Kota bekas peninggalan umat Nabi Saleh, yaitu kaum Tsamud di Al-Hijr (Madain Saleh), kini menjadi salah satu kota warisan dunia. Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), pada awal Juli 2008 lalu, telah mengesahkan kota tua Madain Saleh yang terletak di utara Madinah, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site).

Kaum Tsamud dan Nabatea yang menetap di Madain Saleh adalah situs bersejarah yang memiliki 132 kamar dan kuburan. Tempat ini terletak sekitar 440 km di sebelah utara Madinah. Umat ini diperkirakan hidup pada 200 SM hingga abad 200 Masehi (abad ke-2). Peninggalan yang masih bisa dilihat di sini adalah ukiran dan pahatan pada tembok, menara, serta sejumlah saluran air dan bak-bak air.

Selain itu, para arkeolog juga menemukan batu bata rumah warga yang dianggap sebagai sisa peninggalan umat Nabi Saleh di Nabatea yang terpelihara dengan baik setelah Petra, dan berlokasi sekitar 440 km arah utara Madinah yang berbatasan dengan Yordania. Kota Madain Saleh menjadi situs warisan dunia yang pertama diperoleh Arab Saudi. sya/iina


Kaum Tsamud, Entrepreneur Ulung

Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh, dikenal sebagai entrepreneur ulung di masanya. Berbagai karya seni pahat, ukiran, dan pertukangan adalah contoh keahlian dan kemahiran mereka.

''Dan, ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.'' (QS al-A'raf: 74)

Para arkeolog berhasil menemukan sejumlah batu karang dari hasil budaya kaum Tsamud di gunung-gunung maupun di lembah-lembah sekitar Arabia selatan dan tengah. Misalnya di Jabal Athlab, ditemukan tembikar dan lainnya.

Karena keahlian dan kepandaiannya itu, hasil ukiran yang mereka buat dijadikan sebagai barang dagangan dengan komunitas lainnya. Sebagian lagi dibuat hiasan di rumah-rumah mereka.

Produk utama kaum Tsamud adalah barang pecah belah (tembikar) yang unik dan memiliki nilai seni yang berkualitas tinggi. Sedangkan, produk lainnya yang diperdagangkan adalah kemenyan dan rempah-rempah. Dari hasil perdagangan tersebut, didapatkan kekayaan sehingga memungkinkan mereka membangun istana, rumah yang dipahat, dan makam pada batu karang. Kota tersebut berada 347 km di sebelah utara Madinah.

Pada sekitar 200 SM, kaum Nabasia menggantikan kaum Tsamud menguasai Kota Dedan (Al-Ula) sampai Al-Hijr (Madain Saleh). Situs arkeologi penting ditemukan di Kota Al-Ula yang telah dihuni sampai 1970, yang merupakan sebuah percontohan Kota Islam yang dikenali kembali pada abad ke-11 Masehi. Khuraibah merupakan sebuah situs Kerajaan Lihyanite, yang terdapat sejumlah besar makam. Ditemukan pula, Ikmah yang merupakan sebuah sungai (wadi) pada batunya memuat prasasti Lihyanite dan Minea

Arsitektur Unik Warisan Dinasti Seljuk

Jejak-jejak kejayaan Islam dapat dirunut dari peninggalan arsitektur Islam di berbagai wilayah di dunia. Peninggalan arsitektur Islam ini tidak hanya terpusat di jazirah Arab sebagai tempat lahirnya kebudayaan Islam, tetapi juga menyebar ke arah timur melalui Mesopotamia, Persia, Turki, hingga lembah Sungai Indus. Sedangkan ke arah barat masuk ke Siria, Mesir, Spanyol, Marokko, hingga merambah ke berbagai benua, memasuki Cina, Indonesia, dan daratan di Eropa.

Kejayaan Islam dalam bidang kebudayaan tersebut hingga kini masih bisa kita saksikan dalam wujud bangunan, baik berupa masjid, istana, makam, madrasah (sekolah), maupun bangunan lainnya peninggalan Khilafah Islamiyah.

Sejarah mencatat orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya. Andil mereka dapat dilihat pada bangunan-bangunan yang telah berdiri sejak Dinasti Seljuk memegang tampuk kekuasaan Khilafah Islamiyah pada abad ke-11 M hingga 14 M. Dinasti ini merupakan kekaisaran Islam pertama Turki yang memerintah dunia Islam. Kekuasaan yang digenggamnya begitu luas meliputi Asia Tengah dan Timur Tengah, terbentang dari Anatolia hingga ke Punjab di belahan selatan Asia.

Kekaisaran Seljuk memang dikenal sangat mendukung dan mendorong perkembangan kebudayaan, salah satunya seni bina bangun atau arsitektur. Tak heran, bila pada era kekuasaan Dinasti Seljuk, banyak berdiri karya arsitektur yang mengagumkan. Dinasti ini mampu menghidupkan kembali pencapaian Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah dalam bidang arsitektur.

Variasi dan kualitas ornamen-ornamen serta bentuk dan teknik arsitektur peninggalan Dinasti Seljuk mampu menjadi inspirasi bagi para arsitek Muslim dan para ahli batu di seluruh dunia. Keunggulan dan kehebatan arsitektur warisan Dinasti Seljuk dapat disaksikan dari bangunan-bangunan peninggalan bersejarah di Iran, Anatolia, serta wilayah Asia minor Muslim.

Para arsitek dunia mencatat ada dua karya seni arsitektur yang paling unik warisan Dinasti Seljuk, yakni caravanserai (tempat singgah bagi para pendatang) serta madrasah. Caravanserai banyak berdiri di wilayah kekuasaan Seljuk lantaran dinasti itu amat mendorong perdagangan dan bisnis. Sedangkan gedung madrasah yang menyebar di daerah kekuasaan Kerajaan Seljuk, mencerminkan geliat aktivitas pendidikan.

Kontribusi Dinasti Seljuk dalam bidang arsitektur begitu besar. Sejarah mencatat beberapa kontribusi Dinasti Seljuk dalam bidang arsitektur, antara lain: pertama, memperkenalkan konsep baru tempat iman masjid. Kedua, mengembangkan dan memperbanyak madrasah untuk sarana pendidikan. Ketiga, memperkenalkan caravanserai. Keempat, mengembangkan dan mengkolaborasi arsitektur makam.

Kelima, keberhasilan membangun kubah berbentuk kerucut. Keenam, mempromosikan penggunaan motif-motif muqarnas. Ketujuh, memperkenalkan elemen pertama seni baroque yang menyebar ke seluruh Eropa di abad ke-16 M. Karena itu, kehebatan dan keunikan gaya ersitektur Seljuk telah diakui dunia, termasuk arsitektur modern. Para arsitek Barat pun banyak belajar dari arsitektur Seljuk.


Ragam Arsitektur Seljuk

* Caravanserai
Penguasa Dinasti Seljuk begitu banyak membangun caravanserai atau tempat singgah bagi para pendatang atau pelancong. Caravanserai dibangun untuk menopang aktivitas perdagangan dan bisnis. Para pelancong dan pedagang dari berbagai negeri akan dijamu di caravanserai selama tiga hari secara cuma-cuma alias gratis.

Di caravanserai itulah, para pendatang akan dijamu dengan makanan serta hiburan. Secara fisik, bangunan caravanserai terdiri atas halaman, bangunan gedungnya dipercantik dengan membentuk pola lengkungan. Dalam caravanserai terdapat kamar menginap, depo, kamar pengawal, serta tersedia juga kandang untuk alat transportasi seperti kuda.

Caravanserai dikelola oleh sebuah lembaga donor. Organisasi itu pertama kali didirikan di Rabat Malik. Caravanserai di wilayah Iran itu menjadi cikal bakal berdirinya tempat singgah khas Dinasti Seljuk. Caravanserai pertama itu dibangun pada tahun 1078 M oleh Sultan Nasr di antara rute Bukhara-Samarkand. Struktur bangunan caravanserai Seljuk meniru istana padang Dinasti Abbasiyah. Bentuknya segi empat dan ditopang dengan dinding yang kuat.

* Madrasah
Menurut ahli etimologi Eropa, Van Berchem, para arsitektur di era Dinasti Seljuk mulai mengembangkan bentuk, fungsi, dan karakter masjid. Bangunan masjid diperluas menjadi madrasah. Bangunan madrasah pertama muncul di Khurasan pada awal abad ke-10 M sebagai sebuah adaptasi dari rumah para guru untuk menerima murid.

Pada pertengahan abad ke-11 M, bangunan madrasah diadopsi oleh Perdana Menteri yang berkuasa pada masa kekaisaran Seljuk, Nizam al-Mulk, menjadi bangunan publik. Sang emir terispirasi oleh penguasa Ghasnavid dari Persia. Di Persia, madrasah dijadikan tempat pembelajaran teknologi. Madrasah tertua yang dibangun Nizam al-Mulk terdapat di Baghdad sekitar tahun 1065-1067 M.

Fakta menunjukkan, madrasah yang dibangun antara tahun 1080 M hingga 1092 M di Kharghird, Khurasan, sudah menggunakan empat iwan. Secara fisik, bangunan madrasah Seljuk terdiri atas halaman gedung yang dikelilingi tembok dan dilengkapi empat iwan. Selain itu, juga ada asrama dan ruang belajar.

Salah satu madrasah terbaik yang bisa dijadikan contoh berada di Anatolia. Bangunan madrasah itu menerapkan karakter khas Iran, termasuk penggunaan iwan dan menara ganda yang membingkai pintu gerbang.

* Menara Masjid
Bentuk menara masjid-masjid di Iran yang dibangun Dinasti Seljuk secara substansial berbeda dengan menara di Afrika Utara. Bentuk menara masjid Seljuk mengadopsi menara silinder sebagai ganti menara berbentuk segi empat.

* Makam
Pada era kejayaan Dinasti Seljuk pembangunan makam mulai dikembangkan. Model bangunan makam Seljuk merupakan pengembangan dari tugu yang dibangun untuk menghormati penguasa Umayyah pada abad ke-8 M. Namun, bangunan makam yang dikembangkan para arsitek Seljuk mengambil dimensi baru.

Bangunan makam yang megah dibangun pada era Seljuk tak haya ditujukan untuk menghormati para penguasa yang sudah meninggal. Tapi, para ulama dan sarjana atau ilmuwan terkemuka juga mendapatkan tempat yang sama. Tak heran, bila makam penguasa dan ilmuwan terkemuka di era Seljuk hingga kini masih berdiri kokoh.

Bangunan makam Seljuk menampilkan beragam bentuk, termasuk oktagonal (persegi delapan), berbentuk silinder, dan bentuk-bentuk segi empat ditutupi dengan kubah, terutama di Iran. Selain itu, ada pula yang atapnya berbentuk kerucut, terutama di Anatolia. Bangunan makam biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal tokoh atau bisa pula letaknya dekat masjid atau madrasah.

* Masjid

Inovasi para arsitektur Dinasti Seljuk yang lainnya tampak pada bangunan masjidnya. Masjid Seljuk sering disebut Masjid Kiosque. Bangunan masjid ini biasanya lebih kecil yang terdiri atas sebuah kubah dan berdiri melengkung dengan tiga sisi yang terbuka. Itulah ciri khas masjid Kiosque. Model masjid khas Seljuk ini seringkali dihubungkan dengan kompleks bangunan yang luas, seperti caravanserai dan madrasah

05 July 2010

Islam di Papua, Sejarah yang Terlupakan

Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah pulau Kristen. Bagaimana sejarahnya?

Upaya-upaya pengkaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung dengan
cara sistematis di seantero negeri ini. Setelah Sumatera Utara, Kalimantan Barat,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku diklaim sebagai kawasan Kristen, dengan
berbagai potensi menariknya, Papua merupakan jualan terlaris saat ini. Papua diklaim
milik Kristen!

Ironis, karena hal itu mengaburkan fakta dan data sebenarnya di mana Islam telah hadir berperan nyata jauh sebelum kedatangan mereka (agama Kristen Missionaris). Berikut catatan Ali Atwa, wartawan Majalah Suara Hidayatullah dan juga penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)” tentang Islam di Bumi Cenderawasih bagian pertama.

Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah oleh para pedagang Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.

Dari catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan
sebagaimana di kawasan lain di nusantara.

Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang
dilangsungkan di ibukota Provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997,
belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang diketemukan saat ini menunjukkan bahwa muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di sana.

Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Menurut kesimpulan yang ditarik di dalam sebuah seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia, Medan 1963, Islam masuk ke Indonesia sudah sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Di mana daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir Utara Sumatera, dan setelah berkembangnya para pemeluk Islam, maka kerajaan Islam yang pertama di Indonesia ialah Kerajaaan Perlak, tahun 840, di Aceh.

Perkembangan agama Islam bertambah pesat pada masa Kerajaan Samudera Pasai, sehingga menjadi pusat kajian Agama Islam di Asia Tenggara. Saat itu dalam pengembangan pendidikan Islam mendapatkan dukungan dari pimpinan kerajaan, sultan, uleebalang, panglima sagi dan lain-lain. Setelah kerajaan Perlak, berturut-turut muncul Kerajaan Islam Samudera Pasai (1042), Kerajaan Islam Aceh (1025), Kerajaan Islam Benua Tamiah (1184), Kerajaan Islam Darussalam (1511).

Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa sebelum tahun 1416 Islam sudah masuk di Pulau Jawa. Penyiaran Islam pertama di tanah jawa dilakukan oleh Wali Songo (Wali
Sembilan). Yang terkenal sebagai orang yang mula-mula memasukkan Islam ke Jawa ialah Maulana Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1419.

Ketika Portugis mendaratkan kakinya di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1526, Islam sudah berpengaruh di sini yang dipimpin oleh Falatehan. Putera Falatehan, Hasanuddin, pada tahun 1552 oleh ayahnya diserahi memimpin Banten.

Di bawah pemerintahannya agama Islam terus berkembang. Dari Banten menjalar ke Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Juga di pulau Madura agama Islam berkembang.

Sejak Kerajaan Majapahit

Seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Dr. Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Apalagi dengan diketemukanya data artefak yang waktunya terentang antara 1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sekitar Pusat Keraton Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.

Kajian leh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan di seluruh kepulauan Papua.

Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Sezaman dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalan perdagangan Nusantara.

Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru.

Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya. Keterangan mengenai hal itu antara disebutkan sebagai berikut:

"Muwah tang i Gurun sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i Saksakadi
nikalun kahaiyan kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan len luwuk teken Udamakatrayadhi nikang sanusapupul".
"Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng] Salaya
Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri Sran ini
Timur ning angeka nusatutur".

Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud "Ewanin" adalah nama lain untuk daerah " Onin" dan "Sran" adalah nama lain untuk "Kowiai". Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak. Dari data tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.

Menurut Thomas W. Arnold: "The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah
Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak
juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak.

Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di
Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku.

Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah wadah sosial milik misionaris menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam. Dalam kitab Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di Irian yakni Onin dan Seran.

Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya.

Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat, di Sorong dan di seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana.

Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari
wilayah kekuasaan Sultan Tidore sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga/fam penduduk Biak Numfor.

Kedatangan Orang Islam Pertama

Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa, masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni kerajaan Bacan.

Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme.

Thomas Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah diislamkan oleh kaum pendatang dari Maluku"

Tentang masuk dan berkembangnya syi'ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat [mungkin semenanjung Onin] oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian..."

Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.

Dalam buku "Nieuw Guinea" W.C. Klein menceritakan sebagai berikut : "de Heer Pieterz
maakte on 1664 eenwreks naar Onin. Indie raiswaren ook een aantal mensen
uitSoematera, Waarin de Heer Abdul Ghafur betrokken is" (Tuan Pieterz pada tahun 1664 melakukan perjalanan ke Onin di mana ikut serta beberapa orang dari Sumatera, termasuk Abdul Ghafur).

Bahkan bila ditelusuri dari catatan pewaris kesultanan Islam di kawasan ini, dapat diketahui bahwa kedatangan Agama Islam sebenarnya lebih tua lagi.



*** Sumber: Ali Atwa, penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua).”